{Area khusus dewasa}
"Saya mohon tolong lepaskan saya, saya mohon." Permintaan wanita itu dengan suara lirih memohon pada pria itu.
"Tidak bisa,hanya kamu yang bisa melakukannya, sampai kapanpun kamu tak akan bisa pergi."ucap pria itu dengan nada serius.
"Tapi kenapa harus saya, masih banyak wanita lain yang mau dengan Anda."
Wanita itu semakin ketakutan, setelah Apa yang dilakukan oleh pria itu.Berharap mampu bisa menghindarinya, tapi tetap saja tak bisa dia hindari ketika ambisi dari pria itu begitu besar terhadap dirinya.
Apakah nantinya dirinya akan menerima kehadiran pria itu atau dirinya lebih memilih untuk pergi dari kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar Malia ~
Dio langsung memberikan bunga pada Malia."Ini untuk kamu,sayang."Dio memberikan buket bunga mawar merah pada Malia.
"Bunga lagi?" tanya lagi Malia.
"Iya sayang." Jawab Dio yang memeluk Malia dengan hangat.
"Lepaskan, aku mau masak." Malia mencoba memberontak.
"Nanti saja sayang." Jawab Dio yang langsung mendapat pukulan dengan spatula.
"Mau aku pukul." Malia mulai mengancam Dio yang sedari tadi menganggu pekerjaannya.
"Jangan begitu sayang." Dio mengecup pipi kiri Malia sekali lagi.
"Ya sudah,aku tidak akan mengganggu kamu lagi sayang." Dio pergi menuju kamarnya, sedangkan Malia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mesum pria itu.
Seketika pandangannya tertuju pada sebuah bunga buket pemberian dari pria itu.
"Awalnya aku benci,tapi semakin lama dia menunjukkan sisi lain dari dalam dirinya.Apa mungkin pria itu benar-benar serius padaku,atau aku hanya tempat pelampiasan nafsu saja.Belum apa-apa dia sudah berani melakukan hal seperti itu, bagaimana jika menikah nanti pasti aku dihajar babak belur."Malia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Malam hari
Dio dan Malia baru saja selesai makan malam,Dio diam-diam melirik kearah Malia.Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki dari arah samping.
"Tuan." Dio melirik kearah asistennya, pandangan Dio tertuju pada kotak untuk sedang yang di bawa oleh asistennya.
"Itu apa?" Tanya Dio pada Asistennya.
"Ini barang dari nyonya besar tuan."Rian langsung memberikan kotak itu kepada tuannya.
"Baiklah."Dio langsung menerima kota itu dan memberikannya kepada Malia.
"Ini kotak apa?" tanya Malia yang tiba-tiba diberikan sebuah kotak.
"Itu kotak dari Mama untuk kamu sayang." Dio langsung memberikan kepada Malia.
"Untukku?" Sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Iya,itu hadiah spesial untukmu ,sayang."Dio belum menceritakan apa-apa tentang rencana ini.
Malia terlihat bingung,dia merasa tidak sedang ulangtahun.
Malia membuka kotak itu, reaksi Malia sangat kaget melihat isi di dalam kotak itu.
"Baju?"
"Sepertinya Mama begitu perhatian padamu, sayang." Jawab Dio yang merasa Mamanya kini lebih perhatian padanya.
Malia hanya terdiam, dengan pandangannya masih tertuju pada baju di dalam kotak itu.
"Baju itu besok kamu pakai."mendengar penjelasan itu Malia terlihat begitu bingung.
"Kenapa aku harus pakai baju ini, aku masih memiliki baju lainnya."Malia langsung menolaknya.
"Jangan protes, besok kamu harus pakai baju ini."perintah Dio yang tidak ingin penolakan dari Malia.
Malia malas berdebat dengan pria itu, dirinya pun harus terpaksa menuruti perintah pria itu.
Hari yang ditunggu
Posisi Dio sudah ada diruang tamu dengan penampilan yang begitu berbeda tidak seperti biasanya, hari ini merupakan momen yang sangat penting bagi dirinya.hari ini dia akan melamar Malia bersama keluarganya."Lebih baik dia tak tahu jika hari ini aku akan menemui keluarganya." Batin Dio yang sengaja merahasiakan itu semuanya pada Malia.
Malia datang dengan penampilannya yang begitu berbeda,Dio dibuat kagum dengan penampilan Malia di hari itu.Dio datang dan menyambut kedatangan Malia dengan senyuman.
"Begitu terlihat cantik,sayang." Dio mengecup pipi Malia yang begitu besar melihat perubahan dari Malia.
Wajah Malia memerah setelah pria itu dengan mesranya mengecup pipinya."Kenapa dia melakukan itu." Batin Malia yang melihat keberanian pria itu pada dirinya.
"Ayo sayang kita berangkat sekarang."Ajak Dio yang langsung saja mereka berangkat bersama Rian asistennya yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka.
"Sebenarnya kita mau pergi kemana?" Tanya Malia yang terlihat bingung sebenarnya mereka ingin pergi kemana.
"Kita pergi temui Papa dan Mama, kebetulan mereka menunggu kita."
"Maksudnya?" Tanya Malia yang masih kebingungan.
"Nanti saja aku ceritakan." Jawab Dio yang semakin membuat Malia semakin penasaran.
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka,Malia dibuat bengong setelah mereka masuk kedalam rumah yang begitu besar dan mewah.
"Ini rumah siapa?" Tanya Malia yang begitu penasaran kenapa mereka disana.
"Ini rumahku, Mama dan Papa sudah menunggu kita." Jawab santai Dio yang baru sampai dirumah.
"Ini bukan rumah,tapi istana." Batin Malia yang kagum dengan kemewahan rumah itu, apalagi ini pertama kalinya dirinya ke rumah orang tua dari pria itu.
Nampak diluar banyak orang yang mulai sibuk mengemasi beberapa barang yang akan dibawa sampai satu mobil penuh dengan itu semuanya.
Diluar terlihat Mama Valia sibuk mengawasi pekerjaan mereka."Hati-hati,jangan sampai jatuh." Ucap mama Valia yang menyuruh beberapa pelan untuk menata rapi barang-barang itu.
"Mama." Sapa Dio pada Mama Valia yang langsung berubah bahagia melihat kehadiran mereka.
"Dio." Ucap lirih Mama Valia pada putranya dan bergantian melirik kearah Malia yang nampak cantik.
"Sayang." Mama Valia langsung memeluk Malia dengan hangat.
"Cantiknya." Ucap Mama Valia yang nampak bahagia melihat kehadiran mereka.
"Tante." Sapa balik Malia ke Mama Valia.
"Kok Tante, panggil Mama sayang."Malia tampak kebingungan harus bicara bagaimana, apalagi dirinya belum terbiasa memanggil dengan sebutan itu
"M-mama." Ucap Malia dengan nada terbata-bata.
"Nah begitu." Jawab Mama Valia yang begitu senang mendengar calon mantunya berkata seperti itu.
Malia hanya terdiam Mama Valia memeluknya dia kembali, sebenarnya Malia merasa dirinya begitu disambut dengan hangat seperti keluarga sendiri.Sedangkan Dio asyik mengobrol dengan Papanya.
"Semuanya sudah siap,Pa?" Tanya Dio kepada Papanya.
"Sudah, bagaimana dengan Malia?" Tanya balik tuan Fahril kepada putranya.
"Sudah siap juga Pa, walaupun dia belum mengetahui tentang rencana ini."Sontak saja tuan Fahril kaget dengan apa yang putranya katakan.
"Apa sengaja kamu tidak menceritakan hal ini padanya." Dio langsung membalas dengan menganggukkan kepala.
"Kamu itu bagaimana, kenapa kamu tidak jujur saja." Ucap tuan Fahril yang takutnya putranya di tolak.
"Nanti Dio akan mencoba bicara dengannya."
"Terserah, kamu bicarakan baik-baik dengannya. Jangan sampai kamu mengecewakan Mamamu.Jika nantinya kamu ditolak habislah kamu ditangan Mamamu." Tuan Fahril memberikan pesan pada putranya untuk mencoba menyakinkan calon mantunya.
Akhirnya mereka berada didalam mobil berdua, nampak ekspresi kesal dari wajah Malia."Apa maksudmu merahasiakan ini dariku." Ucap Malia dengan nada marah.
"Jadi kamu sudah tahu sayang?" Dio masih santai menanggapi perkataan dari Malia.
"Apa tujuanmu merahasiakan ini semua padaku, diam-diam kamu dan keluargamu merencanakan hal ini." Malia benar-benar emosi.
"Aku hanya ingin menunjukkan keseriusan aku padamu, Apa aku salah melakukan hal ini?" Tanya Dio yang melihat ekspresi Malia yang masih terlihat begitu kesal.
"Bukan seperti ini caranya."
"Jika bukan seperti ini caranya, pasti kamu akan menolak tawaranku."jawab Dio yang masih tenang.