"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"
Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedulian Angga
CAPTER 32
KEPEDULIAN ANGGA
Semenjak pertemuannya dengan Boy kemarin lusa, sikap Hanis mengalami perubahan yang sangat kentara. Kini, wanita itu lebih banyak bungkam, di saat berkumpul dengan teman ia hanya menjadi pendengar saja. Di kelas pun juga sama, hanya mengikuti materi namun tidak benar-benar mendengarkan. Hanya raganya yang ikut serta namun pikiran dan jiwanya melanglang entah kemana.
Pun, sama saat berada di rumah. Meski ia berusaha menutupi kekacauan jiwa dan pikirannya Hanis tetap gagal menutupi dengan baik. Tidak ada orang yang mampu bersikap normal kala masalah besar sedang dihadapi, terlebih jika itu menyangkut masa depan dan juga pandangan sosial. Mereka yang di rumah mampu merasakan perubahan sikap itu, terutama Andik. Namun hingga kini ia belum memiliki kesempatan untuk bisa berbicara dengannya.
Tidak hanya perubahan sikap yang kentara sangat, Hanis juga kehilangan gairah serta selera makan. Dan itu membuat fisiknya lemah, Naura mengira pikiran wanita itu tersita dengan banyaknya tugas yang dihadapi mengingat beberapa hari yang lalu Hanis berucap demikian. Sebenarnya Naura tidak tinggal diam, ia sempat menasehati Hanis untuk tetap menjaga pola makan sehingga fisiknya tidak terpengaruh. Namun nasehat itu hanya sepintas masuk di telinga, tidak pada hati dan pikirannya yang sudah diselimuti ketakutan.
Hampir sama dengan mereka yang terdekat dengan Hanis, Ika terus berupaya menghubungi wanita itu namun tetap tak ada hasil. Bertambah khawatir ia, meski duduk bersama dengan dua temannya saat ini tapi pikiran tertuju di lain tempat. Sikap tidak biasa yang ditunjukkan Ika membuat kedua temannya menaruh curiga.
“Kenapa sama Kamu? Dari tadi kayak nggak tenang gitu?” tanya Ratih tak kuat menahan diri.
“Iya, kayak ayam mau telur aja Kamu!” sambung Hilma.
“Eh kalian chat Hanis nggak?.” Ika malah balik bertanya.
“Iya juga, itu anak kenapa dua hari nggak masuk? Aku chat nggak dibalas!” seru Ratih teringat.
“Apa dia sakit ya?!” sahut Hilma.
“Pikiranku nggak tenang, haruskah disamperin ke rumahnya?!” ujar Ika.
“Kita sambangi aja! Kayaknya itu anak lagi tepar di rumah!” sambung Hilma mengusulkan.
Usulan itu dengan cepat diterima oleh Ratih, ia bahkan mendesak itu menyambangi Hanis secepatnya. Ika masih terdiam, tidak memberi jawaban hingga Hilma dan Ratih mendesak wanita itu menyetujui rencana keduanya. Akhirnya diputuskan, Ika menyetujuinya. Disepakati siang setelah materi mereka memutuskan akan mengunjungi Hanis.
"Tunggu di parkiran ya nanti?!" seru Hilma mengusulkan..
"Ok, tapi jangan lama-lama … soalnya nanti sore aku masih ada urusan!" kata Ika menyetujui.
Sambil menunggu kelas berikutnya, mereka tetap tak beranjak dari halaman kampus. Duduk santai di bawah pohon yang cukup rindang beralaskan rumput yang terawat dengan baik. Tidak sedikit yang duduk menikmati semilir angin sambil membuka buku atau menyalakan laptop.
"Sorry aku cabut dulu!” seru Ika setelah tadi dipanggil teman sekelasnya.
Tidak seberapa lama,mereka berdua juga ikutan minggat. Kembali ke kelas mengikuti materi yang terakhir sebelum nantinya bertandang ke rumah Hasan, menjenguk Hanis yang sedang sakit.
-----
Seperti yang direncanakan sewaktu jam istirahat, kala materi siang itu usai Ika buru-buru keluar. Berjalan cepat ia ke tempat parkir, menunggu Hilma dan Ratih sesuai usulan mereka. Agar tidak lama menunggu, Ika mengirim chat pada keduanya; memberitahu dimana ia sekarang.
Beberapa saat lamanya menunggu, dua orang itu nampak juga batang hidungnya. Sambil melambaikan tangan, keduanya kompak memberikan senyum terbaik yang mereka miliki. Ika enggan membalasnya, sebaliknya ia menyuruh kedua temannya tersebut segera datang.
"Buruan nggak usah senyum-senyum!" teriak Ika sudah tidak sabar menunggu mereka yang lelet jalannya.
"Ayo buruan! Sebelum nyai Blorong murka!" ujar Hilma dan mempercepat langkah kaki.
"Lama banget sih kalian ini!" tegur Ika begitu mereka berhadapan, tepatnya mengomel..
"Baru selesai Jeng! Udah ayo buruan!" sahut Ratih tidak terima.
Lekas mereka bertiga berpencar menuju motor mereka masing-masing. Dibantu seorang satpam yang merangkap sebagai petugas parkir ketiganya mengeluarkan motor dari baris sesak deretan kendaraan roda dua.
“Ayo Kamu di depan!” perintah Ratih pada Ika.
Lekas Ika tancap gas, mendahului dua orang yang sudah menyalakan motor; siap menarik gas begitu motor Ika bergerak.
Ika berada di depan sebagai pemandu mengingat dua orang temannya belum pernah berkunjung ke rumah Hasan. Tiga motor matic berbeda pabrikan tersebut dengan gesitnya keluar dari area kampus, menerobos jalanan yang lumayan padat. Ditambah terik matahari, membuat siapa saja yang berkendara berpacu agar lekas sampai. Meski ketiganya seorang wanita tapi jangan disepelekan cara mereka berkendara, tidak sungkan menyalip kendaraan.
Begitu tiga motor itu berbelok di pertigaan dan masuk pada kawasan perumahan penduduk setelah beberapa ratus meter Hilma membunyikan klakson dua kali. Kemudian motornya memepet motor Ika sebelum mendahului dan menepi. Mau tidak mau Ika juga ikutan menepi, disusul motor Ratih kemudian.
"Kenapa berhenti?!" tanya Ika yang tidak tahu maksudnya.
"Eh kita jenguk orang sakit masak nggak bawa apa-apa?!" jawab Hilma.
"Iya ya … Terus gimana ini?!" tanya Ika balik.
"Seperti biasa … ayo iuran buat beli buah atau apa gitu!" ujar Hilma memberi masukan.
"Iuran berapa?!" sambung Ratih.
Setelah berdiskusi singkat akhirnya diputuskan berapa besaran iuran yang disepakati. Bersamaan ketiganya meraih tas, mengeluarkan dompet. Hilma menyerahkan sejumlah uang pada Ika yang didapuk sebagai koordinator dadakan. Ratih kemudian, “Ini aku!” ucapnya.
“Beli apa ya?!” ucapnya dan menoleh kanan kiri, mencari keberadaan toko atau mini market.
“Kayak biasanya!” sahut Hilma.
“Terus belinya dimana? Kayaknya nggak ada minimarket dekat sini!” balasnya.
“Itu tadi di pertigaan depan ada! Jejer malah!” sambung Hilma teringat dengan minimarket yang sempat ia lihat.
Pada akhirnya Ika menyuruh Ratih untuk membeli buah atau apalah itu di minimarket yang berada di pertigaan depan tadi. Alhasil, Ratih putar balik setelah menerima uang yang disodorkan padanya. Sembari menunggu Ratih kembali, keduanya turun dari motor. Duduk di pinggir jalan, di bawah pohon palm menikmati angin yang bertiup lambat..
"Coba hubungi Hanis, bilang kalo kita mau datang!" pinta Hilma pada Ika.
"Nggak usah!" sahut Ika.
"Siapa tahu dianya lagi tidur terus nanti kita panggil-panggil nggak keluar!" imbuh Hilma.
"Iya juga, benar Kamu … pagar rumahnya pakai sensor otomatis, nggak bisa dibuka kalo nggak terpindai!" tutur Ika setelah teringat dengan keamanan rumah Hasan.
Cepat ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas ransel, jari-jemarinya dengan cekatan menyentuh dial panggilan setelah mencari nomor kontak Hanis di riwayat panggilan sebelumnya.
"Iya, ada apa Ika?!" kata Hanis lemah setelah tersambung.
"Ini, aku sama anak-anak mau jenguk Kamu!" kata Ika mengabari.
"Ngapain jenguk aku?! Aku nggak kenapa-kenapa … Cuma kurang enak aja…." kata Hanis menolak kedatangan mereka.
"Kita sudah ada di dekat rumahmu tapi masih berhenti sejenak," kata Ika mengabari. Kemudian memutuskan panggilan sebelum Hanis kembali bersuara.
Apa yang membuatnya memutuskan sambungan? Alasannya karena tidak ingin mendengar penolakan lagi. Ada hal lain yang menjadi tujuan Ika selain menjenguk Hanis. Wanita itu sudah berbulat tekad akan membantu Hanis keluar dari masalah, dan sesuatu terlintas di pikirannya tadi sewaktu berbicara dengan Hanis di sambungan telepon.
"Ayo lanjut jalan!" seru Hilma saat melihat motor Ratih dari kejauhan.
Bangkitlah ia lebih dulu kemudian disusul Ika. Ratih memperlambat laju motor begitu mencapai mereka berdua. Masih seperti yang tadi, Ika berada di baris paling depan sebagai pemandu.
Tak seberapa lama berkendara mereka tiba juga di depan rumah Hasan. Ika turun dari motor, menekan bel yang terpasang di sisi tembok sebelah kanan.
“Ini kostnya Hanis?!” seru Hilma mengamati bangunan rumah Hasan dari luar.
“Kayak bukan kos-kosan!” sambung Ratih tutur mengamati.
Suara bel pintu pagar terdengar, Hanis dengan langkah lemah mencoba keluar dari rumah. Tertatih-tatih ia melewati halaman demi membuka pintu bagi mereka bertiga yang berada di luar pagar.
"Kalian ini, kenapa repot-repot datang?!" seru Hanis kala pintu pagar sudah terbuka dengan sendirinya.
Tidak ada satupun diantara ketiganya yang membuka mulut, mereka nyaris bersamaan membawa motor masuk ke halaman rumah. Hanis berjalan kembali, menyusul mereka yang sudah berada di teras rumah.
"Ayo masuk!" ajaknya dan membuka pintu.
Hanis membawa ketiga temannya tersebut ke dalam kamar, bukan membiarkan mereka di ruang tamu atau di ruang keluarga. Tujuannya tak lain agar tidak mengotori ruang tamu atau ruang keluarga.
"Tunggu bentar, aku buatkan minum," kata Hanis tapi dicegah oleh Ika, Hilma dan Ratih.
"Nggak usah sok formal, udah sini naik ke kasur! Kamu lemah kayak gitu!" tegur Hilma mewakili dua orang lainnya.
Hanis bertindak patuh, ia merangkak menaiki tempat tidur di mana ketiganya duduk di tepi, berjejer dengan santainya.
"Sudah periksa, Nis?!" tanya Ratih.
"Belum," jawab Hanis yang memang tidak sakit.
"Sini aku periksa!" lanjut Ratih berlagak.
Jadilah ketiganya menjadikan Hanis latihan praktek, namun Hanis tidak keberatan. Ia mengikuti instruksi tiga temannya, merebahkan tubuh.
"Kita nggak punya peralatan tahu," celoteh Ika.
"Ya gunakan kemampuan kita," balas Ratih.
Selanjutnya mereka mengecek suhu tubuh Hanis, sekedar memastikan apakah badan Hanis terasa panas atau tidak. Berikutnya mereka mengecek perut Hanis, memastikan juga apa sakitnya disebabkan oleh pencernaan. Ratih menekan perut Hanis, juga menepuknya. Kendati jurusan yang diambil Ratih keperawatan maternity, dasar-dasar perawatan medis paling dasar juga dipelajari.
"Nis, Kamu nggak makan?!" tanya Hilma saat tahu perut Hanis dalam keadaan kosong.
"Aku nggak ada nafsu makan," jawab Hanis rendah.
"Makan itu penting, kondisi tubuh bakal tambah drop kalo perut kosong! Kamu ini anak kesehatan tapi longgar sama kesehatan tubuh sendiri!" tegur Hilma.
“Tuh dengar, terapkan juga!” imbuh Ratih.
Mulut Ratih baru berucap disambung oleh Hilma, ia menyuruh Ratih mengambil kantong kresek berisi buah, susu segar dan juga roti yang tadi dibeli. Kantong kresek itu sendiri di letakkan di meja belajar tadi oleh Ratih. Ika menggunakan kesempatan itu untuk mencari tahu kelanjutan masalah yang sedang dihadapi Hanis; mulailah ia mengambil adegan peran.
"Nis, numpang ngeces boleh?!" tanyanya setelah menangkap keberadaan ponsel Hanis. Awal dari adegan yang ia rancang di otak kirinya tadi.
"Oh iya, itu!" kata Hanis tidak menaruh curiga.
Ika turun dari kasur saat dua temannya merawat Hanis, termasuk menyuapi wanita itu agar perutnya tidak kosong sehingga asam lambung tidak naik yang bisa memancing masalah lain pada tubuh.
Dalam diam, tangan Ika bergerak menggeser ponsel Hanis hingga ke hadapan dirinya. Setelah memastikan terhalang oleh tubuhnya, tak sabar Ika menekan tombol power; berharap ponsel itu tidak ada sandi keamanan. Lega hatinya kala ponsel terbuka mulus tanpa menemukan hambatan. Sebelumnya Hanis, menerapkan sandi keamanan namun lekas ia cabut sesampainya di rumah setelah keluar dengan Andik. Begitu menyala, sebuah foto Hanis dan Andik terpajang sebagai wallpaper beranda. Mata Ika dibuat kaget, namun senyum tersirat di wajahnya.
"Masak ini yang diceritakan Hanis?!" gumamnya namun tidak berlama-lama mengamati.
Langkah selanjutnya ia membuka beranda chat. Ada sebuah nama kontak yang tertulis dengan sebutan tidak biasa di riwayat chat. Juga foto yang terpajang sama persis dengan wajah seorang pria yang merangkul pundak Hanis dengan posesif.
Jemarinya secepat kilat keluar dari beranda chat, mencari daftar kontak dengan nama, Kakak Manis. Begitu ketemu, ia kirim daftar kontak itu ke nomornya. Tidak lupa ia menghapus riwayat pengiriman setelah chat itu terkirim.
Misi berhasil diselesaikan dengan lancar tanpa adanya hambatan, akting berikutnya kembali bergabung. Dengan memasang muka santai dan tingkah normal Ika merangkak naik, duduk bersama dengan dua orang temannya.
"Nis, kok kayaknya sepi ini rumah?!" tanya Ika setelah kembali bergabung.
"Iya, semuanya pada sibuk kerja!" jawab Hanis.
"Oh … itu kakak Kamu dua-duanya juga kerja?!" lanjut Ika.
"Iya, sore mereka baru berada di rumah!" seru Hanis.
Cukup lama mereka bertiga berada di rumah Hasan, tidak hanya merawat Hanis mereka juga menemani Hanis. Ratih mengusulkan menonton film di layar laptop, untungnya ia mengeluarkan laptopnya sendiri. Tadinya Hanis sempat tegang, tapi saat Ratih melanjutkan perkataannya seketika dadanya serasa longgar.
Dengan rebahan di atas kasur, empat orang itu mulai memusatkan penglihatannya hanya pada layar laptop. Menikmati cerita roman yang disuguhkan film remaja tersebut. Hingga tak terasa sore juga, Hilma yang menyadari jika mereka sudah lama berada di sana, mengajak balik kedua temannya. Beruntung juga Ika, ia yang tadi sudah lupa jika memiliki rencana lain di sore itu bisa tertolong.
"Mau kemana sih, temani aku … paling nggak sampai mereka pada balik," ujar Hanis mencegah mereka.
“Gimana ya Nis, aku ada acara lain sore ini … maksudku sekarang!” timpal Ika.
"Lain kali kita kesini lagi, Nis!" sahut Ratih dan memeluk Hanis.
"Cepat sembuh ya!" sambung Hilma dan memeluknya juga.
-----
Tengah malam Hanis tiba-tiba terbangun dari tidurnya yang baru saja terlelap. Dalam mimpi itu, entah bagaimana ceritanya Andik mengetahui soal foto dan juga rekaman yang dikirim oleh Boy padanya. Dan memancing kemarahan besar Andik.
"Kakak…." gumam Hanis, menyebut nama Andik.
Kekhawatiran dan ketakutan kian bertambah saja, menyesakkan dadanya. Air mata Hanis dengan sendirinya mengalir, takut mimpi itu menjadi nyata. Di balik isak tangisnya, otak Hanis masih berjuang mencari jalan bagaimana ia bisa mengumpulkan sejumlah uang yang menjadi kesepakatan mereka berdua.
Entah dari mana datangnya ihwal itu di kepala, seketika tangan Hanis mengusap air mata yang membasahi pipi. Turunlah ia perlahan dari kasur hanya untuk mengambil ponsel yang tergeletak di meja belajar.
Dalam beberapa hari ini, semenjak pertemuan terakhirnya dengan Boy, Hanis tidak lagi tergantung pada ponsel. Malah ia terkesan ketakutan tiap kali mendapati dering ponsel, sekalipun itu hanya bunyi beep saja. Ya, tiap kali ponsel berbunyi, jantungnya berpacu kencang; membuat dadanya terasa menyempit, sakit terasa.
Tengah malam itu, ia memberanikan diri membuka ponsel. Semua chat masuk ia abaikan lantaran tak ingin matanya mendapati chat dari nomor kontak yang tidak tersimpan. Niatnya membuka ponsel tak lain ingin browsing sesuatu., dengan mengetik kata kunci di laman pencarian ia memusatkan matanya melihat layar ponsel. Dalam sekejap semua yang berkaitan dengan kata kunci yang ia ketik muncul di layar. Satu persatu ia buka, dan ia baca hanya demi menemukan sebuah situs online.
Terdapat beberapa situs yang dicantumkan oleh beberapa artikel, Hanis mengunjungi setiap situs tersebut. Situs apa yang ia cari? Nampaknya ia mulai mencari-cari situs online mengenai penjualan organ tubuh.
Cukup takut juga kala ia membuka beranda situs tersebut, membaca setiap informasi yang dipajang. Mulai dari mengenai organ-organ tubuh yang sering didonorkan, lalu berlanjut pada kisaran imbalan dalam bahasa sopannya pada setiap orang. Dan yang terakhir ia baca, yakni bagaimana prosedur pendaftaran donor tersebut, termasuk persyaratan yang ditetapkan.
Cukup lama Hanis terdiam, sebagai seorang tenaga kesehatan ia juga mempertimbangkan segala resiko mengenai transaksi semi ilegal tersebut. Namun desakan yang kuat, mengikis rasa takut dan juga kekhawatiran akan dampak kesehatan pada tubuhnya setelah melakukan donor tersebut.
Dari sekian organ yang bisa didonorkan Hanis memilih yang paling kecil dampak pada dirinya dalam jangka waktu yang tidak lama. Setelah mempelajari cara pendaftaran, lekas ia mengklik tombol daftar dalam bahasa Inggris.
Dalam sekejap muncul format formulir yang wajib diisi secara online yang pasti. Hanis mulai mengisi setiap baris kolom, mulai dari nama hingga email diisi semua. Pendaftaran berhasil, sebuah konfirmasi lanjutan langsung muncul di beranda selular miliknya.
Rupanya itu sebuah konfirmasi kesehatan yang harus menyertakan hasil scan dari rumah sakit dimana calon pendonor memeriksakan diri secara menyeluruh. Terutama mengenai organ yang akan didonorkan; tetap dengan kata sopan.
"Berarti besok aku harus ke rumah sakit biar dapat catatan kesehatan," gumamnya.
Ia yang tidak bisa melanjutkan pendaftaran memilih tombol tunda pada kolom pengiriman rekam medis. Keluar dari situs tersebut, Hanis mulai browsing mengenai biaya rekam medis menyeluruh termasuk mengenai organ yang didonorkan.
"Lumayan mahal juga," gumamnya.
Saat masalah yang satu menemukan jalan ternyata ada masalah lain yang muncul di tengah. Apalagi kalau bukan menyangkut masalah biaya rumah sakit? Menggadaikan perhiasan tentu sudah tidak bisa, semua perhiasan yang dimiliki sudah tergadai. Laptop itu tidak mungkin.
Hanis menyudahi pencariannya, dilemparnya ponsel itu ke samping. Kepalanya berangsur merosot ke bantal, sambil menatap langit-langit kamar terus ia berpikir bagaimana caranya mendapat uang sebagai biaya rumah sakit. Terlintas di pikirannya untuk meminjam uang pada Ika meski besar kemungkinan itu tidak akan berhasil. Karena sama sepertinya, Ika juga masih bergantung pada kedua orang tuanya.
----
Kesibukan Angga kian bertambah, di lain sisi pekerjaan butik di sisi lain usaha yang mulai ia rintis melalui bantuan seorang teman. Mulai sejak itu ia juga selalu pulang malam, tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar santai bersama kedua orang tua serta adiknya di rumah. Tiap kali pulang, ia akan masuk kamar setelah membersihkan diri. Ia juga sudah nyaris tidak makan malam di rumah. Kesempatannya berkumpul hanya pada pagi hari, sewaktu sarapan saja.
Siang itu Naura dan Angga baru saja balik sehabis bertemu janji dengan seorang rekan di luar. Masih seperti biasa, Naura tidak menunggu laki-laki itu keluar dari mobil. Lebih dulu ia keluar, berjalan santai menuju teras butik. Dan mampir sebentar sebelum balik ke lantai tiga, baik ke ruang kerjanya.
Angga menyusul, langkah kakinya agak cepat agar tidak ketinggalan dengan sang atasan. Jaraknya sudah dekat dengan Naura kala keributan terdengar dari dalam butik. Sontak Naura berlari, begitu juga dengan Angga.
"Ada apa?!." Setengah berteriak Naura bertanya pada siapa saja di dalam. Namun tidak satupun diantara mereka yang menjawabnya.
Nampak karyawan butik dan juga pengunjung berkerumun, rasa penasaran membuat keduanya berhambur cepat. Mata Naura terbelalak kala melihat tubuh lunglai Lisa di bopong oleh dua karyawan. Pandangan Naura teralihkan, tangannya sontak menepuk pundak Angga. Memerintah laki-laki itu maju ke depan dan mengambil alih dua karyawan wanita yang bersusah payah.
Angga menembus kerumunan, "Biar aku yang gotong!" ujarnya.
Berikutnya ia mengambil alih, diangkatnya tubuh Lisa seorang diri. Lalu berjalan agak cepat mengikuti arahan Naura yang menyuruhnya membawa Lisa ke kursi tamu yang berada di sisi tangga. Tidak lupa ia meminta maaf pada pengunjung butik lantaran menggunakan kursi yang sejatinya diperuntukan untuk mereka.
Naura meminta segelas air pada semua yang berada di sana, maksudnya pada karyawan yang berdiri mengitari dirinya. Mayang bertindak, berlari ia ke belakang mengambil segelas air putih kemudian menyerahkan segera pada Naura. Setelah Angga merebahkan tubuh Lisa, ia tak langsung beranjak. Laki-laki itu masih punya hati nurani, dipijatnya kepala Lisa pelan-pelan.
Syukur tak seberapa lama Lisa akhirnya siuman, saat pertama kali kelopak matanya terbuka sosok Angga yang ia lihat. Dahi Lisa menegang, setengah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Suara Naura menyentaknya, ia membantu Lisa bangun sejenak. Kemudian, gelas berisi air putih yang ia pegang disodorkan ke Lisa.
"Kamu kenapa, Lis? Pasti tugas yang aku berikan kebanyakan ke Kamu!" kata Naura merasa bersalah.
"Nggak kok Mba, memang akhir-akhir ini aku kurang fit," sahut Lisa. Kepalanya tersandar ke ujung sandaran kursi.
"Sebaiknya Kamu istirahat aja di rumah, jangan lupa periksakan diri ke dokter!" tegur Naura.
“Nggak apa-apa Mba, cukup rebahan sebentar sudah mendingan! Nggak perlu balik!” tolak Lisa.
“Jangan gitu, kesehatan itu penting … nomor satu setelah pekerjaan! Sebaiknya Kamu istirahat di rumah!” sanggah Naura tidak sependapat.
Setelah menunggu kondisi Lisa berangsur nyaman, Naura menyuruh Angga mengantar Lisa pulang. Awalnya Lisa menolak, ia bersikeras tidak mau balik dan tetap berada di butik. Namun desakan Naura membuatnya menyerah, tidak berkeras diri lagi seperti yang tadi.
Angga agak berat hati kala melangkah keluar, menuruti apa yang disuruh oleh Naura padanya. Dengan hati menggumam, setengah terpaksa Angga membuka pintu mobil. Dua orang karyawan memapah Lisa keluar menuju mobil di parkiran, menyusul Angga yang berjalan lebih dulu. Naura juga turut serta namun ia berjalan di samping mereka bertiga.
"Angga, antar dia hingga rumah! Pastikan dia istirahat!" perintah Naura.
"Iya Nona!" jawab Angga singkat.
Berikutnya, laki-laki itu menghidupkan mobil. Memutar setir, mengeluarkan mobil itu dari area parkiran. Lisa yang berada di kursi belakang duduk lemah, menyandarkan kepalanya di kursi. Sesekali Angga melirik, mencuri pandang melalui kaca spion. Bukan kenapa, ia hanya memastikan saja kondisi wanita itu kini.
Mengingat Angga tidaklah tahu alamat rumah Lisa, dengan terpaksa laki-laki itu buka mulut. Keheningan yang tercipta sedari tadi menjauh juga akhirnya.
"Alamat rumahnya dimana?!" tanyanya, enggan menyebutkan nama.
Dengan suara lemah, kepala bersandar di kursi Lisa menjawabnya. Ia juga melirik, memperhatikan Angga sejenak lewat kaca spion.
"Oh daerah sana!" seru Angga.
Beruntung alamat rumah Lisa tidaklah jauh, masih satu kawasan dengan rumah Angga sendiri, hanya beda jalan. Angga yang sudah sangat hafal dengan jalur di daerah itu tidak menemukan kesulitan. Tibalah ia di depan rumah yang pintu pagarnya tertutup rapat. Lisa meraih ponsel, menghubungi seorang pembantu agar ia keluar.
"Tunggu bentar," ucapnya pada Angga yang tidak dibalas.
Tak seberapa lama seorang pembantu yang nampak masih muda berlari dari dalam rumah, di dorongnya pagar pintu itu hingga terbuka lebar. Nampak kebingungan di wajahnya kala melihat mobil warna kuning melenggang masuk ke halaman rumah. Kaca mobil itu tertutup rapat sehingga ia tidak bisa mengetahui siapa di dalamnya.
Ia masih berdiri di luar rumah, menunggu yang di dalam mobil keluar. Saat seorang pria yang tak lain adalah Angga keluar lebih dulu terlihat ia tercengang, bertambah bingung juga. Angga tidak menyapa, sebaliknya ia malah membuka pintu membantu Lisa yang masih lemah.
"Ayo aku bantu," ucapnya mengulurkan tangan.
Lisa menolak, namun tangan Angga keburu meraih lengan tangannya. Menuntut wanita itu bersikap patuh, Lisa nampak canggung meski dan tidak menundukkan mukanya. Menghindari bertatap dengan Angga, apalagi dari jarak sangat dekat. Dibantu oleh Angga, ia keluar dari mobil. Pembantu itu sontak berhambur mendatangi mereka berdua.
"Loh Non kenapa?!" ujarnya cemas.
"Sepertinya kurang enak badan," jawab Angga mewakili.
"Oh…." gumamnya.
Pembantu itu mengambil alih, Angga dengan suka cita menyerahkannya. Ia yang baru pertama kali bertemu dengan Angga menyimpan rasa penasaran di hatinya. Wanita itu bertanya-tanya siapa seorang pria yang mengantar Lisa balik.
"Kok bukan mas Rian?!" batinnya berkata.
Ia memapah tubuh Lisa memasuki kamar, Angga juga turut serta menemani hingga ke kamar Lisa di lantai dua. Bukan kenapa-napa, ia hanya khawatir tiba-tiba saja Lisa pingsan lagi. Dengan perlahan tubuh Lisa direbahkan ke kasur oleh pembantu tersebut.
"Mba, dia tadi sempat pingsan di kantor! Sebaiknya panggil dokter, biar tahu sakitnya apa!" ujar Angga menyarankan.
Lisa tidak berucap sama sekali, matanya terpejam namun tidak tidur. Angga dan pembantu muda itu melangkah keluar. Begitu berada di lantai satu Angga pamit, namun ia berusaha mencegahnya. Pembantu itu berniat masih akan membuatkan minuman namun ditolak oleh Angga.
"Terimakasih, tapi saya harus balik kerja! Pastikan dia diperiksa, biar lekas sembuh!" kata Angga dan sekali lagi mengingatkan.
"Iya Mas, habis ini saya telepon Ibu biar panggil dokter!" ujarnya menanggapi.
"Oh … kalau boleh tahu, ayah sama ibunya kemana? Kayaknya sepi," tanya Angga penasaran.
Sambil melangkah keluar dari rumah mengantar Angga, pembantu itu menjawabnya. "Bapak sama Ibu ada di toko," jawabnya.
"Oh…." seru Angga tidak melanjutkan pertanyaan, ia juga tidak berniat ingin tahu lebih banyak mengenai keluarga Lisa.
Setelah berpamitan Angga segera masuk ke dalam mobil, membawa keluar mobil itu cepat-cepat dari halaman rumah Lisa. Pembantu itu menutup kembali pintu pagar dengan rapat seperti semula beberapa saat setelahnya. Kemudian, ia kembali ke lantai dua menemui Lisa.
"Non, perutnya sakit? Mau muntah apa gimana?!" tanyanya ingin tahu apa yang dirasakan Lisa sekarang.
"Radak perih, kepala pusing…." ungkap Lisa menggambarkan apa yang dirasakan.
"Non pasti telat makan, habisnya tadi pagi nggak sarapan! Saya telepon Ibu dulu biar panggil dokter!" Ujarnya sebelum keluar dari kamar.
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura