Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Sedangkan di sisi pintu lain, ada Aurora dengan aura mengintimidasi yang ia punya, pancaran pesonanya tak bisa di tolak, dan dalam waktu singkat Aurora bisa membuat mereka semua berpaling dari si kembar Draco yang selama ini menjadi inti pusat perhatian seluruh DHS.
"Dia benar-benar cantik, kan?" salah satu Siswa memuji kecantikan Aurora, sekarang mereka semua tak ragu kalau Aurora adalah putri asli dari Harvey.
Anjani dan teman-temannya kesal, mereka tak menyangka kalau Aurora akan menjadi pusat perhatian setelah Draco, dan Anjani tak pernah menduga sikap dan ketenangan gadis itu menjadi pesona kuat yang tak bisa ia tiru.
"Sialan!" Anjani menggeram marah.
"Apa yang akan kau lakukan pada gadis itu, Jani?" salah satu teman bertanya.
"Sesuatu yang akan membuat ia jera," Anjani tersenyum menyeringai tipis.
Anjani belum menjalankan skorsing sebab ia pikir untuk apa? Dia ini Harvey dan tak akan ada yang berani bicara walaupun ia masuk sekolah dan tak menjalankan hukuman apapun.
...****************...
Bisik-bisik terus terdengar seantero kantin sekolah mewah DHS semuanya berbisik membicarakan soal amal dan tak banyak pula yang membicarakan Arion yang akan di jodohkan dengan putri Harvey.
Mereka masih mencari jawaban atas putri Harvey mana yang akan mendapatkan Arion Draco, pangeran dari Draco yang kaya.
"Kau yakin tak peduli pada Arion?" gadis berkacamata bertanya pada sosok Aurora yang terlihat tenang.
"Memang apa yang harus aku pedulikan?" Aurora justru membalik pertanyaan.
Gadis itu hanya mengedikkan bahunya acuh, dia akhirnya kembali menikmati makan siang yang hari ini terasa enak.
"Ra," panggil Gadis berkacamata yang tak lain adalah Seina.
"Apa?" Aurora hanya melirik sedikit.
"Anjani, kenapa dia bisa masuk sekolah? Sedangkan diakan mendapatkan hukuman skorsing selama tiga hari," Seina menatap Anjani yang terlihat menikmati makan siang dengan duduk di kursi inti Code Black.
"Dia gadis manja yang hanya bisa memohon," sinis Aurora.
"Loh? Maksudnya?" tanya Seina tak paham.
"Dia memohon pada Tuan besar Harvey, yang tak lain adalah Ayah kandungku, untuk tak jadi mendapatkan hukuman," jelasnya dengan sinis.
Seina hanya tersenyum kecil, sejak awal dia masuk ke sekolah DHS dirinya pun muak pada kelakuan Anjani.
Aurora dan Seina kembali melanjutkan makan siang mereka dengan nyaman, tanpa gangguan yang berarti dari Anjani yang ia tahu sejak tadi terus memperhatikan dirinya dari meja sebrang sana.
"Jadi apa dia akan datang?" Galaxy bertanya pada sosok Arion yang sejak tadi terus menatap Aurora.
"Aku tidak tahu, hah dia memang sulit di dekati," keluh Arion.
"Kau ini Playboy masa iya kalah sama Aurora? Ayo semangat!" Galaxy memberikan semangat dengan memeluk pundak Arion.
"Apa sih peluk-peluk segala? Kalau Aurora yang peluk nggak apa-apa," ketus Arion, dia menyingkirkan tangan Galaxy yang bertengger di pundaknya.
"Ye.... Aurora aja nggak mau sama kamu," Galaxy meledek dengan senyum mengejek.
"Sialan!" Arion menggeram marah dengan mata mendelik pada Galaxy.
Obrolan terus mengalir, mereka semua membahas acara amal dan beberapa kali Arion menjadi sasaran ledekan semua sahabatnya karena mengejar Aurora yang tampak sulit.
...****************...
Malam ini semua anggota keluarga Harvey sudah berada di ruang tamu. Mereka semua sudah siap dengan penampilan sederhana. Namun, elegant.
"Loh? Dimana Aurora?" Adeline membuka suara menanyakan Aurora yang tak ada di antara mereka.
Mereka menggeleng sebagai tidak tahu akan keberadaan Aurora yang tak terlihat hadir.
"Ma, sudahlah kita tinggal saja!" celetuk Aruna, dia sudah siap dengan dress mewah berwarna putih dengan model Sabrina.
Mereka semua menggunakan dresscode sesuai tema, putih melambangkan kesucian maka dari ini semua orang menggunakan pakaian berwarna putih untuk acara amal.
"Kok di tinggal? Dia itu adik mu, Aruna," jelas Adeline.
"Ma, kita masih banyak urusan lalu kenapa harus tertunda karena Aurora?" Aruna menjelaskan dia kesal karena sang Mama terus saja membela Aurora.
"Sayang, kamu panggil saja Aurora!" Baskara menengahi sebab jika tidak pertikaian kecil itu akan besar karena kekeras kepalaan Aruna.
Adeline mengangguk, dia berjalan perlahan menuju kamar Aurora yang ada di lantai dua kediaman Harvey.
"Kenapa harus mengajak gadis kampung itu?" gerutu Aruna.
"Kak, bagaimanapun Aurora itu adik Kakak, jadi biarkan saja dia ikut!" ucap Anjani lembut.
Padahal dalam hati ia kesal sebab Aruna tidak bisa membuat Aurora tidak ikut ke acara amal.
"Aku tidak suka dia ikut, dan kamu juga tidak suka, kan?" kata Aruna.
"Aku memang tidak suka, tapi kehendak Mama dan Papa tidak bisa kita lawan," jelas Anjani. Dia berbisik pelan.
Aruna hanya mencibir, dia kesal sebab harus membawa gadis kampung itu ke acara sebesar amal di kelurga Draco.
Adeline tiba di kamar Aurora, dia segera mengetuk pintu kamar dengan pelan.
Aurora yang ada di dalam kamar, sedang sibuk menelpon Seina, dia membahas apa yang tidak jadi mereka bahas di Perpustakaan tadi, sebab ternyata Seina harus pulang karena orang tuanya menelpon.
"Aku akan telpon lagi nanti!" setelah mengatakan itu panggilan berakhir begitu saja tanpa sempat mendapatkan sahutan dari Seina.
Aurora meletakkan ponselnya, dia tahu pasti akan ada yang mengetuk pintu sebab sejak tadi ia tak turun untuk makan malam ataupun berencana ikut ke acara amal.
"Apa bagusnya datang ke sana? Harvey dan Draco memang sahabat juga pemilik perusahaan raksasa yang tak ternilai, jadi untuk apa aku datang jika aku memiliki Harvey?" gumam Aurora dengan wajah malas saat mendengar suara ketukan pintu.
...****************...
Ceklek,
Pintu kamar Aurora terbuka pelan, dan Adeline tersenyum tipis, penuh harap. Tapi senyum itu segera memudar ketika matanya menangkap pakaian yang dikenakan putrinya bukan gaun indah yang sudah disiapkannya dengan penuh cinta.
"Loh, kenapa kamu belum pakai gaun yang Mama siapkan?" suara Adeline menyiratkan kebingungan sekaligus kekhawatiran, matanya menatap Aurora dengan tanya.
Aurora menghela napas panjang, "Ma, aku… aku nggak ikut ya," ucapnya pelan,
Adeline mendekat, suaranya lembut namun tegas, "Kamu harus ikut, Nak. Ini bukan soal suka atau tidak, tapi ada hal penting yang akan kami bahas di sana dan itu membutuhkan kehadiran semua anggota keluarga Harvey."
Aurora menatap wajah ibunya lekat, lalu mengangguk pelan, suaranya lirih, “Iya sudah, aku akan ganti baju dulu.”
Adeline meraih tangan putrinya, lembut namun tegas, “Biar Mama bantu supaya cepat. Mereka di bawah sudah menunggu.”
Kemudian pasangan ibu dan anak itu berjalan perlahan menuju kamar Aurora.
Setelah itu Aurora melangkah ke dalam walk-in closet, dan menutup pintunya. Gaun putih itu tergantung indah di gantungan, menunggu untuk membalut tubuh indahnya.
Saat ia mengenakan gaun berwarna putih itu, seperti ada kekuatan halus yang menyelimuti dirinya cantik, anggun, dan mempesona.
Di sisi lain, Adeline sibuk merapikan aksesoris seperti sepatu yang berkilau, tas mungil, dan perhiasan yang indah.
Tak berapa lama Aurora keluar dari walk in closet.Tanpa bicara, Adeline menarik tubuh putrinya, mendudukkan Aurora di kursi meja rias.
Dengan sentuhan lembut dan penuh kasih, Adeline mulai merias wajah Aurora, membingkai kecantikan wajah itu.
Jari-jarinya sigap menyanggul rambut indah dan lembut itu lalu menyelipkan hiasan bunga yang merekah indah menghiasi rambut putrinya.
selalu d berikan kesehatan😄