Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: KEMATIAN YANG MENGINTAI DI BANGSAL NO. 7
BAB 24: KEMATIAN YANG MENGINTAI DI BANGSAL NO. 7
Rumah Sakit Pusat Shimla di awal tahun 2026 tampak seperti benteng futuristik. Dinding kaca antigores, pintu otomatis dengan pemindai retina, dan robot perawat yang bergerak tanpa suara di koridor putih yang steril. Aarohi duduk di kursi tunggu Bangsal No. 7, bangsal khusus untuk pasien dengan penjagaan ketat. Bahunya dibalut perban, dan rasa perih akibat sisa-sisa badai salju semalam masih terasa di setiap inci kulitnya.
Di balik kaca tebal di depannya, Deep terbaring tak berdaya dengan berbagai selang medis menempel di tubuhnya. Abhimanyu berada di ruang operasi di lantai bawah. Sementara itu, Interpol dan kepolisian lokal sedang sibuk menggeledah seluruh aset keluarga Malik berdasarkan data yang dikirimkan Deep dari biara.
"Semuanya sudah berakhir, bukan?" bisik Aarohi pada pantulannya di kaca.
Namun, firasatnya berkata lain. Kesunyian rumah sakit ini terasa terlalu sempurna, seperti ketenangan sebelum badai yang jauh lebih besar menghantam.
Aarohi berdiri dan berjalan menuju meja perawat untuk menanyakan status Abhimanyu. Namun, saat ia mendekat, ia menyadari sesuatu yang janggal. Perawat yang bertugas membelakanginya, tubuhnya tampak kaku. Aarohi melihat genangan kecil cairan merah yang merembes dari bawah kursi perawat tersebut.
"Suster?" panggil Aarohi pelan, tangannya diam-diam meraba saku jaketnya, mencari pisau lipat kecil yang berhasil ia sembunyikan dari pemeriksaan polisi.
Saat kursi itu berputar, Aarohi hampir berteriak. Perawat itu sudah tewas dengan leher tergorok rapi. Dan di atas meja perawat, terdapat sebuah cermin kecil dengan tulisan yang ditulis menggunakan lipstik merah: "Wajah yang sama, nasib yang berbeda. Aku kembali, Kembaranku."
Jantung Aarohi berdegup kencang. Tara.
Bagaimana mungkin wanita itu bisa masuk ke sini? Bukankah Abhimanyu bilang Tara hilang setelah sabotase ambulans? Aarohi segera berlari kembali ke kamar Deep, namun pintu otomatisnya telah terkunci dari dalam. Sistem digital rumah sakit tiba-tiba mengalami glitch. Lampu-lampu di koridor Bangsal No. 7 mulai berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan.
"Tara! Keluar kau! Jangan jadi pengecut!" teriak Aarohi, suaranya menggema di koridor yang sepi.
Suara tawa melengking terdengar dari pengeras suara gedung. "Pengecut? Aku adalah bayanganmu, Aarohi. Kau tidak bisa membunuh bayanganmu sendiri."
Tiba-tiba, salah satu pintu darurat terbuka. Sesosok wanita keluar dari sana. Ia mengenakan jubah putih rumah sakit yang bercampur dengan noda darah. Wajahnya yang dulu cantik kini dihiasi bekas luka bakar dan perban yang terlepas sebagian. Matanya memancarkan kegilaan murni yang melampaui logika manusia.
"Kau menghancurkan duniaku, Aarohi," ucap Tara sambil memutar-mutar sebuah scalpel (pisau bedah) perak di tangannya. "Kau mengambil Deep dariku. Kau membuatnya membenciku. Sekarang, aku akan mengambil satu-satunya hal yang paling kau cintai: hidupmu."
Tara menerjang maju dengan kecepatan yang tak terduga. Aarohi menghindar, tendangan Tara mengenai kursi tunggu hingga terpental. Mereka bergulat di lantai koridor yang licin. Tara jauh lebih kuat karena didorong oleh adrenalin kegilaan. Ia berhasil menindih Aarohi dan mengarahkan pisau bedah itu tepat ke mata Aarohi.
"Lihat wajah ini!" desis Tara. "Ini adalah wajah terakhir yang akan kau lihat sebelum kau masuk ke neraka!"
Aarohi mencengkeram tangan Tara dengan sekuat tenaga. "Kau yang seharusnya berada di neraka, Tara! Deep tidak pernah mencintaimu! Dia hanya mencintai obsesi yang kau ciptakan!"
Kalimat itu membuat Tara tertegun sesaat, memberikan kesempatan bagi Aarohi untuk menendang perut Tara dan membalikkan keadaan. Aarohi meraih botol oksigen kecil yang ada di dekat meja medis dan menghantamkannya ke kepala Tara.
Tara tersungkur, namun ia masih tertawa gila. "Kau pikir membunuhku akan menyelesaikan semuanya? Deep sudah tahu siapa kau. Dia tidak akan pernah bisa mencintaimu tanpa melihat bayanganku di wajahmu. Kita adalah satu, Aarohi. Selamanya!"
Tiba-tiba, suara alarm kebakaran berbunyi. Sistem pemadam api otomatis menyemprotkan air ke seluruh koridor, membuat pandangan menjadi kabur. Di tengah kabut air itu, Aarohi melihat Tara merangkak menuju ruang oksigen pusat di ujung lorong.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, tidak ada yang bisa!" teriak Tara.
Aarohi menyadari apa yang akan dilakukan Tara. Tara ingin meledakkan tabung oksigen utama untuk menghancurkan seluruh lantai ini, termasuk kamar tempat Deep sedang koma.
"Jangan, Tara! Kau akan mati juga!"
"Aku sudah mati sejak lama, Aarohi!" Tara memantik sebuah korek api gas yang ia curi dari saku petugas keamanan.
Dalam hitungan detik, Aarohi harus memutuskan: menyelamatkan dirinya sendiri, atau mencoba menghentikan Tara dan mempertaruhkan nyawanya demi pria yang pernah menghancurkannya. Di tahun 2026, di tengah kemajuan teknologi medis, nyawa manusia tetap terasa sangat rapuh di tangan seorang wanita yang kehilangan segalanya.
Aarohi berlari menuju Tara, melompat dan mencoba merebut korek api itu. Ledakan kecil terjadi akibat percikan api yang menyambar uap oksigen, melemparkan mereka berdua ke arah yang berlawanan. Pandangan Aarohi menjadi gelap saat kepalanya membentur dinding kaca.
Hal terakhir yang ia dengar adalah suara sirine darurat dan suara Deep yang samar-samar memanggil namanya di tengah kegelapan.