Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Bersalah
Pintu rumah terbuka pelan. Ravindra masuk dengan langkah hati-hati, seolah suara engsel bisa menjadi saksi. Jas ia lepaskan perlahan, sepatu diletakkan rapi, kebiasaan yang kini terasa seperti upaya menebus sesuatu.
Lampu ruang tengah masih menyala.
Tafana duduk di sofa, kaki dilipat, rambutnya diikat asal. Ia menoleh dan tersenyum saat melihat Ravindra masuk. Senyum lega. Bukan curiga.
“Oh,” katanya ringan. “Kamu sudah pulang.”
Ravindra berhenti melangkah. Lega—dan sekaligus tertusuk.
“Iya,” jawabnya. “Maaf, lama.”
Tafana mengangguk. “Kenapa lama pulangnya?”
Tidak ada nada menyelidik. Tidak ada kecurigaan. Justru itu yang membuat dada Ravindra terasa sempit.
“Aku harus antar teman yang mabuk,” katanya akhirnya. Kalimat itu keluar tanpa gentar, karena memang tidak sepenuhnya salah.
“Oo.” Tafana bangkit, merapikan bantal sofa. “Pasti capek, ya. Sana bersihkan diri dulu. Untung besok libur.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada tatapan menahan. Tafana kembali duduk, menyalakan televisi dengan volume kecil, seperti memastikan rumah ini tetap berjalan normal.
Ravindra mengangguk singkat dan masuk ke kamar. Di balik pintu yang tertutup, ia berdiri diam lebih lama dari seharusnya. Nafasnya berat. Keheningan kamar terasa berbeda, bukan tenang, melainkan menunggu.
Ia duduk di tepi ranjang. Menggosok wajahnya dengan kedua tangan.
Semuanya terasa normal.
Terlalu normal.
Dan justru di situlah letak kesalahannya.
Lampu kamar sudah dipadamkan, tapi Ravindra belum memejamkan mata. Langit-langit gelap menjadi layar tempat ingatan memutar ulang dirinya sendiri, tanpa izin.
Tangan yang melingkar di lehernya. Berat tubuh Yunika saat ia menggendongnya masuk. Tawa kecil yang pecah di antara langkah goyah. Rumah yang sepi, pintu yang tertutup, jarak yang akhirnya runtuh.
Semua terasa seperti pelepasan panjang dari sesuatu yang tertahan bertahun-tahun. Bukan sekadar hasrat, tapi perasaan yang terlalu lama disimpan dan akhirnya menemukan ruang.
Lalu sunyi.
Setelahnya, realita datang seperti tamparan dingin. Wajah Tafana muncul begitu saja. Bukan marah, bukan kecewa, tapi seperti tadi: tersenyum lega saat melihatnya pulang.
Dadanya mengencang.
Ia bangkit dari ranjang, duduk, menarik napas panjang. Rasa bersalah itu tidak meledak. Ia merayap. Pelan. Menetap.
Ia tahu, di atas kertas, ia tidak melanggar apa pun. Pernikahan ini kontrak. Tidak ada tuntutan cinta.
Tapi tubuhnya menolak tenang.
Yang ia takutkan bukan ketahuan.
Yang ia takutkan adalah kehilangan perempuan yang memilih tinggal tanpa banyak bertanya.
Dan di tengah ketakutan itu, ada satu kesadaran yang membuatnya semakin sesak:
Hatinyanya memang tertaut pada Yunika.
Tapi kehilangan Tafana—entah kenapa—terasa seperti kehilangan sesuatu yang jauh lebih nyata.
Ravindra menutup wajahnya dengan tangan. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tahu satu hal pasti: Ia sudah melangkah terlalu jauh untuk bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
-oOo-
Pagi datang tanpa pengumuman.
Aroma roti panggang memenuhi dapur. Tafana berdiri di depan kompor dengan rambut terikat rapi, kaus longgar, dan celana rumah. Gerakannya efisien, familiar. Seperti tidak ada yang berubah.
Ravindra keluar kamar dengan piyama setengah dikancing. Ia berhenti sejenak di ambang dapur, menatap punggung istrinya. Ada dorongan aneh untuk mengatakan sesuatu—apa pun—hanya agar keheningan itu pecah oleh kejujuran. Tapi lidahnya kelu.
“Pagi,” sapa Tafana sambil menuang teh. “Kamu kelihatan letih.”
“Sedikit,” jawab Ravindra.
Mereka duduk berhadapan. Tafana menyuapkan telur ke mulutnya sambil membuka ponsel, jempolnya lincah membalas pesan. Sesekali ia tersenyum kecil—bukan pada Ravindra, tapi pada layar.
“Sierra?” tebak Ravindra, berusaha terdengar biasa.
“Iya,” Tafana mengangguk. “Aku bantuin butiknya.”
Ravindra mengangguk, lalu menunduk pada ponselnya sendiri. Layar menyala menampilkan nama Yunika. Pesan singkatnya terkirim. "Kamu baik-baik saja?"
Ia mengetik tambahan cepat. "Aku khawatir. Tadi malam kita terlalu jauh."
Di depan meja yang sama, mereka sama-sama sibuk, namun keheningan pagi itu terasa lebih lebar dari biasanya. Tidak ada kecupan kening. Tidak ada sentuhan singkat. Hanya dua orang yang duduk berdampingan, masing-masing menjaga dunia kecilnya sendiri.
Pagi tetap berjalan.
Tapi sesuatu sudah mulai bergeser.
-oOo-
Selagi Ravindra bekerja, Tafana berjanji bertemu dengan Sierra sepanjang hari ini.
Mall siang itu ramai, tapi Tafana merasa ringan. Sierra berjalan di sampingnya, membawa dua paper bag sekaligus, wajahnya puas seperti habis memenangkan sesuatu.
“Lo sadar nggak sih,” kata Sierra sambil berhenti di depan etalase butik, “status lo sekarang itu nyonya Arvana. Lo nggak bisa terus berpakaian kayak mau ke minimarket.”
Tafana tertawa kecil. “Gue nyaman begini.”
“Nyaman boleh,” sahut Sierra, “tapi pantas juga perlu.”
Akhirnya Tafana menyerah. Ia mencoba beberapa dress—potongan rapi, warna tenang, bahan yang jatuh anggun di tubuhnya. Saat bercermin, ia terdiam sejenak. Perempuan di pantulan itu terlihat berbeda. Lebih dewasa. Lebih tegas. Bukan karena bajunya, tapi karena cara ia berdiri.
“Lihat?” Sierra tersenyum puas. “Lo kelihatan kayak seseorang yang tahu arah hidupnya.”
Setelah belanja, mereka menuju salon. Rambut Tafana dipotong sedikit lebih pendek, diberi sentuhan yang membuatnya tampak segar tanpa kehilangan kesederhanaannya. Saat stylist memutar kursi menghadap cermin, Tafana menghela napas pelan.
“Gue suka,” katanya jujur.
Sierra menepuk pundaknya. “Bagus. Ini bukan buat siapa-siapa. Ini buat lo.”
Tafana tersenyum. Senyum yang utuh, tanpa beban.
Hari itu, tanpa ia sadari, Tafana sedang memperkuat sesuatu dalam dirinya.
Bukan untuk bertahan.
Tapi untuk siap, jika suatu hari ia harus melangkah sendiri.
-oOo-
Sementara di kantor Arvana Children Toys. Ruang kerja Ravindra lengang saat Yunika masuk tanpa mengetuk. Blazer kremnya dilepas, rambutnya tergerai. Ia duduk di tepi meja, terlalu dekat.
“Kamu kelihatan tegang,” katanya pelan.
Ravindra menghela napas. “Nika… kita perlu bicara.”
Yunika tersenyum kecil, lalu naik ke pangkuannya, lengannya melingkar di leher Ravindra. Gerakannya spontan, seolah mengulang malam yang belum sepenuhnya reda.
Namun Ravindra menahan bahunya. Lembut, tapi tegas.
“Aku sudah menikah.”
Kata-kata itu jatuh berat. Yunika membeku. “Apa?” Suaranya pecah. “Kamu permainkan aku?”
“Tidak.” Ravindra menelan ludah, panik. “Ini… pernikahan kontrak, bukan sungguhan. Tidak melibatkan perasaan.”
Yunika tertawa pendek, bukan karena lucu. Matanya memerah. “Jadi semalam aku apa? Pelarian?”
“Bukan begitu. Aku—”
“Kamu jahat,” potong Yunika, suaranya bergetar. “Kamu biarkan aku berharap, lalu tempatkan aku sebagai orang ketiga.”
Ravindra panik. “Aku hanya jujur sekarang. Kamu bukan orang ketiga. Aku yakin istriku paham aturannya. Dia tidak akan keberatan.”
Yunika menggeleng keras. Air matanya jatuh. “Kamu mau jadikan aku simpanan?”
Ia berdiri mendadak, mengambil tasnya. “Kamu tahu, aku yang akan rugi paling banyak. Tega kamu!”
Pintu terbanting.
Ravindra duduk kaku di kursinya, napasnya tertahan, dadanya nyeri.
Ia tahu, kejujuran yang terlambat bisa sama menyakitkannya dengan kebohongan.
...-oOo-...
Yunika melangkah keluar dari ruang kerja Ravindra. Begitu pintu tertutup, langkahnya melambat.
Ia berhenti di lorong yang sepi.
Tangannya terangkat, menghapus air mata di pipi. Napasnya diatur ulang. Saat menatap pantulan dirinya di dinding kaca, ekspresinya berubah—tidak lagi rapuh, melainkan tenang. Terkendali.
Ia mengeluarkan ponsel dan menekan satu nomor.
“Masih jalan?” tanyanya singkat.
Ia mendengarkan sebentar, lalu mengangguk kecil. “Oke. Tetap pantau. Aku cuma mau tahu aktivitasnya. Jangan sampai ketahuan.”
Telepon ditutup.
Yunika menyelipkan ponsel ke tas, lalu bersandar sebentar. Wajahnya kosong, pikirannya bergerak cepat.
Ia sudah tahu Ravindra punya istri. Ia juga tahu pernikahan itu kontrak. Rapi di atas kertas, tapi rapuh dalam praktiknya. Tidak ada cinta yang mengikat kuat. Dan justru itu celahnya.
Tangisnya barusan bukan akting penuh. Ada luka sungguhan saat tahu ia bukan yang dipilih secara terbuka. Tapi ia juga tahu satu hal: Ravindra paling lemah saat merasa bersalah.
Ia tidak perlu memaksa. Tidak perlu menuntut.
Cukup terlihat tersakiti. Cukup membuat Ravindra percaya bahwa ia telah melukai seseorang yang mencintainya.
Yunika tersenyum tipis.
Jika Ravindra harus memilih, ia akan memastikan pilihannya lahir dari rasa bersalah, bukan ketenangan.
-oOo-
Pintu rumah tertutup perlahan di belakang Ravindra. Tubuhnya lelah, pikirannya kusut, emosi berlapis-lapis seperti benang yang tak sempat diurai. Ia berjalan menyusuri lorong, lalu berhenti di depan kamar Tafana yang pintunya sedikit terbuka.
Di dalam, Tafana berdiri di depan cermin. Gaun barunya jatuh anggun mengikuti garis tubuhnya, sederhana tapi berkelas. Potongan rambut barunya membingkai wajahnya dengan lembut, membuatnya tampak lebih segar—lebih hidup. Ia memiringkan kepala, menilai pantulan dirinya sendiri, lalu tersenyum kecil, puas dengan perubahan yang ia pilih.
Ravindra mematung sejenak.
Kekalutan di dadanya mereda, digantikan rasa lega yang hampir menyakitkan. Seolah semua yang berantakan di luar sana bisa diredam hanya dengan melihat pemandangan ini.
“Cantik,” katanya pelan.
Tafana sedikit terkesiap ketika dua lengan melingkari perutnya dari belakang. Namun ia segera mengendur, bersandar pada dada Ravindra yang hangat. Ia menoleh sedikit, tersenyum. “Kamu udah pulang.”
Ravindra mencium pelipisnya, lalu lehernya, seolah ingin memastikan perempuan itu nyata, masih di sini. Tafana menyambut tanpa curiga, membalas sentuhan dengan kehangatan yang ia pikir wajar dimiliki suami istri.
Malam itu mereka saling merengkuh, saling mencari, tenggelam dalam kedekatan yang terasa intens. Tafana mengira ini rindu. Ravindra membiarkannya begitu.
Ia tidak menyadari, di balik pelukan itu, Tafana sedang menjadi tempat Ravindra melarikan diri dari rasa bersalah yang belum berani ia hadapi.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅