Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Arya, bocah lelaki berusia empat tahun, dengan sigap mengambil kotak obat saat melihat tangan Sonya terluka. Tanpa ragu, ia menatap Sonya dengan ekspresi polos namun tegas.
"Tante, kok kayak anak kecil sih? Bisa terluka begini," ucapnya, seraya membuka kotak obat dengan jemari mungilnya.
Sonya tertegun. Ia memperhatikan wajah kecil Arya yang kini sibuk menempelkan plester di jarinya yang terluka. Ada sesuatu dalam raut wajah Arya yang membuat hatinya bergetar saat mengamatinya dan baru tersadar.
Sekilas, wajah anak itu begitu mirip dengan Yudha, garis tegas di rahangnya, cara matanya menatap tajam namun penuh perhatian. Tapi ketika Sonya memperhatikan lebih dalam, ia juga melihat bayangan Sasa. Hidung kecil Arya, senyumnya yang manis... semua tentang Sasa seolah hadir di depan matanya.
Sonya mengulurkan tangan, hampir menyentuh pipi Arya yang lembut, namun suara Yudha tiba-tiba menggelegar ia menjadi urung. "Kalau kamu nggak niat kerja, aku bisa ganti katering kamu!"
"Lain kali kamu harus fokus," tambah Serly.
Sentakan suara dua orang berbeda jenis kelamin itu, membuat Sonya seolah kembali ke dunia nyata. Ia segera berdiri, mencoba menjaga keseimbangan emosinya di depan Arya. "Maaf, saya akan melanjutkan. Kebetulan menu yang saya buat sudah hampir matang," jawabnya cepat, dengan suara yang berusaha terdengar stabil.
Namun, di balik kesibukannya, pikiran Sonya terus bergulat. Mungkinkah ini hanya perasaan rindu yang membutakan dirinya, karena merindukan Sasa yang kini masih berada di rumah sakit? Arya hanyalah anak kecil, wajahnya tentu akan terus berubah seiring waktu. Tapi kenapa perasaan ini begitu kuat?
Sonya menarik napas dalam-dalam, mencoba fokus pada pekerjaannya, tapi matanya terus melirik ke arah Arya. Anak itu kini tengah bermain dengan kotak obat, tertawa kecil saat mencoba menutupnya dengan susah payah. Ada kehangatan di sana, kehangatan yang mengingatkannya pada sesuatu atau mungkin seseorang yang selama ini ia rindukan.
Setelah semua siap, Sonya menyajikan menu yang sudah ia siapkan di meja makan. Yudha menatap makanan itu tanpa ekspresi, sementara Arya tampak begitu antusias.
"Ini sayur?" tanya Arya dengan mata berbinar.
"Iya, sayur sop ayam. Memang menunya sederhana, tapi gizinya banyak sekali," jawab Sonya dengan senyum lembut.
Tanpa menunggu lama, Arya mulai menyendok makanan itu ke mulutnya. Yudha sempat meragukan menu Sonya, ia tampak tak yakin Arya akan menyukai sayuran. Ia tahu betul bahwa Arya biasanya sangat sulit makan sayur. Namun, dugaan itu segera terpatahkan ketika Arya dengan lahap menyantap hidangan tersebut.
"Kamu menyukainya?" tanya Serly tiba-tiba, nada suaranya terdengar ingin tahu.
"Iya, Bi, ini enak sekali!" sahut Arya ceria. Ia bahkan menyodorkan mangkuknya, meminta diisi kembali. Melihat itu, senyum Sonya mengembang. Setidaknya ada satu hal yang berhasil ia lakukan dengan baik.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di hadapannya, hidangan untuk Yudha dan Serly masih utuh, sama sekali tidak tersentuh. Sonya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, meski ada keraguan dalam suaranya.
"Maaf, apa menunya tidak sesuai selera kalian?"
Serly bangkit dari tempat duduk, menatap Sonya dengan sorot mata tajam. "Kamu apa tidak pernah mencari tahu kalau kami tidak suka makanan pedas?" katanya dingin.
Sonya tersentak. Ia sangat ingat bahwa Yudha selalu menyukai makanan pedas. Apa mungkin ia salah mengingat? Kebingungan dan rasa bersalah mulai menyelimuti dirinya.
"Maaf kalau begitu, saya akan membuat menu baru," ujarnya cepat, berusaha memperbaiki keadaan.
"Tidak usah," potong Yudha tegas. Ia bangkit dari kursinya, tatapannya tajam menusuk. "Kamu ikut saya ke ruang kerja," perintahnya, tanpa memberi ruang untuk penolakan.
Sonya terdiam sejenak, merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Tanpa banyak bicara, ia mengikuti Yudha keluar dari ruang makan, sementara Serly hanya melirik mereka dengan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.