Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 011 : Aura Merah Muda Di Kamar Privat
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca besar di lantai lima Rumah Sakit Adio Medical Center tampak terlalu cerah untuk suasana hati Rachel yang masih terasa "remuk".
Rachel terbangun di sebuah kamar privat yang lebih mirip suite hotel bintang lima daripada kamar perawatan. Harum aromaterapi lavender memenuhi ruangan, mencoba menutupi bau obat-obatan yang tajam.
Di sudut ruangan, Peterson sedang sibuk mengupas apel dengan sangat rapi menggunakan pisau kecil, sementara Melissa duduk di samping brankar Rachel sambil membolak-balik majalah fashion Belanda miliknya.
"Gautama Family yang lain mana?" bisik Rachel. Suaranya masih agak parau, tenggorokannya terasa kering seperti habis menelan pasir.
Melissa menoleh dan tersenyum lebar, menampakkan lesung pipitnya.
"Oh, si pahlawan sudah bangun! Cak Dika harus mengurus sasana silatnya pagi-pagi sekali, Marsya ada kuliah pagi yang tidak bisa ditinggal, dan Bella... yah, kamu tahu dia, Mas Suhu mengajaknya 'membersihkan diri' di mata air keramat setelah kejadian semalam. Mereka semua sudah yakin kamu aman di tangan Dokter kesayanganmu ini."
Rachel mendengus pelan, mencoba membenarkan posisi duduknya namun langsung meringis.
"Kesayangan apa... dia itu cuma dokter yang cerewet."
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dengan suara gesekan halus. Adio masuk dengan jubah putih dokternya yang rapi dan kaku.
Meskipun wajahnya terlihat segar setelah mandi, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong bahwa ia tidak tidur sedetik pun semalam.
Ia membawa papan klip medis dan stetoskop yang tergantung di lehernya, berjalan dengan langkah tegap yang penuh otoritas.
"Pasien paling bandel di rumah sakit ini akhirnya sadar sepenuhnya," sapa Adio dengan nada sarkas yang dibuat-buat, meski binar matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa.
Ia mendekat, meletakkan punggung tangannya di dahi Rachel, lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan gadis itu. "Kondisi fisikmu stabil, tapi otot-ototmu mengalami strain hebat akibat kontraksi ghaib semalam. Kamu beruntung syarafmu tidak putus, Hel."
"Aku kuat, Dio. Besok juga sudah bisa lari," sahut Rachel santai, mencoba menunjukkan wajah tangguh.
Adio menghela napas panjang, menatap Rachel dengan tatapan intens yang membuat Rachel sedikit salah tingkah.
"Justru itu masalahnya. Karena kamu selalu merasa kuat, kamu jadi sembrono. Aku sudah menyusun jadwal untukmu. Mulai besok, kamu harus melakukan fisioterapi rutin selama dua minggu. Tidak ada bantahan."
Rachel langsung melotot.
"Fisioterapi? Kamu gila? Aku ini Muara Gautama, Dio. Aku cuma butuh meditasi dan sedikit jamu dari Nyai Ratu, bukan jalan di atas treadmill atau latihan keseimbangan di depan cermin!"
"Ini rumah sakitku, Rachel. Di sini, aku ahlinya dalam urusan medis," balas Adio, mendekatkan wajahnya ke arah Rachel hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
"Kamu mati lima belas menit semalam. Lima. Belas. Menit. Jantungmu berhenti, ototmu kaku seperti balok kayu. Kamu harus fisioterapi agar syaraf motormu tidak cacat!"
"Nggak mau! Membosankan!" Rachel melipat tangan di dada, mengabaikan rasa nyeri di bahunya.
"Mending aku berantem sama enam Legion sekaligus daripada disuruh latihan angkat beban kecil di ruang fisioterapi yang baunya antiseptik itu."
Melissa dan Peterson hanya bisa saling pandang. Peterson menyodorkan sepotong apel ke Melissa sambil berbisik pelan,
"Mereka mulai lagi. Episode drama dokter dan pasien."
"Dua orang ini," balas Melissa pelan sambil menggelengkan kepala.
"Satunya dokter yang posesifnya minta ampun, satunya pasien yang keras kepalanya melebihi batu karang. Kenapa mereka tidak menyatakan cinta saja daripada berdebat soal otot dan syaraf?"
Adio berkacak pinggang, mencoba terlihat galak.
"Rachel, kalau kamu tidak mau fisioterapi, aku tidak akan menandatangani izin pulangmu. Kamu akan tertahan di kamar mewah ini selamanya. Aku akan menyuruh suster memberimu bubur hambar tanpa garam setiap hari."
"Kamu kejam!" seru Rachel.
"Aku peduli, Rachel!" balas Adio dengan nada yang tiba-tiba melunak.
Ada keheningan sejenak yang mencekam di antara mereka. Sorot mata Adio yang penuh ketakutan dan rasa khawatir membuat nyali Rachel menciut.
Adio benar-benar hancur semalam saat melihat Rachel tak bernapas, dan sekarang ia hanya ingin memastikan Rachel benar-benar pulih.
Perdebatan itu terputus saat suara ketukan pintu terdengar pelan. Pintu terbuka, memperlihatkan Pak Baskoro dan Ibu Maria.
Di tengah mereka, ada kursi roda yang didorong pelan. Di atasnya, duduk Amelia. Gadis itu tampak sangat pucat dan badannya kurus, namun matanya sudah kembali normal—mata cokelat yang jernih dan manusiawi, bukan lagi lubang hitam yang mengerikan.
Suasana ruangan yang tadinya jenaka mendadak berubah menjadi haru. Pak Baskoro melangkah maju dengan air mata yang kembali menggenang di pipinya yang mulai berkeriput.
"Mbak Rachel..." suara Pak Baskoro bergetar hebat.
"Kami... kami tidak tahu harus bicara apa. Dokter Adio menceritakan apa yang terjadi semalam. Mbak mempertaruhkan nyawa untuk putri kami yang tidak tahu apa-apa ini."
Amelia menggerakkan tangannya yang lemah, menyentuh punggung tangan Rachel yang terbaring di brankar.
"Kak Rachel... terima kasih. Aku ingat suara Kakak di kegelapan itu. Kakak memanggilku pulang. Kalau bukan karena Kakak, aku mungkin sudah membusuk di sana."
Rachel tersenyum tulus, rasa nyerinya seolah menguap melihat Amelia kembali menjadi manusia.
"Itu sudah tugas saya, Amelia. Yang penting sekarang kamu fokus sembuh, ya? Makan yang banyak."
"Kami membawakan sesuatu, Mbak. Meskipun tidak sebanding dengan nyawa Mbak Rachel," Maria menyodorkan sebuah keranjang buah besar.
"Kehadiran Amelia yang sehat adalah hadiah terbaik buat saya, Bu," jawab Rachel lembut.
Adio berdiri di samping brankar Rachel, tangannya tanpa sadar mengelus puncak kepala Rachel dengan sangat protektif saat keluarga itu berbicara.
Tindakan itu begitu alami, seolah Rachel adalah miliknya yang paling berharga. Melissa yang melihat pemandangan itu menyenggol lengan Peterson dengan sikunya.
"Lihat itu," bisik Melissa.
"Sangat manis, kan? Tapi sayangnya mereka berdua terlalu gengsi untuk mengaku."
Peterson hanya tersenyum tipis, terus mengunyah apelnya.
"Biarkan saja, Melissa. Terkadang perdebatan kecil seperti itu adalah cara mereka mengatakan 'aku mencintaimu'."
Setelah keluarga Amelia pamit, Adio kembali menatap Rachel dengan wajah 'dokter galak' andalannya.
"Nah, Amelia saja patuh pakai kursi roda. Jadi, bagaimana dengan fisioterapinya? Masih mau membantah?"
Rachel memutar bola matanya, tapi kali ini ada rona merah tipis di pipinya.
"Baiklah, Dokter Adio yang cerewet. Tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Adio waspada.
"Kamu yang harus menemaniku di setiap sesi. Tidak boleh suster lain. Kalau kamu tidak ada, aku tidak akan gerak sesenti pun," tantang Rachel.
Adio tertegun sejenak, lalu wajahnya sedikit memerah. Ia berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang hampir runtuh.
"Tentu saja. Aku harus mengawasimu agar kamu tidak kabur lewat jendela untuk mencari cilok."
Melissa tertawa terbahak-bahak melihat mereka berdua.
"Aduh, tolong! Kamar ini terlalu penuh dengan aura merah muda, aku bisa diabetes kalau lama-lama di sini! Peterson, ayo kita cari kopi, mereka butuh waktu berdua!"
Rachel melemparkan bantal kecil ke arah Melissa yang lari keluar sambil tertawa, sementara Adio hanya bisa tersenyum simpul, menyadari bahwa ia telah memenangkan perdebatan itu, demi keselamatan wanita yang diam-diam telah mencuri hatinya.