Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Audit di Bawah Pasir
Kolonel Malik menarik pelatuk senapannya sekali lagi, namun embusan angin gurun yang tiba-tiba membawa badai pasir (haboob) mengaburkan pandangannya. Arum dan Baskara tidak menunggu; mereka memanfaatkan kekacauan itu untuk merangkak menuju barisan suku nomaden yang kini membentuk barikade manusia di depan aliran air purba yang menyembur.
"Mereka tidak akan menembak ke arah kita jika kita berada di tengah-tengah warga," bisik Arum, napasnya tersengal karena debu.
Pemimpin suku, seorang pria tua dengan jubah biru pudar bernama Sheikh Omar, memegang tabung sampel yang dilemparkan Arum seolah-olah itu adalah relik suci. Ia menatap Arum, lalu menatap Malik yang berdiri di bukit pasir dengan senjata yang masih terarah.
"Nyonya, kau telah mengembalikan suara nenek moyang kami," ujar Sheikh Omar. "Air ini tidak boleh menjadi racun untuk baterai mereka. Ini adalah Audit Takdir bagi tanah kami."
Namun, Malik bukan tipe pria yang menyerah pada sentimen lokal. Ia memberikan perintah melalui radio, dan dua kendaraan taktis lapis baja (armored vehicles) mulai bergerak maju, merobek barisan tenda suku nomaden.
"Arum, mereka akan membantai semua orang jika kita tidak melakukan sesuatu!" Baskara berseru, mencoba melindungi seorang anak kecil dari debu yang beterbangan.
Arum membuka tas taktisnya untuk terakhir kalinya. Ia tidak lagi mencari data, ia mencari Resonansi. Ia mengeluarkan sebuah perangkat pemancar frekuensi rendah yang biasanya digunakan untuk survei geologi.
"Kolonel Malik lupa satu hal tentang akuifer bawah tanah," Arum berteriak, suaranya berusaha mengalahkan deru mesin kendaraan lapis baja. "Jika kalian memompa air secara berlebihan, kalian menciptakan Sinkhole (lubang benam) di bawah fondasi instalasi kalian sendiri!"
Arum menghubungkan pemancarnya ke sisa-sisa kabel sensor yang masih menancap di tanah. Ia melakukan Audit Stabilitas Massa. Ia mengirimkan gelombang seismik yang dirancang untuk memicu keruntuhan pada rongga-rongga kosong yang tercipta akibat ekstraksi air ilegal selama bertahun-tahun.
"Ini adalah Audit Gravitasi, Kolonel!" Arum menekan tombol trigger.
Suara gemuruh yang lebih dalam dari ledakan pipa tadi terdengar. Pasir di bawah kendaraan lapis baja Malik mendadak berperilaku seperti cairan (liquefaction). Tanah terbuka, menelan salah satu kendaraan taktis ke dalam lubang raksasa yang muncul secara tiba-tiba.
Instalasi pengeboran The New Oasis mulai miring. Menara-menara baja yang megah itu tumbang seperti mainan anak-anak. Malik mencoba lari, namun ia terjebak di tengah pasir yang amblas.
"Baskara, Sheikh Omar! Mundur ke perbukitan batu!" perintah Arum.
Saat instalasi itu lenyap ditelan bumi, air yang tadinya menyembur liar perlahan mereda, kembali ke dalam perut bumi melalui lubang-lubang benam yang baru terbentuk. Gurun kembali sunyi, menyisakan debu yang perlahan mengendap di bawah cahaya bulan.
Arum berdiri di atas bukit batu, menatap reruntuhan industri yang kini tertutup pasir. Ia membuka laptopnya yang layarnya sudah retak. Transmisi satelit yang sempat terputus kini kembali tersambung secara otomatis melalui jaringan darurat PBB.
"DATA VERIFIED. NUBIAN AQUIFER PROTECTED STATUS: ACTIVATED."
Dunia akhirnya tahu. Bukan hanya tentang pencurian air, tapi tentang betapa rapuhnya "Masa Depan Hijau" jika ia dibangun di atas eksploitasi yang tidak terhitung.
Sheikh Omar mendekati Arum, membungkuk hormat. "Nama Anda akan kami tulis dalam sejarah air kami, Nyonya Auditor."
Arum tersenyum lelah. Ia melihat ke arah Baskara yang sedang membantu warga mengemasi tenda-tenda mereka. "Jangan tulis namaku, Sheikh. Tuliskan saja bahwa kebenaran itu seperti air; ia akan selalu menemukan jalannya untuk keluar, betapa pun dalam kau mencoba menguburnya."
Saat fajar menyingsing di Sahara, sebuah helikopter dengan lambang Palang Merah Internasional dan GAA (Global Auditor Authority) muncul di cakrawala. Arum mematikan laptopnya.
"Mas," panggil Arum pelan.
"Ya, Rum?"
"Aku rasa, untuk kali ini... aku benar-benar butuh libur panjang. Tanpa sinyal, tanpa angka, dan tanpa audit."
Baskara tertawa, merangkul istrinya yang kini terlihat seperti prajurit daripada seorang akuntan. "Aku tahu tempat yang bagus. Sebuah desa kecil di pegunungan Alpen yang hanya punya satu toko roti dan nol koneksi internet."
"Kedengarannya seperti surga," bisik Arum.
Mereka berjalan menuju helikopter penjemput, meninggalkan padang pasir yang kini telah kembali pada pemilik aslinya. Sosok "Istri Cerdik Pak Kades" kini telah resmi menjadi legenda dunia yang akan selalu muncul setiap kali sebuah angka mencoba berbohong pada semesta.
Debu Sahara perlahan mengendap, menyisakan keheningan yang janggal di tempat yang beberapa menit lalu merupakan pusat industri bernilai miliaran dolar. Arum masih berdiri di atas bukit batu, napasnya mulai teratur meski matanya tetap waspada memandangi kawah raksasa yang menelan instalasi The New Oasis.
"Rum, lihat itu," Baskara menunjuk ke arah pusat reruntuhan.
Di tengah pasir yang amblas, sebuah struktur beton berbentuk silinder raksasa masih berdiri tegak—itu adalah Inti Komputasi milik fasilitas tersebut. Karena dibangun dengan fondasi yang lebih dalam, ia tidak ikut tertelan sepenuhnya. Di puncaknya, lampu indikator biru masih berkedip, menandakan bahwa server cadangan mereka masih mencoba mengirimkan sisa data terakhir ke satelit.
"Mereka mencoba melakukan Data Backup terakhir, Mas. Jika data itu sampai ke server pusat mereka di London, mereka bisa menghapus jejak keterlibatan Kolonel Malik dan menyalahkan bencana ini sepenuhnya pada 'faktor alam' atau sabotase suku lokal," ujar Arum.
Arum tidak membiarkan itu terjadi. Ia membuka kembali laptopnya yang layarnya sudah retak seribu. Ia harus melakukan Audit Forensik Pasca-Bencana.
"Aku tidak akan mematikan servernya. Aku akan melakukan Audit Refleksi," gumam Arum. Ia menyuntikkan perintah yang membalikkan arah transmisi. Alih-alih mengirim data keluar, ia memaksa server itu untuk mengunduh seluruh sejarah percakapan internal antara Kolonel Malik dan para direktur di London selama setahun terakhir.
"Sedang menarik data... 20%... 50%..."
Tiba-tiba, dari reruntuhan pasir, sesosok tubuh muncul. Kolonel Malik merangkak keluar, pakaiannya compang-camping dan wajahnya penuh luka, namun ia masih memegang sebuah detonator manual.
"Arum! Berhenti!" teriak Malik dengan suara parau. "Jika kau tidak berhenti mengunduh data itu, aku akan meledakkan tangki bahan bakar cadangan di bawah sini! Kita semua akan hancur!"
Baskara segera berdiri di depan Arum, menghalangi pandangan Malik. "Kau sudah kalah, Malik. Lihat di sekelilingmu. Rakyatmu sudah bangun, alammu sudah melawan. Ledakan hanya akan menambah daftar kejahatanmu di neraka."
Arum tetap tenang. Matanya terpaku pada progres bar di layar. "Kolonel, ledakkan saja. Aku sudah melakukan Audit Redundansi. Data ini tidak hanya mengalir ke laptopku, tapi sudah terpantul melalui satelit GAA ke seluruh kantor berita dunia secara langsung. Detonator itu tidak akan menghapus dosa kalian, hanya akan mengakhiri hidupmu dengan sia-sia."
Malik menatap detonator di tangannya, lalu menatap Arum. Keheningan yang sangat panjang terjadi. Akhirnya, tangannya lemas. Detonator itu jatuh ke pasir. Pria yang tadinya begitu perkasa kini hanyalah seorang hantu dari masa lalu yang ditinggalkan oleh tuannya.
100% DOWNLOAD COMPLETE.
Arum menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. "Selesai. Seluruh bukti transaksi, perintah eksekusi, dan daftar koordinat ekstraksi ilegal sudah aman."
Saat fajar menyingsing, helikopter penyelamat mendarat. Petugas internasional mulai mengamankan lokasi dan memberikan bantuan medis kepada suku nomaden. Sheikh Omar mendekati Arum sekali lagi, memberikan sebuah botol kecil berisi air jernih yang ia ambil dari semburan terakhir.
"Simpan ini, Nyonya. Sebagai pengingat bahwa di gurun paling kering sekalipun, kebenaran adalah mata air yang tidak pernah mati," ujar Sheikh Omar.
Arum menerima botol itu, menatap air purba yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Ia merasa lelah, sangat lelah, namun untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Navasari, ia merasakan kedamaian yang nyata.
Baskara merangkul bahunya, menuntunnya menuju helikopter. "Waktunya pulang, Rum?"
Arum menatap cakrawala Sahara yang tak berujung. "Bukan pulang, Mas. Waktunya menghilang. Dunia sudah tahu cara mengaudit dirinya sendiri sekarang. Tugas kita... adalah menjadi penjaga yang tidak terlihat."
Helikopter itu lepas landas, terbang menjauh melewati hamparan pasir yang kini tampak lebih tenang. Di bawah sana, jejak-jejak industri perlahan tertutup oleh pasir yang ditiup angin, seolah-olah alam sedang melakukan auditnya sendiri—menghapus noda keserakahan manusia dan mengembalikan kemurnian pada tempatnya.
menegangkan ..
lanjut thor..