Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pagi menyapa dengan tenang, sinar mentari mulai masuk melalui celah jendela rumah Albi, di dapur aroma tumisan sayur bercampur ikan goreng begitu terasa, tidak hanya itu saja, Nara sengaja membuat cemilan kesukaan anaknya di hari libur ini.
"Kentangnya sudah diiris tipis memanjang," gumamnya sendiri.
Ya, kentang goreng kesukaan Arbani, dan tak lupa ia membuat cemilan lain, yang terbuat dari tepung dan juga singkong bahkan ada pisang goreng, hal itu bukan karena semata hari libur, namun ia ingin membuat sang anak betah di dalam rumah dengan suguhan yang ia buat.
Tangan mungilnya seolah tidak pernah merasa capek, baru saja selesai memasak untuk sarapan, ia langsung lanjut menggoreng cemilan sang anak.
Dapur itu terasa lebih hidup. Wajan bergantian berbunyi, minyak mendesis pelan, aroma kentang goreng bercampur bau ikan goreng memenuhi ruang sederhana itu.
Nara memindahkan kentang yang sudah keemasan ke dalam tampah, lalu kembali menuang adonan tepung ke minyak panas.
Tangannya bergerak cepat, seolah takut jika berhenti sebentar saja, pikirannya akan kembali ke hal-hal yang tidak ingin ia ingat.
“Kentange kurang renyah sek iki,” gumamnya pelan sambil membalik gorengan.
(Kentangnya kurang renyah sedikit ini.)
Sementara Di meja, sudah tersusun beberapa piring kecil. Kentang goreng, bala-bala, pisang goreng, juga singkong keju yang masih mengepul.
Bukan karena hari libur. Melainkan karena Nara ingin memastikan satu hal, Arbani tidak punya alasan keluar rumah.
Langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah. Albi muncul di ambang dapur, matanya menyapu pemandangan yang tidak biasa.
“Nara,” panggilnya pelan.
Nara menoleh cepat. “Iyo?” (Iya?)
Albi mendekat satu langkah, mengernyit kecil. “Kok masak akeh ngene?” (Kok masak banyak sekali begini?)
Nara tersenyum, senyum yang terlalu cepat, terlalu siap.
“Libur, Bi. Bani kan neng omah.” (Libur, Bi. Bani kan di rumah.)
Albi melirik ke meja. “Biasane yo ora nganti ngene.” (Biasanya juga tidak sampai sebanyak ini.)
Nara meniriskan gorengan, pura-pura sibuk. “Anak ki senengane cemilan. Opo salahe yen aku nggawe?” (Anak itu sukanya cemilan. Apa salahnya kalau aku bikin?)
Albi diam sejenak. Ia bersandar di kusen pintu, memperhatikan istrinya lebih lama, seperti ada yang aneh, namun pertanyaannya itu hanya tertahan di tenggorokannya saja.
“Sampeyan ora kesel?” tanyanya pelan. (Kamu tidak capek?)
Nara menggeleng cepat. “Ora.” (Tidak.)
Lalu setelah jeda singkat, ia menambahkan, lebih pelan, “Aku pengin Bani betah neng omah.” (Aku ingin Bani betah di rumah.)
Kalimat itu terdengar biasa, bahkan terlalu biasa namun Albi menatap punggung Nara. Ada sesuatu di nada suaranya yang tidak bisa ia tangkap, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa aneh.
“Biasane Bani nek libur dolanan neng ngarep,” ucapnya hati-hati. (Biasanya Bani kalau libur main di depan.)
Tangan Nara berhenti sesaat di atas wajan.
Hanya sesaat. “Saiki panas, Bi,” katanya kemudian. “Omah wae luwih aman.” (Sekarang panas, Bi. Di rumah saja lebih aman.)
Albi tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, meski alisnya belum sepenuhnya lurus.
Dari dalam kamar, suara langkah kecil terdengar. Arbani muncul, matanya langsung berbinar melihat meja penuh cemilan.
“Bu?” panggilnya pelan.
Nara menoleh, wajahnya langsung melunak. “Kene, Nak.” (Sini, Nak.)
Arbani mendekat. “Kok akeh banget?” (Kok banyak sekali?)
Nara mengusap kepala anaknya. “Iki kabeh kanggo kowe.” (Ini semua untuk kamu.)
Arbani tersenyum kecil. Ia duduk di kursi, tangannya langsung meraih kentang goreng.
Di balik senyum itu, Nara menarik napas lega, selama Arbani duduk dan tangannya sibuk dengan makanannya ... rumah ini sudah terasa cukup tanpa perlu dunia luar lagi.
'Duh Gusti ngapunten wes ngekang anakku koyo ngene,' batin Nara, terlepas apapun itu ia hanya tidak ingin memberi celah terhadap masa lalu yang ingin kembali mengulik.
(Ya Alloh maaf, sudah mengekang anakku seperti ini)
Sementara itu, Albi berdiri diam di ambang dapur, menatap pemandangan itu dengan perasaan yang belum bisa ia namai. Yang ia tahu, istrinya sedang berusaha menjaga sesuatu terlalu keras.
Dan biasanya, sesuatu yang dijaga terlalu erat
sedang berada dalam bahaya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Arbani duduk bersila di depan televisi. Layar menampilkan kartun kesukaannya, suara ceria memenuhi ruang tengah. Di sampingnya, mangkuk berisi kentang goreng sudah tinggal separuh. Tangannya bergantian antara mengambil cemilan dan menunjuk layar.
Awalnya ia menikmati. Namun beberapa menit kemudian, matanya melirik ke jendela. Cahaya pagi terlihat cerah, suara anak-anak tetangga samar terdengar dari luar tawa, langkah kaki, dan bola yang memantul di tanah.
Arbani menoleh ke dapur. “Bu…”
Nara yang sedang melipat kain menoleh cepat. “Iyo, Le?” (Iya, Nak?)
“Aku pengin metu sebentar.” (Aku ingin keluar sebentar.)
Nara tersenyum, senyum yang sama seperti tadi pagi. Ia mendekat, membawa piring kecil berisi bala-bala hangat.
“Lho, iki durung entek,” katanya ringan. (Lho, ini belum habis.)
Arbani melirik piring itu, lalu ke arah pintu lagi. “Sedhela wae, Bu. Neng ngarep.” (Sebentar saja, Bu. Di depan.)
Nara meletakkan piring di dekat anaknya. “Mangan sek. Mengko wae metu.” (Makan dulu. Nanti saja keluarnya.)
Ia lalu meraih remote dan mengecilkan volume televisi sedikit, bukan mematikannya cukup agar suaranya lebih menggoda untuk didengarkan.
“Nek kartune entek, ibu gawe wedang coklat maneh.” (Kalau kartunnya selesai, ibu bikin minuman cokelat lagi.)
Arbani terdiam. Tangannya otomatis mengambil bala-bala itu. Digigitnya pelan.
“Bu…” ia mencoba lagi, lebih lirih.
Nara jongkok di depannya, menyamakan tinggi wajah. “Bani, rungokno yo.” (Bani, dengarkan ya.)
Arbani mengangguk kecil.
“Dina iki neng omah wae. Akeh sing arep ibu critakno. Lan… ibu pengin kowe cedhak ibu.”
(Hari ini di rumah saja. Banyak yang ingin ibu ceritakan. Dan… ibu ingin kamu dekat ibu.)
Tidak ada nada marah. Tidak ada larangan. Tapi ada sesuatu di mata Nara yang membuat Arbani menelan kata-katanya kembali.
“Iyo, Bu,” jawabnya akhirnya. (Iya, Bu.)
Ia kembali menatap layar televisi. Kartun itu masih lucu. Cemilannya masih enak. Tapi perhatiannya tidak lagi utuh.
Beberapa kali ia melirik jendela. Beberapa kali pula Nara berpura-pura sibuk di dekatnya melipat kain di kursi kayu, menyapu lantai ruang tengah, duduk tak jauh darinya.
Seolah memastikan satu hal: anak itu tetap berada dalam jangkauannya.
Dari dapur, Albi memperhatikan pemandangan itu tanpa bicara. Matanya menyipit tipis.
“Ra,” panggilnya pelan.
Nara menoleh. “Nggeh?” (Iya?)
“Kowe ora biasane ngono.” (Kamu tidak biasanya seperti ini.)
Nara tersenyum lagi. “Ngopo?” (Kenapa?)
“Ngempet bocah neng omah sedina muput.” (Menahan anak di rumah seharian penuh.)
Nara terdiam sepersekian detik. Lalu berkata pelan, “Aku mung pengin aman.” (Aku cuma ingin aman.)
Jawaban itu tidak salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar. Albi tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil. Namun sejak saat itu, ia tahu hari libur ini bukan tentang istirahat. Melainkan tentang menjaga.
Dan Arbani, di tengah kartun dan cemilan yang semakin menipis, mulai merasakan sesuatu yang belum bisa ia pahami: bahwa rumah yang hangat pun, bisa terasa sempit jika pintunya dijaga oleh ketakutan.
Bersambung ....
Selamat pagi semoga suka.
Bab ini menceritakan tentang ketakutan Nara, takut jika mantan suaminya itu mengulik lagi tentang dia dan Arbani.
ada bonus chapter kah? hehe
aku nangis ini kak...
antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku