Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Parasit yang Menumpang Hidup
"Tunggu di sini dengan manis, aku buatkan makan siang."
"Siap, Bos! Butuh asisten?"
"Nggak perlu, tugasmu cuma makan."
Salma menatap punggung Aksa yang menghilang ke dapur.
Hatinya menghangat.
Siapa sangka pewaris tunggal Keluarga Abhimana yang dingin itu bisa sehangat ini?
Tak lama, terdengar senandung kecil dari arah dapur. Salma tak tahan untuk tidak mengintip. Begitu ia melongokkan kepala, rahangnya nyaris jatuh.
Bayangkan saja.
Aksa Abhimana, cowok jangkung dengan wajah tampan bak dewa, sedang menumis daging sambil memakai celemek bergambar Shaun the Sheep!
"Kenapa?" Aksa menoleh, bingung melihat Salma mematung di pintu.
"Ada yang aneh di wajahku?"
"Bukan..." Salma menahan tawa sampai perutnya sakit.
"Aksa, sumpah, itu celemek kenapa imut banget?"
Aksa menunduk, menatap gambar domba di dadanya dengan polos.
"Bagus, kan? Sesuai sama kotak makanku."
Salma akhirnya terbahak.
Imej Aksa yang berwibawa dan cerdas langsung runtuh, digantikan sosok soft boy yang menggemaskan.
"Aksa, kamu curang. Kenapa bisa se-gemesin ini, sih?"
Aksa mendengus geli, lalu mencolek sedikit saus dan mengoleskannya ke pipi Salma. "Nggak boleh ngetawain pacar sendiri."
"Maaf, maaf. Wangi banget, masak apa?"
Aksa menyodorkan sumpit berisi potongan daging yang baru matang.
"Coba cicipi."
Satu suapan, mata Salma langsung berbinar.
"Enak banget! Serius, ini lebih enak dari koki utama di Restoran Istana Rasa!"
Aksa tersenyum puas.
"Menu spesial hari Sabtu di Restoran Istana Rasa itu? Sebenarnya aku yang masak."
Salma melongo.
Menu legendaris yang susah payah didapatkan orang kaya itu ternyata masakan pacarnya sendiri?
"Wah, aku merasa jadi cewek paling beruntung di dunia. Orang lain ngantri buat makan masakanmu, aku tinggal request."
"Kapan pun kamu mau, aku masakkan. Janji."
Sore harinya, setelah perut Salma kekenyangan, suasana berubah serius.
Aksa mengajak Salma ke ruang kerjanya di lantai dua.
"Salma, soal kecelakaan mobil itu..." Aksa menyerahkan sebuah berkas tebal. "Mulai sekarang, tolong jaga jarak dengan Riko."
Salma menerima berkas itu, senyumnya lenyap. "Aku dan Riko cuma saudara di atas kertas. Dia serigala berbulu domba."
"Kecelakaan itu... Riko yang merencanakannya," ungkap Aksa lugas. "Dia mentransfer 23 miliar ke eksekutor lewat pihak ketiga."
Salma membaca bukti transfer itu, tangannya gemetar menahan amarah.
Brak! Ia membanting berkas itu ke meja.
"Dasar anak pungut tak tahu diri! Papa dan Mama menyelamatkannya, dan ini balasannya?"
"Dia tahu jadwal makan malam kalian karena sudah menanam orang di semua restoran mewah kota ini," jelas Aksa.
"Salma, jangan gegabah. Riko lebih licik dari yang kita duga.
Dia sudah membangun jaringan kekuatan sendiri selama di luar negeri. Biar aku yang urus sisanya."
"Aku tahu. Sebelum aku punya bukti telak untuk menghancurkannya, aku akan tetap jadi 'adik manis' buat dia," ucap Salma dingin.
Ia belajar banyak dari kehidupan sebelumnya.
Menyembunyikan kuku sebelum menerkam.
Aksa merapikan rambut Salma ke belakang telinga, tatapannya melembut.
"Apapun yang terjadi, aku akan pasang badan buat kamu. Duniamu kini nggak cuma berisi dirimu sendiri, ada aku."
"Makasih, Aksa. Kamu selalu ada buat aku."
"Aku menyesal nggak muncul lebih awal," gumam Aksa, wajahnya tiba-tiba merona.
"Salma, sebenarnya... aku sudah suka kamu sejak kelas 2 SMP."
Mata Salma membulat.
"Hah? Bukannya kita baru ketemu pas SMA?"
"Ingat acara amal 2013? Waktu gaunmu robek?" Aksa tersenyum malu.
"Aku ada di sana. Aku lihat kamu ngomel sendiri karena cupcakenya pisang semua.
Sejak itu, aku nggak bisa lupain kamu."
Salma tertegun.
Ingatan tentang kejadian memalukan itu kembali.
Ternyata Aksa sudah memperhatikannya sejak saat itu?
"Terus kenapa baru sekarang mendekat?"
Tatapan Aksa berubah sendu.
"Karena aku mimpi buruk. Aku mimpi kamu dibunuh, lalu mayatmu dibuang ke laut. Di mimpi itu, kamu hilang dari dunia ini selamanya."
Jantung Salma berhenti berdetak sesaat.
Dibunuh. Dibuang ke laut.
Itu bukan mimpi.
Itu adalah akhir hidupnya di masa lalu.
Apakah Aksa juga mengalami kelahiran kembali? batin Salma bergejolak.
"Untung cuma mimpi," lanjut Aksa, memeluk Salma erat seolah takut gadis itu menghilang.
"Tapi rasa takut kehilangan itu nyata banget. Makanya aku nggak mau nunggu lagi. Aku nggak mau melewatkan satu detik pun tanpamu."
Salma membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada bidang Aksa.
Biarlah masa lalu kelam itu jadi rahasianya sendiri.
Cinta tulus Aksa adalah anugerah terindah di kehidupan keduanya ini.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Aksa."
Menjelang senja, Aksa mengantar Salma pulang.
Ia sudah kembali ke mode penyamarannya: kacamata tebal dan gaya nerd.
"Kamu mau terus dandan cupu begini?" tanya Salma geli.
"Biar saingan kamu berkurang," Aksa menyeringai. "Lagian banyak yang naksir pacarku.
Aku harus bikin mereka sadar diri kalau lawan mereka itu Keluarga Abhimana."
"Idih, sombong amat."
Mereka sampai di gerbang rumah Keluarga Tanudjaja.
Salma berhenti, tapi Aksa masih menggenggam tangannya erat.
"Udah sampai, Pak Bos. Lepasin dong," goda Salma.
"Nggak mau. Rasanya berat banget mau pisah," rengek Aksa, mode manja kembali aktif.
"Papaku bisa ngamuk kalau liat."
"Biarin. Tega kamu liat aku diamuk?"
Salma mau menjawab, tapi suara klakson mobil memotong pembicaraan mereka.
Tin! Tin!
Mereka menoleh.
Mobil Seno Tanudjaja berhenti tepat di samping mereka. Kaca jendela turun, menampilkan wajah Seno yang masam.
"Udah sampai rumah bukannya masuk, malah tarik-tarikan di pinggir jalan," sindir Seno tajam.
Salma buru-buru melepas tangan Aksa.
"Pa..."
"Om Seno, selamat sore," sapa Aksa sopan, tapi tubuhnya refleks bergeser sedikit, menutupi Salma, gestur melindungi yang instingnya begitu kuat.
Seno melihat gerakan kecil itu. Meski wajahnya masih galak, dalam hati ia memberi nilai plus untuk keberanian bocah ini.
"Masuk, Salma. Kamu juga Nak, sudah sore, pulang sana," perintah Seno.
"Baik, Om. Salma, aku balik dulu ya. Besok kujemput," pamit Aksa lembut, lalu mengangguk hormat pada Seno sebelum pergi.
Setelah mobil Aksa menjauh, Seno baru mendengus.
"Lain kali hati-hati. Gosip itu jahat. Papa nggak mau putri kesayangan Papa jadi bahan omongan jelek."
Salma langsung menggelayut manja di lengan ayahnya.
"Iya, Papa sayang. Tenang aja, mental anakmu ini sekuat baja. Omongan orang nggak bakal mempan."
Seno menghela napas, tak bisa marah pada putri bungsunya ini. "Ya sudah, ayo masuk. Cerita sama Papa, ada kejadian seru apa hari ini? Katanya kamu jadi bintang sekolah?"
"Papa dengar dari siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan mata-mata Papa?" Seno tertawa bangga.
Mereka masuk ke ruang tamu. Tawa mereka langsung terhenti saat melihat siapa yang duduk di sana.
Riko dan Manda.
Suasana hangat seketika berubah dingin.
"Papa sudah pulang," sapa Manda lirih, berdiri dengan canggung.
"Hm," jawab Seno singkat, menyerahkan tasnya pada Bi Surti.
Ia menatap Riko. "Tumben pulang. Dua hari ini kemana aja?"
"Reuni sama teman lama, Pa," jawab Riko dengan senyum sempurna, lalu menatap Salma.
"Dengar-dengar Salma hari ini hebat banget di sekolah."
"Itu dia," Seno langsung antusias lagi.
"Gimana ceritanya, Nak? Papa dengar kamu bikin anak Wakil Walikota lari keliling lapangan?"
"Ah, Papa. Biar Kak Manda aja yang cerita," Salma menunduk malu-malu kucing. "Aku nggak enak ceritanya."
Seno menatap Manda.
"Gimana ceritanya, Manda?"
Wajah Manda pucat.
Dia menunduk, menghindari tatapan Seno.
"Pa, aku... aku lagi nggak enak badan tadi, jadi nggak terlalu perhatiin."
"Lho, masa sih Kak?" Salma menyela dengan nada polos yang mematikan.
"Kan Pak Kepala Sekolah nyebut nama Kakak di depan seluruh siswa pas upacara pembubaran. Masa Kakak nggak denger?"
Skakmat.
Manda mengepalkan tangannya di balik rok.
Salma benar-benar iblis.
Dia sengaja mempermalukannya di depan Papa!
Alis Seno menukik tajam.
"Namanya disebut? Kenapa?"
"Itu lho, Pa. Pengumuman hukuman Kak Manda soal... ya, yang kemarin itu," Salma tidak perlu memperjelas kata 'nyontek', itu sudah cukup membuat wajah Seno mendung.
"Tapi tenang aja, Kak Manda pasti berubah kok. Ya kan, Kak?"
Seno membuang muka, enggan membahas aib itu lagi. "Sudahlah. Salma, cerita bagianmu menghukum Jordy itu saja."
Manda merasa seperti butiran debu yang tak terlihat. Seno benar-benar mengabaikannya.
Salma menceritakan bagaimana dia mengerjai Jordy Jalendra yang sombong. Seno tertawa lepas, menepuk bahu putrinya bangga.
"Bagus! Anak manja kayak gitu memang harus dikasih pelajaran. Jangan takut, kalau Bapaknya macem-macem, Papa yang maju!" seru Seno.
"Tapi sayang, lain kali mainnya lebih cantik ya.
Bikin dia menderita dalam diam, jangan terlalu frontal."
"Siap, Pa! Ke depannya aku bakal bikin musuh-musuhku menderita tanpa suara," jawab Salma sambil melirik Manda sekilas.
Manda merinding.
Tatapan itu... tatapan pemburu.
Riko yang sedari tadi diam, tiba-tiba tertawa renyah.
"Adikku memang hebat. Karena nilaimu bagus, kamu mau hadiah apa? Kakak belikan."
Salma menatap Riko, senyumnya tipis dan dingin.
"Nggak usah, Kak. Makasih."
Menerima hadiah dari orang yang merencanakan kematiannya? Tidak, terima kasih.
Wajah Riko sedikit kaku.
"Salma, kamu masih marah soal kejadian hari itu? Kakak cuma mau kita semua akur..."
"Udah, Riko. Jangan dipaksa kalau adiknya nggak mau," potong Seno santai, jelas-jelas membela Salma.
"Anak ini emang keras kepala."
"Papa ih, kok aku dibilang keras kepala!" protes Salma manja.
"Emang iya, kan?" goda Seno.
Salma menjulurkan lidah, membuat Seno tertawa lagi.
Riko ikut tersenyum, meski matanya tak menyiratkan kehangatan.
Hanya Manda yang berdiri kaku di pojokan, menatap interaksi ayah dan anak kandung itu dengan hati teriris.
Di ruang tamu yang megah ini, dia merasa benar-benar seperti orang asing.
Tanpa kasih sayang Seno, dia dan Riko hanyalah parasit yang menumpang hidup.
Dan Salma, dengan kejamnya, memastikan Manda menyadari fakta menyakitkan itu detik demi detik.
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️