Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Di Balik Tekanan
Kemenangan Arka atas Hermawan di perbatasan lahan Sukamaju tidak hanya menjadi buah bibir di Warung Bu Sari, tetapi meledak menjadi fenomena di tingkat kabupaten. Pagi itu, koran lokal Sukamaju Pos memampang foto Arka yang tengah memegang dokumen tua dengan latar belakang warga yang bersorak. Judul utamanya mencolok "Arka Baskara: Menjaga Tanah Leluhur dengan Integritas, Potret Pemimpin Muda yang Tak Bisa Dibeli."
Berita itu tersebar cepat secara digital. Narasi tentang keberanian Arka melawan preman dan pengembang nakal menggunakan dokumen sejarah yang sah membuat citra Arka meroket. Di mata rakyat, ia bukan lagi sekadar Pj Kepala Desa kiriman Ibu Kota, melainkan pahlawan lokal yang berhasil menyelamatkan masa depan ekonomi desa.
Namun, di balik sanjungan yang membanjiri Sukamaju, sebuah badai besar sedang bergolak di sebuah gedung tinggi di kawasan pusat bisnis Ibu Kota.
Pak Baskara membanting koran dan gawai yang menampilkan berita tentang Arka ke atas meja jatinya. Napasnya memburu. Di depannya, Hermawan duduk dengan wajah kuyu dan penuh amarah yang tertahan.
"Lihat ini, Baskara! Lihat apa yang dilakukan anakmu!" Hermawan menunjuk foto Arka.
"Dia tidak hanya memalukan saya di depan preman-preman itu, tapi dia menghancurkan kerjasama kita! Investor mulai bertanya-tanya soal legalitas lahan. Reputasi saya hancur, dan nama kamu ikut terseret karena semua orang tahu Arka adalah anakmu!"
Pak Baskara memijat pelipisnya yang berdenyut. "Saya sudah bilang pada Arka untuk tidak ikut campur, tapi dia keras kepala!"
"Keras kepala saja tidak cukup untuk menggambarkan ini, Baskara," desis Hermawan, kini suaranya merendah namun penuh ancaman.
"Jika proyek ini gagal karena dokumen tua yang entah dari mana asalnya itu, kariermu di kementerian juga di ujung tanduk. Kamu tahu berapa banyak pejabat yang sudah menitipkan harapan di proyek wisata ini? Jika mereka kecewa, mereka akan mencari kambing hitam. Dan orang itu adalah kamu, karena gagal mendisiplinkan anakmu sendiri."
Ancaman Hermawan menghujam tepat di jantung ketakutan terbesar Pak Baskara, kehilangan kekuasaan dan reputasi yang telah ia bangun puluhan tahun.
Malam itu, tanpa pemberitahuan, Pak Baskara memanggil Arka untuk bertemu di sebuah restoran tertutup di Kabupaten. Arka datang dengan sisa-sisa kelelahan setelah seharian mengurus administratif desa, namun matanya tetap menunjukkan ketegasan yang sama.
Begitu Arka duduk, Pak Baskara langsung menyerang tanpa basa-basi. "Kamu merasa hebat sekarang, Arka? Merasa seperti pahlawan yang disanjung rakyat?"
Arka menatap ayahnya dengan tenang. "Arka tidak mencari sanjungan, Pa. Arka hanya melakukan tugas Arka sebagai pemimpin desa. Arka melindungi aset warga."
"Aset warga? Itu tanah sengketa! Kamu mempermalukan Papa! Kamu menghancurkan rencana besar yang melibatkan banyak orang penting di Ibu Kota!" suara Pak Baskara mulai meninggi, beberapa pelayan di kejauhan sampai menoleh. "Hermawan menekan Papa. Karier Papa bisa tamat karena ulahmu yang sok idealis itu!"
"Papa, dengarkan Arka sekali saja," sela Arka, mencoba menjaga nadanya tetap rendah. "Surat yang Arka pegang itu asli. Itu surat segel asli tahun 1960. Kakek Rajasa sendiri yang memberikannya kepada Arka. Lahan itu memang milik Kakek dan Kiai Al Hadid untuk rakyat. Hermawan yang mencoba memalsukan data secara licik. Papa sedang membela orang yang salah."
"CUKUP!" Pak Baskara memukul meja. "Papa tidak peduli soal surat tua itu! Papa tidak peduli soal kakekmu yang sudah tua itu! Yang Papa tahu, kamu adalah anak Papa, dan tugasmu adalah mendukung posisi Papa, bukan malah menjadi duri dalam daging! Kamu hampir menghancurkan reputasi keluarga kita hanya demi sepetak kebun teh!"
Arka tertegun. Ia melihat ayahnya bukan lagi sebagai sosok orang tua yang membimbing, melainkan sebagai pria yang telah dibutakan oleh ambisi hingga menutup mata pada kebenaran yang paling benderang sekalipun.
"Jadi, kebenaran tidak ada harganya di mata Papa jika dibandingkan dengan karier?" tanya Arka lirih.
"Kebenaran adalah milik mereka yang menang, Arka! Dan saat ini, kamu sedang kalah karena kamu melawan orang tuamu sendiri!" Pak Baskara berdiri, merapikan jasnya dengan kasar.
"Papa beri kamu waktu tiga hari. Cabut semua tuntutan hukum terhadap Hermawan, umumkan ke media bahwa ada kesalahpahaman soal surat tanah itu, dan kembali ke Ibu Kota. Jika tidak, jangan pernah panggil saya Papa lagi. Kamu akan Papa hapus dari keluarga Baskara Rajasa."
Arka kembali ke Sukamaju dengan beban yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Di sepanjang jalan, ia melihat warga melambaikan tangan dengan hormat, anak-anak kecil berlarian mengejar mobilnya sambil berteriak, "Pak Kades! Terima kasih sudah jaga tanah kami!"
Sanjungan itu kini terasa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ia dicintai rakyatnya, di sisi lain, ia sedang di ambang kehilangan ayahnya.
Sesampainya di kantor desa, Pak Sugeng menyambutnya dengan tumpukan surat dukungan dari berbagai komunitas. "Pak Arka, Anda luar biasa. Semua koran memberitakan keberanian Anda. Nama Sukamaju sekarang harum di mana-mana."
Arka hanya tersenyum kecut. Ia masuk ke ruangannya dan mengunci pintu. Ia memandangi kotak besi dari kakeknya yang masih terletak di atas meja. Di sana ada sejarah, ada kejujuran, dan ada amanah. Namun di luar sana, ada ancaman kehancuran karier ayahnya yang sedang dipertaruhkan.
Tanpa disangka, malam itu sebuah pesan masuk ke ponsel Arka dari ponsel ibunya, Ibu Karina.
"Mas Arka sayang, setiap perjuangan besar pasti ada ujian yang lebih besar. Jangan biarkan kemarahan manusia menutupi ridha Allah. Jika kamu merasa berat, ingatlah bahwa Mama selalu mendoakan kamu disetiap sujud Mama, maafkan Mama Nak..."
Pesan itu singkat, dikirimkan Ibu Karina karena tahu Arka sedang dalam tekanan hebat dari suaminya. Membaca pesan itu, Arka merasa ada kekuatan gaib yang menyusup ke hatinya. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh mundur. Jika ia mengalah pada ayahnya dan Hermawan, ia sama saja mengkhianati ribuan jiwa warga Sukamaju yang kini menaruh harapan di pundaknya.
"Maaf, Pa," bisik Arka pada kegelapan malam. "Arka tidak bisa menghancurkan masa depan ribuan orang hanya untuk menyelamatkan satu kursi jabatan yang dibangun di atas kebohongan."
Arka mengambil pulpen dan mulai menulis draf untuk menindaklanjuti laporan hukumnya terhadap Hermawan. Ia memilih untuk tetap menjadi sorotan, meski ia tahu, kilatan lampu sorot itu akan membakar hubungannya dengan sang ayah hingga menjadi abu.
...🌻🌻🌻...