Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Bagas
Dengan mata sembab, Nadia pulang ke rumahnya.
Penolakan yang di lakukan oleh Bagas, semakin membuat rasa cintanya tumbuh. Bahkan lebih subur dari sebelumnya.
Setidaknya Bagas, benar-benar seorang lelaki yang tulus mencintainya.
Walaupun di relung hatinya. Kecewa itu ada. Namun, cinta mengalahkan semuanya.
"Dari mana kamu?" Hesti bertanya dengan posisi berkacak pinggang.
"Menemui bang Bagas!" sahut Nadia, lantang menatap ibunya penuh perlawanan.
"Kamu ini, keras kepala ya Nadia! Udah berulang kali ibu katakan. Jangan berhubungan lagi dengannya. Kamu dengannya berbeda. Kamu cantik, putih dan tubuhmu semampai. Berbanding terbalik dengannya. Walaupun gagah, dia petani. Orang yang selalu membakar, tubuhnya di bawah terik matahari, mencuci tubuhnya di bawah rintik hujan," cerocos Hesti dengan nada tinggi.
"Kenapa ibu baru bilang sekarang? Kenapa gak dari dulu? Ibu tahu kami udah berhubungan sejak lama kan?" tanya Nadia secara beruntun. "Jawab bu!"
"Karena ibu pikir, kamu gak akan serius dengannya," sahut Hesti dengan nada lebih rendah.
"Ya tentu saja, karena dia mau membantu kami, membayar biaya kuliahmu," batin Hesti.
Nadia menggelengkan kepalanya. Tanpa sepatah katapun, dia memilih masuk ke kamarnya dan mengunci dari dalam.
Di kamar, air matanya kembali luruh. Ternyata, sakit karena cinta, memang semenyakitkan itu.
Bahkan, Nadia merasa berat badannya turun banyak.
Sedangkan Hesti mengedikkan bahu. Dia beranggapan jika putus cinta hal manusiawi yang akan di alami oleh manusia. Toh dia juga pernah merasakannya, semasa muda dulu. Bedanya, dia tidak selebay Nadia.
...✨✨✨...
Lain halnya dengan Bagas. Setelah adegan yang terjadi di balai sawah. Bukannya jijik atau cintanya hilang.
Bagas malah merasa, jika betapa besarnya Nadia mencintainya. Bahkan, karena itu juga, dia sampai mengorbankan segalanya. Termasuk tubuhnya sendiri.
Beruntung, akal sehatnya masih bekerja. Dia gak mungkin merusak cintanya hanya karena restu yang tak dapat di gapainya.
"Kamu sudah menyelesaikannya dengan Nadia kan?" Hayati datang, membawakan segelas kopi untuk Bagas.
Bagas diam. Enggan menjawab pertanyaan ibunya.
"Maafkan ibu dan ayah nak! Gara-gara kami, kamu jadi gak kuliah. Andai, umur kami gak setua ini, mungkin kamu bisa mendapatkan gelar, seperti keinginan orang tua Nadia," ungkap Hayati perih.
Ada sesak di dadanya. Setiap mengingat penghinaan yang di terima tempo hari.
"Bu, ini bakti ku sebagai anakmu. Bukan kesalahan kalian. Apalagi, kesalahan Allah, yang telah memberikan keberkahan di umur kalian," tutur Bagas, mencium punggung tangan ibunya.
"Nak, ibu memang gak memaksa mu untuk menikah. Tapi, ibu berharap kamu bisa meninggalkan Nadia," suara lembut itu kembali memberinya nasehat.
"Lagipula, ibu mana yang mau anaknya dihina, bahkan sebelum melihat dia jadi suami orang. Hati ibu sakit nak! Sangat sakit," ungkap Hayati, dengan suara kembali bergetar.
"Bu, aku mau menikah! Mau menikah dengan perempuan pilihan kalian," ungkap Bagas, mengambil tangan ibunya, serta menciumnya, lagi.
Hayati terkejut, namun dia lega. Setidaknya sang anak bisa melepaskan Nadia, untuk selamanya.
Tak butuh waktu lama. Hayati langsung mengabarkan hal itu melalui sambungan telpon kepada ketiga anak perempuannya.
Kabar itu, disambut dengan suka-cita oleh ketiga saudara Bagas. Mereka bahagia, dan mulai mencari gadis yang menurut mereka cocok untuk di sandingkan dengan Bagas.
"Untuk itu, ibu punya kenalan. Dan setahu ibu, anaknya baik dan santun kepada orang tuanya," papar Hayati pada ketiga anak perempuannya.
Setelah melakukan sedikit pertimbangan dengan suaminya. Hati Hayati semakin yakin, memilih sosok yang telah di kenalnya beberapa bulan terakhir.
Selain memang cantik dan baik, pertimbangan utama mereka ialah gadis tersebut bukan sarjana ataupun semacamnya. Dia hanya sekolah tamat SMA. Dan yang paing penting, dia dari keluarga yang kurang berada.
Kenapa mereka memilih gadis seperti itu? Itu semua karena pertimbangan setelah rembukan diantara mereka sekeluarga. Kecuali Bagas, tentunya.
Dan yang pastinya lagi, jika memang lamaran mereka di tolak. Setidaknya mereka takkan lagi, mendengar penghinaan dari mulut orang lain untuk Bagas. Sang anak bungsu, kesayangan keluarga.
...✨✨✨...
Di kecamatan yang berbeda. Seorang gadis menatap tumpukan baju yang harus di setrikanya.
Baju itu memang bukan punyanya, bukan pula punya keluarganya. Melainkan baju itu punya pemuda-pemuda kampungnya.
Dia ialah Safira. Gadis manis yang selalu menutupi rambutnya, dengan jilbab.
Sebulan yang lalu, Safira membuka laundry di rumahnya. Namun siapa sangka, usahanya berjalan lancar. Bahkan, setiap hari ada saja pelanggan yang mengantarkan baju ke rumahnya.
"Udah abang katakan. Minimal, sehari kamu hanya menerima tiga pelanggan aja. Karena kamu gak bakalan sanggup mengerjakan semuanya," cetus abang Safira. Namun, dia tetap mengambil sehelai demi sehelai baju, demi membantu meringankan pekerjaan adiknya.
"Gara-gara abang kan? Kenapa juga bilang sama teman-teman mu, jika cuci lima kg gratis satu kg," protes Safira melirik abangnya tajam.
"Kan, promo Ra. Abang kan gak tahu, jika mereka itu pemalas," kekeh abangnya tanpa merasa bersalah.
"Tapi capek bang, mana baju teman-temannya kotor semua," keluh Safira dengan lesu.
"Kalo bersih, ya, gak akan dibawa kesini Ra," sahut abangnya lagi.
Safira mempunyai empat saudara. Dia anak kedua, dan Safira mempunyai dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuan.
Adik pertama Safira, perempuan. Sekarang dia berumur 23 tahun, dan dia memilih merantau, bekerja sebagai kasir disalah satu swalayan.
Sedangkan adik keduanya juga perempuan. Sekarang gadis itu berusia 19 tahun. Namun, dia bekerja di rumah kerabat dari pihak ibu.
Sedangkan si bungsu, dia lelaki dan masih sekolah di bangku SMA.
Dan sekarang, Safira hanya mempunyai orang tua tunggal. Sajg ayah telah pergi sejak si bungsu masih dalam kandungan.
Sedangkan abang dari Safira, dia tidak bekerja setelah kecelakaan yang dialaminya. Yang membuat, dia kehilangan sebelah kakinya.
Maka dari itu, dia hanya bisa membantu sang adik. Berharap kehadirannya tidak hanya menjadi beban di keluarganya.
Bagaimana dengan snag ibu? Ibu mereka ialah tukang masak panggilan. Jasanya biasa di gunakan di acara-acara, seperti pesta atau perayaan lainnya.
Dan karena itu juga, Hayati mengenali Safira.
Iya, saat itu, ibu Safira mendapatkan undangan memasak di kampung Hayati. Dan kebetulan, Safira juga ikut. Sebab ada anggota yang tidak bisa hadir.
Kebetulannya lagi, yang punya hajat ialah kerabat dekat dari Yusuf, dan Hayati yang memang tidak bisa diam, ikut membantu di dapur.
"Assalamualaikum ..."
Safira dan abangnya bernama Malik saling menatap. Keduanya menduga jika itu ialah pelangan laundry. Padahal, dia sudah berpesan pada beberapa orang untuk tidak mengantarkan baju untuk dua hari kedepan.
Karena Safira, cukup kewalahan mencuci sendiri baju-baju yang sudah seperti gunung itu. Apalagi, minggu ini ia juga harus menghadiri pesta dari sahabatnya, sejak di bangku SMP.
"Waalaikum salam," sahut Safira dengan Malik hampir bersamaan.
"Eh, ibu ... Ada apa?" Safira menyalami Hayati dan Yusuf secara bergantian.
Safira memang mengenali Hayati. Selain bertemu di tempat hajatan. Dia juga beberapa kali pernah bertemu dengan Hayati di pasar ikan, ketika menemani ibunya.
Hayati yang memang sudah terpentok dengan Safira, selalu saja bisa mengenali wanita itu, ketika bertemu di mana saja. Dan dia, tidak segan-segan untuk menyapanya lebih dulu.
"Ibu ada?" tanya Hayati.
"Ibu lagi di tempat hajatan bu, mungkin sebentar lagi pulang. Karena masih di kampung ini juga. Masuk bu," Safira mempersilahkan Hayati dan Yusuf untuk masuk.
"Maaf berantakan," Safira menggaruk kepalanya yang di lapisi jilbab instan. "Ini semua baju pelanggan laundry," terang Safira, sedikit sungkan.
Hayati manggut-manggut, namun senyum bangga tak dapat di sembunyikan di wajahnya.
"Hebat juga kamu ya, bisa buka usaha sendiri," puji Hayati kagum.
"I-itu, karena ada abang yang bantu,"
"Kamu punya abang?"
"Iya, mungkin udah ke masuk ke dalam," lirih Safira.
Malik memang selalu bersembunyi jika ada orang baru yang ke rumah. Dia masih sedikit merasa gak pede pada kekurangannya.
"Ada hal, yang ingin aku sampaikan. Padamu!" seru Hayati, dengan wajah berubah serius.
kebiasaan ih