Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memicu Badai yang Sesungguhnya
Hawa sejuk dan aroma kemurnian dari ruang dimensi itu lenyap dalam sekejap mata.
Digantikan oleh udara pengap, lembap, dan bau apek yang menyengat dari dinding anyaman bambu yang sudah lapuk.
Sekar Wening membuka matanya. Dia kembali.
Dia kembali ke gubuk reyot di belakang rumah utama keluarga Adhiwijaya.
Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui celah-celah dinding yang bolong, menciptakan garis-garis debu yang menari di udara.
Namun, bukan ketenangan yang menyambut kembalinya sang Profesor ke realitas pahit ini.
Brak!
Suara hantaman keras terdengar dari arah sudut ruangan, tempat sebuah lemari kayu jati tua berdiri.
Insting waspada Sekar langsung aktif.
Sekar menoleh cepat. Di sana, seorang pemuda bertubuh gempal dengan kaos oblong yang kekecilan sedang mengobrak-abrik isi lemari ibunya.
Itu Rendi.
Anak dari Paman Rudi dan Bibi Ratna. Sepupu yang usianya hanya terpaut satu tahun darinya, namun memiliki tabiat yang seratus delapan puluh derajat berbeda.
Jika Sekar Wening adalah air yang tenang, Rendi adalah lumpur yang keruh.
"Sialan! Di mana sih kainnya!" Rendi mengumpat kasar.
Tangannya yang kasar menarik paksa tumpukan pakaian lusuh milik Rahayu, melemparkannya begitu saja ke lantai tanah yang berdebu.
Mata Sekar menyipit. Fokusnya terkunci pada apa yang dicari pemuda itu.
Di tangan kiri Rendi, tergenggam sebuah kain batik tulis motif Sido Mukti yang warnanya sudah agak pudar, namun serat kainnya masih halus.
Itu adalah satu-satunya peninggalan almarhum kakek mereka untuk ibunya. Barang terakhir yang memiliki nilai sejarah dan sentimentil bagi Rahayu, yang selama ini disembunyikan di bawah tumpukan sarung bantal.
Darah Sekar mendidih. Bukan hanya karena kemarahan emosional pemilik tubuh asli, tapi karena prinsip keadilan sang Profesor yang terusik.
Pencurian aset. Pelanggaran privasi. Dominasi fisik terhadap kaum rentan.
"Letakkan kembali kain itu Rendi," suara Sekar meluncur tenang, namun dingin menusuk.
Rendi tersentak. Dia berbalik, wajahnya yang berminyak menunjukkan keterkejutkan sesaat, sebelum berubah menjadi seringai meremehkan.
"Oalah, si pembawa sial sudah bangun rupanya," cibir Rendi. Dia tidak merasa perlu menyembunyikan barang curiannya. Malah, dia mengibaskan kain batik itu dengan gaya mengejek.
"Kirain kamu sudah mati membusuk di kasur. Ternyata nyawamu alot juga ya, kayak kucing kurap."
Sekar tidak bergeming. Dia melangkah maju pelan-pelan.
Gerakannya tidak lagi menyeret kaki seperti orang sakit. Langkahnya mantap, ritmis, dan penuh perhitungan. Efek air spiritual tadi benar-benar nyata.
"Itu punya Ibuku. Letakkan," ulang Sekar. Nadanya datar, tanpa intonasi memohon sedikitpun.
Rendi tertawa, suara tawanya pecah dan kasar, khas perokok berat.
"Punya Ibumu? Halah! Semua yang ada di tanah ini milik keluarga besar Adhiwijaya! Termasuk gubuk reyot ini, termasuk nyawamu, dan pastinya kain butut ini!"
Rendi melangkah mendekat, mencoba mengintimidasi Sekar dengan postur tubuhnya yang jauh lebih besar.
Aroma keringat asam bercampur asap rokok kretek murahan menguar dari tubuh Rendi, membuat hidung sensitif Sekar berkerut jijik.
"Minggir, Sekar! Aku butuh duit buat bayar utang di pos ronda. Kain ini lumayan kalau dijual ke pengepul barang antik."
"Buat judi lagi?" tanya Sekar tajam. Wajah Rendi memerah padam. Egonya tersentil.
"Bukan urusanmu, Cah Goblok!" Tangan Rendi yang besar melayang, berniat menampar pipi Sekar untuk memberinya pelajaran, seperti yang sering dia lakukan dulu.
Di mata Rendi, Sekar hanyalah samsak tinju berjalan. Gadis lemah yang hanya bisa menangis dan memohon ampun. Namun, kali ini Rendi salah besar.
Di dalam tubuh gadis lemah itu, kini bersemayam jiwa seorang wanita yang telah menghabiskan separuh hidupnya di lingkungan akademis yang kejam, dan mempelajari efisiensi gerak sebagai bagian dari disiplin ilmunya.
Waktu seolah melambat di mata Sekar.
Dia melihat lintasan tangan Rendi. Sudut bahunya yang terangkat. Tumpuan berat badannya yang condong ke depan.
Saat telapak tangan Rendi hampir menyentuh pipinya, Sekar tidak mundur.
Dia justru memajukan satu langkah kaki kirinya, memotong jarak.
Tubuhnya bergerak secepat kilat, refleks yang jauh melampaui memori otot tubuh aslinya. Air spiritual itu telah mengubah serat ototnya menjadi pegas yang reaktif.
Sret!
Sekar menunduk sedikit, membiarkan tangan Rendi lewat di atas kepalanya.
Sebelum Rendi sadar serangannya meleset, tangan kanan Sekar sudah melesat, mencengkeram pergelangan tangan Rendi yang masih melayang di udara.
Jari-jemari Sekar yang lentik menekan tepat di titik Nervus Ulnaris—saraf di pergelangan tangan yang terhubung langsung ke kelingking dan jari manis.
Titik lemah anatomi manusia.
Sekar menekan kuat dengan jempolnya, lalu memutar lengan Rendi ke arah luar, melawan rotasi alami sendi.
"Arghhh!"
Jeritan Rendi memecah kesunyian sore.
Kain batik di tangan kirinya terlepas jatuh ke lantai.
Rendi terpaksa berlutut. Bukan karena dia ingin, tapi karena rasa sakit yang menyengat seperti aliran listrik dari pergelangan tangan hingga ke bahunya memaksanya untuk merendahkan tubuh.
Sekar berdiri tegak di sampingnya, masih memegang pergelangan tangan Rendi dengan satu tangan, wajahnya sedingin es.
"Sakit?" tanya Sekar pelan, seolah sedang menanyakan resep masakan.
"Lepas! Lepasin, Gila! Tangan ku patah!" teriak Rendi, air mata dan ingus mulai keluar menahan nyeri yang tak tertahankan.
Dia mencoba memukul Sekar dengan tangan kirinya yang bebas, tapi Sekar sudah mengantisipasinya.
Sekar hanya perlu menekan jempolnya sedikit lebih dalam ke celah tulang pergelangan tangan Rendi.
"Aaaaaa! Ampun! Ampun!"
Tubuh Rendi meliuk-liuk di lantai tanah seperti cacing kepanasan. Wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi menahan sakit.
Sekar menatapnya dari atas. Tidak ada kepuasan sadis di matanya, hanya tatapan klinis seorang peneliti yang melihat subjek eksperimen yang gagal.
"Dalam anatomi tubuh manusia," bisik Sekar, mendekatkan wajahnya ke telinga Rendi, "rasa sakit adalah sinyal peringatan. Otakmu sedang memberitahu bahwa sendimu berada di ambang dislokasi."
Rendi tidak paham apa yang dibicarakan sepupunya. Dia hanya tahu satu hal: Sekar Wening yang ini menakutkan.
Sekar bukan lagi gadis desa yang gemetar ketakutan. Cengkeramannya sekuat baja. Tatapannya setajam silet.
"Jangan pernah sentuh barang Ibu lagi," desis Sekar.
"Iya! Iya! Aku janji! Lepasin!"
Sekar melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar.
Rendi langsung jatuh tersungkur, memegangi pergelangan tangannya yang kini merah dan berdenyut hebat.
Dia merangkak mundur, matanya menatap Sekar dengan horor, seolah sedang melihat hantu.
Sekar membungkuk anggun, memungut kain batik Sido Mukti yang tergeletak di lantai.
Dia menepuk-nepuk debu yang menempel pada kain itu dengan lembut, memperlakukannya seperti permata.
"Pergi," ucap Sekar singkat.
Rendi bangkit dengan susah payah, kakinya gemetar. Rasa sakit di tangannya masih menyengat, tapi rasa takut di hatinya lebih besar.
"Awas kowe..." ancam Rendi dengan suara bergetar, sambil berjalan mundur menuju pintu.
"Tak laporin Eyang! Aku bilang kowe nyerang Aku! Kowe bakal abis, Sekar! Kowe bakal diusir hari ini juga!"
Sekar menoleh, memberikan senyum tipis yang tak sampai ke mata.
"Silakan. Katakan pada Eyang, cucu kesayangannya dikalahkan oleh gadis penyakitan hanya dengan satu tangan. Biar sekalian satu kampung tahu betapa 'perkasa'-nya dirimu."
Wajah Rendi berubah warna antara merah marah dan putih malu.
Dia tidak bisa membalas kata-kata itu. Harga dirinya sebagai laki-laki hancur lebur.
Tanpa bicara lagi, Rendi berbalik dan lari terbirit-birit keluar dari gubuk, menabrak tiang pintu saking paniknya.
Suara langkah kakinya yang berat menjauh, diiringi isak tangis tertahan yang terdengar menyedihkan.
Suasana gubuk kembali sunyi.
Sekar menghela napas panjang. Bahunya turun rileks. Dia melihat telapak tangannya sendiri. Tidak ada gemetar. Tidak ada ketakutan.
Jantungnya berdetak tenang,
Dulu, di kehidupan sebelumnya, dia belajar teknik bela diri praktis Krav Maga hanya untuk olahraga dan jaga diri saat pulang malam dari laboratorium.
Dia tidak pernah menyangka, ilmu itu akan menyelamatkan harga dirinya di sebuah desa terpencil di lereng Menoreh.
Sekar melipat kain batik itu dengan rapi dan mengembalikannya ke dalam lemari.
Dia tahu, ini baru permulaan.
Rendi hanyalah kerikil kecil. Laporannya pada Eyang Marsinah akan memicu badai yang sesungguhnya.