"Biarlah ini menjadi taqdir yang harus aku lalui, bu"
Aku yakin suatu hari nanti Allah akan memberikan jodoh yang Allah Ridhoi untuk, Kia!
Nakia Rahmadhani Aulia, gadis yg berusia 22 tahun. Yang harus mengalami gagal menikah dengan pembatalan yang tak layak, yang membuat kedua orangtuanya kecewa kepada Rendy yang telah memutuskan tanpa alasan yang jelas.
Akankah Nakia bisa menata hatinya, dan menemukan jodoh yang terbaik untuknya?
Ikuti laju cerita cinta Nakia yang penuh luka di hatinya.
Selamat membaca karya pertamakku, ya. Mohon maaf bila banyak kekurangan dalam novel ini.
Selang beberapa bulan Kia dapat melupakan sosok Rendy dengan kehadiran Prama sang anak pengusaha. Yang memiliki kisah percintaan yang membuatnya menjadi seoang yang dingin terhadap wanita.
Lama-kelamaan ia sering bertemu dengan Nakia sang penjaga butik langganan almarhumah mamahnya. Mereka menjalani kisah cinta yang hampir kepelaminan. Namun taqdir lagi-lagi membuat Kia harus bersedih kembali karena kematian Prama yang 2 minggu lagi akan menjadi suaminya.
Setelah ke pergian sang calon suami membuat Kia terpuruk dan selalu bersedih bila menatap semua kenangan-kenangan bersamanya. Sampai akhirnya Kia tinggal jauh dari kedua orangtua, kakak dan adiknya.
Dapatkah Kia menemukan JODOH yang sudah siapkan oleh Sang Maha Kuasa? Ikuti selalu setiap episodenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Mengenal Mas Huda
Kaki ini berlari melepas sesak di dada. Dalam kamar ku tumpahkan semua tangisku. Seolah masalalu mengulang di memoryku.
"Sesak, ini sangat sesak!" Baru aku memulai rasa ini untuknya, mengapa harus ada penghalang restu?". Apa taqdir sedang mempermainkan hatiku?". Pertanyaan itu muncul dari bibiku sendiri. Aku tak menyangka aa Razi akan membuat ku dan kak Prama menjadi jauh?.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar di telingaku, ku tau itu suara ibu. Perlahanku buka dan pintu kamar.
"Ada apa, bu?". Tanyaku ketika kepalaku muncul di ambang pintu.
" Boleh ibu masuk, sayang?". Pinta ibu.
"Ya, bu...!" jawabku sebari menghapus sisa tangisku.
Perlahan ibu duduk di tepian tempat tidurku diiringi aku di sebelahnya. Perlahan ibu memegang pundaku menyampaikan.
"Kamu belum dengar semua yang aa mu katakan kepada nak Prama!". Kamu tau sayang?, aa Razi minta kalian untuk disegerakan menikah, namun aa 'mu minta keluarga nak Prama datang secara resmi melamarmu.
Hatiku tersontak kaget. " Benarkah yang ibu katakan?". Jawabku malah memberi pertanyaan pada ibu.
"Ya, sayang. Kalu kamu gak percaya bisa kamu tanyakan kepada ayah dan aa 'mu! Aa mu tidak mau kalu kamu dan nak Prama terlalu lama berpacaran, karena akan banyak fitnah untuk kalian, sayang!. Ucap ibu meyakinkan perkataan aa ku. Perlahan ku anggukan kepalaku dan setelahnya ku peluk tubuh ibu dengan tenang.
****
Pagi itu, aku berangkat kerja di antar oleh aa Razi. Sepanjang jalan aku hanya diam tanpa berkata apapun. Namun ketika di tengah perjalanan motor yang kami gunakan bannya bocor.
" Aa cari bengkel dulu ya, dek! kamu tunggu di sini nanti aa kesini jemput kamu kalau sudah selesai!. Akhirnya aku buka suara dari sekian menit perjalanan kami yang pebuh keheningan.
"Aku ikut aa aja!" aku gak mau sendirian disini! Pintaku yang mengekor pada aa Razi.
" Ya sudah kalau gitu!". Jawabnya sambil mendorong motor metik yang terus menyusuri jalan pagi itu, tak ada satu bengkelpun yang buka karena hari masih begitu pagi.
Sepanjang jalan aa Razi banyak bertanya padaku, bagaimana aku bisa mengenal kak Prama. Ku ceritakan sedari awal aku mengenalnya sampai akhirnya kami menjalin tali cinta. 15 menit kemudian kami menemukan bengkel yang sudah buka. Senyum kami merekah dan 10 menitan ban yang bocorpun telah diganti dengan ban yang baru, memang motor itu sudah lama belum ganti ban.
Hampir satu jam akhirnya aku sampai di depan kantor. Ketika aku hendak turun di depan sudah ada Tari yang hendak masuk ke dalam.
"Tari tunggu sebentar!". Teriakku ketika aku telah mencium punggung tangan aa 'ku, dengan senyum manis aku melambaikan tangan kepada aa Razi.
"Kayanya yang tadi bukan ayahmu yang mengatarmu kesini ya, Kia?". Tanya Tari.
" Ia itu aa Razi yang kemarin baru pulang dari Mesir yang pernah aku ceritakan kepadamu, Tari!". Jawabku yang kini kami sudah masuk ke dalam lift menuju tempat kerja kami.
"Oohh... iya... iya, yang waktu itu kamu sempet tunjukin fotonya ke aku ya?". Jawabnya sambil memencet tombol yang ada di depan kami, kebetulan hanya kami berdua dalam lift tersebut.
****
" Tumben kamu gak bawa bekel, Kia?. Tanya Sasa yang menghampiri meja kerjaku.
Sedikit menoleh ke arah Sasa aku berdiri dan mengajaknya untuk pergi ke kantin. "Hari ini ibu gak sempet masak Sa, jadi aku makan di kantin saja, sebentar ya aku ke meja Tari untuk mengajaknya makan bareng!
" Ya sudah aku tunggu di sini ya jangan lama-lama!. Jawab Sasa yang menunggu di meja kerjaku. Baru bebrapa langkah menuju meja Tari, orang yang di nanti sudah ada di hadapanku.
"Kamu mau ke mejaku ya, Kia? Ucapnya.
" Ya, ehh kamu udah di sini, yukk kita makan di kantin mba Sasa udah nungguin kita. Ucapku seraya menggandeng tangan Tari, gadis berhijab panjang yang selalu pakai rok dan baju sampai lutut.
Akhirnya kami bertigapun makan di kantin, namun ketika kami sedang berbincang-bicang dan tertawa lepas seseorang sudah menarik bahuku dengan keras.
"Ehh, gadis kampung gue ada perlu sama elo? Ucap wanita yang selalu bikin masalah denganku, siapa lagi kalau bukan Mawar.
" Ehh... sopan sedikit doang jadi orang, gak liat apa Kia lagi ngobrol sama kita-kita. Ucap Tari dengan tegas dan sedikit membulatkan matanya kepada Mawar.
"Gue gak ada urusan sama elo, gue cuma mau ngomong sama bocah kampung ini. Ucapnya yang memaksa tanganku untuk pergi bersamanya. Tari yang melihat aku di perlakukan seperti itu dia mencoba menarikku untuk duduk kembali.
"Gak apa-apa, Tar! Biar aku ikutin apa maunya orang ini bisikku pada telinga Tari, Sasa yang melihat itu seoalah ingin menerkam Mawar hidup-hidup, dengan mainan mataku Sasa mengerti maksudku agar dia tidak ikut dalam masalah ini.
****
Ku ikuti langkah Mawar yang mengajakku ke arah parkiran mobil yang ada di lantai bawah yang kondisinya memang sepi.
Dengan sedikit dorongan ia mencengkram tanganku dan menghentakkan tubuhku ke tembok di sana sudah ada Kinanti yang menunggu kami.
" Ehh, bocah kampung jangan elo pikir setelah Pak Prama negelamar elo waktu malem itu, elo pikir gue akan tinggal diam, hah? "Asal elo inget ya! gue gak akan biarin pak Prama sampe nikah sama elo! Ucap Mawar yang susah menarik jilbabku sampai aku mendongak ke atas. Kali ini aku tidak tinggal diam di perlakukan seperti itu olehnya. Ku pukul bagian wajahnya yang dekat di hadapanku.
Prak...
"Jangan kamu pikir aku akan diam saja atas apa yang kalian lakukan selama ini sama aku! Ucapku dengan tatapan marah. Mawar menatapku tajam sambil memegang pipinya yang mungkin terasa perih akibat layangan tanganku.
Dengan mata yang mengisyaratkan Kinanti untuk menahanku wanita itu dengan marahmya menatapku dengan tajam. " "Berani elo sekarang ya sama gue, hah?
"Loe rasain akibatnya nih!. Tubuhku yang sekarang sudah di pegangi oleh Kinanti dan tiba-tiba Mawar mencekinku dengan ke dua tanganya. Tubuhku tak bisa bergerak sama sekali karena mereka sudah mengeroyokku bersamaan. Dengan tanpa suara aku mencoba untuk berteriak minta tolong, tapi mereka malah tertawa dengan kesakitanku.
"Hahah..., ini belom seberapa? elo bakalan ngerasain yang lebih kalau elo gak nurut sama omongan gue, hah!.
Kini wajah ku dan Mawar begitu dekat hingga kurasakan hembusan nafasnya. Matanya yang tajam mengisyaratkan kebencian kepadaku, tanganya makin mengeratkan cekikan di leherku.
Ku pejamkan mataku berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari dua wanita di belakang dan di depanku. Ketika tangan Kinanti yang akan merusak jilbab yang ku kenakan seseorang sudah menarik tubuh Mawar.
"Lepaskan dia, saya bisa melaporkan kalian berdua kepada pihak yang berwajib. Ucapnya yang akupun tak tau siapa pria yang sudah ada di hadapan kami.
Seketika Mawar melepaskan cekikannya dan sedikit tercengang atas kehadiran pria bertubuh tinggi sedikit berisi dari Kak Prama dan wajahnya 'pun mirif-mirif lelaki yang aku cintai saat ini.
Uhuk... uhuk...
Ketika tangan Mawar sudah terlepas dari leherku, aku sudah tak secengeng ketika mereka berlaku kasar padaku.
" Lebih baik kalian perigi dari sini sebelum saya melaporkan kalian berdua ke kantor polisi. Tukasnya ketika Mawar dan Kinanti diam mematung seolah mereka tau siapa Pria tersebut.
"Maaf... Maafkan kami, pak. Saya hanya kecewa dengan wanita ini, karena di tempat kerja dia selalu cari muka kepada atasan kami. Ucapnya seolah membela diri dengan kebohongannya.
Aku yang masih berusaha menetralkan keadaanku dan nafasku, hanya diam tak ada pembelaan toh nanti juga laki-laki itu tau kalu mereka berdua sedang berbohong.
" Kamu sudah tidak apa-apa?. Tanyanya ketika melihat kondisiku yang sedikit berantakan karena ulah mereka berdua yang sudah berlalu dari ku dan pria yang ada di hadapanku.
"Alhamdulillah, saya tidak apa-apa! Terima kasih karena anda sudah menolong saya dari dua wanita itu. Ucapku sambil menunduk'kan kepala.
****
" Panggil saya Huda. Lain kali jangan mencari musuh bila ingin tetap bekerja di kantor ini! Ucapnya yang meninggalkan aku mematung.
Benar saja dia mas Huda yang sering bu Melinda ceritakan kepadaku. Pria itu lebih angkuh dari pada adiknya.
Perlahanku melangkah mengikutinya dari belakang. "Bu Melinda sering bercerita tentang anda kepada saya ketika saya masih bekerja di butik. Apa anda sudah menyelesaikan pendidikan anda di Australia?, sehingga kini anda menetap di sini?. Celotehku yang menghentikan langkah kakinya.
" Saya sudah bilang panggil saya Huda, saya ini bukan orang asing bila kamu sudah tau cerita saya! lagi pula kamu ini akan jadi adik ipar saya. Dan mamah saya sesering itukah bercerita tentang saya kepadamu?, sehingga kamu banyak tau tentang saya? Dan kekenapa kamu tidak mengenal saya tadi?
Pertanyaan itu begitu banyak ia ajukan kepadaku. Hingga aku bingung mau menjawab yang mana.
"Maaf mas Huda! sewaktu hidupnya Bu Melinda sering berkunjung ke butik tempat saya kerja, menceritakan dua anak laki-lakinya yang sedikit banyak berbeda perangainya. Tapi bu Melinda belum pernah menunjukan foto-foto mas Huda dan Kak Prama. Jadi saya tak mengenal mas Huda. Saya tau kak Prama anak bu Melindapun pas Kak Prama mengajak saya berjiarah ke makam mamahnya. Jawabku yang kini kami sudah duduk di taman kantor belakang.
" Berarti kamu tau kalau mamah pernah meminta kamu untuk---
Kata-kata itu terhenti ketika lelaki yang ku cintai datang menghampiri kami yang sedang duduk berdua.
"Ehem... eh tikus dapur aku cariin kamu kesana kemari gak taunya ada disini berdua-duaan lagi sama mas Huda?.
" Jangan salah paham! aku sama Kia gak ngapa-ngapain kok!. Ucap mas Huda yang sedikit menggeserkan duduknya karena kak Prama duduk di sebelah dengan wajah dinginnya.
Prama mengulurkan tanganya ke bahu mas Huda dengan sebuah candaan. "Emm... kok kayanya serius banget tadi aku liatnya?
" Awas ya mas jangan godain tunanganku, kalau gak tangan ini akan melayang ke wajahmu. Candanya yang menggoyang-goyangkan tubuh lelaki yang cukup cool menghadapi candaan adiknya itu.
"Jangan suka sudzon sama orang! Dasar jerapah cungkring!. Ucapku yang kesal seolah matanya menyelidiku tak percaya atas ucapanku.
"Bukannya sekarang kamu makan siang, kenapa kamu malah disini?
Dan kenapa kalian seperti sudah kenal kama sehingga bisa ngobrol disini?"
Ucap kak Prama seolah belum puas dengan apa yang aku katakan tadi.
"Dia hampir mati tadi karena dua orang sedang menganiayanya. Coba saja kalau aku gak datang mungkin orang itu sudah mencekiknya sampai mati. Ucap mas Huda sambil berlalu dengan sedikit menoleh ke arah adiknya yang ia tinggalkan di kursi panjang tadi.
Mata Prama membulat dan kaget akan ucapan mas Huda yang sudah melangkah jauh dari kami.
" Sayang, benarkah apa yang mas Huda katakan tadi? Siapa yang sudah berbuat itu kepadamu? hah. Yang kini kak Prama mendekat dengan kursi yang aku duduki dan sedikit membukukan badannya seolah meminta penjelasan kepadaku
"Aku tidak apa-apa kak, kakak bisa lihat gak ada yang luka kan? Kataku meyakinkan nya.
" Tapi kenapa kamu bisa punya musuh di kantor ini? kamu gak pernah cerita sama aku, heh? apa selama aku tidak pernah datang ke sini orang itu selalu berlaku kasar kepadamu?
"Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa kak... sudah jangan terlalu di besar-besarkan. Aku mau ke atas karena sedikit lagi waktu istirahat sudah hampir habis. Ucapku yang berusaha berdiri untuk meninggalkannya.
Namun tanganya sudah dengan kuat menahanku.
"Ayy, ku mohon siapa yang sudah berlalu kasar sama kamu? katakan kepadaku, ayy! Aku gak kamu terluka dan kenapa-kenapa. Kalu kamu gak mau kasih tau aku, aku akan cari tau sendiri dan bila aku tau siapa orangnya, akan langsung aku pecat mereka hari ini juga. Ucapnya yang sedikit meninggikan kata-katanya.
"Sudah nanti kita bahas lagi, ya?! aku mau masuk kerja, kak... nanti kalau aku telat dan kena marah sama pak Handoko gimana?
" Gak usah takut aku pemilik perusahan, jadi gak akan ada yang berani memarahimu kecuali kamu berbuat kesalahan sama aku. Ucapnya yang sudah menarikku untuk pergi bersamanya.
"Kita mau kemana? pelan-pelan tanganku sakit kak! rengekku yang tak suka caranya memaksaku untuk mengikutinya ke arah ruangan security. Disana ada banyak monitor yang menunjukan beberapa tempat yang sudah di pasang CCTV.
"Coba saya ingin lihat monitor yang menunjukan ke arah parkiran mobil lantai bawah!. Ucapnya kepada satpam yang bertubuh tinggi besar dan berkumis.
"Ini pak...! ucapnya.
" Coba saya ingin lihat kejadian 10-20 menit yang lalau.
Dan ketika satpam itu menunjukan hasilnya, mata kak Prama seolah memendam ke amarahan dan tanganya sudah mengepal dan langsung menarik tanganku tanpa satu katapun.
Ia tersus menariku sampai ke pintu lift dan aku tau dia marah juga kepadaku, karena aku tidak memberi tahu masalah ini kepadanya. semua orang menatapku aneh karena melihat kak Prama dengan raut wajah yang tak bersahabat. Sambil menarik tanganku mengikuti langkahnya, aku tertunduk malu pasti orang-orang disana berfikir jelek tentang apa yang mereka lihat sekarang. Ada yang berceloteh aku ketahuan selingkuh lah, aku cari masalahlah, aku akan di pecatlah. Tapi aku tidak perduli dengan semua itu toh nanti juga mereka akan tau semuanya.
.
.
.
.
Bersambung....
jangan lupa meninggalkan jejak like dan komennya ...
masukan ya sangat di tunggu