NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Gitagracia Gea

Genre: Romance Drama


"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."

Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.

Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.

Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran Yang Perlu Ditampilkan

Berita viral itu menyebar seperti api di padang rumput kering. Dalam waktu satu hari, nama Nara Safitri sudah berada di puncak trending topic media sosial lokal. Beberapa orang mendukungnya, tapi banyak yang menyerangnya dengan kata-kata yang menyakitkan.

Nara tinggal di dalam rumahnya, tidak berani keluar. Dia menghindari telepon dan pesan yang terus-menerus datang. Hanya Bu Lina yang bisa masuk ke kamarnya, membawa makanan dan minuman sambil mencoba menghiburnya.

"Kamu tidak bisa terus seperti ini, Nak," ucap Bu Lina dengan suara penuh perhatian, menyeka air mata yang menetes di pipi putrinya. "Kamu harus keluar dan menunjukkan kepada semua orang bahwa kamu bukan seperti yang mereka katakan."

"Apa gunanya, Bu?" jawab Nara dengan suara yang lemas. "Semua orang sudah melihat berita itu. Mereka tidak akan pernah mempercayai aku lagi – terutama anak-anak."

Pada saat yang sama, di luar rumah, Dito, Reza, dan Rendra sedang berkumpul bersama beberapa anggota tim proyek dan orang tua peserta. Mereka sedang merencanakan cara untuk membantu Nara dan menyebarkan kebenaran.

"Kita tidak bisa biarkan dia menghadapi ini sendirian," ucap Reza dengan suara yang tegas. "Kita tahu siapa dia sebenarnya dan apa yang dia lakukan untuk anak-anak. Kita harus membuktikannya kepada semua orang."

"Kita bisa mengadakan sebuah acara besar – sebuah pameran karya seni anak-anak yang telah dia bantu," usulkan Dito sambil melihat catatan yang ada di tangannya. "Kita bisa mengundang masyarakat umum, media, dan semua orang yang ingin tahu kebenaran. Biarkan anak-anak dan karyanya yang berbicara sendiri."

Rendra mengangguk dengan setuju. "Yayasan akan menyediakan semua dukungan yang dibutuhkan – tempat, dana, dan kontak media yang bisa membantu menyebarkan kebenaran dengan benar. Kita harus bertindak cepat sebelum kebohongan itu semakin menyebar."

Mereka segera mulai bekerja. Dalam waktu tiga hari, mereka telah menyiapkan segala sesuatu untuk acara yang diberi nama "Kreativitas Tanpa Batas – Cerita dari Anak-anak". Tempat acara dipilih di taman kota yang dulu menjadi tempat awal perjalanan Nara dengan proyek ini.

Pada hari acara, cuaca cerah dengan sedikit angin yang segar. Puluhan anak-anak dari berbagai sekolah dan daerah berkumpul dengan membawa karya terbaik mereka – lukisan, patung, kerajinan tangan, dan buku cerita bergambar yang mereka buat sendiri.

Media massa mulai datang satu per satu. Beberapa datang dengan tujuan mencari berita sensasional, tapi sebagian besar datang karena ingin tahu kebenaran yang sebenarnya.

Dito naik ke atas panggung kecil yang telah disiapkan dan mengambil mikrofon. "Selamat datang semua orang. Kami mengadakan acara ini bukan untuk membela seseorang, tapi untuk menunjukkan kepada semua orang apa yang sebenarnya terjadi di balik program pendidikan kreatif yang telah kita jalankan."

Dia mulai menunjukkan foto-foto dan video dari kegiatan mereka selama ini – anak-anak yang sedang belajar dengan senang, karya seni yang mereka hasilkan, dan cerita sukses dari mereka yang telah menemukan bakatnya melalui program ini.

Setelah itu, Reza naik ke atas panggung dengan membawa Dani – anak dengan autisme yang sangat berbakat dalam seni. "Ini adalah Dani," ucapnya dengan suara yang penuh cinta. "Sebelum dia bergabung dengan program ini, dia sulit berkomunikasi dan sering merasa terisolasi. Tapi sekarang, dia bisa mengekspresikan dirinya dengan indah melalui karya seni nya."

Dani kemudian menunjukkan beberapa patung tanah liat yang dia buat – bentuk-bentuk yang unik dan penuh makna. Meskipun dia tidak bisa berbicara dengan kata-kata, wajahnya yang penuh bangga dan mata yang bersinar cukup untuk menunjukkan betapa bahagia dia dengan apa yang dia lakukan.

Setelah itu, Rara naik ke atas panggung dengan membawa sebuah lukisan besar yang dia buat bersama teman-temannya. "Ini adalah lukisan tentang Kakak Nara," ucapnya dengan suara yang jelas dan kuat. "Dia selalu bilang bahwa setiap anak bisa menjadi seniman jika mereka diberi kesempatan. Dia membantu kami, mencintai kami, dan tidak pernah melihat kami sebagai orang yang berbeda."

Lukisan itu menggambarkan Nara sedang duduk bersama anak-anak, sedang mengajari mereka cara menggambar dengan penuh cinta dan kesabaran. Warna-warni yang cerah dan bentuk-bentuk yang hidup membuat semua orang yang melihatnya terharu.

Saat anak-anak lain mulai menunjukkan karya mereka dan bercerita tentang bagaimana program ini telah mengubah hidup mereka, suasana di taman menjadi semakin hangat. Banyak orang yang datang dengan sikap skeptis mulai berubah pikiran setelah melihat bukti yang nyata di depan mata mereka.

Di dalam rumahnya, Nara sedang melihat acara tersebut melalui siaran langsung di ponselnya. Air mata terus menetes dari matanya saat melihat anak-anak yang dia sayangi sedang berjuang untuk membela dirinya.

"Kamu harus pergi ke sana, Nak," ucap Bu Lina yang berdiri di belakangnya. "Mereka membutuhkanmu."

Tanpa berpikir panjang, Nara mengambil jasnya dan keluar rumah dengan berlari. Dia berlari melalui jalanan yang sudah mulai ramai dengan orang-orang yang sedang menuju ke taman kota. Saat dia tiba di taman, semua orang melihatnya dengan tatapan yang beragam – ada yang mendukung, ada yang masih ragu, dan ada yang masih melihatnya dengan pandangan negatif.

Nara naik ke atas panggung dan mengambil mikrofon dari Rara. Suaranya sedikit gemetar tapi tetap jelas dan terdengar di seluruh taman.

"Aku tidak akan berusaha membela diri dengan kata-kata saja," ucapnya dengan suara yang penuh emosi. "Semua yang kamu dengar dan baca di media adalah campuran antara kebenaran dan kebohongan yang dibuat untuk menghancurkan aku."

Dia mulai menceritakan masa lalunya yang sebenarnya – tentang bagaimana dia harus keluar dari rumah pada usia muda karena ayahnya yang sakit parah dan keluarga yang kesulitan ekonomi, tentang bagaimana dia bekerja keras di Jakarta untuk bisa sekolah dan mencapai impiannya, dan tentang bagaimana dia pernah merasa putus asa tapi tidak pernah menyerah karena dia tahu bahwa ada anak-anak yang membutuhkan bantuan nya.

"Aku tidak sempurna," lanjutnya dengan suara yang semakin kuat. "Aku punya masa lalu yang tidak selalu baik, dan aku pernah membuat kesalahan. Tapi satu hal yang bisa aku jamin – setiap langkah yang aku ambil untuk program ini berasal dari hati yang tulus ingin membantu anak-anak menemukan bakat mereka."

Pada saat yang sama, Lina muncul di tengah kerumunan dengan wajah yang penuh perjuangan. Dia telah melihat semua yang terjadi dan mendengar cerita Nara dengan cermat. Rendra mendekatinya dengan tatapan yang penuh harapan.

"Lina, kamu tahu bahwa kebohongan itu tidak akan membawa kebaikan bagi siapapun," ucapnya dengan suara lembut. "Kamu sudah melihat sendiri apa yang dia lakukan untuk anak-anak. Bukankah sudah cukup?"

Lina merasa hatinya mulai melemah. Dia melihat anak-anak yang sedang melihatnya dengan mata yang penuh kebingungan dan sedikit ketakutan. Dia menyadari bahwa apa yang dia lakukan selama ini hanya membuat penderitaan bagi orang-orang yang tidak bersalah – terutama anak-anak yang hanya ingin belajar dan mencipta.

Tanpa berkata apa-apa, dia naik ke atas panggung dan mengambil mikrofon dari Nara. Seluruh taman menjadi sunyi, menunggu apa yang akan dia katakan.

"Aku ingin meminta maaf," ucap Lina dengan suara yang jelas namun penuh rasa menyesal. "Semua berita bohong yang menyebar adalah kerjaanku. Aku membuatnya karena aku merasa cemburu dan marah – marah karena aku merasa Nara telah mengambil semua yang ada padaku, termasuk cinta kakak ku Rendra."

Dia melihat ke arah Nara dengan mata yang penuh permintaan maaf. "Aku salah besar. Aku melihatmu sebagai musuh padahal kamu hanya seseorang yang ingin melakukan kebaikan. Semua yang kamu lakukan untuk anak-anak sungguh luar biasa, dan aku minta maaf telah mencoba merusaknya."

Seluruh taman terdiam sejenak sebelum akhirnya tepuk tangan yang meriah terdengar dari segala arah. Banyak orang yang merasa terharu dengan kejujuran Lina dan kesabaran Nara.

Setelah acara selesai dan kerumunan mulai menyebar, seorang pria yang mengenakan jas hitam datang mendekati Nara. Dia membawa sebuah amplop putih dan menunjukkan kartu identitasnya – dia adalah perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Bu Nara," ucapnya dengan senyum yang penuh rasa hormat. "Kami telah mengikuti perkembangan program Anda dan acara yang Anda gelarkan hari ini. Kami sangat terkesan dengan apa yang Anda lakukan untuk anak-anak."

Dia menyerahkan amplop kepada Nara. "Di dalamnya adalah surat undangan untuk membawa program Anda ke tingkat nasional. Kami ingin bekerja sama dengan Anda untuk mengembangkan pendidikan kreatif inklusif di seluruh Indonesia."

Nara merasa seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Namun sebelum dia bisa menjawab, teleponnya berdering – ada pesan darinya yang tidak dia duga akan datang:

"Hai Nara. Aku sudah melihat acara kamu hari ini. Aku sangat bangga dengan apa yang kamu capai. Aku ingin bertemu denganmu untuk membicarakan sesuatu yang penting – tentang masa lalu kita dan mungkin juga tentang masa depan kita bersama."

Pesan itu berasal dari seseorang yang telah lama hilang dari kehidupannya – ayahnya yang dia kira sudah tidak akan pernah menghubunginya lagi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!