Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBELAAN YANG TEGAS
Seminggu setelah klarifikasi Pak Bara di sekolah, suasana mulai kembali tenang. Banyak siswa yang kembali bergaul dengan Rafi dan Caca, bahkan beberapa yang dulu ragu kini malah ingin bergabung dengan klub menggambar.
Namun tidak semua orang mau menerima perubahan yang telah dilakukan keluarga Rafi.
Pada hari Rabu sore, setelah jam pelajaran selesai, Rafi dan Caca sedang membersihkan ruangan klub menggambar di balai desa bersama Dika dan tiga anak lain. Tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu balai yang terbuka dengan sepihak.
“Jadi ini tempat dimana anak-anak diajari oleh keluarga mafia ya?” ujar seorang pria berbadan besar dengan wajah kasar, diikuti oleh dua orang lelaki yang juga tampak mengancam. Dia adalah Budi, kakak dari salah satu anggota keluarga lama Pak Bara yang tidak setuju dengan keputusannya untuk keluar dari dunia yang tidak benar.
Caca segera menarik anak-anak kecil ke belakangnya, sementara Rafi berdiri dengan tegap menghadapi mereka. “Ini adalah klub untuk anak-anak belajar menggambar dan seni, tidak ada hubungannya dengan apa yang kamu pikirkan.”
Budi tertawa sinis dan melangkah lebih jauh ke dalam ruangan. Dia melihat sekeliling dengan ekspresi merendahkan. “Begitu banyak waktu dan uang terbuang sia-sia untuk hal yang tidak berguna seperti ini. Kalau kamu mau ikut dengan kita, Rafi, kamu bisa punya kekuasaan dan harta yang jauh lebih banyak daripada membantu orang miskin ini.”
“Kita tidak mau,” jawab Caca dengan suara yang sedikit gemetar tapi tetap tegas. “Keluarga kita sudah memilih jalan yang benar dan membantu banyak orang. Bukannya itu jauh lebih baik daripada melakukan hal-hal yang salah?”
Budi mengerutkan kening dan melihat Caca dengan tatapan yang tidak menyenangkan. “Kamu siapa saja untuk berbicara seperti itu? Hanya seorang gadis kecil yang dianggap sebagai ‘si imut’ oleh keluarga mafia tersebut. Kalau kamu tidak pintar-pintar, kamu juga akan terkena dampaknya.”
Saat itu Pak Hendra yang baru saja datang untuk mengajar teknik menggambar mendengar suara yang mengganggu dan masuk ke dalam balai. Dia melihat situasi yang mengancam dan segera berdiri di antara Budi dan anak-anak.
“Siapa kamu dan apa maksudmu datang ke sini dengan cara yang tidak sopan?” tanya Pak Hendra dengan suara tegas, menunjukkan bahwa dia tidak akan tinggal diam melihat anak-anak yang dia jaga dipermalukan.
Budi melihatnya dengan tatapan merendahkan. “Ini urusan keluarga mafia, jangan campur tangan kalau kamu tidak mau ada masalah.”
Namun Pak Hendra tidak mundur. “Saya adalah guru dari sebagian besar anak-anak di sini, dan sebagai guru saya punya tanggung jawab untuk melindungi mereka. Jika kamu tidak ingin pergi dengan damai, saya akan memanggil polisi dan melaporkanmu karena mengganggu aktivitas anak-anak.”
Saat itu juga, beberapa warga kampung yang sedang lewat mendengar suara gaduh dan datang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka segera mengelilingi Budi dan teman-temannya dengan wajah yang penuh kemarahan.
“Kamu tidak boleh datang ke kampung kita dan mengganggu anak-anak kita!” ujar Pak Joko yang sering membantu mengurus kebun pertanian keluarga Rafi. “Keluarga Pak Bara sudah banyak membantu kita – membangun jalan, memberikan beasiswa, bahkan membantu kita saat ada bencana banjir tahun lalu.”
Budi melihat sekeliling dan menyadari bahwa dia tidak memiliki dukungan apa-apa di sini. Dia menghela napas dengan kesal dan menatap Rafi dengan tatapan ancam. “Kita belum selesai dengan ini, Rafi. Keluarga kita seharusnya menguasai daerah ini, bukan membantu orang-orang yang tidak berharga seperti mereka.”
Setelah Budi dan teman-temannya pergi, semua orang merasa lega. Anak-anak kecil yang sebelumnya ketakutan mulai tenang kembali, sementara warga kampung memastikan bahwa tidak ada yang terluka atau ada barang yang rusak.
Pak Bara yang baru saja pulang dari kota segera datang ke balai desa setelah mendengar kabar. Dia melihat Rafi dan Caca yang masih sedikit ketakutan dan langsung mengelus kepala mereka dengan lembut. “Maafkan aku ya nak, karena masa lalu aku kamu harus mengalami hal seperti ini.”
Tapi Rafi menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Tidak apa-apa Ayah. Kita sudah memilih jalan yang benar, dan kita punya banyak teman yang mendukung kita. Bukannya itu lebih penting daripada kekuasaan dan harta yang salah?”
Pak Bara tersenyum dengan bangga melihat sikap anaknya yang sudah tumbuh menjadi sosok yang kuat dan penuh prinsip. Caca juga datang dan memeluk Pak Bara. “Kita akan tetap bersama ya Pak, tidak peduli ada orang apa saja yang tidak menyukai kita.”
Pada malam hari, seluruh keluarga dan beberapa warga kampung berkumpul di rumah Rafi untuk membicarakan hal tersebut.
Mereka sepakat untuk meningkatkan keamanan di sekitar kampung dan klub menggambar, namun tetap dengan cara yang damai dan tidak menyakiti siapapun.
Pak Hendra juga hadir dalam pertemuan tersebut. “Saya ingin membantu mengajarkan anak-anak tentang pentingnya memegang prinsip dan berdiri tegas untuk kebenaran,” ujarnya dengan penuh semangat. “Kita bisa membuat kegiatan khusus tentang hak dan kewajiban serta bagaimana cara melindungi diri dan orang lain dengan cara yang benar.”
Rafi dan Caca saling melihat dengan wajah yang penuh keyakinan. Meskipun mereka baru saja menghadapi bahaya dan ancaman dari orang yang tidak menyukai perubahan keluarga mereka, mereka juga melihat betapa banyak orang yang siap membela dan mendukung mereka.
Pengalaman ini membuat mereka semakin kuat dan yakin bahwa jalan yang mereka pilih adalah benar.
“Kita akan terus melindungi klub ini dan semua anak di sini, kan Caca?” tanya Rafi dengan suara tegas.
“Tentu saja, Rafi,” jawab Caca dengan senyum penuh keyakinan.