NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Akhir Pekan

Seminggu pertama di Merapi Arts Lab berlalu dalam ritme yang aneh: gelombang produktivitas intens diikuti oleh jurang kesepian yang dalam.

Amara dibombardir dengan ide-ide baru. Diskusi kelompok dengan sembilan seniman residen lainnya—pelukis dari Polandia, pemahat dari Jepang, fotografer dari Brazil—membuka dunianya.

Ada workshop tentang material lokal: membatik, mengolah tanah liat vulkanik, bahkan mempelajari filosofi Jawa tentang "kehilangan dan penemuan kembali" dari seorang sesepuh desa. Otaknya penuh, tangan gatal untuk menciptakan.

Tapi setiap jeda, setiap malam sebelum tidur, keheningan studio-nya menggema. Dia mengambil ponsel, menghidupkannya seperti oksigen.

"Ma, aku dapet nilai 95 di matematika! Papa beliin es krim." Pesan dari Luna, disertai foto buku ujian dengan stempel bintang.

Amara langsung membalas: "Pintar banget anak Mama! Mama bangga! Es krim rasa apa?"

"Coklat mint. Tapi Papa cuma beliin satu scoop, katanya jangan kebanyakan."

"Papa bener. Besok kita video call, Mama pengen denger semua ceritanya."

Pesan-pesan pendek itu menjadi jangkar hariannya, pengingat bahwa di luar dunia seni yang mendalam ini, ada kehidupan nyata yang menunggunya.

Makan malam adalah ritual tersakral. Pukul 19.00, setelah kebanyakan seniman lain makan bersama di ruang communal, Amara mundur ke studionya. Dia menghangatkan nasi dan lauk sederhana, lalu menyalakan video call. Layar terbagi dua: di satu sisi, dapur kecilnya di Jogja; di sisi lain, meja makan di apartemen Rafa.

"Apa yang kamu makan, Sayang?" tanya Amara, melihat piring Luna.

"Papa bikin ayam tepung. Tapi bawahnya gosong," keluh Luna, menyodorkan piring ke kamera.

Rafa yang terlihat di latar belakang, sedang mencuci piring, protes. "Itu bukan gosong, itu crispy!"

Amara tertawa, dan untuk sesaat, jarak 500 kilometer itu seolah tidak ada. Mereka bercerita tentang hari mereka.

Luna tentang ulangan, tentang teman yang bertengkar.

Amara tentang batik yang dia coba buat dengan motif pecahan kaca, tentang angin dingin di malam hari.

Rafa kadang menyela dengan pertanyaan praktis: "Butuh oleh-oleh apa dari Jakarta?", "Obat nyamuk di sana cukup?"

Percakapan itu sederhana, dangkal, tapi menghidupkan. Saat panggilan berakhir, biasanya setelah Luna menguap atau Rafa mengingatkan waktunya tidur, ruangan kembali terasa sangat besar dan sangat kosong.

Edo datang setiap Rabu, seperti janjinya. Kunjungan profesional, tapi selalu disertai oleh sesuatu: sebuah buku puisi Rendra, kopi luwak dari perkebunan lokal, atau kue apem dari pasar tradisional.

"Bagaimana progresnya?" tanyanya suatu sore, sambil duduk di lantai, memandangi sketsa besar di dinding yang kini sudah mulai dipenuhi dengan kain perca dan jahitan eksperimental.

"Banyak ide, tapi belum menemukan bentuk yang pas," keluh Amara, menyapu rambutnya yang diikat sembarangan. Dia mengenakan overall denim yang penuh noda cat dan arang.

"Jangan terburu-buru. Residensi ini bukan tentang menghasilkan karya jadi. Ini tentang eksplorasi. Tentang membiarkan diri tersesat."

Edo berdiri, mendekati dinding. Dia menunjuk sebuah area di mana jahitan menjadi sangat rapat dan kusut. "Ini menarik. Seperti ada sesuatu yang ingin dikubur atau diikat sangat kuat. Apa ini?"

Amara terdiam. Itu adalah bagian yang dia kerjakan setelah video call dengan Luna, saat kerinduannya paling menyiksa. "Itu... tentang keinginan untuk menahan sesuatu yang jauh."

Edo mengangguk, tidak mendesak lebih lanjut. "Biarkan itu mengalir. Jangan analisa dulu. Nanti, di akhir, kita lihat bersama apa ceritanya."

Kehadiran Edo berbeda. Dia tidak mengisi kesepian itu, tapi membuat kesepian itu terasa lebih bermakna, seperti bahan baku untuk seni. Namun, ada garis profesional yang tidak mereka langkahi. Mereka berteman, tapi fokusnya tetap pada karya.

Akhir pekan ketiga tiba. Janji itu. Jumat malam, Amara tidak bisa tidur. Dia membersihkan studio berkali-kali, menyiapkan tempat tidur tambahan untuk Sari, membeli stok camilan favorit Luna di mini market terdekat.

Sabtu pagi, dia berdiri di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, jantung berdebar seperti anak muda berkencan pertama kali.

Penerbangan dari Jakarta mendarat. Dan kemudian, dia melihat mereka.

Luna berlari lebih dulu, mengenakan rompi bomber pink dan celana jins robek, ransel Hello Kitty terguncang-guncang di punggungnya. "MAAA!!"

Amara berlutut, membuka lengannya. Tubuh kecil itu menubruknya, hampir menjatuhkannya. Dia memeluk erat, mencium aroma yang sangat dia rindukan—campuran shampoo anak-anak, keringat sedikit asin, dan kehangatan murni Luna. Air mata langsung mengalir.

"Mama! Aku kangen banget!" Luna menangis dan tertarik sekaligus.

"Aku juga, Sayangku. Aku juga." Amara memandanginya, menyeka air mata di pipi Luna. "Kamu tumbuh! Kok kayaknya tinggi?"

"Tante Sari, lihat! Aku tumbuh!" teriak Luna pada Sari yang baru saja mendekat dengan koper kecil, tersenyum lebar.

"Sudah jadi putri Jogja nih, dikit lagi nyusul tinggi mamamu," canda Sari, lalu memeluk Amara. "Duh, jadi artistik nih orang.

Berantakan tapi kinclong."

Amara tertawa, menatap sahabatnya.

"Makasih ya, sudah nemenin luna."

"Ah, gue juga butuh liburan dari Jakarta yang bikin stres. Ayo, kita langsung serbu kota!"

Hari itu adalah hari yang sempurna, penuh warna dan tawa. Mereka naik becak hias berwarna-warni menuju Malioboro. Luna senang sekali, matanya melotot melihat toko-toko souvenir, pedagang asongan, dan kerumunan.

"Ma, itu wayang! Itu batik! Itu... tas kulit!" Luna menunjuk ke segala arah.

Mereka turun, berjalan kaki. Amara membelikan Luna caping bambu kecil yang lucu dan gelang kulit sederhana. Sari, dengan semangat seorang fotografer, terus memotret mereka: Amara dan Luna sedang mencoba kacamata hitam ala pedagang, mereka berdua menjilat es krim potong yang meleleh, tertawa saat becak mereka hampir menabrak sekelompok turis.

Makan siang di warung gudeg legendaris. Luna awalnya ragu dengan penampilan gudeg yang coklat pekat.

"Coba dulu, Sayang. Manis dan gurih," bujuk Amara.

Luna mencoba sesuap kecil, lalu matanya membesar. "Enak! Aku mau lagi!"

Sari tertawa geli. "Nah, kan? Jogja has won another soul."

Sorenya, mereka mengunjungi Keraton Yogyakarta. Di tengah kediaman sultan yang sunyi dan megah itu, di bawah naungan pohon beringin raksasa, Luna menjadi agak tenang.

"Rasanya... damai ya, Ma," bisiknya, memegang tangan Amara.

"Iya. Tempat ini sudah melihat banyak sekali cerita, Luna. Kelahiran, pernikahan, kepergian. Tapi tetap berdiri dengan tenang."

"Kayak Mama," gumam Luna spontan.

Kata-kata itu menusuk Amara dengan kelembutan. "Apa maksudmu, Sayang?"

"Mama juga melalui banyak cerita sedih, tapi sekarang Mama tetap berdiri, dan malah bikin karya yang bagus di sini."

Amara memeluk bahu putrinya, menaruh kepala di atas kepalanya. Tidak ada kata-kata yang cukup.

Mereka kembali ke Arts Lab saat senja. Luna terpesona melihat studionya.

"Wah! Ini kan kerjanya Mama? Gede banget!" Dia berlari-lari kecil, menyentuh gulungan kain, melihat sketsa di dinding. "Ini gambar apa, Ma?"

"Itu... gambar tentang kangen. Setiap garis ini adalah hari, dan setiap titik ini adalah saat Mama ingat Luna."

Luna diam, memandangi karya itu dengan serius. "Jadi ini... aku?"

"Sebagian besar, iya."

Luna tersenyum, senyum kecil yang penuh pemahaman. "Bagus, Ma. Sedih sih, tapi bagus."

Sari, yang memperhatikan dari samping, mengedipkan mata pada Amara. Sebuah isyarat: lihat, dia mengerti.

Malam itu, mereka tidur ber tiga di studio. Amara dan Luna berbagi tempat tidur tunggal, berpelukan erat seperti tidak ingin pernah terpisah lagi. Sari tidur di kasur udara di lantai.

"Ma," bisik Luna dalam gelap.

"Apa, Sayang?"

"Tiga bulan... ternyata cepet juga ya. Sekarang udah lewat tiga minggu."

Amara tersentak. Luna menghitung.

"Iya... tinggal sembilan minggu lagi."

"Tapi sembilan minggu masih lama," kata Luna, suaranya kecil. "Aku seneng hari ini. Tapi nanti pas pulang... aku sedih lagi."

Amara mencium keningnya. "Mama juga akan sedih. Tapi kita sudah punya kenangan hari ini untuk dipegang sampai ketemu lagi. Dan bulan depan, kita ketemu lagi."

"Janji?"

"Janji Mama." Amara meraih liontin setengah hati di leher Luna, dan menyatukannya dengan liontin di lehernya sendiri di udara gelap. "Lihat? Hati kita tetap satu."

Luna akhirnya tertidur, napasnya teratur dan hangat di leher Amara. Amara terjaga lama, mendengarkan napas putrinya dan suara jangkrik di luar. Rasa bahagia hari ini begitu lengkap, namun diwarnai oleh kepahitan bahwa besok akan ada perpisahan lagi.

Minggu pagi, di Bandara untuk kepergian, pelukan perpisahan kali ini berbeda. Masih ada air mata, tapi tidak lagi putus asa. Ada sebuah penerimaan.

"Sampai ketemu bulan depan, ya, Ma," kata Luna, mencoba berani.

"Iya. Jaga diri. Dengerin Papa. Mama telepon setiap malam."

Sari memeluk Amara. "Karya mu berkembang, Mara. Gue bisa lihat di matamu. Teruskan."

Setelah mereka menghilang di balik pintu keberangkatan, Amara berdiri sendirian sekali lagi. Tapi kali ini, kesepian itu terasa berbeda.

Ia tidak lagi kosong melompong. Ia diisi oleh gema tawa Luna di Malioboro, oleh pelukannya yang erat, oleh pengakuannya yang dewasa tentang karya itu.

Dia kembali ke studio. Matahari pagi menerpa sketsa besar di dinding. Dia mengambil sepotong kain berwarna biru langit—warna favorit Luna—dan mulai menjahitkannya ke salah satu titik yang menggambarkan

"kerinduan". Jahitannya tidak rapi, sengaja dibuat seperti bekas luka yang dirawat.

Karya itu bukan lagi hanya tentang jarak dan kerinduan. Ia sekarang juga tentang pertemuan. Tentang janji yang ditepati.

Tentang cinta yang mampu menjembatani gunung dan pulau, asalkan ada kemauan untuk terbang menyeberang.

Malam itu, saat video call dengan Luna yang sudah kembali di Jakarta, Amara berkata,

"Terima kasih untuk kunjungan yang indah, Sayang. Mama sekarang punya bahan baru untuk berkarya."

"Bahan apa?"

"Bahan bahagia."

Luna tersenyum lebar di layar, dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di Jogja, Amara tidur dengan senyuman masih menempel di bibirnya, dan studio yang besar itu tidak lagi terasa begitu mengancam. Ia terasa seperti rumah sementara, yang sekarang menyimpan kenangan hangat di dalam dinginnya dinding kayu.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!