Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyamar
Hendarto kembali bertanya dengan nada serius, seakan setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah palu penentu nasib,
“Apakah ini hanya peredaan sementara, atau benar-benar penyembuhan total?”
Dokter Sudrajat menjawab tanpa ragu sedikit pun, suaranya mantap dan penuh keyakinan,
“Penyembuhan total. Benar-benar sembuh sepenuhnya. Anak itu sekarang tidak memiliki masalah apa pun, dan pihak keluarga sangat puas dengan hasil pengobatan.”
“Dokter Sudrajat, sungguh di luar dugaan. Aku tak menyangka kemampuan medis Anda sedemikian hebat,” ujar Rahmat Hendarto dengan senyum kagum.
Ia sama sekali tidak mengetahui kebenaran di balik semua itu. Dengan penuh apresiasi, ia menoleh ke arah Syafrudin Ahda dan berkata,
“Presiden Ahda, rumah sakit Anda benar-benar menyimpan seorang ahli besar.”
Sudrajat tersenyum lebar, wajahnya berseri-seri bak bunga yang baru mekar di pagi hari.
“Direktur Hendarto terlalu memuji. Sebagai seorang dokter, ini hanyalah kewajiban saya.”
Namun di balik kata-kata rendah hati itu, dadanya bergemuruh oleh kegembiraan. Dipuji langsung oleh kepala biro kesehatan kota berarti jalan masa depannya terbuka lebar tanpa batas.
Di rumah sakit ini masih ada satu posisi wakil direktur yang kosong. Dalam benaknya, kursi itu seakan sudah menunggu namanya.
Rahmat Hendarto tak berkata lebih lanjut. Ia mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah nomor.
“Tuan Syafrudin, saya membawa kabar baik. Dokter Sudrajat dari Rumah Sakit Jakarta telah berhasil menyembuhkan penyakit ini. Segera bawa putra Anda kemari.”
Setelah itu, ia menelepon nomor lain, suaranya tegas dan cepat,
“Wakil Direktur Mahendra, segera beri tahu semua rumah sakit. Pindahkan seluruh anak dengan penyakit khusus ini ke Rumah Sakit Jakarta. Dokter Sudrajat di sini telah menemukan metode pengobatan yang efektif.”
Mendengar itu, tubuh Sudrajat seakan disambar petir. Ia benar-benar terpaku.
Semula ia mengira hanya ada satu kasus langka. Ia hanya perlu mencuri jasa itu sekali, lalu segalanya selesai. Namun kini, satu per satu pasien susulan berdatangan, seolah badai besar tengah menggulung nasibnya.
Syafrudin Ahda pun kebingungan dan bertanya,
“Direktur Hendarto, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa ada begitu banyak kasus serupa?”
Hendarto menghela napas, lalu menjelaskan dengan wajah muram,
“Anak-anak yang sakit ini semuanya adalah murid dari Sekolah Dasar Pusat Jakarta. Sore tadi, seorang anak memungut seekor kelelawar. Dua belas anak yang sempat melakukan kontak dengannya mengalami demam tinggi dan koma.”
“Untuk sementara, ini diduga sebagai infeksi virus jenis baru. Tidak tercatat dalam basis data virus nasional, dan belum ada obat yang efektif.”
“Saya telah menyebarkan para pasien ke berbagai rumah sakit di Jakarta, berharap ada seseorang yang mampu menyembuhkan penyakit ini.”
“Rumah sakit lain belum menemukan metode yang berhasil. Namun Dokter Sudrajat berhasil menyembuhkan satu kasus, bahkan hasilnya sangat baik. Kali ini, Rumah Sakit Jakarta benar-benar berjasa besar.”
Ia lalu menatap Sudrajat dengan penuh harapan.
“Dokter Sudrajat, selama Anda bisa menyembuhkan seluruh anak-anak ini, saya akan memberikan penghargaan besar.”
“Eh…”
Keringat dingin langsung mengalir di dahi Sudrajat.
Ia baru saja mencuri jasa Fauzan Arfariza. Bagaimana mungkin ia benar-benar tahu cara menyembuhkan penyakit ini?
Melihat raut wajahnya yang berubah, Syafrudin Ahda bertanya dengan nada curiga,
“Ada apa, Dokter Sudrajat? Apakah ada masalah?”
“Ti—tidak… tidak ada masalah.”
Pada titik ini, Sudrajat tak mungkin mengakui bahwa ia hanyalah penyamar. Ia hanya bisa menggertakkan gigi dan menahan semuanya sendirian.
Ia memang pernah mempelajari sedikit pengobatan tradisional. Ia tahu dasar-dasar akupunktur, meski jauh dari kata ahli. Lebih penting lagi, ia berada di tempat ketika Fauzan Arfariza merawat anak kecil tadi. Setiap titik jarum, setiap urutan tusukan, semuanya masih segar dalam ingatannya.
Dalam benaknya, ia yakin, jika ia meniru teknik yang sama, penyakit ini pasti bisa disembuhkan.
Pikiran itu sedikit menenangkan hatinya.
Saat itu, Syafrudin Ahda melihat Fauzan Arfariza dan ibunya berdiri tak jauh dari sana.
“Apa urusan dua orang itu?” tanyanya.
Sudrajat segera menjawab,
“Mereka adalah pasien yang baru saja sembuh dan keluarganya. Mereka sedang menunggu untuk membicarakan biaya pengobatan.”
Masni Mulyadi mengangguk dingin.
“Bicarakan di luar. Ini ruang ICU, orang luar tidak boleh keluar masuk sembarangan.”
“Baik, baik.”
Sudrajat berbalik dan berkata dengan nada samar,
“Kita bicarakan soal biaya nanti. Tunggu saya selesai dulu.”
Makna tersembunyinya jelas: selama mereka tidak membongkarnya sekarang, biaya masih bisa dinegosiasikan.
Bibir Fauzan Arfariza terangkat dalam senyum dingin. Ia sebenarnya berniat membongkar kebohongan ini, namun kini ia tidak terburu-buru.
Mencuri jasanya berarti harus memiliki kemampuan yang setara.
Ia ingin melihat, sejauh apa Sudrajat bisa bertahan.
Ia menggandeng ibunya keluar dari ruang ICU, lalu duduk di bangku panjang di koridor.
Masni Mulyadi—ibu Fauzan, Masni Mulyadi—berkata lirih,
“Nak, kita punya dua puluh juta Rupiah. Nanti kita bicara baik-baik dengan Dokter Sudrajat, mungkin uang itu cukup untuk melunasi biaya.”
Fauzan menggeleng pelan.
“Tidak. Dia mematok harga tak masuk akal. Kita tidak boleh memanjakan kebiasaan buruk seperti itu. Kita tidak akan memberinya satu Rupiah pun.”
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, terdengar suara decitan rem tajam dari pintu masuk rumah sakit. Dua mobil mewah hitam berhenti mendadak.
Seorang pria paruh baya turun dari mobil. Empat pengawal berbaju hitam mengangkat tandu, di atasnya terbaring seorang anak laki-laki kecil yang tak sadarkan diri.
“Tuan Baskara, Anda sudah datang.”
Hendarto segera menyambutnya dengan sikap sangat hormat.
Meski ia adalah kepala biro kesehatan, status pria ini tak kalah besar: Tianda Baskara , ketua Tianda Group Jakarta, raksasa industri kuliner.
Tianda Group menguasai setengah bisnis makanan di Jakarta, dari restoran kelas atas hingga warung kaki lima.
Tianda Baskara bukan hanya memiliki aset triliunan Rupiah, tetapi juga latar belakang yang sangat kuat. Setiap tahun, ia menyumbangkan dana sembilan digit untuk sektor kesehatan.
Wajar jika Hendarto bersikap amat sopan.
Namun saat ini, Tianda Baskara tak berminat pada basa-basi. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
“Direktur Hendarto, cepat carikan dokter. Anak saya demam hingga empat puluh derajat. Jika terlambat, saya khawatir ini akan memengaruhi kecerdasannya.”
“Tenang, Tuan Baskara. Semuanya sudah siap,” jawab Hendarto.
Ia memerintahkan perawat untuk menempatkan anak itu di ranjang darurat, lalu menoleh ke arah Sudrajat.
“Dokter Sudrajat, segera tangani Tuan Muda Baskara.”
“Baik, Direktur.”
Sudrajat melangkah maju.
Tianda Baskara menatapnya tajam.
“Dokter Sudrajat, selama Anda bisa menyembuhkan putra saya, Tianda Group pasti akan memberi imbalan besar.”
“Tuan Baskara terlalu murah hati. Menyembuhkan orang dan menyelamatkan nyawa adalah tugas saya.”
Kata-katanya terdengar agung, namun di dalam hatinya, kegembiraan meluap seperti banjir besar.
Keberuntungannya telah tiba.
Jika ia berhasil menyembuhkan putra Tianda Baskara, ia akan mendapatkan dukungan atasan sekaligus keuntungan besar. Nama dan harta akan ia raih bersamaan.
Dalam lamunannya, ia mengeluarkan jarum perak yang telah disiapkan dan mendekati ranjang pasien.
Syafrudin Ahda terkejut.
“Dokter Sudrajat, apa yang hendak Anda lakukan?”
“Presiden, untuk infeksi virus ini, pengobatan Barat belum menemukan obat efektif. Satu-satunya cara adalah akupunktur,” jawab Sudrajat.
Hendarto terkejut.
“Dokter Sudrajat, Anda juga menguasai pengobatan tradisional?”
“Tidak terlalu, tetapi saya pernah melihat teknik akupunktur dalam sebuah kitab medis kuno yang mampu menyembuhkan penyakit ini.”
Hendarto mengangguk kagum.
“Luar biasa. Menguasai pengobatan Barat dan Timur sekaligus. Cepat lakukan. Anak-anak lain mungkin segera tiba.”
Sudrajat menarik napas dalam-dalam. Dalam benaknya, ia memutar ulang setiap gerakan Fauzan Arfariza, setiap aliran Energi Vital, setiap prinsip Keseimbangan dan Kestabilan.
Ia menusukkan jarum pertama ke titik terdalam yang tersembunyi di dada anak itu.
Tubuh kecil itu bergetar.
Jarum kedua masuk, wajah anak itu langsung meringis, ekspresinya penuh penderitaan.
Tianda Baskara mulai gelisah.
“Dokter Sudrajat, Anda yakin metode ini berhasil?”
Panah sudah dilepaskan, tak ada jalan mundur.
Sudrajat menggertakkan gigi.
“Pasti berhasil. Kasus sebelumnya sembuh dengan cara ini.”
Melihat Tianda Baskara terdiam, ia mengambil jarum ketiga dan menusukkannya ke titik yang menonjol di dada sang anak.
Namun pada saat jarum itu menembus kulit, aliran Energi Vital yang seharusnya stabil justru berantakan.
Di sudut koridor, Fauzan Arfariza membuka mata perlahan.
Ia tahu, saat kebohongan bertemu kenyataan, badai tak terelakkan akan segera meledak.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT