Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan
Rega menghembuskan napas kesal, saat Cantika tak kunjung bicara.
“Apa kau bisu?” katanya sinis.
“Apa yang kau maksud, Tuan?” suara Cantika bergetar. “Aku benar-benar mencintainya. Pak Ethan juga mencintaiku. Dia… dia bilang akan menceraikan Bu Celine. Iya, dia bilang begitu malam itu.”
Ia menunduk, baru menyadari jarum infus yang menancap di punggung tangannya. Cairan bening menetes perlahan ke tubuhnya. Ingatan malam itu berkelebat, saat Ethan datang dalam keadaan terluka, sentuhannya, dan kata-kata cintanya.
“K-kenapa aku ada di sini?” gumamnya panik. “Dimana Pak Ethan?”
Tangan besar itu tiba-tiba mencengkeram rahangnya keras.
“Diam,” desis pria itu kejam, wajahnya mendekat. “Atau kuhabisi kau.”
Cantika membeku. Tubuhnya gemetar hebat, air matanya langsung menggenang.
“Kenapa kau jahat padaku?” isaknya. “Apa salahku?”
Cengkeraman itu menguat.
“Salahmu adalah karena kau anak Wibowo Santoro.” kata Rega dengan nada penuh kebencian.
Cantika terpaku, menatapnya lekat.
“Wibowo Santoro,” lanjutnya dingin, “tangan kanan Barlex. Jangan bilang kau tidak tahu karena aku tidak akan percaya.”
Air mata Cantika jatuh tanpa bisa ditahan.
“Kau… kau mengenal ayahku?” tanyanya ketakutan.
Rega menegakkan tubuhnya sedikit. “Aku adalah Amox.” katanya datar.
Mata Cantika melebar kaget. Ia memberontak, mencoba melepaskan diri meski tenaganya hampir habis.
“Jadi kau yang sudah membunuh ayahku?” teriaknya parau. “Bajingan! Aku akan membunuhmu!”
Rega berdecih sinis, lalu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
“Menghabisiku?” ulangnya pelan. “Coba saja kalau bisa.”
Cantika menangis tersedu-sedu, ketakutan dan marah bercampur jadi satu.
“Kenapa kau melakukan ini?” katanya terisak. “Apa salah ayahku?”
Sorot mata Rega mengeras.
“Salah ayahmu,” ucapnya perlahan, setiap kata ditekan dengan dingin, “adalah karena dia Barlex.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata itu meresap.
“Kelompok yang sudah menyerang Amox,” lanjutnya, suaranya turun lebih gelap, “dan membunuh banyak anggota kami.”
“Pak Ethan pasti akan menolongku.” kata Cantika terisak, napasnya terputus-putus.
Rega tertawa kecil, “Ethan dan Celine, adalah bagian dari Amox.”
Pandangan Cantika seketika kosong.
“Pak Ethan?” suaranya nyaris tak terdengar. Wajahnya pucat pasi.
“Tidak… tidak mungkin…” kepalanya menggeleng lemah. “Tidak mungkin Ethan kelompok orang yang sudah membunuh ayahku. Tidak mungkin dia berbohong padaku.”
“Tidak mungkin?” ulang Rega pelan, mengejek. “Kau pikir dunia ini berjalan dengan logika dongeng?”
Cantika menggeleng keras. Kepalanya masih berat, ingatannya terpotong-potong.
“Pak Ethan…” bisiknya gemetar. “Dia baik padaku, dia melindungiku, dia…”
Rega tertawa pendek, tanpa humor.
“Ethan Solomon Montgomery tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan,” katanya dingin.
Rega berdiri di sisi tempat tidur Cantika. Ingatan itu datang tanpa izin.
Langit hitam pekat tanpa bulan, hanya diterangi lampu-lampu kapal kargo raksasa milik Barlex yang berlayar lambat di lautan. Ombak memukul lambung kapal dengan ritme berat, menyamarkan aktivitas ilegal yang sedang berlangsung di dalamnya.
Kontainer-kontainer baja terbuka di dek bawah. Bukan berisi barang dagangan biasa, melainkan paket-paket vakum narkotika kelas tinggi yang sudah tersusun rapi dan diberi kode kota tujuan. Pria-pria bersenjata mondar-mandir, wajah mereka tegang namun terbiasa. Ini bukan transaksi pertama, ini hanya satu dari jutaan.
Di ruang transaksi utama, Barlex duduk santai di kursi baja, cerutu menyala di antara jarinya. Wajahnya dingin, percaya diri, seolah laut dan hukum dunia tidak pernah ada untuknya.
Tiba-tiba pintu terbuka keras. Wibowo Santoro masuk tergesa, napasnya tidak beraturan, keringat mengalir dari pelipisnya.
“Tuan,” katanya panik, suaranya menurun, “kita terdeteksi.”
Barlex mengangkat kepala perlahan. Senyum di sudut bibirnya menghilang.
“Apa maksudmu?” tanyanya rendah.
Wibowo menelan ludah kasar. “Intersepsi laut oleh sinyal tak dikenal.”
Barlex berdiri, amarahnya meledak. “Kenapa bisa terdeteksi? Dasar bodoh!”
Wibowo menunduk, tubuhnya gemetar. “Aparat yang biasa tidak memberi tanda, Tuan.”
“Kalau aku tertangkap,” kata Barlex dingin, “semuanya selesai.”
Matanya bergerak cepat, menghitung kemungkinan ide busuk yang bisa terbentuk.
Sementara beberapa mil dari sana, kapal Amox melaju tanpa lampu utama. Lebih kecil, namun lebih gesit, dirancang untuk satu tujuan: misi penukaran rakitan senjata presisi tinggi. Peti-peti senjata rakitan khusus tanpa nomor seri tersembunyi rapi di balik lapisan logam kamuflase. Anggota Amox bergerak cepat dan senyap.
Ethan berdiri di anjungan, sorot matanya menilai.
“Sial,” katanya singkat.
Rega, Raga, Sambo, dan Celine berada di posisi masing-masing. Angin laut menghantam wajah mereka.
Benturan keras dari samping, membuat kapal itu Bergoyang. Alarm internal berbunyi.
“Apa itu?!” teriak Sambo.
"Posisi siap!" Teriakan Ethan menggema di udara.
Belum sempat mereka bereaksi penuh, kapal lain muncul dari kegelapan. Kapal Amox terkepung, bagian keamanan di pintu masuk terhempas. Barlex memasuki Kapal Amox tanpa aba-aba, lalu menyerang kapalnya sendiri. Pola serangan dan formasi dibuat serupa. Sebuah framing sempurna bahwa mereka adalah Amox.
“Dia ingin menumbalkan kita,” geram Rega sambil membalas tembakan.
Pertempuran laut pecah, peluru kini menghujani dek. Darah telah bercampur dengan air laut. Jumlah mereka tidak seimbang, anak buah Barlex jauh lebih banyak. Satu per satu anggota Amox tumbang.
“Rega, kiri!” teriak Raga.
Celine bergerak cepat, menembak tanpa ragu, rambutnya berkibar diterpa angin malam.
“Ethan, mundur!” teriaknya.
Namun terlambat… Barlex muncul di balik dek atas, dengan senjata terarah lurus pada Ethan.
DOR!
Peluru melesat. Celine bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia mendorong Ethan, membiarkan peluru itu menghantam tubuhnya. Celine terjatuh keras, darah mengalir deras dari dadanya. Paru-paru kanannya robek, napasnya tercekik.
“CELINE!” teriak Ethan, suara panik yang tidak pernah terdengar sebelumnya.
Amarah di dalam diri Ethan pecah. Ia bangkit dengan amarah mentah, mata merah, tembakan demi tembakan dilepaskan ke arah Barlex.
“Brengsek!” maki Barlex saat pelurunya kosong. Napasnya berhembus kasar. Tanpa ragu ia menarik Wibowo Santoro ke depannya.
DOR!
Peluru Ethan menembus kepalanya. Matanya melebar, lalu terjatuh dengan darah menyembur di dek kapal. Wibowo Santoro, mati sebagai tameng.
Barlex berada di ujung tanduk. Kapal yang ia duga mudah, ternyata adalah monster yang siap menelannya kapan saja. Tak punya pilihan, bajingan itu akhirnya melompat ke laut lalu menghilang. Dan sialnya, pria itu masih hidup sampai saat ini.
Rega tersentak kembali ke masa kini. Tangannya mengepal keras, penuh dendam mengingat kejadian malam itu.
“Tidak mungkin,” Cantika menggeleng keras, air matanya jatuh satu per satu. “Ayahku tidak begitu. Ayahku bukan orang jahat.”
Rega melepaskan cengkeraman tangannya seolah sudah muak. Ia menatap Cantika dengan sorot merendahkan.
“Tolol,” katanya datar.
Cantika menatapnya dengan air mata.
“Kalau ayahmu orang baik,” lanjut Rega dingin tanpa ragu, “dia tidak akan menanam chip rahasia Barlex di tubuhmu."
Rega mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, “Ayahmu mengorbankan nyawamu, hanya demi menyembunyikan rahasia Barlex yang pada akhirnya justru mengkhianati dirinya sendiri.”
Kalimat itu menghantam Cantika lebih keras.
Rega tertawa pendek, mengejek.
“Aku bahkan ragu kalau kau benar-benar anak kandungnya. Sedikit saja chip itu rusak, kau bisa mati. Ayah mana yang akan melakukan itu pada putri kandungnya.”
Cantika refleks meraba bagian bawah telinganya. Ujung jarinya meraba bekas goresan kecil di sana, tempat chip itu diletakkan.
“Aku…” suaranya tercekat. “Aku memang bukan anak kandungnya.”
Ia menelan ludah, matanya memerah. “Tapi ayahku menyayangiku. Jangan mengatakan hal buruk tentangnya.”
Ingatan masa kecilnya berkelebat tanpa diminta. Sejak kecil, Wibowo selalu menyuruhnya bekerja. Tidak ada istilah bermain seperti anak-anak lain. Berbeda dengan Bedo, adik laki-lakinya yang semua keinginannya dipenuhi. Cantika pernah bertanya dalam hati, kenapa perlakuan mereka berbeda. Ia sempat menduga, mungkin karena dirinya anak angkat. Namun ayahnya selalu berkata hal yang sama: mereka tidak punya cukup uang saat itu.
Tentang chip itu… Wibowo yang sendiri menanamkannya. Katanya, benda itu sangat penting dan hanya Cantika yang bisa ia percaya. Dan Cantika sangat mempercayai ayahnya.
Rega terdiam sejenak, lalu mendadak tertawa kecil.
“Wah…” katanya sambil menghela napas, lalu bersandar santai di kursi. “Aku hebat sekali.”
Ia duduk selonjoran, gaya slengekan, seolah percakapan barusan bukan tentang nyawa manusia.
“Setelah ini aku buka jasa meramal saja.”
Cantika menangis dalam diam, dadanya terasa sesak. Ucapan Rega terdengar masuk akal, bahkan terlalu masuk akal, dan justru itu yang membuatnya sakit. Namun sebagian dirinya menolak mentah-mentah. Tidak mungkin, ayahnya bukan orang jahat. Itu yang selama ini ia tanamkan dalam pikirannya. Dan kini keyakinan itu retak perlahan, meski belum sepenuhnya runtuh.
Berharap Cantika kapok oleh ancaman Rega, kalaupun si Cantika mau mencoba lagi jadi racun untuk si SEthan, berharap Rega juga tidak melupakan dan merealisasikan ancamannya.
Kalau aku sih dukung Cantika,bisa liat juga gimana kata hati Ethan...mau tetap ngurus Cantika atau fokus ke Celine... Rega,kamu ganggu Cantika aja,udah berbinar tuh matanya liat Ethan.akhirnya mewek liat pisau mu 😆😆😆😆
mampus kau 🤣🤣🤣