NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Pengorbanan dan tekanan Jihan

Zaffer mengangguk, ia mengeluarkan pena dari sakunya untuk mencatat detail sensitif ini. “Jejak digital, Tuan? Maksud Anda...”

“Semua akun media sosialnya. Foto, postingan, interaksi. Aku tidak ingin ada satu pun jejak yang bisa diakses publik. Terutama... skandal dengan mantannya itu, Alkhan. Aku tidak ingin William Marculles menemukan sampah itu,” Rahez menjawab dengan nada suara tajam, tidak memberikan ruang untuk pertanyaan lebih lanjut.

“Saya mengerti. Kami akan mengerahkan tim IT untuk menghapus semua riwayat publiknya. Kami akan menyajikan Nona Jihan sebagai sosok profesional yang bersih di mata publik.” Zaffer mencatat dengan cepat.

Rahez menunjuk ke depan dengan pena emasnya. “Dan berikan perintah jelas kepada pengawal yang menjaganya. Tidak ada komunikasi ke luar, Aku tidak ingin dia menghubungi siapa pun, terutama... orang-orang dari masa lalunya.”

“Alkhan, atau Zeiran, Tuan?” Zaffer menatap Rahez dengan waspada, menyebutkan nama-nama yang diketahui Rahez sebagai ancaman emosional.

Rahez mengibaskan tangannya dengan ekspresi jijik yang muncul sesaat. “Siapa pun. Masa lalunya telah mati, sama seperti saudara-saudaranya. Sekarang dia adalah alat untuk Alvarezh yang akan dipertukarkan dengan Marculles. Pastikan itu masuk ke kepalanya. Kau urus detailnya, Zaffer. Aku akan fokus merencanakan perundingan aliansi dengan William. Aku harus memastikan Marculles memberikan konsesi yang maksimal.”

Rahez terdiam sejenak sebelum menambahkan, “Dan satu hal lagi, Zaffer. Jihan adalah gadis yang cerdas. Dia tahu cara melawan. Aku ingin kau menempatkan pengawal baru yang tidak bisa disogok di depan kamarnya. Dan pastikan dia mengerti.”

“Baik, Tuan Rahez.” Zaffer membungkuk hormat, gerakannya cepat. Ia kemudian mundur, meninggalkan Rahez sendirian di ruangan itu.

Rahez bersandar kembali di kursinya, menyeringai kejam saat ia mengambil berkas William Marculles. "William Marculles. Kau menginginkan kecepatan . Aku menginginkan kekuasaan. Mari kita lihat siapa yang bisa mengambil lebih banyak keuntungan dari kontrak Pernikahan tanpa cinta ini."

—-

Pada malam hari nya dikamar Jihan kediaman Alvarezh.

Kamar tidur Jihan di kediaman Alvarezh. Kamar yang dulu penuh kenangan indah waktu kecil, kini terasa dingin dan tanpa jiwa. Jendela besar menampilkan pemandangan kota Aestrasia yang gemerlap, Pintu kamarnya terkunci dari luar.

Jihan duduk di sofa, bersandar pada jendela. Gaun hitam yang ia kenakan memperlihatkan masa berkabungnya. Jihan menangis terisak setelah seharian menatap ke luar ke arah kota yang dibangun oleh leluhurnya.

Pikirannya terus berputar pada kenyataan pahit yang baru saja menghancurkan hidupnya. Kakaknya, Alvaren, sebenarnya telah berhasil kembali dari perbatasan Elyndor sebagai pemenang yang membanggakan. Akan tetapi, sebuah panggilan militer mendesak tiba-tiba datang, memaksanya pergi ke titik koordinat yang telah ditentukan. Alvaren tidak pernah menyangka bahwa panggilan itu adalah jebakan maut yang disusun rapi oleh orang-orang suruhan Rahez. Rahez telah merancang segalanya agar Alvaren menghilang. Kini, sang pelindung itu telah tiada, meninggalkan Jihan dalam ketakutan dan ancaman. Dunianya runtuh seketika saat kabar kematian itu sampai ke telinganya.

Jihan meremas jemarinya, merasakan perih yang tak tertahankan atas ketidakadilan ini.

“ Ayah... Ibu... Rayden... Alvaren...Jinan.”Jihan berbisik, suaranya serak.

Air mata menetes di pipinya. Ia memejamkan mata, membiarkan luka lama itu kembali terbuka, memori saat ia baru berusia enam belas tahun dan harus kehilangan Rayden, kakak tertuanya yang tewas karena sakit secara misterius. berselang satu tahun, konspirasi besar kembali merenggut nyawa kedua orang tuanya yang sangat direncanakan. Sejak saat itu, atmosfer di kediaman utama Alvarezh berubah menjadi racun baginya. Keserakahan pendukung Rahez yang mulai berkuasa dan tekanan lingkungan yang menjilat sang kakak membuat Jihan merasa tercekik dan terpojok.

Tak tahan dengan intimidasi yang dingin, Jihan akhirnya memilih angkat kaki dan mencari perlindungan di mansion pribadi Alvaren. Di sanalah ia menghabiskan bertahun-tahun dengan saudara tersisa hingga sekarang, Namun kini, setelah Alvaren tiada, benteng perlindungannya telah runtuh sepenuhnya.

“ Aku lelah. Aku ingin menyusul kalian. Melepaskan beban kebencian, ketakutan, dan duka ini. Dunia ini terlalu kejam. Dunia yang diisi oleh tangan-tangan tak bermoral seperti Rahez dan Mahreya.”

Jihan membuka matanya dan menatap cakrawala, tempat cahaya kota bersinar terang. Sebuah pikiran tiba-tiba menembus kabut duka. Ia memegang dadanya, merasakan denyutan harapan terakhir.

“Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak boleh menyerah.” Jihan gumamnya, kini dengan nada yang lebih kuat, bercampur tekad

Jihan berdiri, menuju meja rias. Ia menatap bayangannya, melihat seorang wanita yang hancur, namun api kecil masih menyala di matanya.

“Jinan. Adikku. Kembaranku. Kau masih hidup. Kau koma, tapi kau masih di sana.” Jihan mengepalkan tangan. Rasa duka itu perlahan berubah menjadi tekad baja. Hidupnya, tubuhnya, bahkan harga dirinya, kini hanya alat untuk satu tujuan, melindungi Jinan.

“ Aku harus bertahan, sampai Jinan pulih. Aku tidak akan membiarkan Rahez menyentuhnya. Kau harus tunggu aku, Jinan.”

Jihan teringat pada Zeiran, kekasihnya yang sudah kembali. Terakhir kali mereka bertemu adalah di pemakaman Alvaren, tepat saat Zeiran pergi untuk menyelamatkan Jinan yang kini tengah sekarat akibat serangan maut Rahez dan Rahez menyeretnya dirinya secara paksa ke sini.

“Bagaimana dengan kabar Zeiran? Semoga dia baik-baik saja, Tuhan… dan semoga Jinan melewati masa kritisnya. Jika tidak, aku akan ikut denganmu.” Jihan berucap gelisah sambil mengambil botol kecil berisi cairan dari kotak di laci.

Ia melihat lama botol cairan di genggamannya itu. Jari-jarinya gemetar. Ia tahu benda itu sangat berbahaya. Ia tahu persis apa artinya jika ia meneguk isinya. Air matanya jatuh satu per satu ke punggung tangan, sementara hatinya dipenuhi ketakutan.

Jihan menghela napas panjang dan menutup matanya perlahan. “Apa rencana selanjutnya Kak Rahez? Kenapa dia membawaku paksa ke sini?”

—-

Keesokan paginya, Jihan baru saja selesai membasuh wajah ketika terdengar ketukan keras di pintu. Ia mengira itu hanyalah penjaga yang membawakan sarapan rutinnya. Namun tiba-tiba, pintu kamar terbuka lebar.

Masuklah seorang desainer pakaian pengantin terkenal dari Paris, Monsieur Laurent, ditemani oleh dua asisten yang membawa kotak-kotak besar dari beludru, serta empat pelayan yang membawa mannequin dan katalog berkilauan.

Monsieur Laurent melangkah masuk dengan antusiasme yang berlebihan, bahkan tanpa melihat ekspresi Jihan yang membeku.

“Bonjour, Mademoiselle! Sungguh suatu kehormatan! Saya Laurent, dan saya di sini untuk melaksanakan perintah dari Le Magnifique Rahez Alvarezh! Sebuah perintah yang akan membuat Paris bertekuk lutut! Kita akan menciptakan gaun yang akan mengalahkan semua ratu dan putri Eropa!”

Jihan mengerutkan keningnya. Kebingungan dan ketidakpercayaan terpancar dari matanya yang suram. “Apa yang Anda bicarakan? Aku tidak memesan gaun. Dan aku tidak ingin menghadiri acara sosial apa pun. Sekarang, keluar dari kamarku.”

Laurent tertawa ringan, menganggap penolakan Jihan hanyalah sifat manja khas bangsawan. “Ah, la petite rebelle! Tentu saja Anda tidak tahu. Ini adalah kejutan terbesar! Pria Anda, Tuan Marculles... dia meminta semuanya dalam waktu secepat kilat! Kita harus bekerja cepat! Silakan, cobalah beberapa korset dasar. Saya membawa koleksi permata terbaik untuk dicocokkan dengan desain Tiara Anda.”

Jihan berdiri, tatapannya kini berubah menjadi dingin dan tajam. “Aku bilang keluar! Aku tidak tahu Marculles mana yang Anda maksud. Apa yang terjadi di sini?!!

Tepat saat itu, Adreena Alvarezh, istri Rahez, masuk ke dalam ruangan. Adreena mengenakan gaun rumah yang elegan, dengan ekspresi wajah yang menunjukkan campuran rasa jijik dan kepuasan tersembunyi.

Jihan menatap kakak iparnya itu dengan kebencian murni. “Kak Adreena. Kenapa mereka di sini? Gaun? Untuk apa?”

Adreena mendekat ke arah Jihan, matanya memancarkan ejekan yang jelas. “Oh, ya, kau akan menikah. Dalam waktu kurang dari seminggu. Gaun itu? Itu adalah gaun pengantinmu. Dan tiara itu? Itu adalah simbol bahwa kau akan segera menjadi Nyonya William Marculles.”

Jihan tersentak, darahnya seolah ditarik paksa ke kakinya. Ia menggelengkan kepala dengan panik. “Marculles? Tidak! Aku tidak mau! Kak Rahez tidak bisa melakukan ini padaku!”

“Oh, dia bisa.” Adreena mengangkat bahunya dengan santai. “Dan dia sudah melakukannya. Kau pikir kau akan tetap di sini, menjadi beban, setelah semua yang terjadi? Setelah pahlawanmu, Alvaren, sudah tiada, dan si tengil Jinan... terbaring koma? Tidak, Jihan. Hidupmu harus berguna untuk Kekaisaran Alvarezh.”

Adreena membungkuk sedikit, berbisik dengan nada mengejek yang sangat kejam tepat di telinga Jihan. “Kau akan menikah dengan salah satu pria paling kejam di dunia, memberikan Rahez koneksi globalnya, dan kau akan pergi dari sini. Kami tidak perlu lagi melihat wajah sedihmu yang mengingatkan kami pada masa lalu yang suram itu. Ini adalah tiketmu keluar, sekaligus pengorbananmu untuk Rahez.”

Kata-kata Adreena terasa seperti pisau dingin yang menusuk jantung Jihan. Tubuhnya menegang karena amarah yang membara.

“Keluar. Semuanya! Sekarang!” Jihan berseru dengan suara yang bergetar karena emosi, namun kini dipenuhi otoritas yang dingin.

“Madame?” Laurent menoleh bingung, menatap ke arah Adreena.

Jihan arah Adreena dengan tatapan menyala-nyala. Ia tidak lagi merasa takut. “Aku bilang KELUAR, ADREENA! Jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di kamar ini dan menyebut nama Marculles di depanku! Aku lebih baik mati daripada menjadi alat transaksi Rahez! Kau dan Rahez... kalian berdua sama-sama monster tak berhati!”

Jihan mengulurkan tangan dan mendorong bahu Adreena dengan keras. Dorongan itu cukup kuat untuk membuat Adreena mundur dua langkah. Wajah kakak iparnya itu langsung berubah dari mengejek menjadi marah yang tersinggung.

Wajah Adreena memerah karena penghinaan. Ia terkejut karena Jihan berani melawannya secara fisik. “Kau! Beraninya kau menyentuhku?! Dasar anak tak tahu diri! Kau akan menyesali ini! Jika sikapmu tetap seperti ini, Rahez akan murka padamu!”

“Aku akan menyesalinya jika aku menghabiskan sedetik lagi di hadapanmu!” Jihan menyahut dengan napas yang memburu. Sambil menunjuk ke arah pintu, ia kembali berteriak, “Pergi! Katakan pada Rahez, dia bisa membawa Marculles nya ke neraka!”

Adreena mendengus marah dan merapikan gaunnya yang sedikit berantakan, matanya menyalang penuh dendam. “Baik! Aku akan memberitahunya! Tapi ingat, Jihan! Jinan... butuh penanganan terbaik! Kau akan tunduk! Aku pastikan kau akan menikah!”

Adreena berbalik dan melangkah keluar sambil membanting pintu dengan sangat kasar.

Monsieur Laurent bersama para asisten dan pelayannya hanya bisa terpaku, terkejut dan ketakutan menyaksikan drama keluarga Alvarezh yang begitu brutal.

“Mademoiselle... Kami... kami hanya di sini atas perintah. Kami akan pergi sekarang. Tapi, gaun-gaun ini... Tuan Rahez bersikeras Anda harus memilih. Apakah kami harus kembali besok?” Laurent bertanya dengan suara yang bergetar.

Jihan kembali duduk di tepi ranjang. kehancuran terlihat jelas di wajahnya, namun api perlawanan itu belum padam sepenuhnya. “Bawa semua barang berkilauan ini bersamamu. Kalian tidak diizinkan kembali ke sini. Aku tidak akan menikah. Pergi!”

Laurent segera mengambil isyarat itu. Ia memerintahkan asisten dan pelayannya untuk mengemasi semua kotak. Mereka semua bergerak tergesa-gesa, ingin segera keluar dari zona perang emosional tersebut. “Oui, Mademoiselle. Nous partons. Je vous prie de bien vouloir nous excuser.”

Mereka semua keluar dengan cepat, meninggalkan Jihan sendirian di ruangan yang kini terasa lebih dingin dan sepi.

Jihan menatap pintu yang kembali tertutup dan dikunci dari luar oleh penjaga. kemudian mengunci pintu kamarnya dari dalam, lalu bersandar lemas pada daun pintu. Tubuhnya gemetar hebat, air mata kembali menetes, dan dadanya naik turun menahan sisa amarah.

——

Di ruang kerja Rahez Alvarezh

Adreena Berdiri di ruang kerja Rahez, wajahnya masih memerah karena marah, berbicara dengan nada merengek yang manipulatif.


“Rahez…” suara Adreena parau namun tajam. “Adikmu itu kurang ajar, dia mendorongku dia berani mengusirku dan desainer untuk memilih gaun dari kamarnya bahkan berteriak menolak pernikahan yang sudah kau atur, dia bilang kita monster tak berhati! dia harus diberi Pelajaran.”

Rahez yang sejak tadi menunduk di balik meja kerja mengangkat wajahnya perlahan, Tatapannya dingin, rahangnya mengeras,  Amarah yang selama ini ia bendung pecah begitu saja.

“Cukup sudah,” gumamnya lirih, tapi penuh ancaman. “Aku sudah terlalu lama bersabar terhadap Jihan. Dia akan tahu siapa yang berkuasa di sini!”

Rahez bangkit dari kursinya dengan kecepatan mematikan, bergegas keluar ruangan. Zaffer, yang sedang menunggu di luar, segera mengikuti, merasakan bahaya yang akan datang. Rahez menuju kamar adiknya.

—-

Di kamar Jihan, Jihan sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan mata kosong, berusaha mencari cara untuk kabur. Tiba-tiba, pintu kamarnya, yang terkunci, diguncang kuat-kuat.

“JIHAN! BUKA PINTU INI SEKARANG JUGA!”

Rahez Suaranya menggelegar dari luar pintu, dipenuhi amarah yang membakar.

Jihan terkejut, ekspresi ketakutan yang dingin menjalari wajahnya, tetapi ia berusaha keras untuk tetap tegar “Aku tidak akan membukanya! Pergi, Rahez! Aku tidak ingin melihatmu!”

Rahez Tidak sabar, ia mundur sedikit, lalu dengan tendangan yang brutal dan kuat BRAKK mendobrak pintu hingga engselnya lepas dan pintu itu terbuka lebar.

Jihan yang terkejut menoleh, Matanya masih sembab karena tangis, Rahez masuk ke kamar, wajahnya bengis, matanya merah karena murka, diikuti oleh Zaffer yang tampak tehati-hati di ambang pintu.

“Jihannn!” raung Rahez, Tanpa menunggu penjelasan, tangannya melayang Satu hantaman keras mendarat di pipi Jihan hingga ia terjatuh ke lantai marmer yang dingin. darah mulai terasa di sudut bibirnya. Ia memegangi pipinya yang terasa panas dan nyeri.

Rahez membungkuk, mencengkeram dagu Jihan dengan keras, memaksanya menatap matanya. “ kau kira, kau siapa! Kau dengar aku, Jihan?! Kau berani menolak keputusan dariku?! Kau berani menghina istriku?! Kau ingin menghancurkan kesepakatan Marculles?!”

Jihan mendongak, air mata bercampur dengan api amarah di matanya.“ Aku tidak takut dengan mu dan Aku tidak akan pernah menikah dengan pria pilihanmu!” menyentuh pipinya yang sakit, tetapi kata-katanya keluar dengan lantang dan penuh pemberontakan.

Rahez wajahnya berubah menjadi sangat murka. “Kau akan menikah! Kau akan patuh!”

Jihan Tertawa hampa, air mata bukan karena sakit, melainkan karena frustrasi dan amarah “ Tidak! Aku tidak peduli dengan ancamanmu! Aku akan menikah dengan pilihanku sendiri! Aku sudah punya pilihan! Aku punya orang yang kucintai”

Rahez meraih lengan Jihan dengan cengkeraman baja, menariknya berdiri dengan paksa. Matanya menunjukkan kehilangan kendali. “Tutup mulutmu! Kau berani membandingkan aliansi Marculles dengan pilihan rendahanmu itu? Kekasihmu yang militer itu?! Kau pikir dia bisa melindungimu?! Dia akan menjadi mayat berikutnya, Jihan! Hanya aku yang berhak memutuskan hidupmu!”

Jihan mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Rahez. “Lepaskan aku! Aku tidak akan menikah! Rahez, kau adalah pembunuh! Kau membunuh Kak Alvaren! Kau hampir membunuh Jinan! Aku tidak akan pernah tunduk padamu! Kau adalah pembunuh! Kau bukan kakakku!”

Rahez Marah karena pengkhianatan Jihan yang terus terang, ia melepaskan tangan kirinya dan menampar pipi kanan Jihan, “Kau harus tunduk! Beraninya kau menyebutku pembunuh!, Kau akan menikah!”

Jihan terbatuk, kepalanya terkulai, tetapi ia mendongak lagi dengan tatapan yang menghinanya. “Aku... tidak... akan!”

Rahez kini ia mencapai batas kesabarannya, amarahnya meledak tak terkendali. “Cukup! Aku akan memberimu satu peringatan terakhir. Kau akan menikah. Jika kau masih memberontak atau melarikan diri, aku akan memastikan Jinan tidak hanya mati. Aku akan memastikan dia menderita di tangan orang-orangku. Dan kau...”

Rahez mendekatkan wajahnya, matanya dingin dan kejam. “...Kau, Jihan, dengan wajahmu yang cantik dan berpendidikan tinggi ini... akan kukirim untuk menjadi W-anita p-nghibur di tahanan militer yang paling menjijikkan. Kau akan m3layan1 setiap pria di sana, sampai kau memohon untuk mati! Pilihanmu hanya dua, Menikahi William, atau menjadi P3lacur di penjara! Pilih!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!