Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pulih dan Bangkit
Waktu terasa berjalan sangat lambat di dalam toko tua itu.
Setiap menit terasa seperti satu jam. Setiap ledakan yang terdengar dari luar membuat jantungku berdegup kencang—memikirkan Zoro yang masih sendirian menghadapi Crocodile.
Chopper tidak berhenti bekerja.
Dia terus memantau kondisi Luffy dengan teliti, memeriksa denyut nadi setiap lima menit, memastikan air terus masuk ke tubuh kapten kami yang masih kering itu. Tangannya tidak pernah berhenti—entah memeras kain basah, mengecek suhu tubuh, atau meramu ramuan sederhana dari bahan-bahan di tasnya.
"Chopper," Nami berbicara pelan. "Bagaimana kondisinya sekarang?"
Chopper tidak langsung menjawab. Dia memeriksa mata Luffy, lalu denyut nadinya, lalu kondisi kulitnya.
"Membaik," akhirnya dia berkata. "Perlahan tapi pasti. Kulit dan bibirnya tidak sepecah-pecah tadi. Tapi dia masih butuh waktu."
"Berapa lama lagi?"
"Mungkin... empat puluh menit lagi sebelum dia bisa berdiri. Tapi untuk bertarung penuh—"
"Aku siap bertarung sekarang," Luffy tiba-tiba memotong.
Kami semua menoleh. Luffy mencoba duduk—tapi tangannya gemetar dan dia hampir jatuh lagi.
"JANGAN BERGERAK!" Chopper langsung menghambur ke arahnya, mendorong Luffy kembali ke posisi berbaring. "Kau belum pulih! Kalau kau memaksakan diri sekarang, tubuhmu bisa—"
"Zoro masih di luar sana," Luffy memotong dengan suara serak. Matanya serius. "Aku tidak bisa tiduran di sini sementara nakama-ku—"
"Zoro melakukan itu supaya KAMU bisa pulih dan mengalahkan Crocodile!" Chopper memotong balik dengan berteriak—sangat jarang bagi dokter kecil itu untuk berteriak pada Luffy. Air mata menggenang di matanya. "Kalau kau keluar sekarang dalam kondisi seperti ini, Zoro's sacrifice akan sia-sia! Kau mau itu?!"
Luffy terdiam.
Ruangan hening sejenak.
Lalu Luffy menutup matanya dan berbaring kembali. "...Empat puluh menit."
"Tiga puluh kalau kau mau minum lebih banyak air," Chopper mengusap matanya cepat-cepat, berpura-pura tidak menangis.
"Berikan semua air yang ada padaku."
Usopp langsung mengumpulkan semua botol air yang tersisa—tujuh botol total. "Ini semua yang kita punya."
Luffy langsung menenggak satu botol penuh sekaligus.
Lalu botol kedua.
Lalu ketiga.
"Luffy! Jangan terlalu cepat!" Chopper panik. "Perutmu bisa—"
"Aku rubber man," Luffy menjawab sambil membuka botol keempat. "Perutku tidak masalah."
Chopper memandangnya ragu tapi tidak protes lebih lanjut.
Sementara Luffy terus minum, aku menggeser posisi ke dekat Sanji yang duduk di sudut sambil mengisap rokok.
"Sanji," aku berbicara pelan. "Tadi kau bilang setiap Devil Fruit punya kelemahan. Kau tahu kelemahan Suna Suna no Mi selain air?"
Sanji berpikir sejenak, mengembuskan asap rokok ke atas. "Logikanya... Suna Suna no Mi membuat tubuhnya menjadi pasir. Pasir itu kering dan tidak bisa disatukan kalau terkena banyak cairan. Selain air, mungkin..."
"Darah," Vivi berkata pelan dari sudut ruangan.
Kami berdua menoleh.
Vivi memeluk lututnya, menatap lantai. "Di buku-buku lama tentang Alabasta, ada cerita tentang orang yang bisa mengendalikan pasir. Katanya... satu-satunya cara untuk melawan kekuatan pasir adalah dengan sesuatu yang punya kehidupan di dalamnya. Air punya kehidupan. Darah punya kehidupan."
Aku dan Sanji saling pandang.
"Jadi darah bisa melemahkan kemampuannya?" tanyaku.
Vivi menggeleng pelan. "Bukan melemahkan. Tapi bisa membuatnya solid. Sehingga bisa diserang secara fisik."
"Itu yang aku butuhkan," Luffy tiba-tiba berbicara dari posisinya berbaring. Mata masih tertutup, tapi dia jelas mendengarkan semuanya. "Selama aku bisa menyentuhnya... aku bisa hajar dia."
"Tapi Luffy—" Nami mulai protes.
"Aku akan gunakan darahku sendiri," Luffy memotong dengan suara tenang dan pasti. "Sebelum setiap serangan, aku akan lukai sedikit tanganku dan gunakan darahnya untuk membasahi Crocodile. Lalu serang."
"Itu gila," Nami berkata dengan napas tersendat.
"Mungkin," Luffy membuka matanya, menatap langit-langit toko yang retak-retak. "Tapi aku punya ide yang lebih gila lagi dari itu."
"Apa?" aku bertanya.
Senyum khas Luffy muncul di wajahnya—senyum yang bahkan di tengah kondisi terburuk sekalipun tidak pernah hilang.
"Tunggu saja."
Tiga puluh dua menit kemudian.
Luffy duduk tegak untuk pertama kalinya. Kulitnya masih sedikit pucat dan bibirnya masih sedikit pecah-pecah, tapi matanya sudah kembali bersinar dengan penuh energi.
"Chopper. Status."
Chopper memeriksa sekali lagi dengan teliti. Wajahnya serius seperti dokter profesional. "...Enam puluh persen. Kau belum seratus persen, Luffy. Stamina dan kekuatanmu masih belum penuh."
"Cukup," Luffy berdiri dengan satu gerakan tegas.
Kakinya sedikit goyah di awal—tapi dia menstabilkan dirinya. Dia meregang tangan dan kaki, merasakan kondisi tubuhnya.
Lalu dia tersenyum puas.
"Oke. Ayo."
"Tunggu," Sanji berdiri. "Rencana kita apa? Kita tidak bisa asal masuk dan berharap bisa mengalahkan Crocodile. Kita sudah lihat sendiri betapa kuatnya dia."
"Betul," Zoro—
Aku terdiam.
Zoro masih belum kembali.
Luffy menatap ke arah pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kita pergi temukan Zoro dulu."
"Tapi—"
"Dia nakama-ku," Luffy memotong dengan suara yang tidak memberi ruang untuk debat. "Kita tidak tinggalkan siapapun."
Nami menggigit bibirnya tapi mengangguk. "Baiklah. Tapi kita harus hati-hati. Kota masih penuh dengan pertempuran."
Aku membuka pintu sedikit dan mengintip keluar.
Lima tentara kerajaan masih berjaga. Yang lebih tua—Kapten Tashigi berpenampilan mirip, tapi ini bukan dia—menoleh padaku.
"Situasi di luar bagaimana?" tanyaku.
"Masih kacau, Tuan," tentara itu menjawab dengan serius. "Pertempuran antara pemberontak dan tentara kerajaan masih berlangsung di seluruh kota. Tapi kami mendengar kabar bahwa—" dia ragu sejenak.
"Apa?"
"Seseorang dengan tiga pedang... masih bertarung melawan Crocodile-sama di alun-alun utara. Sudah lebih dari satu jam."
Jantungku berdegup keras.
Satu jam. Zoro sudah menahan Crocodile sendirian selama satu jam penuh.
"Ayo!" Luffy langsung melangkah keluar.
"TUNGGU! SETIDAKNYA DENGARKAN RENCANA DULU!" Nami berteriak sambil mengejarnya.
Kami berlari melalui gang-gang sempit Alubarna.
Di jalanan utama, pertempuran masih berkecamuk—kami bisa mendengar dentuman senjata dan teriakan dari kejauhan. Tapi gang-gang kecil ini relatif sepi.
Usopp dan Chopper kesulitan mengikuti kecepatan kami, tapi mereka terus berlari dengan napas terengah-engah.
"Kenji!" Nami berlari di sampingku. "Kau bisa lihat situasi dari atas?"
"Bisa," aku mengangguk. Aku menembakkan web ke dinding gedung dan berayun ke atas—mendarat di atap dengan cepat.
Dari ketinggian, aku bisa melihat seluruh Alubarna.
Dan apa yang kulihat di alun-alun utara membuat hatiku mencelos.
Zoro berdiri—atau lebih tepatnya, masih bertahan berdiri—di tengah alun-alun yang sudah hancur berantakan. Lantai marmer retak di mana-mana. Patung-patung di sekitar alun-alun sudah hancur jadi puing. Pasir menggunung di sudut-sudut alun-alun.
Tubuh Zoro penuh luka. Bajunya robek-robek. Ada goresan pasir di lengan, dada, dan wajahnya. Salah satu tangannya menggantung—mungkin terluka cukup parah.
Tapi dia masih berdiri.
Dan masih memegang ketiga pedangnya.
Di hadapannya, Crocodile berdiri sempurna tanpa satu gores pun. Cerutunya masih menyala. Ekspresinya masih tenang dan mengejek.
"Kau masih bisa berdiri?" Crocodile tertawa pelan. "Aku akui, kau jauh lebih tangguh dari yang kupirakan, Pirate Hunter."
"Baru... mulai..." Zoro mendengus sambil membuang darah dari sudut bibirnya.
Crocodile mengangkat tangannya. "Kau sudah mengulur waktu yang cukup. Saatnya berakhir."
"ZORO!" aku berteriak dari atap.
Zoro menoleh ke atas—sesaat terdistraksi.
Crocodile memanfaatkan kesempatan itu!
"Sables!" Tornado pasir melesat ke arah Zoro!
"ZORO! LOMPAT!" teriakku.
Zoro melompat ke samping—tapi kakinya tersandung, kondisi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk bergerak cepat!
Tornado pasir menyerempetnya!
WHAM!
Zoro terpental ke dinding alun-alun dengan keras!
"ZORO!" aku langsung berayun turun dengan web.
Zoro tergelincir dari dinding, hampir jatuh—tapi aku menangkapnya sebelum dia menghantam lantai!
"Hah... hah..." Zoro menatapku dengan mata setengah terbuka. "Kau... sudah kembali..."
"Sudah," aku menopang tubuhnya. "Kau baik-baik saja?"
Zoro tertawa pelan. "Tanya setelah pertarungan selesai."
Crocodile berjalan santai ke arah kami. "Satu lagi yang datang. Di mana sisanya? Aku harap mereka semua datang sekaligus—akan lebih efisien."
"Di sini, Crocodile."
Luffy melangkah masuk ke alun-alun.
Diikuti Sanji, Nami, Vivi, Usopp, dan Chopper.
Kami semua berkumpul—delapan orang menghadapi satu orang.
Crocodile menatap Luffy dengan ekspresi yang sedikit berubah. "Oh? Kau sudah pulih? Lebih cepat dari yang kupirakan."
"Aku rubber man," Luffy menjawab sambil meregang buku-buku jarinya. "Aku tidak semudah itu mati."
Dia menatap Zoro yang bersandar padaku—tubuh penuh luka tapi senyum kepuasan di wajahnya.
"Kau menahan dia sendirian selama satu jam?" Luffy bertanya.
"Satu jam dua belas menit," Zoro mengoreksi.
Luffy tersenyum lebar. "Bagus. Sekarang istirahatlah. Giliranku."
Zoro mendengus tapi tidak protes. Dia perlahan duduk di lantai—tubuhnya sudah di batas kemampuan.
Luffy melangkah maju sendirian ke tengah alun-alun, menghadapi Crocodile.
Tangannya mengambil sesuatu dari ikat pinggangnya—pisau kecil yang mungkin dia ambil dari toko tadi.
Crocodile mengangkat alisnya. "Apa yang kau lakukan?"
Luffy menjawab dengan tindakan.
Dia menyayat telapak tangannya dengan pisau itu.
Darah langsung mengalir keluar.
"Luffy!" Nami dan Chopper berteriak bersamaan.
Tapi Luffy hanya menatap tangannya dengan tenang—darah merah mengalir dari luka di telapak tangannya.
Lalu dia mengepalkan tangan berdarah itu dan tersenyum ke arah Crocodile.
"Kali ini... aku yang akan menang."
Crocodile menatap Luffy dengan diam—lalu untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah.
Bukan ketakutan. Tapi sesuatu yang sangat jarang terlihat di wajah orang seangkuh dia.
Kewaspadaan.
"Menarik," kata Crocodile akhirnya. "Kau sudah mencari tahu kelemahanku."
"Yep," Luffy mengangguk santai.
"Tapi mengetahui kelemahan seseorang dan benar-benar mengalahkan mereka adalah dua hal yang berbeda."
"Aku tahu," Luffy mengambil stance-nya. "Makanya aku tidak akan menahan diri kali ini."
Pasir mulai bergerak di sekitar kaki Crocodile.
Lengan kanan Luffy meregang ke belakang, jauh sekali, melampaui batas normal bahkan untuk rubber man.
Udara bergetar.
"Gomu Gomu no..."
Dan pertarungan final antara Luffy dan Crocodile—dimulai.