NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan Sang Pelindung

Lampu-lampu di lorong utama gedung Dirgantara Group sudah banyak yang dipadamkan, menyisakan keremangan yang mencekam dan bayangan panjang yang menari di dinding marmer. Di dalam ruangan CEO yang luas, hanya ada suara detak jarum jam dinding dan gesekan pena Raisa yang terdengar semakin kasar di atas kertas.

Pukul menunjukkan pukul sebelas malam. Raisa merasa seluruh sendi di tubuhnya seolah akan lepas. Punggungnya kaku, dan matanya perih karena terus-menerus menatap angka-angka rekonsiliasi manual yang sengaja diberikan Arash untuk menyiksanya. Di seberang ruangan, Arash duduk dengan tenang di balik meja besarnya, menyesap kopi hitam yang sudah dingin, seolah waktu tidak memiliki arti baginya selama ia bisa mengawasi setiap tarikan napas Raisa.

TAK!

Raisa membanting penanya di atas tumpukan dokumen. Ia berdiri dengan kaki yang gemetar, wajahnya yang semula pucat kini memerah karena amarah yang sudah mencapai titik didih.

"Cukup, Arash! Aku bukan robot!" teriak Raisa, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.

Arash tidak langsung mendongak. Ia meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menatap Raisa dengan ketenangan yang memuakkan. "Masih ada tiga map lagi, Raisa. Kau belum selesai."

"Aku tidak akan menyelesaikannya! Pekerjaan ini tidak masuk akal. Ini hanya cara picikmu untuk menghukumku karena hal yang bahkan tidak kulakukan!" Raisa melangkah mendekati meja Arash, tangannya mencengkeram pinggiran meja itu. "Kau kasar pada Vino, kau mempermalukannya di depan semua orang, dan sekarang kau menyiksaku sampai aku hampir pingsan lagi. Apa maumu sebenarnya?"

Arash berdiri perlahan, sosoknya yang tinggi menjulang menciptakan aura intimidasi yang menyesakkan. "Aku tidak menyiksamu. Aku sedang mendidikmu tentang profesionalisme. Dan soal pria itu ... aku hanya memastikan stafku tidak membawa drama percintaan yang menjijikkan ke dalam ruang rapatku. Kantor ini adalah tempat bekerja, bukan tempat untuk saling memberi perhatian murahan."

Raisa tertawa sinis, sebuah tawa getir yang mengandung air mata. "Profesionalisme? Kau bicara soal itu setelah kau sendiri yang membawa masalah rumah tangga—masalah kontrak ini—ke dalam setiap keputusan kantor? Kau membenci Vino bukan karena pekerjaannya buruk, Arash. Kau tahu betul laporan dia sempurna."

"Laporannya sampah karena dia kehilangan fokus gara-gara kau!" bentak Arash, suaranya menggelegar membuat Raisa tersentak.

Raisa tidak mundur. Ia justru maju satu langkah, menatap tepat ke dalam mata Arash yang berkilat penuh amarah dan sesuatu yang lebih gelap. "Bohong. Kau melakukan semua ini karena kau tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri saat melihat dia peduli padaku. Katakan padaku, Arash ... apakah semua kemarahan ini benar-benar demi 'perusahaan', atau ini karena kau cemburu?"

Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Pertanyaan Raisa seolah menjadi petir yang menyambar di tengah badai. Rahang Arash mengeras, otot-otot di lehernya menonjol, dan tatapannya berubah menjadi sangat tajam hingga Raisa merasa seolah dirinya sedang dibedah.

"Cemburu?" Arash mengulangi kata itu dengan suara yang sangat rendah, namun penuh dengan ancaman. "Kau pikir aku cemburu pada pria seperti dia?"

"Ya! Kau cemburu karena dia bisa memberikan perhatian yang tidak pernah bisa kau berikan. Kau cemburu karena dia melihatku sebagai manusia, sementara kau hanya melihatku sebagai aset yang bisa kau kurung!" Raisa berteriak di depan wajah Arash, air matanya akhirnya luruh. "Kau pengecut, Arash. Kau menggunakan kekuasaanmu untuk menutupi fakta bahwa kau takut kehilanganku kepada pria yang jauh lebih baik darimu!"

Dalam sekejap mata, Arash bergerak.

Ia menyambar lengan Raisa dan menariknya keluar dari ruangan CEO menuju koridor kantor yang sepi. Raisa mencoba meronta, namun tenaga Arash terlalu kuat. Dengan satu gerakan cepat, Arash mendorong punggung Raisa hingga membentur dinding koridor yang dingin. Ia mengurung tubuh mungil Raisa dengan kedua lengannya, menumpu pada dinding di sisi kepala Raisa.

"Kau ingin tahu apakah aku cemburu?" Arash berbisik, suaranya serak dan berbahaya. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Raisa. Raisa bisa merasakan panas dari tubuh Arash dan aroma tembakau serta kopi yang maskulin. "Kau ingin tahu apa yang kurasakan saat melihat tangan pria itu menyentuh barang-barangmu? Saat dia menatapmu seolah dia punya hak atas dirimu?"

Napas Raisa memburu. Ketakutan dan gairah yang tidak terduga bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Ia menatap bibir Arash yang berada sangat dekat dengan miliknya.

"Kau milikku, Raisa," desis Arash, jemarinya kini berpindah ke dagu Raisa, mengangkatnya agar wanita itu tidak bisa berpaling. "Secara hukum, secara kontrak, dan di dalam gedung ini. Tidak ada satu pun pria—terutama pria lemah seperti Vino—yang boleh bernapas di dekatmu tanpa izinku. Jika itu kau sebut cemburu, maka ya, aku sedang terbakar sekarang."

Arash menundukkan kepalanya perlahan. Raisa memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Ia bisa merasakan embusan napas Arash yang hangat menyentuh bibirnya. Arash berhenti tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, membiarkan ketegangan itu menyiksa mereka berdua. Ia ingin Raisa tahu, bahwa ia memiliki kendali penuh atas setiap inci keberadaan wanita itu.

Sedetik lagi, bibir Arash akan mengklaim milik Raisa dalam sebuah ciuman yang penuh dengan obsesi dan kemarahan yang tertahan—

SREKK ... SREKK ....

Suara gesekan sapu lantai dan bunyi ember yang diseret di ujung lorong tiba-tiba memecah keheningan yang intim itu. Arash tersentak, ia segera menjauhkan wajahnya dan berdiri tegak dengan gerakan yang sangat cepat, mencoba menata kembali emosinya yang sempat berantakan.

Seorang petugas kebersihan paruh baya muncul dari belokan koridor, membawa peralatan kerjanya. Petugas itu langsung menunduk dalam saat melihat sang CEO berdiri di koridor gelap bersama seorang staf wanita yang tampak kacau.

"M-maaf, Pak Arash ... saya hanya ingin membersihkan area pantry ..." gumam petugas itu dengan suara gemetar, tidak berani mendongak.

"Lanjutkan pekerjaanmu di lantai lain," perintah Arash, suaranya kembali dingin dan datar, seolah kejadian satu detik yang lalu tidak pernah terjadi. "Area ini masih digunakan."

"B-baik, Pak!" Petugas itu segera berbalik dan lari secepat yang ia bisa, menghilang di balik lift.

Raisa masih bersandar di dinding, napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menatap Arash dengan pandangan yang penuh dengan rasa tidak percaya dan luka. Arash tidak menatapnya kembali. Ia membelakangi Raisa, tangannya masuk ke dalam saku celana, mencoba menenangkan gemetar di tangannya sendiri yang disebabkan oleh adrenalin dan gairah yang belum tuntas.

"Pulanglah," ujar Arash tanpa menoleh. "Pekerjaanmu selesai untuk malam ini."

"Arash ...."

"Pulang, Raisa! Sebelum aku berubah pikiran dan melakukan sesuatu yang akan membuatmu semakin membenciku!" bentak Arash, suaranya bergetar karena emosi yang masih meluap.

Raisa tidak menunggu perintah kedua. Ia menyambar tasnya di ruang CEO dan berlari menuju lift tanpa menoleh lagi. Air matanya mengalir deras, bukan hanya karena kelelahan, tapi karena ia menyadari bahwa tembok pertahanannya terhadap Arash baru saja hancur total.

Di koridor yang kini kembali sunyi, Arash memukul dinding marmer itu dengan tangannya hingga buku jarinya memerah. Ia menatap pintu lift yang tertutup, menyadari bahwa ia baru saja menunjukkan sisi terlemahnya di depan wanita yang seharusnya ia kendalikan.

Arash tahu, mulai malam ini, kontrak di antara mereka bukan lagi soal uang atau utang. Ini telah menjadi perang perasaan yang jauh lebih berbahaya, di mana ia sendiri tidak yakin siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

***

1
Marini Suhendar
Huuh...Good Job Arash
Marini Suhendar
mampooos pàk tua & ulat bulu
Zakia Ulfa
hadehhh selain Selin ,Mr Tan orang paling jahat di crita ini
Zakia Ulfa
naaaahhhh kaaaannnnn😄😄😄
Zakia Ulfa
dan ahirnya arash sadar dan Raisa pergi dalam keadaan hamidun.surat Raisa tidak di baca arash karna ketahuan Selin.selin akan memanipulasi seolah olah Raisa berkhianat..eaaaaaa🤭
Idha Rahman: hahahaha sepertinya crita nya akan seperti itu sista sudah biasa jalan cerita dalam novel seperti itu jalan ceritanya
total 1 replies
Zakia Ulfa
di bab bab awal padahal sudah di jelaskan bahwa arash hanya peduli pada Raisa,tak lagi peduli pada perusahaan.daan jika perusahaan bangkit bukankah yg menang kakek peot itu
Zakia Ulfa
knapa tiap nge like slalu eror ya,padahal critanya bagus lo.sepi pulang yg komentar.semangat thooorrrr
EsKobok: terima kasih 🙇🙏
total 2 replies
Zakia Ulfa
knapa kakek arash semengeerikan itu
Marini Suhendar
Raisa....kenapa kmu percya k selin sih
Zakia Ulfa
oh Raisa malang sekali nasipmu,kuatlah raisa.jangan biarkan monster itu menang,kau harus kuat kuat kuat
Zakia Ulfa
plissss Raisa aku menangisi mu yg di perlakukan tidak manusiawi oleh suamimu.jadiiiiii jangan mudah luluh plisss..biar air mataku tak sia sia🤭
Zakia Ulfa
plissss Raisa jangan mudah goyah oke,,orang seperti arash ini musti di kasih kejut jantung
Zakia Ulfa
Halah arassss,,,gegayaan banget sok jual mahal,padahal mlehoy
Zakia Ulfa
awal bab tiap katanya mudah di pahami,, kayaknya seruuuu💪💪💪
Marini Suhendar
Raisa..bisa gila lama" dlm tekanan begini
Marini Suhendar
lanjut thor💪
falea sezi
raisa kebanyakan drama
Morince Moren
terbaik cerita ini
Marini Suhendar
Thor..jangan terlalu lama Raisa d sakiti/Sob/
Marini Suhendar
D tunggu Bucin nya Kulkas 14 Pintu..Yg Masih Gengsi😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!