NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Sisa Abu

Kabut belerang yang merayap dari dasar kawah menyelimuti lereng dengan kepekatan yang menyesakkan. Li Wei berdiri mematung, menatap nanar ke arah cahaya kota yang mulai memudar ditelan fajar kelabu. Kata-kata Chen Xi tentang sisa pelarian yang baru dimulai masih berdenging di telinganya, beradu dengan denyut nyeri yang hebat dari saraf bahunya yang hangus.

"Kita tidak bisa hanya berdiri di sini dan meratapi nasib, Li Wei," suara Chen Xi memecah keheningan, tajam dan tidak menyisakan ruang untuk keraguan. "Salju kimia ini akan mulai menumpuk. Jika kita tidak segera turun kembali ke titik nol ledakan untuk mencari log data itu, jejak digital kita akan permanen terkunci oleh sistem pusat."

Li Wei menoleh perlahan, gerakannya kaku. "Kau ingin kita kembali ke pusat pembantaian itu? Satelit orbital mungkin masih menyisir area tersebut untuk memastikan pembersihan total."

"Justru karena itulah kita kembali," Chen Xi melangkah mendekat, matanya berkilat di balik kacamata taktisnya yang retak. "Radiasi Void yang kau lepaskan saat Altar Tengah meledak tadi menciptakan 'lubang buta' magnetik. Itu adalah satu-satunya tempat di dunia ini di mana mata Kekaisaran tidak bisa melihat kita. Kita harus menanamkan bukti kematianmu di sana."

"Maksudmu... mayat-mayat itu?" bisik Li Wei, merasakan gejolak mual di perutnya.

"Aku butuh kau menanamkan chip pengenal perwiramu pada salah satu jasad yang hangus di sana," lanjut Chen Xi tanpa emosi. "Dunia harus melihat bahwa Li Wei sang pengkhianat telah menjadi abu. Jika tidak, pengejaran ini tidak akan pernah berakhir."

Li Wei terdiam, tangan kirinya meremas gagang pedang Bailong yang patah. Dilema merobek batinnya; memalsukan kematian berarti membuang seluruh martabat klan Li yang ia perjuangkan selama ini. Namun, menatap wajah Xiao Hu yang pucat dan menggigil di sampingnya, ia tahu bahwa harga diri seorang ksatria tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nyawa yang harus ia lindungi.

"Lakukanlah, Kak Li," gumam Xiao Hu pelan, suaranya bergetar karena dingin yang menusuk tulang. "Kita harus menghilang agar bisa benar-benar melawan."

"Baiklah," Li Wei akhirnya mengangguk berat. "Pimpin jalannya, Chen Xi."

Mereka mulai menuruni lereng kembali, menuju kawah yang masih mengepulkan uap panas. Bau daging terbakar dan ozon yang tajam menusuk indra penciuman saat mereka semakin dekat dengan titik pusat kehancuran. Tanah di bawah kaki mereka terasa rapuh, terdiri dari lapisan beton yang telah menjadi bubuk dan logam yang meleleh.

"Berhenti," Chen Xi memberi isyarat dengan tangan terangkat. "Drone pengintai di arah jam sepuluh. Xiao Hu, aktifkan peredam sinyal jarak pendek. Li Wei, turunkan frekuensi sarafmu sekarang."

Li Wei memejamkan mata, melakukan teknik pernapasan Void pasif untuk meredam suhu tubuhnya. Rasa sakit di bahunya kembali berdenyut saat sisa-sisa energi satelit Level 8 yang masih tertinggal di udara beresonansi dengan luka sarafnya. Ia menggigit bibir hingga berdarah untuk menahan erangan.

"Tahan... sedikit lagi," bisik Chen Xi sambil memantau layar tablet sarafnya yang berkedip. "Drone itu sudah melewati protokol pemindaian. Bergerak sekarang, cepat!"

Mereka berlari kecil di antara puing-puing raksasa yang miring. Di tengah kawah, pemandangan itu jauh lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan. Ratusan jasad prajurit dan warga yang tidak sempat melarikan diri kini hanya berupa siluet hitam yang membeku dalam posisi-posisi menyedihkan.

"Cari yang postur tubuhnya mirip denganku," perintah Li Wei, suaranya terdengar seperti berasal dari lubuk sumur yang dalam.

Chen Xi menunjuk ke sebuah jasad yang terjepit di bawah reruntuhan pilar Altar Tengah. Wajahnya tidak lagi bisa dikenali, namun seragam perwira menengahnya masih menyisakan fragmen yang bisa diidentifikasi. Li Wei melangkah maju, tangannya yang gemetar merobek tanda pengenal militer dari lehernya sendiri.

"Maafkan aku, kawan," bisik Li Wei pada jasad asing itu sebelum menyematkan chip miliknya ke dalam sisa-sisa zirah mayat tersebut.

"Selesai," Chen Xi memeriksa koneksi digitalnya. "Satelit akan membaca sinyal biometrik terakhir dari chip ini tepat sebelum radiasi Void melenyapkannya. Secara resmi, kau telah tewas dalam ledakan pembersihan."

Li Wei berdiri kembali, menatap jasad yang kini memikul namanya itu. "Rasanya aneh melihat namamu sendiri terkubur di bawah abu."

"Itu adalah kemerdekaan, Li Wei. Meski rasanya pahit," Chen Xi mengalihkan pandangannya ke arah alat pemindainya yang tiba-tiba mengeluarkan bunyi bip frekuensi rendah. "Tunggu... aku menangkap sesuatu yang lain."

"Apa itu?" tanya Xiao Hu, merapat ke arah Chen Xi.

"Ada dekripsi log data yang berhasil ditarik dari sisa terminal altar sebelum hancur total," jemari Chen Xi bergerak cepat. "Seseorang telah membuka akses ke jalur komunikasi pribadi. Frekuensinya... frekuensi kuno yang tidak lagi digunakan oleh Kekaisaran."

Li Wei mengerutkan kening, mencoba mendengarkan melalui sensor pendengaran sarafnya yang rusak. Suara statis mulai terdengar, disusul oleh deretan kode morse digital yang terasa sangat akrab di ingatannya. Matanya membelalak saat ia menyadari pola tersebut.

"Itu kode sandi Klan Li," suara Li Wei tercekat. "Ayahku... itu adalah frekuensi pribadi mendiang ayahku."

"Mustahil," Chen Xi menatap layar tabletnya dengan tidak percaya. "Data ini mengarah ke sebuah lokasi yang tersembunyi jauh di bawah pegunungan sebelah barat. Sektor X-19."

"Bunker X-19," gumam Li Wei, ingatannya kembali pada cerita-cerita samar yang pernah dibisikkan ayahnya sebelum klan mereka dihancurkan oleh intrik politik Jenderal Zhao Kun. "Ayah pernah bilang bahwa ada tempat di mana 'kebenaran tidak bisa dibakar'. Aku selalu menganggap itu hanya metafora."

"Sinyalnya sangat lemah, tapi stabil," Chen Xi menoleh ke arah pegunungan yang tertutup salju kimia di kejauhan. "Jika kita ingin tahu mengapa kita dikhianati, dan mengapa chip saraf Han mengandung data terenkripsi Level 7, kita harus pergi ke sana."

"Tapi kita tidak punya cukup air dan logistik untuk perjalanan menembus lembah itu," Xiao Hu mengangkat botol airnya yang tinggal sepertiga.

Li Wei mengambil botol itu, meminum seteguk kecil, lalu memberikannya kembali kepada Xiao Hu. "Kita akan sampai di sana. Kita tidak punya pilihan lain. Menetap di sini berarti menunggu tim pembersih darat menemukan sisa-sisa kita."

"Dengarkan itu," sela Chen Xi tiba-tiba, menajamkan indra sensoriknya.

Dari kejauhan, suara gemuruh mesin berat mulai terdengar. Debu di atas tanah mulai bergetar, menandakan unit kavaleri baja Kekaisaran mulai memasuki pinggiran kawah untuk melakukan verifikasi fisik.

"Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku," Chen Xi menyimpan tabletnya. "Kita harus segera menghilang ke dalam jalur pipa limbah bawah tanah sebelum mereka menutup perimeter."

Li Wei menatap sekali lagi ke arah jasad "dirinya" di bawah reruntuhan. Dengan satu sentakan tangan kirinya, ia mematahkan sisa bilah pedang Bailong-nya, membiarkannya jatuh di samping chip militer itu sebagai pelengkap sandiwara kematiannya.

"Selamat tinggal, Pedang Dingin Kekaisaran," bisiknya pelan, sebelum berbalik dan mengikuti Chen Xi masuk ke dalam kegelapan lubang pipa.

Pipa pembuangan itu terasa seperti tenggorokan raksasa yang dingin dan lembap. Li Wei merangkak di depan, menggunakan tangan kirinya untuk menyeimbangkan tubuh sementara bahu kanannya terus berdenyut, mengirimkan gelombang panas yang tidak alami ke seluruh sistem sarafnya. Di belakangnya, deru mesin kavaleri baja Kekaisaran perlahan memudar, digantikan oleh suara tetesan cairan kimia yang jatuh dari langit-langit pipa yang berkarat.

"Kau masih bisa bertahan?" tanya Chen Xi, suaranya menggema rendah di ruang sempit tersebut.

"Sarafku sedang mencoba melakukan kalibrasi ulang," jawab Li Wei tanpa menghentikan gerakannya. "Energi orbital tadi meninggalkan residu ion di lukaku. Rasanya seperti ribuan jarum yang terus bergerak di bawah kulit."

"Xiao Hu, berikan aku kit medis darurat di ranselmu," perintah Chen Xi. "Li Wei, berhenti sejenak di persimpangan depan. Kita harus menstabilkan suhumu atau kau akan mengalami syok kognitif sebelum kita mencapai ujung pipa ini."

Mereka berhenti di sebuah rongga yang sedikit lebih luas, tempat beberapa pipa besar bertemu. Cahaya dari lampu senter kecil milik Xiao Hu memantul di dinding yang dipenuhi lumut sintetis keunguan. Chen Xi segera menarik kerah baju Li Wei, menyingkap luka bakar di bahu pria itu yang kini terlihat membiru, dengan urat-urat saraf yang memancarkan pendar redup akibat beban energi Void yang berlebihan.

"Ini lebih buruk dari yang kukira," gumam Chen Xi sambil menyemprotkan cairan koagulan ke luka tersebut. "Resonansi Void-mu bertabrakan dengan sisa radiasi satelit. Kau beruntung lenganmu tidak hancur seketika."

Li Wei mengerang pelan saat cairan itu menyentuh lukanya. "Bagaimana dengan data dari ayahku? Apa kau sudah berhasil melacak koordinat pastinya?"

"Sektor X-19 berada di zona buta di balik Pegunungan Kelabu," Chen Xi fokus pada tangannya yang bergerak lincah mengobati luka Li Wei. "Itu adalah fasilitas penelitian lama yang dihapus dari peta resmi Kekaisaran sepuluh tahun lalu. Seharusnya tempat itu sudah mati, tapi sinyal yang kita terima menunjukkan bahwa sistem intinya masih memiliki suplai daya mandiri."

"Kenapa ayahmu menyimpan data di tempat seperti itu, Kak Li?" tanya Xiao Hu sambil menyerahkan sebotol air yang kini benar-benar tinggal seteguk terakhir.

"Ayahku adalah orang yang sangat berhati-hati," Li Wei menerima botol itu namun memberikannya pada Chen Xi terlebih dahulu. "Dia tahu bahwa suatu saat Kekaisaran akan mengonsolidasi seluruh database untuk menghapus sejarah yang tidak mereka sukai. Bunker X-19 mungkin adalah satu-satunya perpustakaan fisik yang tersisa."

Chen Xi meminum sedikit air itu lalu mengembalikannya pada Li Wei. "Jika Jenderal Zhao Kun tahu tempat ini masih aktif, dia pasti sudah meratakannya sejak lama. Artinya, ada protokol keamanan tingkat tinggi yang melindunginya. Kita butuh chip saraf Han untuk menembus gerbang utamanya."

"Chip itu bukan sekadar memori, kan?" Li Wei menatap Chen Xi dengan tajam.

"Bukan," jawab Chen Xi, matanya bertemu dengan mata Li Wei dalam jarak yang sangat dekat. "Itu adalah kunci enkripsi Level 7. Han tidak mati hanya karena dia pengkhianat, Li Wei. Dia mati karena dia memegang kunci untuk membuka kotak pandora yang bisa meruntuhkan seluruh narasi perang abadi ini."

Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Li Wei bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang mulai melambat setelah pengobatan darurat dari Chen Xi. Ia menyadari bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar pelarian diri dari kematian, melainkan pengejaran terhadap kebenaran yang telah merenggut nyawa sahabat terbaiknya.

"Kita harus bergerak lagi," Li Wei bangkit dengan susah payah, menyandarkan berat tubuhnya pada dinding pipa. "Udara di sini mulai terasa menipis. Artinya oksigen di atas sana sedang diserap oleh sistem pembersihan udara kota."

"Gunakan masker filtrasi kalian," perintah Chen Xi. "Kita akan keluar melalui pintu pembuangan di sektor barat, lalu mendaki lereng pegunungan sebelum matahari benar-benar naik."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan kecepatan yang lebih rendah. Jalur pipa mulai menanjak, menandakan mereka sedang bergerak keluar dari area kawah menuju kaki gunung. Setelah dua jam perjalanan yang melelahkan, mereka akhirnya mencapai sebuah jeruji besi besar yang tertutup tumpukan salju kimia dari luar.

Li Wei menggunakan sisa energinya untuk mendorong jeruji tersebut. Dengan satu dorongan kuat yang dibantu oleh tuas hidrolik darurat yang ditemukan Xiao Hu, besi tua itu terbuka, membiarkan udara dingin pegunungan menerpa wajah mereka.

Di depan mereka, Pegunungan Kelabu berdiri angkuh dengan puncak-puncak yang tertutup kabut tebal. Jauh di bawah sana, Kawah Nadir terlihat seperti luka terbuka yang mengeluarkan asap hitam, dikelilingi oleh titik-titik lampu dari unit kavaleri Kekaisaran yang mulai menyebar membentuk perimeter pencarian.

"Lihat itu," Xiao Hu menunjuk ke arah langit.

Sebuah pengumuman hologram raksasa diproyeksikan ke awan di atas Kota Void. Gambar wajah Li Wei terpampang jelas, diikuti oleh tulisan besar berwarna merah yang bisa dibaca dari jarak berkilometer-kilometer: PENGKHIANAT NEGARA: LI WEI. STATUS: TERKONFIRMASI MATI.

Li Wei menatap proyeksi itu dengan tatapan kosong. Tidak ada rasa marah, tidak ada rasa sedih. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang dingin. Identitasnya, prestasinya, dan kehormatannya telah dihapus dalam satu kedipan mata oleh sistem yang ia bela selama belasan tahun.

"Mereka sangat efisien dalam membuang orang," komentar Chen Xi pahit di sampingnya.

"Setidaknya sekarang kita benar-benar menjadi hantu," sahut Li Wei pelan. "Ayo. Bunker X-19 menunggu."

Mereka mulai melangkah masuk ke dalam hutan pinus bio-mekanis yang menyelimuti kaki gunung. Salju kimia mulai jatuh lebih deras, menutupi jejak kaki mereka hampir seketika. Di kejauhan, sebuah lampu merah kecil berkedip dari sela-sela bebatuan tinggi—sebuah suar SOS yang hanya bisa dilihat oleh mata yang memiliki sinkronisasi saraf tertentu.

Itu adalah panggilan dari masa lalu yang memanggil sang putra untuk pulang ke dalam rahasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!