NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengalami System CrashSaat Robot

Arga Wiratama adalah pria yang percaya bahwa sakit hanyalah masalah sugesti dan manajemen waktu yang buruk. Baginya, demam adalah kegagalan sistem imun yang tidak terorganisir.

Namun, pagi ini, sang "Robot Kaku" itu akhirnya tumbang.

Alih-alih bangun pukul 05.00 untuk lari pagi, Arga masih terbungkus selimut tebal dengan wajah sepucat kertas HVS. Napasnya berat, dan suhu tubuhnya cukup panas untuk mematangkan sebutir telur jika diletakkan di dahinya.

Nara, yang baru saja bangun dengan rambut singa andalannya, mengerjap heran melihat sisi kasur sebelah kanan masih terisi. Biasanya, Arga sudah hilang, menyisakan bau sabun steril dan aroma kopi hitam.

"Ga? Kamu masih tidur? Tumben banget. Lagi simulasi jadi beruang kutub hibernasi?" tanya Nara sambil menyenggol bahu Arga.

Arga hanya menggumam tak jelas. Matanya tertutup rapat, dan keningnya berkerut dalam. Nara menyentuh dahi Arga dan langsung menarik tangannya kembali.

"Aduh! Panas banget! Kamu habis berendam di air mendidih y apa gimana sih kok badan bisa sepanas ini?"

Nara panik, tapi insting "suster galak"-nya segera mengambil alih. Ia berlari ke dapur, mengambil baskom air, handuk kecil, dan termometer digital yang dulu pernah ia beli karena bentuknya lucu (ada hiasan kepala kelinci di ujungnya).

"Oke, Pak Audit sekarang waktunya pemeriksaan total," ujar Nara sambil menyingkap selimut Arga dengan paksa.

Arga membuka matanya sedikit, menatap termometer kelinci itu dengan sisa-sisa logikanya yang mulai kabur.

"Nara... itu... termometer apa? Secara estetika... tidak profesional."

"Diem! Orang lagi demam masih aja ngomongin soal estetika. Ini termometer sakti. Kalau kamu banyak protes, kelincinya bakal gigit!" ancam Nara sambil menyumpalkan termometer itu ke ketiak Arga.

"39 derajat! Ga, ini mah bukan demam biasa, ini mah mesin kamu overheat! Kebanyakan mikirin portofolio saham sih!" Nara mondar-mandir di kamar, mengambil kompresan dan mulai menempelkannya ke dahi Arga.

Arga mencoba duduk.

"Saya harus... ada rapat koordinasi jam sembilan..."

Nara langsung mendorong bahu Arga kembali ke kasur.

"Rapat matamu! Hari ini kamu adalah pasien, dan aku adalah diktator di rumah ini. Satu langkah kamu keluar dari kamar ini, aku bakal viralin foto kamu lagi tidur sambil meluk bantal paha ayam!"

Arga terdiam. Ancaman Nara lebih efektif daripada obat penurun panas mana pun.

"Hubungi teman kantor , dan bilang kamu harus istirahat sekarang!"

Tanpa ada bantahan lagi , Arga dengan tangan yang lemas segera mengambil handphone miliknya dan mengirim pesan kepada teman kantornya.

Nara memutuskan untuk memasak bubur. Belajar dari tragedi wagyu gosong, kali ini ia sangat berhati-hati. Ia mengaduk bubur itu dengan penuh perasaan (dan sedikit doa agar tidak gosong lagi).

Satu jam kemudian, Nara masuk ke kamar membawa nampan.

"Ayo, Robot. Waktunya pengisian bahan bakar organik."

Arga menatap mangkuk bubur itu dengan curiga.

"Warnanya... terlalu putih. Apa ini mengandung nutrisi yang seimbang?"

"Ini mengandung kasih sayang yang seimbang, Arga! Buruan buka mulutnya. Aaaa..." Nara menyendokkan bubur ke depan mulut Arga.

Arga ragu sejenak, namun akhirnya ia membuka mulut lalu Ia mengunyahnya pelan. Matanya sedikit membelalak.

"Nara... ini... rasanya..."

"Enak kan? Bilang enak atau denda satu miliar!"

"Rasanya... seperti nasi yang hancur karena kesedihan," gumam Arga lemas.

"Hambar. Tapi... teksturnya lembut."

Nara mendengus.

"Ya namanya juga bubur orang sakit! Masa mau dikasih bumbu balado? Sini, aku suapin lagi."

Melihat Arga yang biasanya sangat mandiri dan otoriter kini harus disuapi dengan wajah pasrah, ada perasaan hangat yang menyelinap di hati Nara. Ia memperhatikan bagaimana rahang tegas Arga bergerak lemah, dan bagaimana mata tajam itu kini terlihat sayu dan rapuh.

"Ga," panggil Nara pelan saat sesi suap-suapan berakhir.

"Hmm?"

"Makasih ya. Kemarin pas mobil kamu mogok, kamu udah bela aku di depan Clarissa. Maaf kalau gara-gara aku jemput pakai mobil panas, kamu jadi drop begini."

Arga meraih tangan Nara, menggenggamnya dengan jemari yang masih terasa sangat panas.

"Bukan salah mobil kamu, saya cuma... lupa kalau saya juga manusia. Saya pikir saya benar-benar robot."

Malam harinya, kondisi Arga belum membaik. Ia mulai menggigil hebat. Nara yang tidak tega akhirnya memutuskan untuk tidur di sebelah Arga, melewati "Tembok Berlin" bantal guling tanpa ragu.

"Nara... jangan dekat-dekat. Nanti kamu tertular virus saya," bisik Arga dengan suara serak.

"Berisik... Virus kamu nggak akan tahan sama aku. Aku kan imunnya kuat karena sering makan seblak level lima," balas Nara asal sambil menyelimuti mereka berdua dalam satu dekapan erat.

Nara memeluk Arga dari samping, mencoba membagikan suhu tubuhnya yang normal untuk meredakan gigil Arga. Arga tersentak, namun kemudian ia perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Nara.

"Nara," panggil Arga dalam kegelapan.

"Kenapa? Mau minta bubur lagi?"

"Tidak. Saya cuma mau bilang... detak jantung kamu terdengar sangat tidak beraturan. Secara medis, itu gejala takikardia."

Nara tersipu, jantungnya memang sedang berdegup kencang karena posisi mereka yang sangat intim.

"Ini bukan takikardia, Pak Audit! Ini namanya baper! Dan pelakunya adalah kamu!"

Arga tertawa kecil, suara tawa yang terdengar jujur di telinga Nara. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Nara, menyembunyikan wajahnya di leher gadis itu.

"Kalau begitu, saya juga sedang sakit takikardia. Karena sejak kamu masuk ke apartemen ini, ritme jantung saya tidak pernah kembali normal."

Nara tertegun. Ia mengelus rambut Arga yang halus.

"Tidur, Arga. Besok kamu harus sembuh. Aku nggak mau dapet warisan apartemen ini cuma gara-gara kamu mati konyol karena demam, dan lagi jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya Ga..."

Nara menyadari tingkah nakal Arga yang sedikit mengendus-endus lehernya.

"Saya tidak akan mati. Saya belum mengaudit perasaan saya sampai tuntas untuk kamu. Dan aku ini cuma sedang mencium aroma khas mu Nara." sahut Arga sebelum akhirnya ia jatuh tertidur dalam dekapan Nara.

Keesokan paginya, Arga terbangun dengan perasaan jauh lebih segar. Demamnya sudah turun. Hal pertama yang ia lihat adalah Nara yang tertidur pulas di pelukannya, dengan mulut sedikit terbuka dan posisi tangan yang entah bagaimana sudah berada di dalam kausnya (lagi).

Arga menatap wajah Nara, ia menyentuh pipi gadis itu dengan ibu jarinya.

"Variabel yang paling tidak logis, tapi paling saya butuhkan," gumamnya pelan.

Tiba-tiba Nara terbangun, matanya mengerjap.

"Hah? Jam berapa? Kamu udah mati belum?"

Arga menaikkan sebelah alisnya.

"Belum... Dan saya rasa saya sudah cukup sehat untuk menagih denda satu miliar karena kamu sudah melewati batas guling semalam."

Nara langsung meloncat duduk.

"Lho! Kan aku nolongin kamu! Itu namanya tindakan medis darurat! Nggak dihitung denda!"

Arga bangkit dari kasur, menunjukkan tubuhnya yang sudah kembali bugar. Ia mendekati Nara, memojokkannya di kepala tempat tidur, lalu mengecup kening Nara dengan sangat lembut.

"Terima kasih, Suster Galak. Masakan hambar kamu ternyata bekerja lebih baik daripada parasetamol."

Nara mematung, wajahnya merah padam. Arga berjalan menuju kamar mandi dengan langkah tegak, meninggalkan Nara yang kembali memeluk bantal paha ayamnya sambil menjerit tanpa suara.

"ARGA WIRATAMA!!! KAMU BENER-BENER PENJAHAT KELAMIN BERKEDOK AUDITOR!!!"

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!