Ava Serenity Williams, putri bungsu Axton Brave Williams, jatuh cinta pada seorang pria bernama Ryan Dome. Ia mencintainya sejak berada di bangku sekolah. Ava bahkan rela menjadi seseorang yang bukan dirinya karena Ryan seakan menuntut bahwa yang akan menjadi kekasih dan istrinya nanti adalah seorang wanita sempurna. Ryan Dome, putra Freddy Dome, salah satu rekan bisnis Axton Williams. Freddy berencana menjodohkan Ryan dengan Ava, hingga menjadikan Ava sebagai sekretaris putranya sendiri. Namun, siapa yang menyangka jika Ryan terus memperlakukan Ava layaknya seorang sekretaris, bahkan pembantunya. Ia menganggap Ava tak pantas untuk dirinya. Ryan bahkan memiliki kekasih saat dirinya dalam status tunangan dengan Ava. Hingga akhirnya Ava memilih mundur dari kehidupan Ryan. Ia mencari ketenangan dan jati dirinya yang hilang, hingga akhirnya ia bisa jatuh cinta sekali lagi. Apakah cinta itu untuk Ryan yang berharap Ava kembali? Ataukah ada pria lain yang siap mencintai Ava drngan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JUAL SAJA
“Masalah apa, Dad?” tanya Ryan sesaat setelah ia sampai di Kediaman Keluarga Dome.
“Lama sekali kamu! Ke mana saja?” tanya Dad Freddy dengan nada yang meninggi.
“Aku sedang menyelesaikan masalah kecil,” jawab Ryan.
“Kalau begitu sekarang katakan pada Dad, apa yang kamu lakukan hingga saham Perusahaan Dome turun seperti ini?”
“Turun? Tak mungkin! Aku tak melakukan apapun.”
“Lalu mengapa bisa begini? Para investor sudah menghubungi Dad terus menerus. Mereka ingin menjual kembali saham mereka pada kita. Jika seperti ini terus, sudah dipastikan perusahaan akan kacau.”
Ryan memperhatikan grafik yang saat ini terlihat di layar laptop milik Dad Freddy. Ia juga tidak tahu apa yang terjadi. Ia pun mulai berpikir dan mengira.
“Apa ini semua Tamara yang melakukan? Ya, pasti dia. Dia marah setelah apa yang kulakukan. Tapi …,” Ryan mulai kembali berpikir. Saat ini Tamara pasti masih berada di rumah sakit, tak mungkin seperti ini.
“Tapi bisa saja ia meminta seseorang untuk melakukannya. Ya, pasti dia, sudah pasti dia!” ungkap Ryan di dalam batinnya.
“Ada apa? Pasti kamu sedang memikirkan masalah yang baru saja kamu buat kan?” Ujar Dad Freddy.
“Aku sedang memikirkan penyelesaiannya, Dad. Jangan selalu berburuk sangka padaku,” ucap Ryan.
“Arghhh!!!” Freddy menarik rambutnya yang sudah mulai memutih. Ia merasa kesal saat ini karena kekacauan yang terjadi.
Brakkk
Freddy memukul meja kerja yang ada di hadapannya. Ia melangkah ke kanan dan ke kiri sambil berdecak berkali kali.
“Dad, duduklah. Tenang,” ucap Ryan.
“Duduk? Tenang? Saat keadaan seperti ini? Apa kamu gila?!” sahut Freddy, “Apa kamu tidak bisa lihat nilai saham kita jatuh dengan begitu cepat.”
Ryan melihat ke arah layar laptop dan mulai mendes sah kasar. Ia segera mengambil ponsel lalu mencoba menghubungi seseorang. Ia berharap orang tersebut belum terlelap dan akan segera membantunya.
Namun, panggilan tersebut tak dijawab sama sekali, membuat hati Ryan semakin gundah. Kini tak hanya Dad Freddy yang kacau, Ryan pun terlihat demikian.
“Dad!” Tiba tiba saja Ryan berteriak ketika melihat ada sedikit pergerakan naik meskipun perlahan.
“Apa?”
“Lihatlah, grafiknya berubah naik.”
Freddy melangkah sedikit mendekati meja di mana laptopnya berada. Ia menautkan kedua alisnya seakan menajamkan penglihatannya.
“Hanya segini? Itu tidak ada artinya, Ryan! Apa kamu masih tidak mengerti? Jika saham kita jatuh seperti ini, maka tidak akan ada lagi yang akan mempercayai Perusahaan Dome.”
“Aku akan mencoba menghubungi Ava besok, Dad. Saat ini ia tak menjawab panggilanku,” ujar Ryan.
“Untuk apa kamu menghubungi Ava? Ia tak bisa melakukan apapun. Seharusnya saat ini kamu menghubungi Tuan Williams … atau kamu bisa menemui Tuan Phillips, jalan tercepat.”
Mendengar Dad Freddy menyebut nama Tuan Phillips, Ryan kembali teringat pada Tamara. Ia tak tahu bagaimana keadaan Tamara saat ini dan sebenarnya tak ingin tahu. Ia justru ingin menyingkirkan Tamara dari hidupnya.
“Aku akan menghubungi Tuan Williams besok pagi, Dad.”
Freddy menghela nafasnya kasar lalu segera pergi dari ruang kerjanya. Ia perlu mengistirahatkan tubuhnya dan menenangkan pikirannya yang sudah panas dingin sejak tadi karena menatap kondisi perusahaannya yang tidak baik baik saja.
*****
Dengan langkah penuh percaya diri, Ava memasuki Perusahaan Orlando. Saat tadi pagi ia terbangun, ia melihat begitu banyak panggilan, yang tak lain adalah dari Ryan Dome, pria yang pernah mengisi hatinya.
Namun, Ava tak ingin lagi larut dalam rasa cinta nya pada seorang Ryan Dome. Ava tak mengapa jika Ryan menolaknya, tapi tidak dengan cara menyakitinya.
“Selamat pagi, Nona,” sapa seorang security yang berjaga.
“Pagi,” balas Ava dengan sebuah senyuman di wajahnya.
Ava berjalan menuju ke lift untuk naik menuju lantai di mana ruang kerja nya berada. Ntah mengapa Ava merasa sangat senang dan bersemangat pagi ini.
“Pagi, Va,” sapa Mario saat melihat Ava yang telah tiba.
“Pagi, Kak,” balas Ava tersenyum yang langsung membuat jantung Mario seakan berdetak dengan cepat.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Mario.
“Belum.”
“Kalau begitu makanlah dulu,” Mario meletakkan sebuah paperbag di atas meja kerja Ava.
“Apa ini?”
Mario mengeluarkan makanan yang ia bawa dari paperbag, sandwich dan juga sebotol susu.
“Terima kasih,” ucap Ava.
“Makanlah. Kamu memerlukan tenaga untuk bekerja lagi hari ini.”
Mario pun keluar dari ruang kerja Ava sambil tersenyum. Ntah mengapa ia merasa sedikit salah tingkah saat ini. Tadi pagi, ia sengaja berangkat lebih pagi untuk membeli sarapan untuk Ava. Ia sebenarnya juga tak yakin apakah Ava sudah sarapan atau belum. Jika sudah, ia akan memakan sarapan itu sendiri.
Sementara itu, Ava yang melihat makanan yang dibawakan oleh Mario pun tersenyum. Ia mengambil sandwich lalu memakannya, sementara botol kaca yang berisi susu itu ia masukkan ke dalam lemari pendingin.
Sebelum memulai pekerjaannya, Ava kembali membuka laptop miliknya. Ia kembali melakukan sesuatu di sana lalu menutup laptop tersebut kemudian tersenyum.
“Kita lihat sampai di mana kamu akan bertahan,” gumam Ava.
*****
“Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku hah?!” Tuan Phillips menyambar kerah kemeja Ryan dengan kasar serta menatap tajam pria yang merupakan rekan bisnis, sekaligus kekasih putrinya.
“Tu-tuan …,” melihat raut wajah Tuan Phillips yang penuh dengan amarah, membuat nyali Ryan seketika ciut. Ia bahkan tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Brakkk
Tuan Phillips mendorong tubuh Ryan hingga terhempas ke lantai ruang kerjanya di Perusahaan Dome. Hari ini Ryan berangkat pagi ke perusahaan karena akan ada meeting dengan para investor yang sejak semalam sudah terus menghubungi Dad Freddy.
“Kamu menyakiti putriku hah?! Berani sekali kamu!”
Ryan terduduk di lantai sambil menundukkan kepalanya. Ia masih bingung dengan apa yang harus ia katakan pada Tuan Phillips. Salah bicara, bisa bisa Dad Freddy akan memarahinya karena Tuan Phillips adalah investor besar.
“Kita batalkan kerja sama kita! Dan aku akan menarik semua sahamku dari perusahaan ini. Aku tak perlu dan tak mau menghadiri meeting. Melihatmu membuatku ingin langsung membunuhmu!!” ujar Tuan Phillups berapi api.
Tuan Phillips bergegas keluar dari ruang kerja Ryan. Sambil melangkahkan kaki menuju ke arah lift, Tuan Phillips mengambil ponsel untuk menghubungi asisten pribadinya.
“Kemarin kamu mengatakan ada yang mau membeli saham Perusahaan Dome dariku bukan? Jual saja padanya, aku setuju dengan harga yang ia tawarkan,” ucap Tuan Phillips, kemudian memutus sambungan komunikasi tersebut.
Ia akan kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan putrinya yang sedang tidak baik baik saja. Tuan Phillips menghela nafas berkali kali dan merasa telah gagal menjaga putrinya. Ia juga telah merasa salah telah bekerja sama dengan Perusahaan Dome.
🧡🧡🧡
terima kasih Thor dengan ceritanya yang keren
terima kasih kakak Author 🙏🙏
semoga kakak Author selalu sehat, selalu semangat dan selalu sukses dalam berkarya aamiin...
ditunggu karya berikutnya ❤️🙏💪💪💪
semangat tour semoga sehat selalu ditunggu up karya yang baru💪💪💪🥰
trimadong Nia jangan sia sialan kesempatan yg ada di depan mata