Seorang gadis cantik, jenius dan berbakat yang bernama Kara Danvers bekerja sebagai agen ganda harus mati di karena dikhianati oleh rekannya.
Namun, alih-alih ke alam baka. Kara malah bertransmigrasi ke tubuh bocah perempuan cantik dan imut berusia 3 tahun, dimana keluarga bocah itu sedang di landa kehancuran karena kedatangan orang ketiga bersama dengan putrinya.
"Aku bertransmigrasi ke raga bocil?" Kara Danvers terkejut bukan main.
"Wah! Ada pelakor nih! Sepertinya bagus di beri pelajaran!" ucap Kara Danvers menyeringai dalam tubuh bocah cilik itu.
Apa yang yang akan dilakukan sang agen ganda saat di tubuh gadis cilik itu dan menggemaskan itu. Yuk mari baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butik
Pagi harinya, mentari bersinar lembut melalui jendela besar mansion megah keluarga Mahardika. Rumah yang biasanya tenang mulai riuh dengan suara langkah kaki dan percakapan kecil.
Di kamar paling ujung, seorang bocah perempuan berusia tiga tahun sedang duduk di atas tempat tidur berhias seprai putih dengan pola bunga.
Rambutnya yang hitam mengilap dikepang dua oleh bi Asih. Namun, di balik mata bulat bocah kecil dan polos itu.
Terdapat seorang agen cerdas dan berbakat, tak terasa dia sudah berada di tubuh bocah itu selama beberapa minggu.
Sial! Aku belum menemukan penyebab Vara asli kecelakaan! batin Vara kesal.
Vara tidak bisa leluasa bergerak, karena setiap sudut cctv terpasang. Dia harus selalu berpura-pura layaknya anak kecil, jika ingin kemana-mana.
Lebih baik aku retas cctv saja! Tapi aku tidak punya hp ataupun laptop! batin Vara. bocah kecil itu terlihat berpikir.
Tiba-tiba seorang wanita berusia 27 tahun masuk, setelah mengetuk pintu. "Sayang! Vara sudah siap gak?" tanya Selvira tersenyum lembut, menghampiri sang putri.
Vara segera mengubah raut wajahnya, lalu bertanya, "Memangnya hali ini kita mau kemana Ma?" tanya Vara polos.
"Kita akan akan ke butik sayang!" ajak Selvira.
"Ma! Boleh Vala minta cecuatu?!" tanya bocah perempuan cantik itu.
Selvira mengeryit heran. "Minta apa sayang? Katakan sama Mama!" sahut wanita itu lembut.
Mata Vara berbinar terang. "Ma! Vala mau tablet!" sahut gadis kecil itu.
"Memangnya Vara sudah pintar memainkannya?" tanya Selvira lembut.
Vara mengangguk polos. "Vala ini celdas Ma!" ucapnya bangga.
Selvira terkekeh. "Baiklah! Nanti kita beli tablet, tapi dengan syarat, Vara tidak boleh terlalu lama bermain game. Ok?!"
Vara mengangguk. "Ok Mama! Telima kacih!" ucapnya tersenyum.
"Sama-sama sayang!"
Ah! Akhirnya, aku tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk meminjam hp Mama! batin Vara bersorak gembira.
"Ayo kita ke bawah!" ajak Selvira.
Di ruang keluarga, kini mereka berkumpul untuk sarapan. Terlihat Arvin duduk di kursi kepala keluarga dengan memakai jas mahal.
Pria berusia 29 tahun itu, nampak tampan dengan tubuh yang kekar. Sayangnya, kata Vara percuma ganteng, kalau tidak setia.
Di samping kanannya, ada Amara bersama putrinya Lunaira yang sudah terlihat sangat bersemangat. Dan di samping kiri Arvin, ada Selvira dan Vara.
Arvin terbatuk kecil, untuk mencairkan suasana. "Ayo kita sarapan dulu! Setelah itu, kita ke butik. Tidak lama lagi, hari spesial untuk Lunaira. Jadi, kita akan membeli gaun, untuk pesta nanti!' ucap pria itu.
Lunaira tersenyum lebar. "Terima kasih Papa! Aku sudah tahu, gaun apa yang akan kubeli!" sahut bocah perempuan 6 tahun itu.
"Hmm ... sama-sama sayang!" ucap Arvin.
Semalam dia berdebat dengan Amara, karena sikap keluarga Vale. Jadi, sebagai permintaan maafnya pada istri keduanya.
Dia memenuhi permintaan Amara, untuk merayakan ulang tahun Lunaira dengan sangat meriah di hotel milik keluarga Vale.
Selvira tersenyum tipis. "Semoga semuanya berjalan lancar. Aku juga akan memesan gaun untuk Vara, saat pesta itu."
Amara tersenyum kepura-puraan. "Tentu Mbak. Tapi kupikir, anak kecil sepertinya tidak membutuhkan sesuatu yang terlalu istimewa!" sahutnya lembut tapi terdengar mengejek. Dia masih sangat kesal terhadap kejadian semalam.
Dih! Nih kunti bogel, emang kenapa kalau aku dapat yang istimewa?! Takut kalah saing sama anaknya yang titisan kunti yaa! batin Vara.
"Sudah! Ayo kita sarapan dulu!" ucap Arvin.
Akhirnya keluarga itu makan dengan tenang, sedangkan Vara berpikir bagaimana caranya untuk mencari tahu rahasia Amara.
Tak berselang lama, akhirnya mereka berangkat bersama. Terlihat dua mobil mewah berwarna hitam dan juga putih, sudah tersedia.
Selvira segera menarik lembut tangan sang putri untuk ke mobilnya yang berwarna putih. Membuat Arvin mengerutkan keningnya.
"Vira! Kita naik mobil yang sama!" ajak Arvin lembut.
Selvira menatap suaminya acuh. "Aku bersama Vira saja!" sahutnya datar.
Arvin menghela napasnya, dia tahu istri pertamanya masih kecewa dengan perbuatannya semalam.
"Ayo Mas! Hari sudah sangat siang!" ajak Amara menarik lengan Arvin.
Arvin mengangguk, kemudian melangkah masuk ke mobil berwarna hitam. Kedua mobil itu segera meluncur, diikuti oleh satu mobil pengawal Mahardika.
Setibanya di butik mewah, para staf segera menyambut mereka dengan ramah. Ruangan itu dipenuhi gaun-gaun cantik beraneka warna.
Mata Lunaira langsung berbinar, sementara Amara dengan gaya angkuhnya mengarahkan staf butik untuk membawa koleksi terbaik untuk putrinya.
"Bawakan saya koleksi gaun terbaik di butik ini untuk putriku!" ucapnya angkuh.
Di belakang ada Vara dan juga Selvira yang terlihat santai.
Dih! Kalau orang kaya baru mah gitu! Terlihat angkuh tapi norak! cibir Vara melihat kelakuan ibu dan anak itu.
Lunaira terlihat antusias mencoba gaun-gaun yang terlihat sangat cantik, tak henti-hentinya dirinya berputar di depan cermin.
"Papa! Lihat, gaun ini sudah cocok untukku, 'kan?" tanya Lunaira.
Arvin mengangguk. "Tentu sayang! Luna terlihat cantik!" pujinya.
Wajah Lunaira semakin sombong menatap Vara, sedangkan Vara hanya membalas dengan wajah polosnya. Meski dalam hati, Vara mencibir.
Amara juga ikut memiliki gaun, dengan wajah angkuhnya seolah ingin menunjukkan statusnya.
Selvira sama sekali tidak mempedulikan tingkah madunya itu. Dia memanggil staf untuk membawakan beberapa gaun untuk sang putri.
Beberapa menit kemudian, staf datang dengan membawa beberapa pilihan. Terlihat gaun-gaun itu hasil dari rancangan desainer terkenal sesuai pemilik butik.
Pilihan Selvira jatuh pada gaun berwarna biru pastel yang terlihat sederhana namun sangat elegan.
"Ayo sayang! Kamu coba yang ini!" ucap Selvira lembut.
Tak berapa lama, Vara keluar dengan gaun tersebut, Selvira tersenyum manis.
"Kamu suka sayang?" tanyanya.
Vara mengangguk polos, dia hanya mengikuti kemauan Selvira. Karena sebenarnya dia tidak suka terlalu feminim.
"Vala cuka!"
Di sudut kanan, terlihat Lunaira dan ibunya berwajah masam. Mereka tidak suka jika ada yang menyaingi mereka.
Sialan! Ibu dan anak itu tidak boleh terlihat lebih bagus dari aku dan putriku!
Diam-diam Amara membisikkan sesuatu pada putrinya. Lunaira terlihat mengangguk tersenyum lebar.
Ketika semua orang sibuk, diam-diam Lunaira mendekat ke arah beberapa gaun yang tergantung dengan membawa gunting yang diambil dari meja milik staf.
Dengan cepat dia merusak gaun biru pastel itu dengan wajah penuh kebencian. "Kau tidak akan bisa mengalahkan aku Vara!"
Lunaira pergi dengan tersenyum puas, setelah melihat gaun itu rusak. Tak lupa dia juga merusak gaun yang dikiranya milik Selvira. Sedangkan disudut lain, Vara hanya mengangkat alisnya sambil tersenyum kecil.
Kini semua berkumpul di area utama butik, terlihat seorang wanita 30 tahunan tersenyum ramah. Dia adalah seorang desainer terkenal sekaligus pemilik butik.
Kini beberapa staff kembali membawa gaun yang sudah dipilih, saat Amara dan Lunaira mencoba gaunnya kembali. Ibu dan anak itu tiba-tiba berteriak.
"Kenapa gaun milik kami rusak begini?!" teriak Amara geram.
Para staf kini saling pandang, mereka terlihat takut. Meski mereka tidak salah.
Arvin segera mendekat. "Ada apa ini?" tanya pria itu.
Amara menatap sang suami. "Mas! Gaun mahal yang sudah ku pilih dan Lunaira rusak! Pasti ada seseorang yang mencoba mensabotase!" ucap Amara, sambil melirik ke arah Selvira.
"Tunggu dulu! Bagaimana ini bisa terjadi! Bisa Anda jelaskan, Nyonya Megan!" ucap Arvin menatap sang desainer.
"Kami juga tidak tahu Tuan Arvin, sebelumnya. Hal ini tidak pernah terjadi!" jawab Megan tegas.
"Lalu ini apa?!" suara Amara terdengar khawatir dan marah. Sedangkan Lunaira kini mulai gugup, sepertinya dia salah merusak gaun.
"Atau jangan-jangan ini kelakuan Vara! Dia pasti iri karena ulang tahunnya kemarin, tidak dirayakan! Ayo ngaku kamu!" bentak Amara menunjuk Vara.
Vara berpura-pura ketakutan, lalu memeluk sang ibu. Membuat Selvira geram. "Jaga bicaramu Mbak! Apa kamu punya bukti, kalau putriku pelakunya?! Putriku masih polos dan tidak tahu apa-apa!" balas Selvira dengan suara tegas.
"Alah! Omong kosong! Pasti putrimu pelakunya! Ayo ngaku kamu!" Amara semakin mendesak Vara.
"Jangan sentuh putriku!" ucap Selvira menghalangi Amara.
"Cukup!" ucap Arvin dengan suara tegas. Dia sangat pusing melihat dua istrinya berdebat.
Pusingkan! Makanya jangan sok punya istri dua. Gak bisa adilkan kamu! batin Vara mengejek.
"Begini saja! Kami akan memeriksa cctv! Kami juga mengalami kerugian jika terjadi seperti ini!" ucap Megan.
"Ayo kita buktikan!" ucap Amara penuh percaya diri.
Lunaira kini terdiam dengan wajah gugup, tangannya saling bertautan karena merasa sangat takut.
Para pengunjung lain, ikut penasaran. Apakah perkataan wanita bergaun merah ( Amara) mengatakan kebenaran.
Tak lama staff itu memberikan iPad milik Megan, terlihat Megan menyuruh staffnya dibagian cctv untuk melihatnya.
Tak lama, wajah mereka nampak geram. Lalu menatap Lunaira hanya terdiam membisu dengan wajah pucat.
"Bagaimana?!" Arvin menatap penasaran Megan.
Tanpa berkata-kata, Megan sang pemilik butik memperlihatkan video cctv itu. Wajah Arvin memerah karena merasa malu dan geram.
"Lunaira! Kenapa kamu melakukan hal itu?!" bentak Arvin.
"Apa maksudmu Mas? Kenapa kamu memarahi Luna? Harusnya kamu memarahi Vara!" ucap Amara kesal.
"Diam kamu!" bentak Arvin membuat Amara tersentak.
"Lihat sendiri!" Arvin memperlihatkan cctv itu, membuat mata Amara membulat sempurna. Wajahnya memerah antara malu dan marah.
"Sudah tahu 'kan? Putriku tidak bersalah!" sahut Selvira geram.
"Ayo sayang! Kita pulang!" Selvira menarik lembut tangan Vara.
Sebelum pergi, diam-diam Vara memberikan salam jari tengah pada Amara. Membuat wanita itu semakin geram.
Ini belum seberapa! Lihat apa pesta putrimu akan berjalan lancar! batin Vara menyeringai.