Dikhianati tunangan dan kakak kandung, bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AgviRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Ayu duduk di dalam mobil, memandang ke luar jendela dengan mata yang berbinar-binar. Dia merasa bahagia dan bersemangat, karena hari ini dia akan kembali ke kampung halamannya bersama David dan Hani.
Mereka berangkat pagi-pagi, ketika matahari masih terbit di ufuk timur. Udara masih segar dan sejuk, dengan embun yang masih menempel di dedaunan. Ayu merasa seperti sedang memulai petualangan baru, dengan orang-orang yang dia cintai.
Tadinya Ayu ingin menyetir dan membawa mobil sendiri tapi, David memaksa untuk berangkat bersama.
David duduk di sebelahnya tengah menyetir, memandang ke arah jalan dengan mata yang tajam. Dia terlihat seperti seorang pria yang percaya diri dan kuat, dengan senyum yang lembut dan hangat. Ayu merasa bahagia karena telah menemukan orang seperti itu.
Sementara Hani duduk di belakang, memandang ke arah Ayu dengan mata yang penuh kasih sayang. Dia terlihat seperti seorang ibu yang hangat dan penyayang, dengan senyum yang lembut dan pengertian.
Mereka berbicara dan tertawa sepanjang perjalanan, dengan suasana yang hangat dan nyaman. Ayu merasa seperti sedang berada di dalam keluarga yang sebenarnya, dengan orang-orang yang dia cintai.
Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh, mungkin nanti sore mereka akan sampai tujuan dengan tepat waktu tapi, jika kondisi jalan lancar. Rencananya nanti David dan Hani akan menginap di sebuah Hotel terdekat.
Singkat cerita mereka saat ini telah tiba di sebuah hotel. Hotel yang tidak terlalu jauh dari rumah Ayu, mungkin hanya sekitar 20 menitan dari rumah Ayu. David memesan kamar untuk Hani beristirahat, sementara David akan mengantar Ayu pulang.
Akhirnya keduanya tiba juga di kampung halaman Ayu. Ayu merasa seperti sedang kembali ke rumah. Dia melihat rumah-rumah yang familiar, dengan pohon-pohon yang rindang dan sawah yang hijau. Dia merasa bahagia karena telah kembali ke tempat yang dia cintai.
Kemarin malam dia sudah mengabari kedua orang tuanya dan kakaknya Dina, jika dia akan pulang karena ada suatu hal.
Benar saja, ketika mobil David masuk kedalam halaman rumah Ayu. Rudi dan Sri terlihat tengah menunggu kedatangannya.
David memarkirkan mobil, dia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ayu. Mereka berdua menghampiri Rudi dan Sri.
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu."
Ayu mengucap salam dan menyalami kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumussalam wa rahmatullah, Nak. Alhamdulillah kamu sampai dengan selamat." Sahut Rudi.
David pun mengikuti Ayu menyalami Rudi dan Sri.
"Ini, calon suamimu, Nak?" Tanya Sri.
"Iya Bu, namanya David." Sahut Ayu.
Nah, suatu hal tadi adalah masalah David yang akan melamar Ayu. Acaranya akan dilangsungkan malam ini.
"Ayo, masuk dulu, tidak enak mengobrol di depan, pasti kalian juga merasa lelah kan?" Rudi mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah agar lebih nyaman untuk mengobrol.
Terlihat Dina sudah berada di rumah.
"Eh, sudah sampai ya? Cepat sekali sudah dapat calon pengganti, sudah gatel ya?" Dina tiba-tiba bersuara dengan sindiran yang sama sekali tidak ada sopan santunnya.
"Astaghfirullah, maksud kamu apa, Kak?" Tanya Ayu.
David memperhatikan wanita yang menghina Ayu. Tapi, dia hanya diam.
"Jaga bicara kamu, Dina. Kamu itu bukannya menyambut adikmu malah menghinanya." Rudi tersulut emosi.
Sri mengelus punggung suaminya agar mengatur emosinya.
"Kan benar, belum ada satu minggu saja, dia sudah mendapatkan pengganti Doni. Hei Masnya, kerja apa sampai adikku mau menerima kamu dengan secepat ini? Kamu iming-iming uang ya atau modal tampang doang?"
Dina berkata seperti wanita yang tak pernah dididik oleh kedua orang tuanya.
"Kak Dina, kamu ini apa-apaan? Semua itu bukan urusanmu, kamu ini aku kabari karena aku masih menghargai kamu sebagai saudaraku." Jelas Ayu. Ayu tidak terima dengan perkataan Dina.
Dina memutar bola matanya malas lalu berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Nak David, maafkan anak bapak ya, kita sangat malu dengan semua perbuatan apalagi perkataannya." Rudi sangat malu kepada David. Baru awal pertemuan sudah begini.
"Sudah, Pak. Tenang saja, saya tidak memasukkannya ke dalam hati kok." Sahut David dengan santai.
'Kalau bukan kakaknya Ayu, sudah ku pastikan kamu menyesal dengan ucapanmu.' Batin David.
Lalu mereka semua duduk di sofa.
Ayu pergi ke dapur untuk membuatkan minum. David yang ditinggal Ayu berbincang-bincang dengan Rudi dan Sri. Mereka sangat nyambung dan terlihat akrab, padahal baru saja kenal.
Setelah Ayu selesai membuatkan minum untuk mereka bertiga, Ayu kembali bergabung dan membawa minuman yang dia buat tadi ke ruang tamu. Dirasa waktu sudah cukup untuk mengobrol dan menyampaikan maksud untuk acara nanti malam, David ijin pamit.
Setelah David pergi, Ayu ijin ke kamar untuk bersih-bersih. Setelah itu dia membantu ibunya memasak untuk acara lamaran nanti malam. Ayu langsung turun ke bawah, ternyata ibunya sudah berada di dapur. Sri membeli beberapa bahan masakan, dan menu untuk nanti malam, Sri maunya bermacam aneka.
Ayu dan Sri tak merasa kelelahan justru mereka senang. Saat Ayu dan Sri sibuk di dapur, Dina dan Doni di dalam kamar terlihat sedikit bertengkar. Bagaimana tidak jika Doni saja selama menjadi suami Dina berubah acuh tak acuh dengannya. Dan Dina sendiri juga egois, tidak mau sedikit berubah. Apalagi tahu jika Doni laki-laki kere dan pekerjaannya hanya sebagai staf biasa.
Dina begitu menyesal menikah dengan Doni. Rencananya, Dina setelah ini tidak akan ikut pulang bersama Doni dan akan menetap di rumah kedua orang tuanya.
"Kamu itu hanya laki-laki kere, aku tidak sudi lagi bersamamu. Aku ini wanita, cantik butuh modal dan kamu tidak mampu memberikannya untukku. Aku benar-benar menyesal karena menikah denganmu. " Dina mengungkapkan penyesalannya secara gamblang kepada Doni tanpa memikirkan hati Doni.
"Kamu kira hanya kamu yang menyesal? Sama, aku pun menyesal menikah denganmu. Kamu itu hanya wanita murahan yang tahunya modal ngangkang saja." Sahut Doni yang juga tidak mau kalah dari Dina, bahkan Doni secara terang-terangan menghina Dina.
"Apa kamu bilang? Aku murahan? Hello, kamu sendiri apa? Kalau bukan karena kamu yang menggoda aku, aku tidak akan termakan bujuk rayumu yang seperti ikan lele itu. Keres aja belagu." Lagi-lagi Dina menyahut dengan tidak kalah nyelekit.
"Aku laki-laki tak masalah, sedang kamu, aku melakukan pertama kali denganmu saja kamu sudah tidak segel, pasti sudah banyak yang menjamah tubuh kamu itu. Oh, iya aku lupa. Kamu kan janda, aku jadi berpikir jika kamu kemarin bercerai dengan mantan suamimu itu karena sifat dan sikapmu yang seperti ini. Sekarang aku baru sadar, aku ini laki-laki bodoh yang mau dengan wanita sepertimu. Lebih baik aku mendekati Ayu lagi dan kembali bersamanya." Ucap Doni.
"Lakukan saja jika dia mau. Ku pastikan kamu akan ditolak mentah-mentah. Aku juga sudah tidak betah sama kamu. Lebih baik kita bercerai saja." Ucap Dina yang sudah tak tahan dengan Doni, padahal usia pernikahan mereka belum genap satu minggu.
"Oke, setelah acara nanti malam, akan aku ladeni ucapanmu itu." Sahut Doni bersungguh-sungguh.
Setelah mengucapkan itu Doni keluar dari kamar dan turun ke bawah ingin mencari udara segar di luar. Tapi, ketika dia melewati dapur, Doni melihat Ayu yang begitu berbeda. Menurut Doni, Ayu terlihat sangat cantik ketika memasak. Doni diam sejenak memperhatikan Ayu. Dia berpikir jika tidak ada ibu mertuanya dia akan memeluk Ayu dari belakang. Tapi, sayangnya itu hanya sebuah angan-angan saja. Setelah itu dia lanjut berjalan keluar. Dan di teras depan adalah tujuannya.
Terlihat Rudi datang dari luar.
"Dari mana, Pak?" Tanya Doni.
"Dari rumah Pak RT." Sahut Rudi singkat. Lalu pergi masuk meninggalkan Doni.
"Oh" Hanya itu yang keluar dari mulut Doni.
Rudi memang tidak akrab dengan Doni. Entah kenapa berasa tidak ada kecocokan, bahkan mengobrol saja sama sekali tidak nyambung.
*****
Malam pun tiba. Di rumah Rudi sudah ada Pak RT dan dua orang saksi. Tidak lama datang sebuah mobil masuk halaman rumah. Lalu Rudi menyambut kedatangan David bersama Hani. Hani membawa seserahan untuk Ayu di bantu David dan kedua saksi dari Ayu. Mereka langsung masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Seserahan di letakkan di meja yang sudah di siapkan oleh keluarga Ayu.
Dina yang sedari tadi juga sudah ikut dengan ibunya menganga dan iri dengan seserahan yang dibawa oleh David untuk Ayu. Semua yang dijadikan seserahan adalah barang mahal dan branded.
Mereka semua duduk di tempat yang sudah disiapkan. Rudi meminta Sri untuk memanggil Ayu agar segera turun.
Sri dan Ayu turun, David melihat Ayu tidak berkedip. Padahal Ayu hanya memoles tipis wajahnya yang ayu itu. Tapi, menurut David, Ayu begitu berbeda dan membuat David terhipnotis.
Setelah Sri dan Ayu ikut bergabung, Hani menyampaikan maksud kedatangannya.
"Selamat malam bapak ibu calon besan, Pak RT dan sekalian, saya disini ingin membicarakan maksud kedatangan kami kesini. Tidak perlu panjang lebar ya Pak, Bu. Di sini anak saya memiliki niat baik ingin melamar anak Pak Rudi yang bernama Ayudisa untuk menjadi istri dari anak saya. Bagaimana?"
"Saya sebagai orang tua dari Ayu. Hanya mengikut saja, Bu. Jelasnya kita tanyakan saja kepada Ayu. Bagaimana Nak, apakah kamu menerima lamaran anak dari ibu Hani?"
"Saya menerimanya, Pak." Jawab Ayu tanpa ragu sedikitpun.
"Alhamdulillah." Semua yang berada di situ mengucap hamdalah kecuali Doni dan Dina.
"Pak, Bu, maaf, ini hantaran dari kami, tolong diterima." Hani memberikan hantaran uang sebesar 111.000.000 rupiah.
Dina membulatkan matanya, tak terima jika adiknya nanti bahagia.
"Maaf, Bu, apa ibu tahu kalau adik saya ini pernah gagal menikah dan itu belum genap seminggu ini. Saya heran kenapa ibu mau-maunya merestui anak ibu dengan adik saya ini. Sayang Bu uang segitu hanya untuk adik saya." Sangat terlihat sekali dari nada bicara Dina yang terlihat iri dengan Ayu.
"Kamu ini bicara apa Dina? Lebih baik kamu diam. Doni, atur istrimu itu." Tegur Rudi.
"Maafkan anak saya bu, sudah lancang." Sambung Rudi.
"Saya sudah mengetahui semuanya, Pak. Dan saya tidak mempermasalahkan semua itu. Bagi saya asal anak saya bahagia." Jawab Hani begitu santai.
"Terima kasih Bu, sekali lagi maaf." Ucap Rudi.
Sedari tadi David menahan amarahnya, tangannya mengepal dengan sangat kuat. Tapi, ketika melihat Ayu, dia seperti lemah tanpa daya.
"Oh iya Pak Rudi, saya minta pernikahan kedua anak kita dilangsungkan dua hari lagi, semuanya kami yang akan mengurus. Bapak dan keluarga tinggal terima bersih saja. Karena kondisi saya juga tidak memungkinkan. Bagaimana?" Ucap Hani menyampaikan keinginannya.
"Jika Ayu sudah setuju, kita sebagai orang tua hanya mengikuti, Bu." Jawab Rudi pasrah.
Acara pun dilanjutkan dengan makan malam bersama.
Setelah selesai Hani dan David ijin pamit. Pak RT dan kedua saksi juga pamit. Rudi dan Sri masuk ke dalam kamar begitupun dengan Ayu. Mereka akan melanjutkan mengobrol esok hari.
Sementara Doni dan Dina kembali bertengkar.
"Kamu ini benar-benar hanya bisa membuat malu." Ucap Doni.
"Malu kenapa? Semua yang aku bicarakan fakta." Jawab Dina.
"Dina Dina, kamu memang tidak pernah berpikir dulu sebelum berucap, aku benar-benar sudah jengah dan muak denganmu. Lebih baik kita beneran cerai." Ucap Doni sudah tak dapat menahan rasa jengah nya terhadap Dina.
"Oke, lakukan saja, siapa takut." Ucap Dina.
"Baiklah, Dina, mulai saat ini kamu bukan istri dan tanggungjawab ku lagi, mulai malam ini kamu ku talak tiga." Ucap Doni.
Lalu Doni keluar kamar pergi meninggalkan Dina dan turun untuk tidur dikamar tamu. Doni sudah tidak bisa menahan amarahnya, dia sudah sangat jengah dengan sikap Dina. Baru kali ini dia tak dihargai sama sekali sebagai laki-laki. Doni saat ini mau menenangkan pikiran supaya tetap waras. Urusan Dina akan dia bicarakan besok dengan Rudi.
Setelah dia membaringkan tubuhnya di kamar tamu, dia menelpon Tya kekasihnya sebelum dia bersama Ayu. Yah untuk apalagi kalau bukan buat menyalurkan hasratnya melalui media video call.