"Mas kamu sudah pulang?" tanya itu sudah menjadi hal wajib ketika lelaki itu pulang dari mengajar.
Senyum wanita itu tak tersambut. Lelaki yang disambutnya dengan senyum manis justru pergi melewatinya begitu saja.
"Mas, tadi..."
Ucapan wanita itu terhenti mendapati tatapan mata tajam suaminya.
"Demi Allah aku lelah dengan semua ini. Bisakah barang sejenak kamu dan Ilyas pulang kerumah Abah."
Dinar tertegun mendengar ucapan suaminya.
Bukankah selama ini pernikahan mereka baik-baik saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah beneran.
Kim So-hyun Hassan gegas mengetik di pencarian google, tapi tidak ada hasil.
Ia mencoba ingat-ingat lagi yang di katakan Dinar. Sekali lagi ia mencari di kolom pencarian. Kali ini di dobel O nya.
Kim Soo-hyun.
Klik!
Mata Hassan terbelalak melihat hasil pencariannya.
"Allah ya Karim.." Hassan nyebut seketika. Apa Dinar nggak salah ngomong?
Tampan artis itu kemana-mana, dilihat dari manapun, tak ada kesamaan antara ia dan Kim Soo-hyun.
Tapi tak tahu mengapa bibir Hassan tertarik ke atas ketika menyadari penilaian Dinar untuknya.
Bukankah pria di gambar itu tampan? Jika dibilang mirip berarti ia tampan bukan?
Aduh! Kok Hassan jadi deg-degan begini?
"Kok malah cengar-cengir sendiri?" tanya Kiai Ahmad Sulaiman yang sudah duduk di sampingnya.
Hassan agak kaget, ia tidak melihat abahnya, mungkin terlalu fokus pada layar di depannya.
"Piye, kamu sudah ngomong sama Dinar, jadi bagaimana keputusanmu?"
Keputusan?
"Abah sendiri bagaimana? Apa Abah percaya jika Hassan bisa menjaga Dinar?" Hassan bertanya balik.
Kiai Ahmad Sulaiman mengangguk mantap. "Sangat percaya, Abah tidak meragukan kasihmu pada Dinar."
Hassan mengulas senyum, bersyukur hatinya tidak diragukan.
"Tapi Hassan, Dinar tak lagi sama dengan Dinar yang kamu kenal dulu." Ternyata Umi Zalianty ikut duduk di samping Hassan untuk bicara pada putranya. "Bahkan dia nggak tertarik sama sekali sama hijab, panas katanya."
Umi benar, bahkan sekarang Dinar tak lagi gemar menonton kisah sahabat nabi dan kisah tauladan, tapi justru drama Korea.
Ingin rasanya Hassan berkata demikian, tapi tidak ingin memperumit pemikiran orang tuanya, ia hanya perlu restu.
"Hassan mencintai Dinar karena Allah, Hassan tidak perduli Dinar sehat ataupun sakit. Dengan hidup berdampingan dengan Dinar saja Hassan sudah bersyukur, Abah, Umi."
Hati orang tua mana yang tidak luluh mendengar ungkapan cinta yang setulus itu? Begitu juga sepasang suami istri yang kini tengah berbahagia. Kiai Ahmad Sulaiman dan Umi Zalianty mantap dengan keputusannya untuk segera menikahkan Dinar dengan Hassan.
Menghindari cemooh orang lain, Kiai Ahmad Sulaiman meminta Hassan membawa Dinar di kota yang berbeda.
Dan disinilah Hassan dan Dinar sekarang, di satu meja makan dengan kedua orang tuanya.
"Aku bisa sendiri." tolak Dinar pada Mbak Tutik yang akan membantunya pindah ke kursi meja makan.
"Hati-hati," pinta Umi Zalianty pada putrinya.
Malam ini Hassan melihat Dinar yang lama. Sebab perempuan itu telah mengenakan pakaiannya sendiri dan juga hijab yang menutupi kepalanya.
Tapi sikap yang ditunjukkan Dinar saat ini sangat berbanding terbalik dengan sikap wanita itu sebelumnya.
Kiai Ahmad Sulaiman memulai do'a, sebelum memulai sarapan pagi bersama.
Usai sarapan. Kiai Ahmad Sulaiman membuka obrolan pada Dinar.
"Yang ingin aku tahu, apakah benar kami sebelumnya adalah pasangan kekasih? Kita dekat dan memang merencanakan untuk menikah?" menghadapi pertanyaan tak terduga dari Dinar, semua diam, Kiai Ahmad Sulaiman bahkan beradu pandang dengan Hassan.
"Masalahnya saat ini aku nggak ngerasain apa-apa sama dia,"
Sakit. Tapi Hassan tidak menyalahkan ucapan Dinar.
Karena Hassan bisa melihat seberapa besar cinta Dinar untuk mendiang suaminya dulu.
"Tapi, aku nggak nolak kamu kok, aku hanya takut akan ngecewain kamu kalau kita nikah, sebab aku yang tidak tahu apapun tentang kamu dan juga yang nggak ngerti apa-apa."
"Bagiku dengan kamu setuju itu sudah sangat cukup." pungkas Hassan.
"Kalau begitu ayo nikah, siapa takut."
Hassan meringis di tantang seperti itu, ia hanya mampu melirik pada Kiai Ahmad Sulaiman dan Umi Zalianty yang ikut menggeleng lemah seolah berkata 'semua terserah padamu'
*******
Satu hari berlalu lagi.
Rencananya malam ini Hassan akan datang ke pondok pesantren Al-Hasan karena akan menikahi Dinar di sana.
Tapi Dinar tidak mau hadir, dengan seribu alasan yang Hassan sendiri tidak mengerti.
Maka dari itu Hassan meminta pendapat Kiai Ahmad Sulaiman dan pemuka agama lainnya.
"Hadir atau tidak hadirnya Dinar, pernikahan akan tetap sah. Kalian bisa bertatap muka lewat ponsel, tanpa pun, tetap sah. Sebab pernikahan kalian sudah atas persetujuan bersama."
"Bagaimana, Abah?" tanya Hassan.
"Tanyakan pada hatimu."
"Hassan tidak keberatan, asal pernikahan kami terlaksana."
Umi Zalianty menatap sendu putranya. Setidaknya yang beliau tahu, perjalanan rumah tangga Hassan dengan Dinar tampaknya tidak akan mudah.
Dinar benar-benar seperti kertas kosong yang membutuhkan tinta yang banyak untuk mengisinya. Yang di katakan tinta adalah kesabaran, dan keikhlasan menemani dan membimbingnya.
Tapi sebagai seorang Ibu dia hanya mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Malam itu, di saksikan ratusan santri. Hassan mengikat Dinar dalam tali pernikahan.
Saat kata sah terdengar. Tak terasa air matanya jatuh menitik.
Inilah awal perjuangannya.
Berjuang untuk mendapatkan hati seorang Dinar.
Dan Hassan mengawalinya dengan kata basmalah.
******
Saat Hassan pulang, Dinar sudah terlelap. Hassan membersihkan diri sebelum ikut merangkak naik ke atas tempat tidur.
Tangannya terulur mengusap wajah cantik dan mungil di hadapannya. Perempuan ini. Hassan tak menyangka akan mengarungi rumah tangga bersamanya. Hidup dengan segala baik buruk masa lalunya.
Apa ia sanggup menghapus Irham dari hati perempuan ini? Dan menggantinya dengan nama Hassan serta anak-anak mereka nanti.
Dinar melenguh. Saat Hassan membenarkan posisi tidurnya. Saat Hassan hendak membaringkan tubuhnya, tiba-tiba suara Dinar terdengar.
"Kamu sudah pulang?" Dinar merubah posisi tidurnya. "Udah selesai nikahin akunya?" tanyanya lagi.
"Iya." jawab Hassan singkat.
"Kok nggak terasa?"
Apanya?
Hassan hanya berdehem seraya tersenyum tipis. Ia tak menjawab, tetapi justru mengusap lembut wajah Dinar dengan tangannya. "tidur lagi. Besok kita harus berangkat pagi," ucap Hassan dengan suara serak dan parau. Jika Dinar tidak tidur sekarang, Hassan takut pertahanannya terhadap kecantikan Dinar bisa runtuh tak berbentuk.
"Tapi aku sudah di nikahi beneran kan?"
Allahuakbar.
Hassan mengangguk seraya mengusap lembut rambut Dinar yang tergerai bebas, harum, lembut, dan wangi. Hassan berharap bisa menghirup aromanya secara langsung dengan hidung dan bibirnya kelak.
"Aku beneran nggak ngerasain apa-apa. Mungkin belum dan butuh proses untuk aku bisa ngerasain itu." gumam Dinar yang bikin Hassan gagal paham.
"Kamu mau ngerasain apa?" akhirnya pertanyaan itu tak sanggup Hassan tahan.
"Seperti yang kamu rasakan!"
Kening Hassan mau tidak mau membentuk lipatan. Tapi setelahnya giliran seluruh tubuhnya yang menegang.
"Benarkan? Disana detaknya biasa aja." tanya Dinar polos. Kelewat polos sampai membuat Hassan hampir jantungan.
Entah bagaimana tiba-tiba tangan Hassan sudah di tarik Dinar tepat di atas dadanya.
Memang hanya tangannya yang di tarik dan di letakkan di dada Dinar, tapi seluruh tubuh Hassan serasa di setrum.
Hassan gegas menarik tangannya. Bukan apa dia tak ingin kebablasan.
"Eh, sakit." keluh Dinar yang membuat Hassan kaget
Apanya sakit?
"Dadaku kena kuku mu! Aku kan nggak pake bra!"
"Ha?"