NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Persiapan Pengantin Wanita

“ Acara belum selesai, Jihan. Duduk lah” Rahez tidak memberikan izin.

Jihan mengabaikan Rahez. Ia berdiri dari kursinya. Sebuah penghinaan halus di depan kerabat dan pejabat penting. “Gaunku kotor aku tidak nyaman. aku akan kembali ke kamarku.”

Adreena langsung kesal, ekspresi marah muncul di wajahnya. “Jihan, duduk! Ini adalah pesta kehormatanmu! Kau tidak bisa pergi begitu saja! Itu tidak sopan!” berbisik keras kepada Jihan.

Rahez matanya menyipit penuh peringatan. Ia menggeretakkan gigi sedikit, marah karena Jihan lagi-lagi menguji kesabarannya di depan umum.

“Jihan. aku tidak mengizinkanmu.” Ucap rahez dengan tegas menahan amarah

Jihan menatap Rahez. Jihan tidak peduli dengan ancaman Rahez. “Aku sudah berjanji akan menikah. Gaunku kotor. Dan malam ini, aku lelah. Aku butuh istirahat”

Jihan tidak menunggu jawaban. berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan.

Rahez memejamkan mata sesaat untuk mengendalikan amarahnya. Wajahnya tegang. Ia tidak bisa berteriak di depan Daniel dan para kerabatnya.

Daniel tertawa canggung, mencoba meredakan suasana. “Wanita muda. Penuh tekanan,” ujarnya sambil mengibaskan tangan dengan santai. “Biarkan saja dia, Rahez. Kau tahu sendiri, pengantin wanita selalu menjadi sedikit... emosional.”

“Ya, Paman. Tentu saja. Dia hanya sensitif akhir-akhir ini,” ujarnya dengan suara yang berat dan ditekan. “Permisi sebentar.” Rahez bergegas berdiri, mengikuti Jihan.

“Jangan, Rahez! Jangan kejar dia!” Cegah adreena, Adreena segera menarik tangannya.

“Itu akan membuat keributan di depan tamu. Biarkan dia. Pengawalnya ada di sekitarnya. Dia tidak akan lari. Jangan merusak malam ini!.” Adreena berbisik cepat.

Rahez menghela napas kasar. Ia menuruti Adreena. Ia kembali duduk, amarahnya tertahan.

Mahreya menatap kepergian Jihan. Senyum tipis, penuh kemenangan, tersungging di bibirnya. Ia melihat air mata yang tidak bisa Jihan sembunyikan sepenuhnya saat Jihan membalikkan punggungnya.

Rahez melirik cepat ke arah Zaffer, yang berdiri diam di dekat dinding. menyampaikan perintah yang tak terucapkan kepada Zaffer,  Pastikan dia tidak berbuat masalah di kamar. Beri peringatan tegas. Jangan sampai dia merusak acara besok.

Zaffer mengangguk kecil, tanpa ekspresi, memahami perintah tersebut. Ia segera menggerakkan jarinya ke earpiece komunikasi dengan pengawal di koridor, memperketat pengawasan terhadap kamar Jihan.

“Maaf, Paman. Hanya sedikit sensitivitas pra pernikahan,” ujarnya dengan nada datar yang kembali terkontrol. “Mari kembali ke topik saham. Mengenai kenaikan 15% itu, aku yakin kita bisa mencapai angka 20%. Asalkan, kita memasukkan klausul Teknologi Pertahanan.”

“Klausul yang brilian! Itu akan membuat aliansi kita tak tertandingi di Timur Tengah dan Asia Tenggara!” Daniel mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke arah Rahez. “Mari kita bersulang... untuk kecerdikanmu, dan tentu saja, untuk pengorbanan yang sangat berharga ini.”

Rahez mengangkat gelasnya, matanya menatap tajam, mengabaikan fakta bahwa pengabaian itu adalah adiknya sendiri yang kini menangis di lantai atas.

Saat Jihan menghilang, Helena dan Marisa bertukar pandang lagi. Kali ini, pandangan itu lebih lama dan penuh makna.

Helena Berbisik “Dia tidak baik-baik saja, Marisa. Dia butuh bantuan.”

Marisa Mendesah, realismenya kejam “Dia adalah Marculles mulai besok, Helena. Bantuan yang dia butuhkan tidak bisa kita berikan. Dia baru saja menunjukkan kepada kita betapa tingginya harga yang harus dibayar.”

—-

Dikamar Jihan

Jihan duduk di tepi ranjang. matanya yang menahan emosi, kini tidak bisa dikendalikan lagi. Air mata mulai mengalir deras, membasahi pipinya yang dingin.

Tangisannya mengguncang tubuhnya yang lelah, ada rasa jijik, kesedihan atas Jinan, dan ketakutan akan pernikahan esok hari menjadi satu ledakan emosi.

Jihan meraih ponsel kecil yang berhasil ia sembunyikan dari pengawasan para pengawal, ia ingin menghubungi nama yang ia rindukan Zeiran, Tapi Jihan tidak ingin melibatkan nya terlalu jauh apalagi saat ini zeiran sudah banyak merepotkan untuk mengurus adiknya.

Gagang pintu berderit, Jihan menaruh ponsel itu ke kekasurnya, mengusap cepat air mata di pipinya.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan. Zaffer, masuk setelah mendapat persetujuan pengawal. Ia masuk, ekspresinya datar dan tanpa emosi, mendekati Jihan.

“Nona Jihan. Saya datang atas perintah Tuan Rahez. Anda tidak seharusnya meninggalkan pesta. Itu adalah penghinaan. Ini adalah peringatan terakhir sebelum pernikahan besok. Jaga sikap Anda. Tuan Rahez tidak akan mentolerir perilaku yang merusak citra lagi. Ingat konsekuensinya.”

Jihan hanya menatap Zaffer dengan tatapan tajam dan lelah, tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Tepat saat Zaffer akan berbalik, Marisa tante nya jihan masuk ke kamar. “Zaffer. Aku akan berbicara dengan keponakanku. Kau sudah menyampaikan pesan dari Rahez. Sekarang pergilah. Aku akan pastikan dia bersikap baik besok.” nadanya tegas dan sedikit tajam

Zaffer melirik Marisa. istri pejabat garrdio yang oleh diangkat dukungan Rahez, ia tidak bisa menolak. Ia membungkuk kaku. “Baik, Nyonya Marisa.”

Zaffer keluar, menutup pintu di belakangnya.

“Jihan… aku tahu kau sedang tertekan, Semua orang bisa melihat kesedihanmu, terutama di pesta tadi, Tapi sikapmu itu tidak pantas” Marisa nada nya lembut dan pelan.

Marisa menggenggam tangan Jihan, ekspresinya dipenuhi kepedulian. “Aku sudah bicara dengan Rahez, Kali ini biar aku yang menyampaikannya padamu, Aku hanya takut, kalau kakakmu sampai memarahi atau… lebih dari itu,, aku berharap besok kau tidak melakukan kesalahan yang sama.” ucapnya dengan nada yang sangat lembut namun tajam

“ Aku hanya ingin kau aman. Bisakah kau berjanji padaku?” Lanjut ucapannya dengan nada rendah.

Jihan menarik tangannya dari genggaman Marisa. Lalu menatap dengan dingin, senyum dingin dan tipis tersungging di bibirnya. rahangnya mengeras.

“Kau tak perlu pura-pura peduli padaku, Tante. Aku punya caraku sendiri,” desis Jihan dengan suara serak yang mengirimkan rasa dingin ke tulang belakang Marisa. “Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini?”

Marisa mengernyit, kaget. “Apa maksudmu? Aku datang ke sini sebagai keluargamu. Aku ingin memastikan kau baik-baik saja.”

Jihan tersenyum tipis, getir, menoleh dengan tatapan yang tajam. “Baik-baik saja? Tante pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan? Kau pikir aku sebodoh yang kau kira? Aku selalu tahu.” Jihan mengucapkannya tanpa berkedip.

“Kau sama dengan mereka, Tante. Kau mendukung kakakku, Rahez, untuk merebut kekuasaan dari Ayahku," bisik Jihan dengan suara serak menahan amarah yang mulai meledak.

Jihan melirik sinis, senyum tipis yang penuh penghinaan tersungging di bibirnya. "Kau bersekutu dengan Daniel dan Mahreya. Kenapa? Demi menaikkan jabatan suamimu, paman Garrdio."

Ia menjeda kalimatnya sejenak. "Kalian mengorbankan keluargaku, darah dagingmu sendiri, demi kursi politik.”

Wajah Marisa yang elegan seketika menjadi tegang. Kata-kata Jihan terlalu akurat, terlalu tajam. Ia terpojok.

Marisa Nada suaranya naik, dipenuhi emosi dan penolakan “ Jihan! Jaga bicaramu! Kau sudah melewati batas! Aku sangat peduli pada keponakanku! Aku tidak ingin sesuatu yang terburuk terjadi padamu! Tapi seperti inikah dirimu, Jihan?! Menuduhku setelah aku mencoba melindungimu dari murka Rahez?!”

Jihan Hanya tersenyum tipis.“ Tentu saja aku menuduhmu. Aku tidak akan pernah percaya pada siapa pun yang berada di pihak Rahez.”

Marisa menatap Jihan dengan kecewa yang palsu “ Aku tidak akan berdebat denganmu lagi. Jika kau tidak ingin mendengarku, itu urusanmu. Tapi ingat, Jihan. Kau tidak punya siapa-siapa lagi.”

Marisa berbalik dan meninggalkan kamar Jihan. Pintu dikunci kembali.

Jihan menunggu beberapa saat hingga suara langkah Marisa menjauh. Air matanya sudah kering.

——

di Pagi Hari

Jihan duduk di kursi depan cermin besar. Wajahnya telah dirias dengan sempurna oleh MUA, mata hazel nya yang indah terus-menerus mengalirkan air mata, merusak riasan yang baru saja selesai. Gaunnya yang mewah dan berlapis-lapis masih dalam proses perapihan oleh desainer.

Gaun pengantin putih gading dengan hiasan benang emas sudah melekat di tubuhnya, menjuntai indah sampai lantai, Asisten desainer sedang merapikan gaun bagian bawah, yang lain memasangkan mahkota tipis berkilau di rambutnya yang telah ditata rapi, Kalung berlapis berlian menggantung di lehernya, Semua terlihat sempurna.

Namun wajah Jihan basah oleh air mata, Ia menatap bayangannya di cermin dengan tatapan kosong, matanya sembab, tangisnya tak juga reda.

Seorang MUA mendekat, menyentuh bahunya pelan, “Nona… tolong jangan menangis terus,” bujuknya dengan nada cemas. “Riasan Anda akan rusak. Anda sangat cantik hari ini… riasan ini akan luntur dan mata Anda akan bengkak.”

Jihan terdiam dan tidak menjawab. Hanya terisak pelan, dadanya merasa sesak.

Pintu kamar terbuka. Adreena masuk dengan langkah anggun, gaunnya berkilau, senyum tipis menghiasi wajahnya, Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan, memastikan semuany bekerja sempurna.

“Bagaimana persiapannya? Sudah hampir selesai?” tanyanya dengan nada memerintah. “Pastikan dia terlihat sempurna.”

Salah satu asisten perias buru-buru menunduk. “Ya, Nyonya. Hampir selesai, Tinggal sedikit sentuhan akhir. Nona Jihan sangat cantik.”

Adereena menatap Jihan dari pantulan cermin, tatapannya mengejek “Ah, ya. Tentu saja dia cantik.” sahut Adreena dengan nada datar yang dingin. “Dia selalu cantik, bukan?”

Adreena melangkah maju, berdiri tepat di belakang Jihan. Ia mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya berada di dekat telinga Jihan.

“Lihatlah dirimu, Jihan,” bisik Adreena dengan nada manis yang memuakkan. “Cantik sekali… benar-benar seperti putri kerajaan. Siapa pun pria yang menikahimu hari ini pasti merasa beruntung.”

Jihan menatap dirinya di cermin, namun tetap diam, Tak ada jawaban, tak ada reaksi. Hanya air mata yang jatuh lagi, membasahi pipinya.

“Jangan pasang wajah mayat seperti itu,” sindir Adreena dengan senyum sinis yang tertangkap jelas di cermin. “Semua orang di ruangan nanti pasti tak akan bisa melepaskan pandangan darimu. Berusahalah untuk terlihat bahagia meski itu hanya palsu.”

Adreena pergi dengan senyuman manis diwajahnya sambil melihat Jihan dicermin.

Setelah selesai menata hiasan Jihan berdiri kaku di depan cermin besar, jemarinya bergetar menggenggam bagian gaunnya. Air matanya jatuh tanpa henti.

“Tinggalkan aku… sebentar saja… aku ingin sendiri.”Jihan lirih, bergetar

Para desainer dan perias saling berpandangan, ragu, namun akhirnya menunduk dan keluar, menutup pintu dengan hati-hati, Begitu pintu tertutup.

Jihan melangkah dan jatuh terduduk di tepi ranjang, tangisnya pecah, di antara jemarinya yang halus, ia menggenggam sebuah botol kecil, Cairan bening, Jihan menatapnya dalam diam, Pandangannya tak bergeser sedikit pun, hanya terpaku pada cairan itu.

Jihan Berbisik. “Aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak bisa menikah..” suaranya dipenuhi putus asa.


Ia mengangkat botol itu mendekat ke wajahnya, matanya basah, Ia tahu apa yang bisa dilakukan benda itu,  betapa mudahnya mengakhiri hidupnya dalam satu tegukan.

——-

Disisi lain rumah sakit

Suara monitor jantung terdengar tak beraturan

beep... beep... beep...

semakin cepat, semakin kacau, Lampu-lampu ruang ICU menyorot dingin, memantulkan wajah pucat seseorang yang terbaring tak berdaya di atas ranjang, Tubuhnya penuh selang dan infus, napasnya tersengal di bawah alat bantu pernapasan.

Para dokter dan perawat berhamburan masuk, langkah mereka tergesa, wajah mereka menegang.


“Tekanan darahnya turun lagi!” seru seorang perawat.


“Tambahkan dosis adrenalin  cepat!” perintah dokter utama dengan suara keras namun gemetar.

Mesin pemantau berbunyi nyaring, garis pada layar melonjak lalu menurun tajam, Perawat mengganti cairan infus, yang lain menekan dadanya dengan ritme cepat, Setiap hentakan tangan di dada Jinan seperti pertarungan antara hidup dan mati.

“CPR, sekarang!”

“Siapkan defibrillator!”

Ruangan dipenuhi hiruk-pikuk napas terengah dan instruksi medis yang bersahut-sahutan, Keringat menetes dari pelipis para dokter.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!