NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Ruang Tangis

Pintu beton di belakang mereka tertutup dengan dentum hidrolik yang berat, menyisakan kesunyian yang mencekam. Li Wei masih terpaku di ambang pintu, sementara cahaya neon putih yang terlalu terang dari langit-langit laboratorium memantul pada pelat zirahnya yang kusam. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, memicu denyut nyeri di bahu kirinya yang masih terluka akibat terjangan peluru Kapten Feng di gudang besi sebelumnya.

"Li Wei, kau dengar itu?" tanya Chen Xi, suaranya sangat rendah hingga hampir tenggelam oleh dengung mesin. Ia melangkah tertatih, menyeret kakinya yang cedera akibat benturan keras dengan kontainer logam di pelarian sebelumnya. "Suara mesin tadi... dia menyebutmu Perwira Tinggi 09."

Li Wei tidak menyahut. Matanya bergerak lambat, menyapu barisan tabung kaca raksasa yang berbaris seperti tentara dalam diam. Cairan biru di dalamnya berpendar, menyinari wajahnya yang pucat di balik masker zirah. Ia merasakan getaran di sumsum tulang belakangnya, sebuah resonansi yang menyakitkan antara sistem sarafnya dengan frekuensi lab ini.

"Fasilitas ini dikelola oleh Kekaisaran," gumam Li Wei, suaranya parau dan getas. "Tapi tidak ada dalam catatan militer yang pernah aku baca. Ini bukan sekadar gudang logistik."

Xiao Hu menarik ujung jubah Li Wei, jemari kecilnya gemetar hebat. "Kak... tempat ini sangat sedih. Aku bisa mendengar suara orang menangis di dalam dindingnya. Bukan suara mesin, tapi suara... jiwa yang ditarik paksa."

"Jangan bicara sembarangan, Xiao Hu," sela Chen Xi, meski ia sendiri mulai memindai terminal data di dekat pintu dengan wajah cemas. "Ini adalah Lab Qi-Battery tingkat tinggi. Aku sudah sering mendengar desas-desus tentang tempat ini saat masih di Naga Laut, tapi aku tidak pernah mengira skalanya sebesar ini."

Li Wei melangkah maju, bot militernya mengeluarkan bunyi klik yang tajam di atas lantai keramik yang steril. Ia berhenti tepat di depan sebuah tabung besar yang memiliki label logam berkarat di dasarnya. Matanya membelalak.

"Klan Li... Subjek #07," bisik Li Wei. Tangannya yang mengenakan sarung tangan taktis perlahan menyentuh kaca yang dingin. "Itu Paman... Paman Zhang."

"Apa?" Chen Xi bergegas mendekat, mengabaikan rasa nyeri di kakinya. Ia menatap label itu, lalu menatap Li Wei. "Klanmu... mereka bilang klanmu habis dibantai karena pengkhianatan politik, bukan?"

"Itu yang mereka katakan padaku," Li Wei mengepalkan tinjunya hingga terdengar derit logam zirah. "Mereka bilang keluargaku mati dengan terhormat di medan perang sebagai penebusan. Tapi ini... paman saya tidak mati di medan perang. Dia dijadikan baterai."

"Lihat ini," Xiao Hu menunjuk ke arah barisan tabung di sebelah kiri yang lebih gelap. "Tabung ini memiliki kode frekuensi yang sama dengan chip saraf yang pernah Kakak Han berikan padaku. Ini bukan sekadar energi, Kak. Ini ekstrak emosi."

Li Wei berputar, menatap ke arah tabung-tabung yang lebih dalam. Cahaya biru itu tiba-tiba terasa seperti api yang membakar matanya. Di ujung lorong, sebuah tabung berdiri terpisah, diselimuti oleh kabel-kabel bio-organik yang berdenyut seperti nadi. Label di sana terbaca dengan jelas: Klan Li - Subjek Utama #09.

"Itu tempatmu, Li Wei," suara Chen Xi terdengar ngeri. "Nomor seri itu... kau adalah satu-satunya yang berhasil 'keluar' dari sini. Kau bukan sekadar perwira. Kau adalah produk eksperimen yang mereka sebut sebagai keberhasilan."

"Aku bukan produk," desis Li Wei. Napasnya mulai memburu, mengirimkan sinyal peringatan pada komponen penstabil saraf di punggungnya. "Aku adalah manusia."

"Tapi sistem ini tidak menganggapmu begitu!" Chen Xi berteriak, suaranya memantul di dinding lab. "Lihat log data ini! Mereka memanen rasa sakit keluargamu untuk mengisi energi senjata yang kau gunakan! Setiap kali kau mengaktifkan pedangmu, kau meminum darah mereka!"

Li Wei terhuyung ke belakang. Bayangan-bayangan buram dari masa kecilnya yang hilang mulai menghantamnya—suara tangisan ibunya, bau antiseptik yang sama, dan rasa sakit saat jarum-jarum saraf menembus tulang belakangnya. Ia menatap Bailong-Jian di pinggangnya dengan rasa jijik yang luar biasa.

"Jadi ini harganya?" Li Wei tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Martabat yang kubela selama ini hanyalah kebohongan yang dibangun di atas tabung-tabung berisi mayat keluargaku sendiri?"

Xiao Hu mendekati Li Wei, ia tidak takut pada kemarahan yang meluap dari pria itu. Gadis kecil itu mengeluarkan kotak musik tua dari tas mekaniknya, lalu memutar tuasnya. Suara denting musik yang lembut mulai mengalun, mencoba membelah atmosfer dingin yang mencekat.

"Kak Han bilang, jika dunia mulai terasa seperti mesin yang tidak punya hati, kita harus membawa musik kita sendiri," ucap Xiao Hu lembut. Ia meraih tangan Li Wei yang gemetar hebat. "Jangan biarkan mereka mengambil hatimu juga, Kak."

Li Wei menatap tangan kecil Xiao Hu yang menggenggamnya. Getaran di tubuhnya mulai mereda, namun digantikan oleh sebuah kedinginan yang jauh lebih berbahaya. Dragon Heart di dalam dadanya tidak lagi berdenyut dengan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan dengan ketajaman yang absolut.

"Chen Xi, akses terminal utama," instruksi Li Wei. Suaranya kini sangat dingin, seolah-olah semua emosinya baru saja dibekukan oleh cairan di dalam tabung itu.

"Aku sedang mencoba, tapi enkripsi AI Kekaisaran di sini sangat rigid," jawab Chen Xi, jari-jarinya menari di atas layar holografik. "Aku butuh kunci otoritas fisik. Sesuatu yang terhubung langsung dengan sejarah lab ini."

Li Wei tidak banyak bicara. Ia mengeluarkan chip saraf milik Han—sahabatnya yang harus ia bunuh di pipa induk sebelumnya—dan menyerahkannya pada Chen Xi. "Han menyimpan ini sebelum dia dicuci otak sepenuhnya. Gunakan kode sandi yang dia tinggalkan di log data terakhir kita."

Chen Xi menerima chip itu dengan tangan gemetar. "Ini berisiko, Li Wei. Jika gagal, sistem keamanan otomatis akan mencairkan semua tabung ini—termasuk sisa-sisa keluargamu."

"Mereka sudah mati, Chen Xi," balas Li Wei datar. Matanya menatap tajam ke arah tabung #09 yang kosong. "Yang tersisa di sini hanyalah hantu. Dan aku tidak akan membiarkan Kekaisaran menggunakan hantu-hantu itu lagi."

Xiao Hu menunduk, air matanya jatuh ke lantai laboratorium yang putih. "Tapi... bagaimana dengan kakakku? Apa dia juga ada di dalam salah satu tabung ini?"

Li Wei terdiam. Ia menatap deretan tabung yang seolah tidak berujung itu. "Kita akan mencarinya, Xiao Hu. Aku berjanji."

"Dapat!" Chen Xi berseru pelan. Layar di depannya berubah menjadi merah darah. "Lihat ini... proyek ekstraksi emosi massal. Sektor 7 bukan medan perang yang gagal, Li Wei. Itu adalah ladang panen. Mereka sengaja menciptakan tragedi di parit itu untuk mendapatkan emosi penderitaan dalam level tertinggi."

"Lanjutkan," perintah Li Wei, suaranya nyaris menyerupai desis pedang yang ditarik dari sarungnya.

"Mereka mencari 'Inang' yang sempurna," lanjut Chen Xi, wajahnya semakin pucat saat membaca data lebih dalam. "Klan Li memiliki kecocokan saraf yang paling tinggi. Itulah alasan klanmu dimusnahkan. Mereka tidak menginginkan pengkhianat, mereka menginginkan baterai yang tidak bisa melawan."

Li Wei mengepalkan tangannya begitu keras hingga sendi-sendi zirahnya berderit. Kesadaran bahwa seluruh hidupnya, pengabdiannya, dan pengorbanan rekan-rekannya hanyalah bagian dari siklus industri yang keji membuat jiwanya retak.

"Lalu siapa yang mengelola tempat ini sekarang?" tanya Li Wei.

"Data menunjukkan otorisasi terakhir diberikan oleh..." Chen Xi terhenti, matanya menatap Li Wei dengan penuh simpati. "...Jenderal Zhao Kun. Mentormu sendiri."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Li Wei. Zhao Kun—pria yang mengangkatnya dari reruntuhan klan Li, pria yang mengajarinya cara memegang pedang, pria yang ia anggap sebagai ayah kedua—adalah orang yang memutar tuas ekstraksi pada keluarganya sendiri.

"Opsi ketiga," gumam Li Wei pada dirinya sendiri.

"Apa maksudmu?" Chen Xi menoleh dengan waspada.

"Kau bilang jika aku menghancurkan fasilitas ini, mereka akan menganggap kita sebagai ancaman Level 6," Li Wei menatap ke arah tabung utama. "Tapi jika kita tidak menghancurkannya, mereka akan terus memanen orang-orang seperti Han dan Xiao Hu."

"Li Wei, jangan lakukan hal bodoh," Chen Xi memperingatkan. "Tingkat oksigen di sini dikontrol oleh AI. Jika kau memicu ledakan energi Qi, lab ini akan menjadi peti mati kita!"

"Aku tidak akan meledakkannya," Li Wei menarik Bailong-Jian. "Aku akan membebaskan mereka."

"Dengan cara apa?" tanya Xiao Hu takut-takut.

"Dengan memberikan apa yang mereka inginkan," Li Wei menatap tabung #09 miliknya yang kosong. "Sebuah emosi yang begitu murni hingga sistem ini tidak mampu menampungnya."

Li Wei memejamkan mata. Ia mulai memaksa sistem Neural Overclock-nya bekerja melampaui batas aman. Peringatan merah mulai berkedip di pandangan visualnya, namun ia mengabaikannya. Ia membiarkan seluruh rasa sakit, pengkhianatan, dan duka atas kematian Han mengalir ke dalam sumsum tulang belakangnya, menciptakan resonansi yang begitu kuat hingga kaca-kaca tabung di sekitarnya mulai bergetar.

"Li Wei! Hentikan! Sarafmu akan terbakar!" teriak Chen Xi sambil mencoba menarik lengan Li Wei.

"Mundur, Chen Xi!" bentak Li Wei.

Tiba-tiba, suara alarm melengking tinggi memecah kesunyian. Lampu lab berubah menjadi merah pekat yang berdenyut. Suara AI kembali terdengar, namun kali ini nadanya tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan distorsi elektrik.

"Peringatan! Lonjakan emosi tidak stabil terdeteksi pada Subjek 09. Protokol penstabilan gagal. Melepaskan subjek liar untuk pembersihan area."

"Subjek liar?" Chen Xi segera menarik Xiao Hu ke belakang terminal data. "Apa itu maksudnya?"

"Lihat di lorong belakang," tunjuk Xiao Hu dengan suara gemetar.

Di ujung lorong yang gelap, pintu-pintu tabung yang tadinya terkunci kini terbuka secara otomatis. Cairan biru tumpah ke lantai, membawa serta sosok-sosok manusia yang tubuhnya sudah bermutasi dengan kabel dan logam. Mereka merangkak keluar dengan gerakan yang patah-patah, mata mereka kosong tanpa jiwa, dan dari mulut mereka keluar suara rintihan yang menyayat hati.

"Zombie-zombie itu..." Chen Xi menelan ludah. "Mereka adalah eksperimen yang gagal. Mereka tidak punya kesadaran, hanya lapar akan energi Qi."

Li Wei berdiri tegak di tengah lorong, pedangnya mulai berpendar dengan cahaya biru yang sangat terang, selaras dengan denyut jantungnya yang kian cepat. "Mereka bukan zombie, Chen Xi. Mereka adalah korban. Dan aku akan mengakhiri penderitaan mereka."

"Kita terkepung, Li Wei!" Chen Xi menarik senjatanya, Yan-Zuo, sambil mencoba mencari celah keluar. "Ada puluhan dari mereka, dan pintu keluar masih terkunci total!"

"Lindungi Xiao Hu," ucap Li Wei singkat. Ia melangkah maju menyongsong massa yang merangkak mendekat. "Biarkan aku yang menghadapi masa lalu ini."

Massa yang merangkak itu memenuhi lorong dengan suara gesekan daging dan logam yang memuakkan di atas lantai keramik. Li Wei berdiri mematung sejenak, menatap sosok terdepan yang mengenakan sisa-sisa kain dengan pola bordir klan Li yang sudah membusuk. Rahang pria itu sudah digantikan oleh rahang mekanis kasar yang terus terbuka dan tertutup tanpa suara, sementara matanya hanya memancarkan cahaya biru redup yang menandakan sisa energi Qi yang hampir habis.

"Li Wei, mereka bukan lagi orang yang kau kenal!" teriak Chen Xi, tangannya gemetar saat mengarahkan Yan-Zuo ke arah massa. "Sensor termalku menunjukkan suhu tubuh mereka di bawah normal. Mereka digerakkan sepenuhnya oleh sistem saraf parasit!"

"Jangan tembak!" balas Li Wei, suaranya menggelegar di dalam ruangan steril itu. "Kau akan memicu alarm penghancuran diri jika energi dari senjatamu mengenai pipa ekstraksi di langit-langit."

"Lalu apa? Kita biarkan mereka mencabik kita?" Chen Xi memundurkan langkahnya, menarik Xiao Hu hingga punggung gadis kecil itu menempel pada konsol data. "Ada setidaknya tiga puluh subjek di depan kita, Li Wei!"

Xiao Hu memejamkan matanya rapat-rapat, namun tangannya tetap memutar tuas kotak musik tua itu. Suara denting lembut yang memainkan melodi pengantar tidur klan militer kuno mengalun di tengah rintihan para monster. Anehnya, gerakan massa itu melambat sejenak saat frekuensi musik tersebut menyentuh udara.

Li Wei menyadarinya. Ia melihat bagaimana tangan-tangan mekanis yang berkarat itu berhenti mencakar udara seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang sangat jauh. "Musik itu... frekuensi nadanya selaras dengan kode penenang saraf yang dulu diajarkan di klan."

"Xiao Hu, teruskan!" perintah Chen Xi, menyadari adanya kesempatan. "Li Wei, gunakan momen ini untuk mencari katup manual di bawah tabung #09! Jika kita bisa memutus aliran energinya, sistem AI akan kehilangan jejak koordinat emosimu!"

Li Wei menerjang maju, melompati kepala sosok yang merangkak paling depan. Ia tidak menggunakan pedangnya untuk membunuh. Dengan gerakan presisi seorang perwira elit, ia menggunakan gagang Bailong-Jian untuk memukul mundur mereka yang mencoba mendekat. Kakinya mendarat dengan dentuman keras di dasar tabung raksasa tempat ia seharusnya berakhir sebagai eksperimen.

"Tunggu, Li Wei!" Chen Xi berseru dari terminal. "Ada rekaman suara yang baru saja terdekripsi dari memori tabung itu. Ini dikunci dengan biometrik suaramu!"

Li Wei menarik napas panjang, menekan panel kontrol di bawah tabung #09 dengan tangan yang masih gemetar. Sebuah suara hologram yang statis dan pecah muncul di hadapannya. Itu adalah suara seorang wanita, lembut namun penuh dengan kesedihan yang mendalam.

"Wei... jika kau mendengar ini, artinya kau telah kembali. Maafkan Ibu karena tidak bisa melindungimu. Mereka mengambil segalanya, tapi mereka tidak bisa mengambil cintaku padamu. Larilah, Wei. Jangan biarkan pedang yang mereka berikan padamu memakan jiwamu."

Keheningan seketika menyelimuti laboratorium. Suara itu menghantam pertahanan mental Li Wei lebih dalam daripada pengkhianatan Zhao Kun. Ia menatap bayangan ibunya yang berkedip-kedip di depannya, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang telah berlumuran darah selama bertahun-tahun demi membela faksi yang memenjarakan ibunya.

"Ibu..." bisik Li Wei. Air mata yang selama ini ia kunci di balik disiplin militer akhirnya jatuh, membasahi masker zirahnya. "Selama ini aku... aku adalah pedang mereka."

"Li Wei, subjeknya mulai bergerak lagi!" teriak Chen Xi, memecah momen haru itu. Suara musik Xiao Hu mulai tenggelam oleh deru mesin AI yang mencoba memaksa sistem saraf zombie-zombie itu kembali agresif.

"Mereka tidak akan menyentuh kalian!" Li Wei berdiri, memutar tubuhnya menghadap massa. Matanya kini berkilat dengan warna biru yang lebih gelap, bukan warna dari Kekaisaran, melainkan warna dari resonansi jiwanya sendiri. "Aku akan membawa kalian pulang."

Li Wei tidak mengayunkan pedangnya ke arah mereka. Sebaliknya, ia menghantamkan tinjunya ke lantai lab dengan kekuatan penuh, memicu getaran frekuensi saraf yang sangat tinggi melalui Dragon Heart. Getaran itu merambat melalui lantai, memicu arus balik pada kabel-kabel bio-organik yang terhubung ke leher para zombie.

"Apa yang kau lakukan?!" Chen Xi melindungi Xiao Hu saat percikan listrik mulai meloncat dari tabung-tabung.

"Aku membebaskan mereka dari sistem saraf parasit!" jawab Li Wei.

Satu per satu, lampu biru di mata para subjek padam. Tubuh-tubuh malang itu terkulai di lantai, tidak lagi sebagai monster, melainkan sebagai jenazah yang akhirnya mendapatkan kedamaian. Di saat yang sama, layar di terminal Chen Xi berkedip merah dengan peringatan kritis.

"Sistem keamanan utama menganggap tindakanmu sebagai sabotase total!" Chen Xi menarik tangan Li Wei. "Kita harus keluar sekarang! Gas saraf akan dilepaskan dalam tiga puluh detik!"

"Xiao Hu, pegang pundakku!" instruksi Li Wei sambil menggendong gadis kecil itu di satu tangan, sementara tangan lainnya merangkul Chen Xi yang masih pincang.

Mereka berlari menuju pintu belakang lab yang menuju lorong kaca. Di belakang mereka, tabung-tabung mulai meledak satu per satu, melepaskan cairan biru yang kini bercampur dengan asap gas beracun. Li Wei tidak menoleh lagi. Ia membawa beban duka klan Li di pundaknya, namun langkahnya terasa lebih ringan seolah-olah sebuah rantai tak kasat mata baru saja putus dari jiwanya.

"Terima kasih, Kak," bisik Xiao Hu di telinga Li Wei, tangannya masih memeluk kotak musik itu dengan erat.

Li Wei menatap pintu keluar di ujung lorong kaca yang mulai dipenuhi retakan. Di baliknya, ia tahu sebuah pertempuran yang lebih brutal telah menunggu, di mana ia tidak akan lagi bertarung sebagai perwira, melainkan sebagai hantu yang menuntut keadilan bagi mereka yang tak bersuara.

"Kita belum selesai, Chen Xi," ucap Li Wei saat mereka mencapai pintu terakhir. "Perang ini baru saja menjadi sangat pribadi."

Chen Xi menatap Li Wei, melihat perubahan absolut di mata pria itu. "Aku tahu. Dan kali ini, aku akan memastikan kita tidak berakhir di dalam tabung."

Pintu terbuka dengan suara ledakan kecil, melepaskan mereka ke arah lorong kaca yang menuju area pembuangan subjek. Di sana, bayangan-bayangan baru mulai bermunculan dari kegelapan, menandakan bahwa istirahat mereka telah berakhir sebelum benar-benar dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!