Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi "Kemesraan Brutal" di Depan Lift
Pagi berikutnya di apartemen The Zenith tidak lagi terasa seperti pagi yang tenang. Bagi Nara, koridor lantai 12 kini telah berubah menjadi zona demiliterisasi yang penuh ranjau darat bernama mantan.
Raka dengan segala kepercayaan dirinya yang tidak berdasar resmi menjadi tetangga seberang unit yang hobi "kebetulan" keluar rumah di jam yang sama.
"Ga, kamu lihat nggak tadi di lubang intip?" bisik Nara sambil memakai sepatunya dengan terburu-buru.
"Si Raka udah berdiri di depan pintunya selama sepuluh menit. Dia pasti lagi nungguin kita keluar biar bisa sok asik lagi."
Arga, yang sedang merapikan jam tangan patek philippe-nya, melirik pintu dengan tatapan mengevaluasi.
"Secara probabilitas, frekuensi dia berada di koridor saat ini sudah melewati batas kebetulan normal. Ini adalah tindakan observasi ilegal."
Nara menyeringai jahil, ia menyambar lengan Arga.
"Nah, karena dia mau observasi, gimana kalau kita kasih dia tontonan yang dapet rating bintang lima? Kita pakai strategi 'Kemesraan Brutal'. Kamu harus kerja sama, ya!"
Arga menaikkan sebelah alisnya.
"Definisikan 'Kemesraan Brutal'."
"Pokoknya ikuti aja gerakan aku! Jangan kaku kayak papan penggilasan!"
Begitu pintu unit 1205 terbuka, Nara langsung bergelayut manja di lengan Arga. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arga sambil tertawa-tawa kecil yang dibuat-buat, persis seperti tokoh utama di drama Korea yang baru saja memenangkan lotre cinta.
Benar saja, Raka sedang berdiri di depan pintunya, pura-pura sibuk memeriksa ponselnya. Begitu melihat Nara dan Arga, ia langsung menegakkan tubuh.
"Pagi, Nar! Pagi, Bro Arga!" sapa Raka dengan senyum sok akrab.
"Mau berangkat kerja ya? Wah, kompak banget."
Nara tidak langsung menjawab. Ia justru mendongak menatap Arga, lalu merapikan dasi Arga dengan gerakan yang sangat lambat dan sensual atau setidaknya, itu usaha Nara agar terlihat sensual meski tangannya malah hampir mencekik Arga.
"Duh, Mas Arga... dasinya miring sedikit," ujar Nara dengan suara yang ditinggikan tiga oktav.
"Kan aku nggak mau suamiku yang paling ganteng sejagat raya ini kelihatan nggak rapi di kantor. Nanti staf-staf kamu pada naksir lagi."
Arga, yang merasa napasnya sedikit sesak karena tarikan dasi Nara, tetap mempertahankan wajah tenangnya. Ia menangkap tangan Nara di dadanya, lalu mengecup ujung jari istrinya di depan mata Raka yang mulai menyipit.
"Terima kasih, Sayang," balas Arga dengan suara bariton yang berat.
"Perhatian kamu adalah satu-satunya audit yang saya butuhkan setiap pagi."
Nara hampir mau muntah mendengar gombalan Arga yang terlalu berkelas itu, tapi ia tetap menjaga aktingnya.
"Ayo, Mas. Nanti telat. Kita kan mau mampir beli kopi favorit kamu yang 'kopi cinta' itu, kan?"
Mereka bertiga berjalan menuju lift. Raka berusaha memposisikan diri di sebelah Nara, namun Arga dengan sigap berpindah posisi, mengurung Nara di antara dirinya dan dinding lift.
"Nar," panggil Raka, mengabaikan kehadiran Arga.
"Inget nggak dulu pas kita kuliah? Kita sering telat bareng gara-gara kamu lama milih jepit rambut, lucu ya kalau diingat."
Nara tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat palsu bagi siapa pun yang mengenalinya.
"Aduh, Raka. Memori masa kuliah itu kayak data cache di komputer. Harus rajin dihapus biar nggak menuhi memori. Lagian, sekarang aku udah punya 'prosesor' yang jauh lebih canggih dan... stabil."
Nara mencubit gemas pipi Arga. Arga tidak menghindar justru, ia merangkul pinggang Nara dan menariknya hingga pinggul mereka bersentuhan.
"Raka," ujar Arga tiba-tiba, menatap Raka melalui pantulan pintu lift yang mengilap.
"Sebagai sesama penghuni, saya sarankan kamu fokus pada masa depanmu di unit 1208. Menggali data lama yang sudah di-delete oleh pemiliknya hanya akan membuang-buang waktu secara tidak efisien."
Lift berdenting terbuka. Raka masuk duluan dengan wajah yang mulai terlihat tidak senang. Di dalam lift yang sempit, suasana makin memanas. Raka terus mencuri pandang ke arah Nara. Ia menyadari sesuatu yaitu Nara terlihat jauh lebih bercahaya dan cantik daripada saat mereka bersama dulu. Ada binar di mata Nara yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Ketertarikan Raka yang tadinya hanya sekadar iseng, mendadak berubah menjadi rasa penasaran yang berbahaya.
Masa iya Arga yang kaku itu bisa bikin Nara sebahagia ini? pikir Raka.
Begitu mereka sampai di lobi, Raka masih mengekor.
"Nar, nanti pulang jam berapa? Aku mau ada syukuran pindah rumah kecil-kecilan, cuma tetangga deket aja. Dateng ya?"
Nara melirik Arga. Arga menunduk menatap Nara, seolah sedang berkomunikasi lewat pikiran. Tiba-tiba, Arga melakukan gerakan yang tidak ada di skenario Nara.
Arga memegang kedua pipi Nara, menangkup wajah istrinya dengan lembut, lalu mencium bibir Nara dengan sangat dalam dan posesif tepat di tengah lobi apartemen yang mulai ramai. Bukan sekadar kecupan singkat, tapi ciuman yang menegaskan dominasi.
Nara membelalakkan mata, tangannya refleks memegang lengan Arga. Dunia seolah berhenti berputar. Bau parfum kayu manis Arga menyerbu indranya, membuat lututnya mendadak lemas beneran.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Arga melepaskan pautan mereka. Ia menoleh pada Raka yang mematung dengan wajah pucat.
"Maaf, Raka. Kami punya jadwal 'syukuran' pribadi setiap malam di dalam unit kami sendiri," ujar Arga dingin.
"Jadi, sepertinya kami tidak bisa hadir."
Arga kemudian merangkul bahu Nara yang masih stuttering dan membawanya menuju parkiran.
Di dalam mobil, Nara masih diam seribu bahasa. Wajahnya merah padam sampai ke telinga. Ia terus memegangi bibirnya yang masih terasa panas.
"Ga..." bisik Nara setelah mobil keluar dari area apartemen.
"Ya?" sahut Arga, kembali ke mode menyetir yang fokus.
"Tadi itu... itu masih bagian dari 'Kemesraan Brutal' kan? Atau kamu... kamu beneran marah sama Raka?"
Arga menepikan mobilnya sebentar di pinggir jalan yang sepi. Ia menoleh ke arah Nara, melepaskan kacamata bacanya, dan menatap Nara dengan tatapan yang belum pernah Nara lihat sebelumnya sebuah tatapan yang sangat manusiawi, penuh keinginan, dan sedikit rapuh.
"Nara, secara logika, saya harusnya tidak peduli pada pria dari masa lalumu," ujar Arga, suaranya rendah.
"Tapi melihat dia menatapmu seolah-olah dia masih punya hak akses ke hatimu... itu membuat sistem pertahanan saya mengalami gangguan fatal. Saya tidak suka berbagi perhatianmu, bahkan hanya dalam bentuk tatapan dari orang lain."
Nara menelan ludah.
"Jadi... ciuman tadi?"
"Itu adalah deklarasi kepemilikan," sahut Arga mantap.
"Dan jika kamu merasa itu terlalu berlebihan, saya minta maaf. Tapi saya tidak akan menarik kembali perasaan yang mendasarinya."
Nara terdiam, lalu tiba-tiba ia tertawa kecil, tawa yang kali ini sangat tulus. Ia mendekat dan mencium pipi Arga dengan cepat.
"Makasih ya, Pak Audit. Walaupun kamu kaku, tapi cara kamu 'menandai wilayah' bener-bener bikin aku baper tingkat nasional."
Arga tersenyum tipis, kali ini senyum yang mencapai matanya.
"Kembali ke pekerjaan, Nara. Kita punya denda waktu yang harus dibayar karena drama di lobi tadi."
"Tapi ngomong-ngomong denda kebaperan masih berlaku nggak sih ?? Soalnya setiap hari aku selalu baper ."
Arga menaikkan bahu nya tak ada jawaban.
Nara tertawa sambil menyalakan radio. Ternyata, perang dingin di koridor tidak hanya berhasil mengusir mantan, tapi juga berhasil membuka satu pintu lagi di hati sang "Robot" yang selama ini terkunci rapat.