"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Duniamu yang Baru
Pagi pun tiba. Sinar matahari menyelinap malu-malu melalui celah tirai apartemen tua di Nakano. Aku terbangun di atas sofa kayu sempit dengan leher yang terasa kaku karena sandarannya yang keras.
Tapi, rasa pegal itu seketika sirna saat mataku menangkap sosok Sayuri.
Sayuri berdiri di dekat jendela, menatap jalanan kecil di bawah dengan rasa takjub yang murni.
"Alexian... lihat," bisiknya tanpa menoleh.
"Orang-orang itu... mereka tidak menghilang. Mereka tetap berjalan meskipun aku tidak sedang melihat atau memikirkannya."
Aku bangkit dan menghampirinya, berdiri tepat di sampingnya.
"Itu namanya kenyataan, Sayuri. Di sini, segala sesuatu terus bergerak, bahkan saat kita sedang tidur," ucapku lembut, mencoba mengikis sisa-sisa trauma dari kesepian panjangnya di jembatan mimpi itu.
Sayuri menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela yang dingin.
"Alexian... jembatan itu bukan rumahku. Itu adalah penjara tempat aku melihatmu menghilang sepuluh tahun yang lalu."
Aku tersentak. Kepalaku tiba-tiba berdenyut nyeri. Bayangan samar tentang sebuah kuil di Kyoto dan tawa seorang gadis kecil melintas cepat.
"Sepuluh tahun...?" bisikku.
"Maksudmu, kejadian di jembatan itu bukan baru saja terjadi?"
Sayuri menoleh, matanya berkaca-kaca.
"Bagimu, mungkin baru beberapa malam. Tapi bagiku, aku telah berdiri di jembatan itu, melihat matahari yang tidak pernah tenggelam, menunggumu kembali sejak Kakek mengirimmu pergi jauh ke seberang laut."
Pagi itu menjadi rangkaian kata "pertama kali" bagi Sayuri. Ken datang membawa bungkusan plastik berisi sarapan, sementara Mona membawakan beberapa potong pakaian santai yang ia beli di swalayan terdekat agar Sayuri tidak terlihat mencolok.
"Oke, Nona yang terhormat," seru Ken sambil meletakkan mangkuk plastik di atas meja. "Ini ramen instan pedas untuk Anda. Anda sepertinya sudah sangat lapar, kan, Nona?"
Sayuri menatap mangkuk yang mengepul itu dengan ragu. Ia memegang sumpit dengan kikuk; jarinya gemetar saat mencoba menjepit mi. Aku harus membimbing tangannya, dan saat ia berhasil mencicipi kuahnya, mata Sayuri membelalak lebar.
"Mmmm.... Enak!!" ucap Sayuri memakan mi nya dengan lahap.
"Enak kan, Sayuri," Mona tertawa kecil. kemudian ia mulai menyisir rambut Sayuri yang panjang.
"Hmm... enak banget, Aku suka" ucap sayuri lagi.
Sayuri tersenyum kecil, sebuah senyum yang kini terlihat jauh lebih cerah.
Tapi, momen lucu itu seketika berubah saat Sayuri beranjak dari kursinya. Ia berjalan melewati cermin besar di sudut apartemen, lalu tiba-tiba mematung.
Wajahnya langsung memutih kaget . Aku, Ken, Mona, dan Miyuki saling melempar pandang penuh kekhawatiran.
Sayuri menyentuh permukaan cermin dengan ujung jarinya. Di dalam pantulan itu, sosoknya tampak sedikit bergetar, seolah-olah frekuensi tubuhnya belum sepenuhnya selaras dengan dunia nyata.
"Kenapa... bayanganku tampak ragu?" tanya Sayuri pelan, suaranya bergetar.
Miyuki yang sedari tadi terdiam di pojok ruangan akhirnya angkat bicara.
"Dunia nyata ini masih asing buat kakak. Makanya, Kak Sayuri jangan jauh-jauh dari Alexian. Anggap aja dia itu 'colokan listrik' buat kakak biar nggak ilang."
Sayuri menoleh padaku, tatapannya kini dipenuhi ketergantungan yang tulus.
"Jadi, aku harus selalu berada di dekatmu?"
"Aku tidak keberatan," jawabku jujur, tanpa pikir panjang.
Jawaban spontanku sukses membuat Mona berdehem menggoda, sementara Ken mendadak pura-pura sibuk mengutak-atik ponselnya sambil menahan tawa.
"Ehem! Maaf memutus momen 'setia sampai mati' kalian," potong Ken, suaranya kembali serius walau sisa tawanya masih ada.
"Tapi, apa aku boleh menanyakan sesuatu pada Miyuki sebentar?"
""Ah... hmmm... boleh," jawabku kikuk.
Aku berusaha menahan malu akibat ucapan spontanku tadi, sambil mengalihkan pandangan ke arah mana saja asal bukan ke arah Sayuri.
Mumpung suasana sedang tenang dan ancaman The Eraser belum membayangi, Ken langsung memanfaatkan momen itu untuk menginterogasi Miyuki.
"Baiklah, Miyuki. Jelaskan pada kami siapa sebenarnya The Eraser itu," tanya Ken dengan nada tegas.
"Kenapa mereka mengincar pita jingga yang ditemukan Alexian? Dan bagaimana bisa Sayuri terlibat dalam pusaran ini?"
Ken seolah tak mau kehilangan detail, mengingat sebelumnya Mona sudah menceritakan pertemuan aneh antara aku dan Miyuki di hotel waktu itu. Miyuki menunduk, wajahnya tampak dilingkupi rasa sesal yang dalam.
"The Eraser adalah musuh kakek kami. Kakek mengembangkan Teknologi Spiritual yang sangat kuat, sesuatu yang mampu memperbaiki, mengubah, bahkan menghancurkan mimpi dan ingatan manusia,"
Miyuki memulai penjelasannya.
"Lalu, apa hubungannya dengan pita jingga itu?" sela Ken lagi, memastikan tidak ada kejanggalan.
"Pita itu adalah Kunci Magis dari teknologi tersebut. Sayuri yang terjebak di dimensi lain menggunakan sisa kekuatannya untuk memanifestasikan sosokku ke dalam mimpi Alexian," jawab Miyuki lirih.
Ken menatapku dengan kening berkerut, seolah logika montir dan karyawan hotelnya sedang bekerja keras memproses penjelasan mistis itu.
Tapi, tepat saat Miyuki hendak melanjutkan ceritanya, Sayuri bangkit dan mendekatiku.
Ia duduk tepat di depanku, membuat jarak di antara kami menghilang.
"Kau ingat, Alexian? Saat kau pertama kali mencoba menyentuh pita jingga ini..." ucap Sayuri pelan.
Ibu jarinya mengelus lembut permukaan pita yang kini terikat di pergelangan tangannya, tepat di depan mataku.
"Kau melihat Miyuki—manifestasiku—sedang mengikatkan pita ini di jembatan. Saat itu, aku melihatmu berdiri di seberang, menatap ke arahku seolah kau baru saja kembali untuk menepati janjimu."
Aku tertegun. Jantungku berdegup lebih kencang mendengar penuturan Sayuri.
"Siapa aku sebenarnya? Dan apakah Sayuri sudah mengenalku jauh lebih lama dari yang kuingat? , Jadi di mimpi itu saat aku melihat sosok Miyuki manifestasi dari Sayuri bukan mimpi biasa? " tanyaku dalam hati.
Tiba-tiba, hape Ken berdering nyaring, memecah suasana serius di antara kami.
"Lex... Manajer hotel mengirim pesan ke grup staf," ucap Ken dengan wajah tegang.
"Katanya, semua rekaman CCTV semalam sudah disita oleh 'pihak berwenang' yang tidak dikenal. Mereka sekarang sedang melacak semua nomor ponsel yang aktif di sekitar jembatan Shinjuku Gyoen jam dua pagi tadi."
"Artinya... mereka sudah tahu keberadaan kita ada di Nakano?" tanya Mona dengan suara bergetar.
"Mungkin saja" balas Ken dengan wajah sedikit gemetar.
"Kita tidak bisa hanya bersembunyi," kataku sambil menggenggam tangan Sayuri dengan erat.
Rasanya hangat dan padat nyata.
"Kita harus mulai mencari tahu siapa sebenarnya The Eraser dari sudut pandang dunia nyata. Miyuki, kau bilang kakekmu punya catatan? Di mana catatan itu sekarang?"
Miyuki menelan ludah, wajahnya terlihat ragu.
"Ada di brankas tersembunyi di rumah lama kami di Kyoto. Tapi rumah itu... sekarang sudah dijaga ketat oleh mereka."
Aku menatap Sayuri, lalu beralih ke arah teman-temanku. Tantangan baru sudah di depan mata. Kami tidak bisa hanya duduk diam di apartemen ini selamanya. Kami harus menyerang balik.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.