Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Demam dan Hutang Budi
Kamis pagi datang dengan langit abu-abu yang menggantung rendah, seolah menahan beban air yang belum tumpah. Bagi Raka, dunia terasa sedikit berayun saat ia bangkit dari tempat tidur. Demamnya sudah turun—termometer di meja nakas menunjukkan angka 36,8 derajat celcius semalam—tapi tubuhnya terasa ringan. Bukan jenis ringan yang melegakan seperti kapas yang melayang, melainkan kekosongan ganjil di persendian, sisa-sisa energi yang dikuras habis oleh virus selama dua hari terakhir.
Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan wajahnya yang masih pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak lebih tegas dari biasanya. Raka membasuh wajah dengan air dingin. Sengatan suhu air itu memaksanya sadar sepenuhnya. Hari ini ia harus masuk kerja. Bukan karena ia mencintai pekerjaannya, tetapi karena diam di apartemen ini lebih lama lagi sama saja dengan membiarkan dinding-dinding bisu itu menelannya bulat-bulat. Dua hari terkurung bersama hantu masa lalu sudah cukup membuatnya hampir gila.
Ia mengenakan kemeja biru muda yang baru disetrika. Kain itu terasa dingin menyentuh kulit punggungnya. Saat mengancingkan bagian kerah, Raka menyadari kemejanya terasa sedikit lebih longgar. Dua hari hanya makan bubur instan dan tidur gelisah ternyata cukup untuk mengikis sedikit bobot tubuhnya.
"Kau harus berfungsi hari ini, Raka," gumamnya pada pantulan di cermin. Suaranya terdengar serak, belum terpakai sejak percakapan singkat dengan kurir pengantar bubur kemarin lusa.
Perjalanan menuju stasiun terasa lebih berat dari biasanya. Langkah kakinya tidak mantap, dan suara klakson angkutan umum di jalan raya terasa lebih menusuk telinga. Raka memasang *earphone*-nya, tapi tidak memutar lagu apa pun. Ia hanya butuh penyumbat untuk meredam kebisingan dunia luar tanpa harus terseret memori dari lirik lagu pop mana pun.
Di dalam kereta, ia beruntung mendapatkan tempat berdiri di dekat pintu yang memiliki sedikit sirkulasi udara. Aroma di gerbong itu adalah campuran khas pagi hari: parfum murah yang menyengat, bau deterjen pakaian yang belum kering sempurna, dan aroma samar keringat manusia yang berdesakan. Raka memejamkan mata, menahan rasa mual yang tiba-tiba naik ke kerongkongan.
Ia teringat sebuah momen spesifik. Dulu, saat ia sakit tifus dan memaksa ingin masuk kuliah untuk ujian, mantannya pernah menahannya di pintu kos.
*"Kamu itu bukan robot, Ka. Kalau pingsan di jalan, siapa yang repot? Aku juga, kan? Udah, tidur lagi."*
Suara itu bergema begitu jernih di kepalanya, seolah perempuan itu berdiri tepat di sampingnya, menarik lengan kemejanya agar ia tidak melangkah keluar. Raka membuka mata, menepis bayangan itu dengan menggelengkan kepala pelan. Tidak ada siapa-siapa di sampingnya selain seorang bapak tua yang sedang tertidur sambil berdiri memeluk tas ransel. Raka menarik napas panjang, menghirup udara AC kereta yang berbau logam, mencoba menambatkan dirinya pada realitas.
Sesampainya di kantor, suasana terasa familiar namun berjarak. Suara *fingerprint* yang berbunyi *"Terima kasih"* saat ia menempelkan jari terasa menyambut sekaligus mekanis. Raka berjalan menuju kubikelnya. Mejanya tampak persis seperti saat ia tinggalkan Selasa sore lalu: tumpukan dokumen yang belum selesai, pulpen yang tergeletak tanpa tutup, dan gelas kopi yang isinya sudah berjamur.
Raka meringis melihat gelas itu. Ia segera membawanya ke *pantry*, mencucinya dengan gerakan cepat, berusaha menghilangkan jejak ketidakhadirannya. Aroma sabun cuci piring jeruk nipis kembali menyapa indra penciumannya, tapi kali ini ia terlalu lelah untuk membiarkan kenangan menyeretnya. Prioritasnya hari ini sederhana: bertahan hidup sampai jam lima sore.
Saat ia kembali ke meja, Bayu sudah ada di sana, duduk di kursi kerjanya sendiri sambil memutar-mutar kursi ke kiri dan ke kanan.
"Wih, sang mayat hidup sudah kembali," sapa Bayu. Nada bicaranya bercanda, tapi matanya meneliti wajah Raka dengan serius. "Muka lu masih pucat banget, Ka. Yakin udah kuat ngantor?"
Raka duduk, menyalakan komputernya. "Udah mendingan. Daripada jatah cuti habis."
"Dasar budak korporat," kekeh Bayu. Ia kemudian menyodorkan sebuah bungkusan plastik kecil ke meja Raka. "Nih. Sari kurma. Kata nyokap gue bagus buat balikin tenaga kalau abis demam."
Raka menatap botol kecil berwarna cokelat itu, lalu beralih menatap Bayu. Ada rasa tidak nyaman yang menjalar di dadanya. Raka terbiasa mandiri, terbiasa tidak merepotkan orang lain, dan yang paling penting, terbiasa tidak diperhatikan. Perhatian Bayu—bubur ayam kemarin dan sari kurma hari ini—menciptakan hutang budi yang membuat Raka merasa canggung.
"Bay..." Raka berdeham, mencoba melonggarkan tenggorokannya yang kaku. "Soal bubur kemarin... makasih ya. Gue nggak sempet bales chat lu dengan bener."
Bayu mengibaskan tangan, seolah itu bukan masalah besar. "Santai elah. Gue cuma pesen lewat aplikasi, bukan gue yang masak. Kalau gue yang masak, lu malah masuk UGD ntar."
Raka tersenyum tipis. Sangat tipis, tapi cukup untuk meredakan ketegangan di wajahnya. "Sama ini juga. Makasih."
"Diminum. Jangan cuma dipajang kayak itu kaktus di pojokan."
Raka melirik kaktus kecil di sudut meja resepsionis yang sudah layu karena jarang disiram. Perumpamaan itu lagi. Dulu ia disebut kaktus karena jarang minum air putih, sekarang ia disebut kaktus karena dianggap benda mati yang hanya jadi pajangan.
Jam kerja berlalu dengan lambat. Raka mencoba fokus mengejar ketertinggalan pekerjaannya selama dua hari. Namun, otaknya tidak bisa diajak berlari kencang. Huruf-huruf di layar monitor terkadang tampak berenang. Beberapa kali ia harus membaca ulang satu paragraf email hanya untuk memahami maksud pengirimnya.
Sekitar jam sebelas siang, rasa lemas itu datang lagi. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Raka bersandar pada kursi, memejamkan mata sejenak. Ia merogoh laci mejanya, mencari sisa parasetamol, namun nihil. Ia lupa mengisi ulang stok obat pribadinya.
Tiba-tiba, sebuah botol air mineral dingin menempel di pipinya. Raka tersentak kaget.
Bayu berdiri di sampingnya, menyengir. "Muka lu kayak orang mau pingsan. Jangan dipaksain napas kalau emang engap. Mau ke klinik bawah nggak?"
"Nggak usah. Cuma butuh air," tolak Raka, mengambil botol itu. Dinginnya air mineral sedikit membantu.
"Nanti siang gue mau ke kantin bawah. Mau nitip nggak? Lu jangan makan aneh-aneh dulu. Soto ayam tapi kuah bening aja, jangan pake santen," ujar Bayu, nadanya setengah memerintah.
Raka tertegun. Pola kalimat itu—larangan makan sembarangan dengan nada peduli—terdengar begitu familiar. Bedanya, dulu diucapkan dengan nada lembut penuh sayang, sekarang diucapkan dengan nada persahabatan yang maskulin dan sedikit kasar.
"Gue ikut turun aja," jawab Raka akhirnya. Ia merasa perlu membayar "hutang" kebaikan Bayu. "Gue yang traktir kopi hari ini. Sebagai ganti bubur."
Bayu mengangkat alis. "Tumben. Oke, deal. Tapi gue pesen yang *grande* ya, mumpung gratis."
Siang itu, Raka melanggar rutinitas isolasinya. Ia duduk di kantin gedung kantor yang bising bersama Bayu. Biasanya, keramaian seperti ini akan membuatnya cemas dan ingin segera kabur ke minimarket sepi. Tapi hari ini, di tengah kondisi fisiknya yang belum pulih, kehadiran Bayu menjadi semacam jangkar.
Raka memakan soto ayamnya perlahan. Rasanya hambar di lidahnya yang masih pahit sisa sakit, tapi hangat kuahnya membuat perutnya nyaman. Di depannya, Bayu bercerita panjang lebar tentang drama divisi marketing dan kelakuan bos mereka yang absurd. Raka hanya menanggapi dengan anggukan atau gumaman singkat, tapi ia mendengarkan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, suara di kepalanya yang biasanya sibuk memutar ulang kenangan masa lalu, sedikit teredam oleh celotehan Bayu.
"Lu tau nggak, Ka," ucap Bayu tiba-tiba, nadanya berubah sedikit serius saat ia mengaduk es kopinya. "Kadang gue bingung sama lu."
Raka mengangkat wajah, sendoknya berhenti di udara. "Bingung kenapa?"
"Lu itu ada di sini, fisik lu kerja, lu ngobrol... tapi kayaknya pikiran lu selalu ada di tempat lain. Atau di waktu lain," kata Bayu. Ia tidak menatap Raka, melainkan menatap orang-orang yang lalu lalang. "Gue nggak tau lu punya masalah apa, dan gue nggak bakal maksa lu cerita. Tapi... lu nggak harus ngadepin semuanya sendirian, Bro. Kalau sakit ya bilang sakit. Kalau butuh bubur ya bilang butuh bubur."
Raka terdiam. Kalimat itu menohok tepat di ulu hati, lebih tajam dari rasa nyeri lambungnya. Ia meletakkan sendok, nafsu makannya hilang. Ia ingin menyangkal, ingin berkata bahwa ia baik-baik saja dan ini hanya fase sementara. Tapi menyangkal di depan seseorang yang baru saja mengiriminya makanan saat ia terkapar tak berdaya rasanya munafik.
"Gue cuma... belum terbiasa," jawab Raka pelan, ambigu.
"Belum terbiasa apa? Nerima bantuan?"
"Belum terbiasa hidup kayak gini," koreksi Raka dalam hati, tapi yang keluar dari mulutnya adalah, "Ya, mungkin itu."
Sisa hari itu berjalan dengan Raka yang berusaha menyeimbangkan antara tanggung jawab pekerjaan dan keterbatasan fisiknya. Ia pulang tepat jam lima sore, menolak tawaran lembur yang biasanya ia sambut dengan tangan terbuka. Tubuhnya sudah menjerit minta diistirahatkan.
Di perjalanan pulang, kereta lebih padat dari pagi hari. Raka terjepit di antara pintu dan seorang mahasiswa yang membawa tas ransel besar. Ia merasa lelah, sangat lelah. Tapi anehnya, perasaan hampa yang biasanya menyambutnya saat membayangkan apartemen kosong, kini sedikit berkurang.
Mungkin karena botol sari kurma di dalam tasnya. Atau mungkin karena rasa soto ayam yang hangat tadi siang. Atau mungkin karena kesadaran bahwa ada satu orang di dunia ini—selain ibunya—yang menyadari keberadaannya hari ini.
Sesampainya di apartemen, Raka tidak langsung menyalakan lampu. Ia duduk di sofa dalam kegelapan, membiarkan cahaya lampu kota dari jendela menjadi satu-satunya penerangan. Ia meminum satu sendok sari kurma yang diberikan Bayu. Rasanya manis, pekat, dan sedikit asing.
Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan, dan mengetik pesan singkat ke Bayu.
*Thanks obatnya. Gue udah di rumah.*
Hanya itu. Tidak ada emotikon, tidak ada basa-basi. Tapi bagi Raka, mengirim pesan laporan seperti itu adalah langkah besar. Dulu, ia selalu mengirim pesan "Aku sudah sampai" kepada seseorang yang kini hanya tinggal nama di masa lalu. Hari ini, ia mengirimnya pada seorang teman.
Garis waktu memang tidak bisa menghapus masa lalu, Raka tahu itu. Tapi mungkin, hanya mungkin, garis waktu juga sedang perlahan menulis baris-baris baru yang belum ia sadari sepenuhnya. Raka memejamkan mata, membiarkan tubuhnya rileks, dan untuk malam ini, ia berharap tidurnya tidak akan diganggu oleh mimpi tentang hujan dan perpisahan.
***