NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 13

Matahari pagi itu terasa seperti lampu sorot interogasi bagi Keyra. Angka 07:00:00 di buku hitam Julian terus berkedip-kedip dalam ingatannya seperti bom waktu. Dia sudah mengenakan seragam lengkap, berdiri di depan pagar rumah dengan tangan gemetar memegang tali tas. Dia siap masuk ke kandang singa, siap 'divalidasi' oleh Julian.

Sebuah klakson mobil memecah ketegangan itu. Honda Jazz hitam milik Raka berhenti tepat di depannya. Kaca jendela turun, menampilkan wajah Raka yang segar, namun matanya memancarkan kenekatan yang berbeda dari biasanya. Dia tidak memakai dasi, dan kancing teratas kemejanya terbuka santai.

"Masuk," perintah Raka singkat.

Keyra menurut, menghempaskan tubuhnya ke kursi penumpang. "Gue takut, Ka. Gimana kalau dia tau gue bohong soal pupil mata itu? Gimana kalau dia—"

"Kita nggak akan ke sekolah," potong Raka sambil memutar setir tajam, menjauh dari rute biasa menuju SMA Taruna Bangsa.

Keyra menoleh cepat, lehernya nyaris terkilir. "Hah? Gila lo! Hari ini ada kuis Fisika, terus Julian nunggu gue jam tujuh pas! Kalau gue nggak ada, dia bakal curiga!"

"Justru itu poinnya, Key," Raka menyeringai, sebuah senyum miring yang entah kenapa membuat detak jantung Keyra sedikit lebih tenang. "Di buku itu, dia nulis skenario buat jam tujuh pagi. Kalau lo dateng, lo cuma jadi aktor yang nurut sama naskah dia. Kalau lo nggak dateng? Lo jadi anomali. Lo jadi error di sistem dia."

"Tapi kita mau ke mana?"

"Nyegerin otak. Gue muak liat muka lo pucet kayak mayat hidup gitu."

***

Tiga puluh menit kemudian, mereka berdiri di depan gerbang rolling door sebuah pusat perbelanjaan yang baru saja dibuka. Satpam menatap mereka curiga karena seragam sekolah yang mencolok, tapi Raka dengan santai mengeluarkan jaket hoodie dari kursi belakang dan melemparkannya ke wajah Keyra.

"Pake. Penyamaran."

Tujuan mereka ternyata lantai paling atas. Suara denting koin digital, musik elektronik bising, dan kelap-kelip lampu neon menyambut mereka. Timezone. Masih sepi, hanya ada beberapa pegawai yang baru menyalakan mesin.

"Timezone? Seriusan, Ka? Kita bolos buat main dingdong?" Keyra menatap Raka tak percaya, tapi sudut bibirnya mulai berkedut menahan senyum.

"Bukan sembarang main. Ini terapi," Raka menarik tangan Keyra menuju konter penukaran kartu. Dia mengisi saldo dengan jumlah yang tidak wajar untuk ukuran anak SMA. "Hari ini, kita nggak mikirin Julian, nggak mikirin buku hitam sialan itu, dan nggak mikirin loop waktu. Aturannya cuma satu: kalahkan skor gue."

"Lo nantang gue?" Keyra menaikkan alisnya, jiwa kompetitifnya yang selama ini terpendam di balik tumpukan proposal OSIS mulai bangkit. "Jangan nyesel kalau lo kalah sama cewek."

"Buktikan."

Mereka memulai dengan simulasi balapan mobil. Raka memilih mobil sport merah mencolok, sementara Keyra memilih truk monster.

"Truk? Serius?" ejek Raka sambil menginjak pedal gas.

"Biar bisa ngelindes ego lo," balas Keyra sengit.

Balapan itu berlangsung brutal. Keyra tidak bermain cantik; dia menabrakkan truk virtualnya ke sisi mobil Raka setiap kali cowok itu mencoba menyalip. Raka tertawa lepas, tawa yang benar-benar nyata, bukan tawa sinis yang biasa dia berikan pada Julian. Di tikungan terakhir, Keyra melakukan manuver curang dengan memotong jalur rumput dan memenangkan balapan dengan selisih 0,5 detik.

"Curang!" seru Raka, tapi matanya berbinar.

"Strategi, Pak Wakil Ketua," Keyra menjulurkan lidah.

Mereka berpindah ke mesin basket Street Basketball. Ini wilayah kekuasaan Raka. Dengan lengan kemeja digulung hingga siku, Raka melempar bola demi bola dengan akurasi mesin. Swish. Swish. Swish. Skornya melesat naik.

Keyra berusaha mengejar di mesin sebelahnya, tapi napasnya mulai terengah-engah. Dia melirik Raka. Cowok itu tampak berbeda di bawah lampu neon biru dan merah muda. Tidak ada beban di pundaknya. Rambutnya sedikit berantakan, keringat mengkilap di pelipisnya. Untuk pertama kalinya sejak Keyra mengenalnya, Raka terlihat seperti remaja normal berusia tujuh belas tahun, bukan detektif amatir yang terjebak dalam misteri supranatural.

"Waktu abis!" seru Raka, menunjuk skornya yang dua kali lipat dari Keyra. "Hukuman buat yang kalah: traktir es krim."

"Curang, lo kan anak basket!" protes Keyra, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

Raka tidak menjawab. Dia melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. Hiruk-pikuk suara mesin arcade seolah meredup menjadi latar belakang yang samar. Raka mengulurkan tangan, dan sejenak Keyra menahan napas, mengira Raka akan melakukan sesuatu yang dramatis.

Tangan Raka terulur, lalu dengan lembut mengambil sehelai benang jaket yang tersangkut di rambut Keyra.

"Lo... rambut lo berantakan," gumam Raka, suaranya sedikit lebih rendah dari sebelumnya. Tatapannya terkunci pada mata Keyra. Tidak ada analisis, tidak ada kecurigaan seperti tatapan Julian. Hanya ada kehangatan yang tulus.

Keyra merasakan pipinya memanas, dan dia bersyukur pencahayaan di sana remang-remang. "Gara-gara lo ngajak balapan truk tadi."

Raka tersenyum tipis. "Tapi lo seneng, kan?"

Keyra terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya. Gue lupa kalau sekarang jam... jam berapa sekarang?"

Dia panik merogoh saku untuk mencari ponselnya, tapi Raka menahan tangannya.

"Jangan," larang Raka tegas namun lembut. "Jangan liat jam. Di sini, di zona ini, waktu itu milik kita. Bukan milik Julian. Biarin dia nunggu di ruang OSIS kayak orang bego. Biarin dia bingung kenapa variabelnya nggak dateng."

Raka menarik Keyra menuju mesin photo booth. "Ayo. Kita butuh bukti kalau hari ini pernah ada. Bukti kalau kita pernah hidup tanpa didikte sama skenario siapa pun."

Di dalam bilik foto yang sempit, mereka berdesakan. Tirai ditutup. Kilatan lampu blitz menyambar empat kali.

Foto pertama: Mereka berdua pasang muka jelek.

Foto kedua: Raka menarik kupluk hoodie Keyra hingga menutupi matanya.

Foto ketiga: Keyra memukul bahu Raka sambil tertawa.

Foto keempat: Raka menatap kamera sambil tersenyum lebar, sementara Keyra menatap Raka dari samping dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara rasa terima kasih dan sesuatu yang lebih dalam.

Saat lembaran foto itu keluar dari mesin, Raka mengambilnya dan membaginya menjadi dua.

"Simpen," kata Raka, menyerahkan potongan foto itu pada Keyra. "Ini pengingat. Kalau nanti dunia jadi gila lagi, kalau Julian mulai ngereset waktu lagi, liat foto ini. Inget kalau lo punya pilihan buat nggak nurut."

Keyra menggenggam potongan foto itu erat-erat. Di saku lainnya, ponselnya bergetar panjang. Dia tahu itu pasti panggilan dari nomor tak dikenal atau mungkin pesan dari grup OSIS yang menanyakan keberadaannya. Julian pasti sedang mengamuk dalam diam, mencoret-coret buku hitamnya dengan tinta merah karena 'Eksperimen 07:00' gagal total.

Tapi untuk saat ini, di tengah bisingnya lagu pop jepang dari mesin dansa dan aroma popcorn karamel, Keyra tidak peduli. Dia bukan variabel. Dia Keyra, dan dia baru saja memenangkan satu ronde melawan takdir.

"Es krim?" tagih Raka.

"Ayo," jawab Keyra mantap. "Pake topping yang paling mahal. Lo yang bayar parkir."

Mereka berjalan keluar dari area permainan, meninggalkan jejak tawa yang tidak tercatat dalam buku jadwal mana pun. Garis waktu mungkin bergeser, tapi pergeseran itu terasa manis.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!