NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal / Kutukan / Romansa pedesaan
Popularitas:97.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01 : Ketiga kalinya

Sangat disarankan, baca kisah ini ... coba dihayati, pelan-pelan supaya nangkap kode-kode rahasia 😁. Biar kita mikir bareng, jadi sama rata. Yang nulis hampir oleng, yang baca kurang lebih ya seharusnya sama ... Canda, Kakak ❤️‍🔥

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kelopak mata dibingkai bulu lentik bergerak-gerak. Wanita berparas manis, kulit eksotis mulai terjaga dari tidurnya. Ainur membuka mata dengan perasaan bahagia. Secara otomatis, naluri keibuannya mengambil alih … jemari berhiaskan cincin pernikahan meraba perut tertutup baju tidur bahan katun.

Deg!

Detak jantung wanita berumur dua puluh satu tahun itu tidak beraturan.

“Perutku … anakku!” Dia langsung terduduk, menyingkap selimut tipis, menaikan baju tidurnya. “Mana anakku, kemana dia?!”

Ainur berteriak lantang, kedua tangan meraba perut yang sebelumnya sudah sedikit membuncit, kini kembali datar.

“Anakku! Kembalikan anakku!” suaranya kian nyaring disertai buliran bening bercucuran. Ainur histeris.

“Mas Aryo! Bayi kita hilang lagi!” kata lagi sungguh menyakitkan hati, ini kali ketiga dia kehilangan calon buah hatinya yang hampir melewati trimester pertama.

Derap langkah pada lantai keras terdengar bersahut-sahutan. Pintu kamar berukuran luas dengan perabotan seluruhnya terbuat dari kayu jati, dihempaskan.

“Kenapa, sayang?” tanya sosok tampan berwajah ramah, rambut dipotong rapi, tubuh gagah meskipun tidak seperti binaraga.

Daryo, sering di sapa mas Aryo – melangkah lebar, lalu berjongkok, memegang kedua tangan istrinya yang terasa dingin, napas pendek-pendek. “Ada apa sayang? Perutnya sakit, atau mau sesuatu?” suaranya begitu lembut, penuh perhatian.

“Anak kita, mas. Ini ….” Tangan suaminya dia letakkan pada permukaan kulit kantong rahim.

Mata Aryo membulat, ekspresinya terkejut. “Kok kempes, sayang?”

Tangis Ainur pecah, dia meraung-raung menangisi kehilangan calon buah hatinya. “Aku ndak kuat kalau seperti ini terus, mas? Tiga kali hamil, tiga kali pula kita gagal menjadi orang tua. Ayo pergi ke orang pintar, tanya. Kenapa kejadian ini terulang lagi. Ayo mas!”

Ainur memohon dengan wajah berderai air mata. Dia mengajak sang suami mencari orang sakti yang memiliki ilmu spiritual. Rasa sakit hati, kecewa, penasaran, tak terima, membuatnya ingin mencari tahu kendatipun kata ahli medis – sebenarnya dia mengalami kehamilan palsu.

Daryo berlutut, memeluk erat tubuh istrinya yang menangis sesenggukan. Mengelus rambut ikal panjang sepunggung penuh perasaan. “Inur, kamu masih ingat apa kata dokter magang, kan? Kalau sebenarnya dirimu tidak hamil sungguhan. Keterlambatan datang bulan itu dikarenakan efek stress, dan kamu menganggapnya sedang mengandung.”

Pelukan erat itu dilepas paksa. Ainur memandang tak percaya wajah suaminya. “Kamu masih nggak percaya, mas? Kalau memang aku ndak hamil – perut datar perlahan membuncit, mengeras, mual-mual, nafsu makan berkurang, anti bau menyengat, apa artinya kalau bukan hamil?!”

“Sayang dengerin mas, bisa?” suaranya lembut, sama seperti elusan pada pipi basah, sorot mata sendu.

“Nggak bisa! Aku mau pergi cari orang pintar!” Ia memberontak mau turun dari ranjang.

Namun Daryo melarang, kembali mendekap kuat. “Kalau kamu nggak puas dengan diagnosa ahli medis puskesmas, ayo kita pergi ke kota. Periksa ke dokter kandungan. Jangan ke dukun, sama saja kamu mempermalukan keluarga kita, Inur!”

Tubuh Inur kaku, kembali dirinya ditampar kenyataan pahit. Keluarga suaminya bukan orang biasa, mereka terpandang dan terkenal dermawan, serta kakak iparnya adalah seorang bidan yang bekerja di puskesmas desa Tugu Ireng.

Pernah sekali Inur nekat pergi seorang diri mencari tahu siapa orang pintar di wilayah kecamatan ini, belum bertemu tapi keluarga suaminya sudah dapat malu. Fitnah kejam berhembus mengerikan, mengatakan kalau keluarga Tukiran main dukun.

Semenjak itu, Ainur mengubur keinginannya, mencoba menerima kenyataan kalau dia memang hamil palsu.

Yang kata kakak iparnya dipicu oleh ketakutan akan kemandulan, tekanan mental yang membuat otak salah menafsirkan sinyal tubuh.

Awalnya Ainur bisa menerima, dikarenakan sudah tiga tahun menikah, dia belum juga hamil, lebih tepatnya tidak berhasil melahirkan.

Satu kali kehilangan dengan cara tak masuk diakal, tiba-tiba perut kembali datar – Ainur masih bisa berpikir jernih, logikanya belajar menerima walaupun hatinya meyakini dia benar-benar hamil.

Peristiwa kedua membuat kecurigaan yang sudah coba dia kubur dalam sanubari menyeruak ke permukaan. Calon anaknya kembali lenyap tak berbekas – tidak meninggalkan rasa sakit, maupun tanda-tanda dia pernah bersemayam di perut calon ibunya.

“Kamu sedang banyak pikiran, lebih baik istirahat. Nanti mas minta tolong ke ibu buatkan teh herbal.” Aryo berdiri, kedua tangannya menekan bahu sang istri sampai berbaring. Selimut tadi dibenahi, menutupi hingga bahu.

“Dek, mas sayang sama kamu. Tolong jangan memikirkan hal-hal berat. Ada atau tidaknya anak, kita masih bisa bahagia. Toh, orang tuaku, dan orang tuamu sama sekali ndak menuntut keturunan. Mereka mengerti, bersedia bersabar.” Sebuah kecupan lembut ia hadiahkan pada dahi sang istri yang seperti raga kosong, tatapan mata hampa.

“Mas berangkat ngecek para pekerja di kebun dan sawah, ya. Kalau kamu perlu apa-apa, minta saja pada mbak Neneng, atau ibu.” Daryo mengelus sebentar kepala istrinya, lalu dia keluar dari dalam kamar.

Sepeninggalannya sang suami, Ainur tidak tidur. Pikirannya mulai kemana-mana. ‘Apa ada hamil palsu tapi merasa memiliki ikatan batin ke sesuatu yang pernah bersemayam di perutnya?’

Ainur masih terus melamun, mengingat awal dia hamil pertama kali tiga tahun lalu, dua bulan setelah menikah di umurnya yang masih sangat muda – delapan belas tahun lebih tiga bulan.

“Setiap tahun aku merasakan kondisi seperti ibu-ibu hamil pada umumnya, tanda-tandanya pun sama. Ya ada keluar sedikit flek, ya ngidam, ya suasana hati naik turun, terakhir terbentuknya naluri keibuan dengan calon anaknya. Masa iya, hamil palsu?”

Terlalu asik melamun, Ainur sampai tidak menyadari ibu mertuanya sudah masuk ke dalam kamar, membawa nampan berisi secangkir teh masih mengepulkan uap.

"Nduk, pantang melamun seperti itu, nanti kesambet loh,” tegurnya lembut, penuh perhatian.

Tubuh Ainur tersentak lembut, dia menoleh ke wanita anggun mengenakan baju lurik coklat gelap campur muda, rambut digelung sederhana, bawahan kain jarik batik. “Maaf bu, aku ndak denger langkah kaki.”

Bu Mamik, ibu mertuanya Ainur, mengulas senyum lembut, disempurnakan dengan ekspresi ramah. Dia meletakkan nampan tadi di atas meja rias, mengambil gelasnya dan memberikan ke sang menantu.

“Diminum dulu teh daun pegagan ini – biar khasiatnya cepat terasa. Meredakan stres, melancarkan peredaran darahmu, sehingga pikiran jadi rileks, saraf tubuh ndak tegang, cah ayu.”

Gelas bertangkai di ambil oleh Ainur. “Terima kasih, bu. Maaf kalau terus-terusan merepotkan, membuat ibu dan lainnya sering khawatir akan kondisiku.”

Bu Mamik melepaskan sisir konde pada sanggul yang dijadikan aksesoris. Sangat lembut menyisir helaian kusut sembari melontarkan kata-kata penenang. “Kamu sudah ibu anggap seperti anak sendiri, bukan menantu. Saat dirimu sakit, ibu pun merasakannya.”

Ainur terharu, dia hidup diantara orang yang tulus menyayanginya. Dibesarkan dengan penuh kasih, tidak kekurangan materi maupun kasih sayang. Sekarang, memiliki suami berikut keluarganya, juga sangat perhatian.

Beberapa menit kemudian, Ainur sudah meminum habis teh herbal, lalu dia mencoba istirahat walaupun jam dinding telah menunjukkan pukul sembilan pagi.

Bu Mamik keluar dari dalam kamar, pintu ditutup rapat.

Belum ada lima belas menit, rasa kantuk sudah melandanya. Ainur tertidur dengan wajah sembab. Tidak lama kemudian, keningnya mengerut, buliran keringat membasahi pelipis dan dahi.

“Ibu tolong! Tolong ibu! Hiks hiks ….”

.

.

Bersambung.

Setting, akhir tahun 90-an.

1
Reni
Ealah cublikkkkk Jian kok bikin jantungan ternyata malah citranti to yg ketahuan untung bener ni bocah berulah
Betri Betmawati
siap2 lh kalian menerima pembalasan dari Ainur, sehbat2 nya Ki Ajeng masih bisa dikelabui olh mbak neng
Betri Betmawati
itu bayi monster nya pasti seram bangat ya
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Dungu? mungkin itu dulu, sekarang dia perlahan mulai berubah dan akan menuntut balas atas perbuatan kalian terhadapnya🙄
surya kartolo6
orang Ainur juga sudah LBH dari tau😡
Gadis misterius
Sekarang wktunya untuk bngkit ainur buang kasih dan perasaan manusiawimu manusia yg kau hadapi adlah manusia2 yg melebihi iblis km harus mampu balas dendam melebihi kwsadisan yg mereka lakukan kepadamu dan ke anak2mu
surya kartolo6
bukankah klo hamil baru trimester pertama itu masih gumpalan darah ya, maksudnya blm jadi janin.trus kok bisa tau2 sudah jadi wujud walaupun sudah tiada dan wujudnya monster..
Siti Mamahe Kaila Izana
Hai Mamik loe yg Dungu (pake banged) 👊👊👊 boleh geplak Mamik dan Tukiran ngga? 🤬🤬⚔️⚔️
ora
Yang kau katai dungu itu yang nanti bakal menghancurkan hidupmu...
Lisstia
ini kapan lagi waktunya ainur hamil laginya
ainur gak di bawa jalan jalan ke desanya dwipa lagi ya kak,,,biar dia lihat aktivitas warga di sana juga
Nurr Tika
semangat nur
Eli Rahma
bnr kamu hrs balas mereka lebih sadis dan lbh kejam..semangt Ainur..
Herni Tri Putri
cerita yg menarik dibaca,awal2 cerita susah ditebak..makin kesini,makin bikin penasaran../Good/
Eli Rahma
sakti juga mb neng..
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
Bu Mamik, kau bilang dungu? Dungu juga akibat ulahmu, tunggu saja kala si dungu ini menemukan serpihan otak waras nya, pembalasan terencana akan segera menghampiri dan mengoyak semua milikmu.
menghanguskan mu si paling pintar.
SENJA
enak banget ngatain dungu 😶
SENJA
ini peliharaannya bayi atau balita doang ini si dukun 😶
SENJA
susah juga balas dendam sama orang sakit jiwa pada 😶😶😶
Monica Lora
lama lama kelihatan lebih sakti mb neneng dr pd ki ageng 🤭🤭🤭
SENJA
mba neng ilmunya tinggi juga 😳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!