Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Harga Sebuah Loyalitas
Pagi itu, meja makan marmer di griya tawang Wardhana terasa lebih dingin dari biasanya. AC sentral mendesis pelan, menyembunyikan ketegangan yang merambat di antara denting sendok dan piring porselen. Alana duduk diam, mengaduk bubur ayam yang sudah kehilangan uap panasnya. Matanya sembab karena kurang tidur, tapi ia memaksakan diri untuk mengenakan kemeja rapi dan menyisir rambutnya. Ia harus terlihat normal.
Di saku celana bahannya, ponsel terasa berat seolah terbuat dari timah. Di dalamnya tersimpan foto-foto yang diambilnya semalam: polis asuransi senilai lima puluh miliar rupiah atas nama Siska Damayanti, dan catatan transaksi suap yang ditulis tangan oleh ayahnya sendiri. Rahasia itu membakar paha Alana, membuatnya ingin menjerit, namun ia tahu satu kesalahan kecil saja akan membuatnya terusir tanpa sepeser pun uang.
"Kopinya pahit," keluh Hendra, meletakkan cangkir dengan kasar. Cairan hitam itu menciprat sedikit ke taplak meja putih bersih.
Alana tidak mengangkat wajah. "Mbok Nah pakai takaran biasa, Yah."
"Bukan soal takaran," gerutu Hendra. Ia memijat pelipisnya. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan ia juga tidak tidur nyenyak. "Kepalaku pusing gara-gara kejadian kemarin. Kunci laci itu... bagaimana bisa hilang begitu saja?"
Jantung Alana berdegup kencang, menabrak tulang rusuknya. Ia menggenggam sendok lebih erat. "Ayah yakin tidak menjatuhkannya di mobil?"
"Sudah dicari supir, tidak ada," potong Hendra tajam. "Ini pasti ulah Rini. Sekretaris bodoh itu. Kemarin dia masuk ke ruangan saya mengantar berkas saat saya di toilet. Pasti terselip di tumpukan kertas yang dia bawa keluar."
Alana menelan ludah yang terasa kesat. Rasa bersalah menusuk ulu hatinya. Rini dipecat karena keteledoran Alana. Wanita itu kehilangan mata pencaharian hanya karena Alana butuh akses ke bukti kejahatan ayahnya.
"Ayah memecatnya langsung?" tanya Alana pelan. "Mbak Rini sudah kerja lima tahun sama Ayah. Dia punya dua anak yang masih sekolah."
Hendra menatap Alana dengan pandangan meremehkan, tatapan yang selalu membuat Alana merasa kerdil. "Dalam bisnis, Alana, tidak ada tempat untuk sentimentil. Kesalahan fatal adalah kesalahan fatal. Lagipula, Siska benar. Rini belakangan ini kerjanya lambat. Siska bilang dia bisa mencarikan sekretaris baru yang lebih kompeten dan... lebih sedap dipandang untuk klien."
Nama itu lagi. Siska.
Alana merasakan amarah naik ke kerongkongannya, pahit seperti empedu. Siska bukan hanya mengambil ayahnya, mengambil uang ibunya, tapi sekarang juga menghancurkan hidup orang lain demi memuluskan jalannya. Dengan menyingkirkan Rini, Siska menghilangkan satu-satunya saksi mata di kantor yang tahu jadwal asli Hendra.
"Siska sangat perhatian ya sama urusan kantor Ayah," sindir Alana, berusaha terdengar datar.
"Dia punya inisiatif. Tidak seperti kamu yang cuma bisa menghabiskan uang," balas Hendra dingin. Ia berdiri, mengusap mulutnya dengan serbet. "Saya pulang malam. Jangan tunggu."
Tanpa pamit, tanpa menoleh, Hendra melangkah pergi. Suara langkah sepatu kulitnya menjauh, lalu terdengar pintu utama dibanting pelan. Alana menghela napas panjang, bahunya merosot. Ia selamat pagi ini, tapi Rini yang menjadi korban.
Alana tahu apa yang harus ia lakukan. Ia meraih tasnya dan bergegas keluar. Ia tidak bisa mengembalikan pekerjaan Rini, tapi ia harus memastikan Rini tidak menjadi musuh yang membahayakan—atau lebih baik lagi, menjadikannya sekutu yang sesungguhnya.
***
Alana bertemu Rini di sebuah kedai kopi kecil di daerah Tebet, jauh dari jangkauan radar sosialita SCBD. Tempat itu ramai, penuh asap rokok dan suara mesin penggiling kopi yang bising. Rini duduk di sudut, matanya merah dan bengkak. Ada kotak tisu yang sudah setengah kosong di hadapannya.
Saat Alana duduk, Rini tersentak kaget. Ia buru-buru menghapus air matanya. "Mbak Alana? Ngapain ke sini? Kalau Pak Hendra tahu..."
"Ayah tidak akan tahu," potong Alana lembut. Ia memesan es teh manis pada pelayan, lalu menatap Rini lekat-lekat. "Mbak Rini, aku minta maaf."
Rini tertawa sumbang, terdengar getir. "Buat apa Mbak minta maaf? Bapak yang pecat saya. Katanya saya mencuri kunci. Demi Tuhan, Mbak, saya nggak pernah ambil barang yang bukan hak saya."
Alana merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal. Di dalamnya ada uang lima juta rupiah—sisa terakhir dari penjualan tas ibunya setelah membayar pengacara Burhan. Ia meletakkan amplop itu di depan Rini.
"Ini bukan pesangon dari kantor. Ini dari aku pribadi," kata Alana. "Aku tahu Mbak Rini nggak ambil kunci itu."
Rini menatap amplop itu, lalu menatap Alana dengan bingung. "Mbak... Mbak Alana tahu siapa yang ambil?"
Alana diam sejenak, menimbang risiko. Lalu ia mengangguk pelan. "Aku yang ambil, Mbak."
Mata Rini membelalak. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Ayah selingkuh sama Siska, Mbak. Siska temanku sendiri," lanjut Alana cepat, sebelum Rini sempat bereaksi. "Aku butuh bukti. Laci itu isinya bukti kalau Ayah memindahkan aset Ibu ke nama Siska. Kalau aku nggak ambil kunci itu semalam, aku mungkin nggak akan tahu kalau masa depanku sudah dijual."
Rini terdiam. Perlahan, ekspresi kaget di wajahnya berubah menjadi pemahaman, lalu simpati. Sebagai sekretaris yang mengatur jadwal Hendra selama lima tahun, Rini pasti sudah menduga ada yang tidak beres, tapi mendengar konfirmasi langsung dari mulut anak bosnya memberikan dampak berbeda.
"Perempuan itu..." Rini mendesis, suaranya bergetar karena marah. "Pantas saja dia senyum sinis waktu Bapak teriak-teriak memecat saya pagi ini. Dia ada di sana, Mbak. Di ruangan Bapak, pagi-pagi buta."
"Siska ada di kantor pagi ini?"
"Iya. Dia yang mengusulkan nama pengganti saya. Sepupu jauhnya, katanya," Rini mencondongkan tubuh, suaranya merendah. "Mbak Alana, Mbak harus hati-hati. Ini bukan cuma soal selingkuh. Saya sering lihat Bapak terima tamu aneh. Orang-orang pemerintahan, kontraktor yang rekam jejaknya buruk. Mereka nggak pernah masuk lewat lobi depan, selalu lewat lift barang di belakang. Dan belakangan ini, Siska sering ikut dalam pertemuan tertutup itu."
Informasi ini klop dengan buku catatan yang ditemukan Alana. Suap. Gratifikasi. Dan Siska terlibat aktif.
"Mbak Rini, tolong terima uang ini," Alana mendorong amplop itu lagi. "Anggap ini permintaan maaf aku karena sudah melibatkan Mbak. Tapi aku butuh satu hal lagi."
"Apa itu, Mbak?"
"Daftar kontak orang-orang 'aneh' yang sering menemui Ayah. Atau proyek-proyek yang menurut Mbak janggal. Apa Mbak masih ingat?"
Rini ragu sejenak, lalu mengangguk tegas. Rasa sakit hati karena dipecat semena-mena mengalahkan ketakutannya. "Saya nggak pegang data fisiknya, semua di laptop kantor yang sudah disita. Tapi saya ingat nama PT yang sering Bapak sebut kalau lagi teleponan sama Siska. PT. Cipta Karya Semesta. Itu perusahaan cangkang, Mbak. Alamatnya di ruko kosong di Bekasi, tapi aliran dananya miliaran. Saya pernah disuruh transfer ke sana sekali, sebelum tugas itu diambil alih sama Bapak sendiri."
Alana segera mengeluarkan ponselnya, mengetik nama perusahaan itu di catatan rahasianya. *PT. Cipta Karya Semesta.* Ini petunjuk baru.
"Terima kasih, Mbak Rini. Tolong rahasiakan pertemuan kita. Kalau ada apa-apa, hubungi nomor baruku ini," Alana memberikan secarik kertas berisi nomor kartu prabayar yang baru dibelinya.
Mereka berpisah dengan jabat tangan erat. Alana melihat punggung Rini menjauh dan merasakan beban di dadanya sedikit berkurang. Ia kehilangan uang terakhirnya, tapi ia mendapatkan sekutu yang tahu di mana bangkai-bangkai disembunyikan.
***
Menjelang sore, Alana kembali ke penthouse. Tubuhnya lelah, tapi otaknya berputar kencang memikirkan strategi selanjutnya. Ia harus mendiskusikan nama PT itu dengan Burhan.
Namun, saat pintu lift pribadi terbuka ke ruang tamu penthouse, langkah Alana terhenti. Pemandangan di depannya membuatnya darahnya mendidih.
Siska ada di sana.
Bukan sebagai tamu yang duduk manis di sofa, tapi berdiri di tengah ruang keluarga, memegang beberapa contoh kain gorden. Di sebelahnya ada seorang desainer interior yang sedang mencatat sesuatu.
"Nah, yang warna *beige* ini lebih cocok untuk menetralisir suasana, Mas," kata Siska pada desainer itu, suaranya terdengar sangat... berkuasa. "Warna biru tua yang sekarang ini terlalu suram. Bikin aura rumah jadi berat."
Gorden biru tua itu adalah pilihan ibu Alana sepuluh tahun lalu.
"Siska?" Panggilan Alana keluar lebih tajam dari yang ia niatkan.
Siska menoleh. Tidak ada rasa kaget atau canggung di wajah cantiknya. Ia justru tersenyum lebar, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia mengenakan *dress* selutut berwarna *peach* yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan—Alana menyipitkan mata—sepatu *Louboutin* yang baru.
"Eh, Alana sayang! Sudah pulang?" sapa Siska riang. Ia melambai pada desainer itu. "Sebentar ya, Mas."
Siska berjalan menghampiri Alana, aroma parfum *Chanel* menguar kuat darinya. Parfum yang sama yang tertinggal di mobil Hendra.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Alana, berusaha menahan tangannya agar tidak menampar wajah mulus itu.
"Oh, Mas Hendra minta tolong aku buat lihat-lihat kondisi rumah," jawab Siska santai, seolah ia sedang membicarakan cuaca. "Katanya dia sumpek. Suasana rumah ini terlalu 'tua' dan 'mati'. Jadi aku inisiatif panggil desainer interior langganan kantor buat *refreshing* sedikit. Biar Ayah kamu betah di rumah, Lan. Kasihan lho dia kerja keras terus."
Kata-kata itu dipilih dengan cermat untuk melukai. 'Tua' dan 'mati' adalah referensi tidak langsung pada kenangan Ibu yang masih melekat di setiap sudut rumah ini.
"Aku nggak ingat Ayah bilang mau renovasi," kata Alana dingin.
Siska tertawa kecil, suara yang terdengar seperti lonceng retak. Ia melangkah lebih dekat, mencondongkan tubuhnya ke telinga Alana. "Banyak hal yang Mas Hendra nggak bilang sama kamu, Alana. Kamu itu masih kecil. Kamu nggak ngerti kebutuhan laki-laki dewasa seperti Ayah kamu. Dia butuh... semangat baru."
Jarak mereka begitu dekat hingga Alana bisa melihat pori-pori wajah Siska yang tertutup bedak mahal. Ada kilatan tantangan di mata Siska. Wanita ini tidak lagi bersembunyi. Ia sedang menandai wilayah kekuasaannya.
"Ini rumahku, Siska. Rumah Ibuku," desis Alana.
Siska mundur selangkah, senyumnya berubah menjadi seringai tipis yang meremehkan. Ia memandang berkeliling ruang tamu mewah itu, seolah sedang menaksir harga setiap barang.
"Rumah itu milik siapa yang memegang sertifikatnya, Alana. Dan sertifikat itu ada di tangan Ayahmu," ucap Siska pelan namun penuh bisa. "Kamu cuma numpang. Jangan lupa itu."
Sebelum Alana sempat membalas, Siska sudah berbalik kembali ke desainer interior itu. "Mas, coba kita lihat kamar utamanya. Saya mau ganti *bedcover*-nya sekalian."
Alana berdiri terpaku di tempatnya. Kakinya terasa dipaku ke lantai marmer. Ia mendengar suara Siska yang tertawa renyah dari arah kamar tidur ayahnya—kamar yang dulu ditempati bersama ibunya.
Air mata kemarahan mendesak keluar, tapi Alana menahannya kuat-kuat. Ia tidak boleh menangis. Tidak di depan pelayan, tidak di depan penyusup itu.
Kata-kata Siska terngiang di kepalanya: *"Kamu cuma numpang."*
Dan dengan polis asuransi yang diubah itu, Alana sadar posisinya lebih buruk dari sekadar numpang. Ia adalah penghalang. Dan Siska baru saja mulai menyingkirkan penghalang-penghalang itu satu per satu, dimulai dari Rini, lalu gorden Ibu, dan akhirnya... Alana sendiri.
Alana meraba ponsel di sakunya lagi. Bukti kejahatan Ayah dan Siska ada di sana. Ia ingin sekali berlari ke polisi sekarang juga. Tapi ia ingat ucapan Burhan: *tanpa kekuatan finansial dan koneksi, bukti ini bisa hilang begitu saja di tangan penyidik yang korup.* Ayahnya punya uang untuk menyuap siapa saja.
Alana harus bersabar. Ia harus bermain peran. Ia harus menjadi ular yang lebih berbisa daripada Siska.
Dengan napas gemetar, Alana berbalik dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Ia mengunci pintu, lalu merosot duduk di lantai. Ia membuka laptopnya, mengetik nama *PT. Cipta Karya Semesta* di mesin pencari.
Hasil pencarian nihil. Perusahaan itu benar-benar hantu.
"Oke, Ayah," bisik Alana pada layar laptop yang menyala. "Kalian mau main kasar? Aku akan belajar caranya."
Sore itu, diiringi suara tawa Siska yang samar-samar terdengar dari luar kamar, Alana berhenti menjadi seorang putri yang manja. Ia mulai menyusun rencana perang.