NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Menyelamatkan Bima

Sky menundukkan kepala sejenak, menarik napas panjang yang rasanya seperti memompa energi baru ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat ketika satu dorongan terakhir mengalir ke tangannya,seolah seluruh kekuatan yang tersisa dari ingatan bela diri dan kemarahan karena melihat Kiara terluka terkonsentrasi menjadi satu pukulan tunggal. Ia menjerit pelan, melepaskan seluruh tenaga yang tersisa ke arah dinding kabut.

Tembok itu bergetar hebat, retakan panjang menyebar dari dasar hingga ke atas, seperti kaca yang lama-lama tak mampu menahan tekanan. Debu hitam beterbangan, kabut memucat, dan akhirnya dengan satu ledakan yang bergema keras, dinding itu pecah berkeping-keping, menghilang dalam asap gelap yang memutar-putar sebelum lenyap sepenuhnya.

Sky terengah-engah, menunduk sebentar untuk menenangkan tubuhnya, lalu menatap ke seberang.

Matanya segera menemukan Kiara. Gadis itu nyaris roboh ke tanah, tubuhnya penuh luka dan darah, tapi matanya masih menyala penuh tekad. Setiap gerakan Kiara yang tersisa terlihat melelahkan, namun ia tetap mempertahankan fokusnya pada Bara yang masih berdiri beberapa langkah di depannya.

Bara sendiri tampak terkejut. Tatapan matanya melebar, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Apa… ini…?” gumamnya dengan nada tercengang. “Arwah kecil sepertimu… Kau… Menghancurkan… Tembokku?”

Sky berdiri tegap, bahu lurus, tatapan menantang. Energi di sekitarnya bergetar, gelombang dingin dari Bara bertemu dengan aura panas kemarahan dan tekad Sky.

 “Aku tidak peduli tembokmu atau siapa pun kau ” katanya dengan suara tegas, yang menembus sisa kabut di sekitarnya. “Sekarang… Giliranmu menghadapi aku!”

Tanpa Bara sadari, Sky diam-diam mengangkat tangan kanannya sedikit ke arah Kiara, membentuk gerakan kode yang hanya bisa dimengerti oleh gadis itu. Satu jentikan jari diikuti gerakan cepat ke sisi kanan. Kode itu sederhana, tapi cukup untuk Kiara mengerti: masuk ke goa… Selamatkan Bima… Cepat.

Kiara menatap gerakan Sky, matanya sedikit melebar karena terkejut sekaligus lega. Seketika, sebuah pemahaman tersambung di kepalanya. Ia menelan ludah, lalu menunduk sedikit untuk memberi respons halus: Anggukan ringan, lalu melangkah perlahan namun mantap ke arah goa.

 Beberapa langkah pertama terasa berat, darah dari luka-lukanya membuat kakinya nyeri. Tapi ia tahu waktunya terbatas.

Para penjaga lain yang tersisa segera menyadari gerakan Kiara dan menyerangnya. Sosok berjubah gelap itu menyerang dari kanan, kiri, bahkan dari atas, menghalangi jalannya.

Kiara menarik keris kecil dari pinggang, langkahnya tetap mantap meski tubuhnya nyeri. Setiap gerakan menangkis dan membalas terlihat gesit, keris berputar di tangannya, memotong bayangan hitam yang menyerang, membuat para penjaga itu terlempar atau menghilang menjadi asap hitam yang mengepul.

“Aku nggak punya waktu buat main-main dengan kalian,” gumam Kiara sambil melompat, menendang satu penjaga yang mencoba menghalangi jalannya.

“Aku harus sampai ke Bima!”

Beberapa menit terasa seperti selamanya. Debu dan serpihan kabut menari di udara, bayangan para penjaga hitam menghantam di sekeliling, tapi Kiara tetap fokus. Keringat bercampur darah menetes di wajahnya, namun tekadnya tidak luntur.

 Akhirnya, setelah beberapa benturan dan lemparan keris yang membuat jalannya terbuka, ia berhasil sampai di dalam ruangan goa tempat Bima terikat.

Bima terlihat… Hancur. Luka-luka di tubuhnya jelas, beberapa bagian baju robek, tubuhnya bergetar lemah di atas tanah. Mata Kiara membesar.

“Bima…!” serunya pelan, suaranya nyaris pecah. Ia menunduk, menempelkan tangan di pipi temannya, berusaha menimbulkan getaran energi lembut untuk membangunkan kesadarannya.

Bima membuka mata perlahan. Tatapannya langsung fokus ke Kiara. Sebuah senyum kecil muncul, lega karena melihat gadis yang ia percayai berhasil sampai ke sisinya. Namun, senyum itu segera memudar ketika matanya menangkap darah yang mengalir di kebaya Kiara. Wajahnya yang biasanya tenang itu kini menegang, rahang mengeras, mata menyala marah.

“Kiara… Kamu terluka…” suara Bima terdengar rendah, penuh amarah tapi juga panik. “Apa yang mereka lakukan padamu?”

Kiara menggeleng cepat. “Bukan saatnya marah, Bima! Kita harus pergi sekarang!” katanya sambil menatap sekeliling, memastikan para penjaga tidak mendekat. Ia kemudian mengangkat kerisnya setinggi mungkin, lalu dengan satu ayunan tegas memotong rantai yang mengikat Bima.

Rantai itu pecah, logam hitam yang melilit tubuhnya meledak menjadi serpihan asap. Bima mengerang, tapi segera berdiri dengan bantuan Kiara. Gadis itu memapahnya, satu tangan di pinggang, satu tangan menopang bahunya, dan perlahan mereka melangkah keluar dari goa gelap itu.

Begitu mereka keluar, pandangan mereka langsung tertuju pada Sky. Ia sudah kelelahan, berdiri meski tubuhnya terlihat mulai goyah, dikelilingi aura Bara yang semakin mengamuk. Sky menatap mereka, wajahnya masih tersenyum sedikit, meski napasnya berat.

“Cepat… Lari!” teriak Sky dengan suara lantang. “Aku… Aku masih bisa bertahan!

"T-Tapi..."

Kiara menatap Sky, hatinya berat. Ia ingin berlari kembali ke arah Sky, ingin menolongnya… Tapi pandangan Sky menegaskan sesuatu yang membuat hatinya sedikit tenang.

“Aku… Nggak akan mati lagi,” ujar Sky dengan tegas, menatap gadis itu.

“Aku arwah… Aku bisa bertahan. Sekarang… fokus selamatkan Bima.”

Dengan napas tersengal, Kiara mengangguk. “Baik… Aku percaya padamu.” Ia menggenggam erat tangan Bima, lalu melangkah cepat mengikuti jalan yang ditandai dengan taburan beras kuning sesuai arahan Mbah Kromo.

Di belakang mereka, Bara mengamuk. Tatapan matanya merah menyala saat menyadari sandera yang ia incar berhasil dibawa kabur.

“Hei! Kembalikan dia padaku!” teriaknya, suaranya bergema ke seluruh kabut, menimbulkan getaran di tanah.

Namun Sky tidak tinggal diam. Dengan kecepatan yang melebihi ekspektasi Bara, ia muncul di depan pria itu, tangan terangkat menahan serangan Bara yang hendak mengejar. “Kau pikir bisa menangkap mereka begitu saja?” ejek Sky sambil tersenyum tipis, aura di sekelilingnya berputar liar.

“Aku tidak akan membiarkanmu!”

Bara menggeram. Ia melancarkan serangan energi gelap besar ke arah Sky. Namun pemuda itu dengan santai menghindar, memutar tubuh dan mendarat dengan langkah mantap.

“Serius… Kau ingin aku kalah sekarang? Hah… lucu sekali!” kata Sky sambil menangkis serangan berikutnya dengan pergerakan gesit yang terlihat seperti tarian pertarungan.

Sementara itu, Kiara dan Bima terus melangkah, napas mereka berat, darah dan luka menempel, tapi mereka tetap bergerak. Sesekali, Kiara menoleh ke belakang, memastikan Sky masih menahan Bara. Hatinya terasa hangat sekaligus menyesakkan, ia lega Sky masih bertahan, tapi tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia ingin segera menolongnya juga.

Bima menggenggam tangan Kiara lebih erat. “Kamu tahu ini berbahaya… Kenapa tetap datang?” tanyanya setengah kesal, setengah cemas, nada suaranya bercampur antara amarah dan kelegaan.

Kiara tersenyum lemah, meski matanya menyala. “Karena… Kita kita kan teman, Bim. Walau kamu sering nyebelin. Dan daripada kamu ngomel, mending kita fokus buat selamat dan keluar dari sini,” jawabnya pelan. “Dan… Kamu harus tetap hidup, Bima. Itu yang paling penting.”

Di belakang mereka, Sky terus menantang Bara. Setiap serangan yang dilemparkan Bara dibalas dengan gerakan lincah, namun jelas terlihat lelah. Bara mulai mengendur sedikit kekuatannya, mungkin karena pertarungannya sebelumnya dengan Kiara yang habis-habisan. Tapi Sky tetap berdiri tegak, menatap Bara dengan senyum tipis, menegaskan bahwa meski ia arwah, tekadnya sama nyalinya dengan manusia yang hidup.

Dan sementara mereka berdua bergerak maju menuju jalan beras kuning, suara Bara yang marah bercampur dengan suara kabut yang berputar liar, terasa seolah dunia ini menahan napas, menunggu siapa yang akan memenangkan pertempuran pertama dalam pertemuan maut di gerbang batin ini.

Kiara menoleh sekali lagi, menatap Sky. “Jangan sampai… Kamu lupa janji kamu. Kita masih punya tugas buat nyari identitas asli kamu Sky” godanya, sedikit tersenyum meski wajahnya penuh luka.

Sky tertawa pelan, suara itu bergema di kabut, dan meski napasnya berat, matanya menyala penuh tantangan. “Haha, tenang. Aku bakal selalu tepatin janji, Kiara,” balasnya, menambahkan sedikit nada bercanda di tengah ketegangan.

Bersama Bima, Kiara melangkah cepat, darah, luka, dan keringat bercampur dengan debu kabut yang mulai menipis. Mereka keluar dari bayang-bayang goa, meninggalkan pertarungan yang menegangkan di belakang.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!