NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Alam Kedua

Malam turun sepenuhnya.

Langit di atas rumah kayu Mbah Kromo hitam pekat tanpa bintang. Hanya bulan sabit pucat menggantung rendah, seperti mata yang mengawasi dari kejauhan. Udara terasa lembap, dingin merayap pelan menyusup ke sela-sela kulit Kiara.

Halaman rumah itu berubah.

Beberapa jam sebelumnya masih terlihat seperti halaman desa biasa. Kini, tanahnya telah dibersihkan dan digambar pola lingkaran besar menggunakan kapur putih dan arang. Di dalam lingkaran, terhampar tikar pandan tua. Di sekelilingnya diletakkan sesaji: bunga setaman, beras kuning, kelapa muda, kemenyan, kendi berisi air sumur, dan sebilah keris tua yang disarungkan kain mori.

Aroma dupa memenuhi udara.

Tidak menusuk… tapi berat. Seolah setiap tarikan napas membawa sesuatu yang tidak kasat mata masuk ke dalam tubuh.

Kiara berdiri di ambang pintu, mengenakan kain putih sederhana dan kebaya tipis yang diberikan Mbah Kromo. Rambutnya dikepang longgar. Tanpa make up. Tanpa aksesoris. Hanya gelang benang merah di pergelangan tangannya.

Sky berdiri di sampingnya.

Ia menatap semua persiapan itu dengan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan: marah, takut, dan putus asa bercampur menjadi satu.

“Ini gila,” gumamnya.

Kiara menoleh. “Sedikit.”

“Sedikit?” Sky menatapnya tajam. “Ini bukan ritual ulang tahun, Kiara.”

Ia tertawa pelan. “Kalau iya… tolong ingetin mereka aku maunya kue coklat.”

Sky tidak tertawa.

Itu membuat senyum Kiara meredup sedikit.

Aditya berdiri beberapa meter dari mereka. Ia membantu Pak Arman menyalakan lilin di setiap sudut lingkaran. Tangannya bergetar beberapa kali sampai lilin itu hampir jatuh.

Kiara memperhatikan sepupunya lama.

“Kak,” panggilnya pelan.

Aditya menoleh cepat. “Iya?”

Kiara berjalan mendekat. “Mukamu kayak orang yang mau pingsan.”

“Aku lagi mempertimbangkan itu,” balas Aditya datar.

Kiara terkekeh kecil. “Kalau aku nggak balik… tolong bilang ke Ibu sama Ayah aku kalau aku mati dalam keadaan keren.”

Aditya membeku.

“Jangan bercanda soal itu,” katanya pelan.

Kiara mengangkat bahu. “Aku cuma mencoba bikin suasananya nggak kayak film horor kelas berat.”

Aditya menghela napas panjang. Ia menatap Kiara lama, lalu berkata pelan, “Kamu tahu nggak… bagian paling menakutkan dari semua ini?”

“Apa?”

“Aku harus mikirin cara menjelaskan ke orangtuamu kalau kamu masuk dunia ghaib pakai ritual Jawa kuno di tengah malam,” jawabnya pahit.

Kiara tertawa kecil lagi, tapi kali ini matanya sedikit berkaca.

“Bilang aja aku ikut study tour spiritual,” katanya.

Aditya menggeleng. “Mereka bakal membunuhku duluan sebelum percaya.”

Kiara menepuk bahunya pelan. “Kalau aku balik… Aku yang jelasin.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Tapi mereka berdua tahu ada kata “kalau” yang terlalu besar di sana.

Mbah Kromo keluar dari dalam rumah.

Ia membawa mangkuk tanah liat berisi air yang telah dicampur bunga tujuh rupa. Suaranya tenang ketika ia memanggil Kiara.

“Waktunya.”

Udara berubah.

Tidak ada angin. Tidak ada suara jangkrik. Bahkan dedaunan seperti berhenti bergerak.

Kiara berjalan ke tengah lingkaran. Kakinya telanjang menyentuh tanah dingin. Setiap langkah terasa berat… bukan karena takut, tapi karena kesadaran bahwa setelah ini… tidak ada jalan kembali ke titik sebelum keputusan.

Ia duduk bersila di atas tikar.

Mbah Kromo duduk di hadapannya.

Pak Arman dan Om Hardi berdiri di luar lingkaran, wajah mereka tegang. Aditya berdiri paling dekat, seolah jarak beberapa langkah itu bisa menjadi pelindung.

Sky berdiri tepat di belakang Kiara.

“Mulai dengan pembersihan,” kata Mbah Kromo.

Ia memercikkan air bunga ke kepala Kiara. Air dingin itu mengalir ke lehernya, membuatnya menggigil pelan.

“Pejamkan mata.”

Kiara menurut.

Suara Mbah Kromo berubah menjadi rendah dan ritmis.

“Eling lan waspada…

Resikna badan… resikna ati…

Saka lemah bali marang lemah…

Saka roh bali marang roh…”

Ia menggerakkan asap kemenyan mengelilingi tubuh Kiara. Bau pahit memenuhi paru-parunya.

Kiara menarik napas perlahan, mencoba menenangkan detak jantungnya.

“Ucapkan niatmu,” kata Mbah Kromo.

Kiara membuka bibirnya.

“Aku… Kiara… dengan sadar… membuka jalan untuk memasuki alam yang bukan milik manusia… bukan untuk kesombongan… tapi untuk mencari jiwa yang hilang… dan mengembalikannya.”

Suara itu terdengar lebih kuat dari yang ia rasakan.

Mbah Kromo mengangguk.

Ia mengambil keris yang terbungkus kain mori, lalu menancapkannya ke tanah di depan Kiara, tepat di tengah lingkaran.

“Mulai sekarang… jangan melangkah keluar dari lingkaran ini… apa pun yang kamu lihat… apa pun yang kamu dengar.”

Udara menjadi dingin.

Sangat dingin.

Mbah Kromo mulai melantunkan mantra lebih panjang. Suaranya naik turun seperti gelombang.

“Danyang alas… danyang lemah…

Kawula nyuwun ijin…

Mbukak lawang antar jagad…

Nanging ora kanggo ngrusak…

Nanging kanggo nylametake…”

Lilin-lilin bergetar.

Asap dupa berputar lebih cepat, seperti tertarik ke pusat lingkaran.

Kiara merasakan tekanan di telinganya. Dunia di sekelilingnya seperti ditarik menjauh. Suara Aditya, napas Pak Arman, bahkan detak jantungnya sendiri terasa memudar.

Tiba-tiba… ia merasakan tangan dingin di bahunya.

Sky.

“Aku di sini,” bisiknya.

Kiara tersenyum tipis tanpa membuka mata. “Jangan kemana-mana.”

“Aku nggak akan.”

Suhu turun lagi.

Tanah di bawahnya terasa bergetar halus.

Di balik kelopak matanya yang tertutup… Kiara mulai melihat sesuatu.

Awalnya hanya bayangan gelap.

Lalu… lorong panjang tanpa ujung.

Suara Mbah Kromo terdengar semakin jauh, seolah datang dari bawah air.

“Fokus… jangan takut… jangan menoleh…”

Kiara menarik napas dalam.

Di luar lingkaran, Aditya menggenggam tangannya sendiri sampai buku-bukunya memutih. Ia menatap Kiara yang mulai bergoyang pelan, seolah tertidur dalam posisi duduk.

“Dia baik-baik saja, kan?” bisiknya panik.

Mbah Kromo tidak menjawab.

Lilin tiba-tiba padam satu per satu.

Satu.

Dua.

Tiga.

Dan ketika lilin terakhir padam…

mata Kiara terbuka.

Tapi bukan pada dunia yang sama lagi.

Udara di sekelilingnya berubah warna.

Dan langkah pertamanya ke dunia ghaib… Akhirnya dimulai.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!