"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Rahasia Dibalik Kamar Hotel
("Nona Liana, tolong sekarang kamu temui saya di hotel Permai.")
Liana mengerutkan keningnya menatap isi chat di handphonenya. Sepulang dari kantor ia menyibukkan diri di rumah, tiba-tiba saja ada chat masuk dan mengharuskannya datang ke hotel Permai di mana bosnya berada.
"Ini orang tau adab nggak sih! Ini sudah bukan lagi jam kerja, ngapain juga masih memintaku buat menemuinya? Di hotel pula!"
Liana sengaja tak membalas chatnya. Hari sudah mulai gelap, sangatlah tak mungkin ia meninggalkan kedua anaknya hanya untuk menemui bosnya di hotel.
("Nona Liana, kenapa kamu tidak membalas chat dari saya! Kamu masih ingat dengan peraturan yang saya buat, kan?")
Liana menghela nafas dan membalasnya. ("Maaf pak, bukannya saya tidak mengingat peraturan yang bapak buat, tapi kan ini sudah bukan lagi jam kerja. Saya punya anak yang harus saya urus. Saya nggak tega ninggalin anak-anak saya sendirian di malam hari. Bapak boleh marah sama saya, tapi kali ini saya tidak bisa mengikuti peraturan bapak.")
("Keras kepala kamu! Saya beri waktu sepuluh menit dari sekarang. Jika kamu nggak datang, maka gaji bulan ini tidak akan kuberikan. Apa kau mengerti?!")
Liana membelalak. Ia benar-benar dibuat jengkel oleh perlakuan bosnya. Bisa-bisanya dia tidak memberinya gaji karena melanggar peraturan yang dibuatnya. Ia sudah bekerja mati-matian. Jika saja gajinya tak diberikan, lalu bagaimana ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya? Andai saja ia nekat datang menemuinya di hotel, lalu bagaimana dengan anak-anaknya? Siapa yang bakalan menjaganya? Sungguh, pria itu membuatnya tak nyaman.
Tok.. tok.. tok...
Terdengar suara seseorang tengah mengetuk pintu. Buru-buru Liana meninggalkan dapur hendak memastikan siapa yang sudah datang berkunjung. Perlahan-lahan ia membuka pintu dan mendapati dua orang beda jenis berdiri tepat di depan pintu. Dion dan Pamela kembali mengunjunginya. Hampir setiap hari mereka selalu meluangkan waktu untuk menemuinya.
"Kak Dion, kak Pamela? Kalian udah nyampe sini lagi?"
Bukannya tak suka dengan kedatangan mereka, tapi ia hanya heran, kenapa sepasang suami-istri itu tak pernah bosan datang menemuinya.
"Hm..., kami mau ngajak anak-anak main di luar, sekalian makan malam. Boleh kan Na?"
Dion maupun Pamela sangat menyayangi si kembar. Meskipun diantara mereka tidak memiliki hubungan kekerabatan, tapi entah mengapa keberadaan si kembar bisa mengisi kekosongan hati mereka.
"Oh..., jadi kalian mau ngajak mereka keluar rumah? Yaudah, boleh kok," jawab Liana. "Kebetulan aku juga mau pergi sebentar untuk menemui pak Reynan. Dia itu maksa banget agar aku mau menemuinya, di hotel pula!"
Sebenarnya Liana sangatlah malas menuruti keinginan bosnya, tapi ia juga khawatir gaji bulanan tak diberikan, tentunya bakalan kelabakan sendiri tak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Apa? Kamu mau menemui Reynan di hotel?" Pamela tersentak. Bukannya ia terlalu ikut campur urusan pribadi orang, tapi ia juga sangat mengkhawatirkan Liana, karena biar bagaimanapun juga Liana pernah menjadi korban pel3cehan. "Buat apa ketemuan di hotel? Apa kalian ada janji buat transaksi?" tanya Pamela.
Liana membelalak. "Ah..., tentu saja tidak kak! Biarpun aku miskin aku nggak bakalan izinin orang lain mempermainkan ku, apalagi transaksi untuk mendapatkan keuntungan. Dulu aku memang ceroboh. Jika saja aku tidak datang ke pesta yang diselenggarakan oleh kerabat dekat, mungkin kejadian itu tidak akan pernah ada. Dulu aku menjadi korban pel3cehan karena dijebak oleh seseorang, dan sampai saat ini aku belum tahu siapa pelakunya."
Uhuk.... Uhuk...
Dion terbatuk-batuk tersedak air liurnya. Diam-diam ia sudah mengetahui siapa pelaku yang harus bertanggung jawab, namun untuk orang yang menjebak Liana, ia masih belum mengetahuinya.
"Kamu itu kenapa sih? Kok batuk-batuk gitu? Sana ambil air minum di dalam," tegur Pamela.
"Iya kak, airnya ada di meja makan," sahut Liana.
"Aku nggak papa kok," jawab Dion. "Kamu tenang aja Na, suatu saat nanti kamu bakalan tahu siapa orang yang jebak kamu dan apa tujuannya menjebakmu. Selama ini aku tidak diam, aku tengah menggali informasi mengenai kejadian yang menimpamu."
Liana terharu. "Terimakasih banyak ya kak, kakak baik banget sama aku. Sejauh ini kakak selalu membantuku. Dengan cara apa aku bisa membalas kebaikanmu?"
Dion terkekeh. "Sudah..., santai aja. Aku nggak pernah berpikir untuk memintamu agar membalas budi padaku. Melihatmu kembali bersemangat aku sudah ikut bahagia. Doain saja kami segera mendapatkan keturunan. Kadang aku ngiri sama kamu, nggak ada suami bisa dapat dua anak sekaligus, sedangkan kami yang sudah tiga tahun menikah belum juga dikaruniai keturunan."
Pamela terdiam menunduk. Di situ ia merasa gagal, tidak bisa membuat suaminya bahagia. Sesama wanita tentu Liana bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Pamela. Sebagai sahabat tentu ia akan menjadi penghibur yang setia.
"Kak Dion itu seharusnya bersyukur. Menikah itu bukan alasan untuk mendapatkan keturunan. Menikah itu sudah menjadi kodrat manusia yang harus saling berpasang-pasangan. Soal anak itu bonus, anugrah yang dipercayakan pada kita. Jangan berkecil hati karena tidak mendapatkan keturunan. Aku yakin kok, suatu saat nanti kalian akan mendapatkan keturunan."
Liana menepuk pundak Pamela berusaha menguatkan. Pamela mendongak dan tersenyum padanya. "Liana, aku ngerasa gagal jadi istri yang baik. Di keluarga kak Dion tidak ada satupun keturunan. Aku khawatir, suatu saat nanti kak Dion dipaksa menikah lagi agar bisa mendapatkan keturunan."
Pamela menangis, Liana ikut larut dalam kesedihannya. "Itu tidak akan pernah terjadi kak, kakak harus tegar."
Liana menoleh pada Dion. "Kak Dion, aku minta sama kamu, apapun yang terjadi kelak, jangan pernah meninggalkan kak Pamela."
***
Setelah cukup lama mengobrol dengan Dion dan juga Pamela, Liana memutuskan untuk menemui Reynan di hotel Permai, sedangkan si kembar dibawa Dion dan juga Pamela. Ia agak lega setelah Dion bersedia menemani kedua anaknya di saat ada kepentingan mendesak.
Liana menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan bosnya di sana. "Permisi mbak, saya mau tanya, apakah Pak Reynan ada di hotel ini? Tadi beliau meminta saya untuk menemuinya di hotel Permai."
Dengan ramah petugas resepsionis menjawab. "Tunggu sebentar ya Bu, saya akan lihat daftarnya."
Tidak begitu lama petugas resepsionis mendapatkan nama Reynan di pendaftaran.
"Oh iya benar Bu, pak Reynan ada di kamar 305."
Deg,,
Refleks Liana terkejut mendengar nomer itu disebut. "Apa mbak? Nomer 305? Mbak nggak salah sebut kan?"
"Tidak Bu, ini daftarnya, beliau ada di kamar 305. Ini dengan pak Reynan Pratama direktur perusahaan Pratama Grup kan?"
Liana mengangguk. "Iya mbak."
"Kalau begitu ibu bisa langsung temui beliau di sana. Kamar itu memang sudah ditempati oleh pak Reynan, dan beliau tidak mengizinkan pengunjung lain untuk menempatinya. Jadi tidak salah kalau beliau saat ini ada di kamar itu."
Liana meneguk ludahnya. Pikirannya mulai goyah mengingat kembali kejadian enam tahun yang lalu. "Kenapa ini serba kebetulan? Apa yang membuatnya memilih kamar itu dan tidak mengizinkan orang lain untuk menjamahnya? Atau jangan-jangan waktu itu dia yang sudah meniduriku?"