Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Situasi Hampir Ketahuan
Sore harinya, sebuah paket besar dengan kotak kayu berukir tiba di apartemen. Raisa menerimanya dengan perasaan waswas. Saat ia membukanya di ruang tengah, wajahnya nyaris meledak karena malu.
Di dalam kotak itu terdapat berbagai botol kecil berisi cairan herbal yang aromanya sangat kuat—jamu tradisional untuk "stamina" pasangan baru. Namun, yang paling mengerikan adalah sebuah kotak beludru di bawahnya yang berisi sepotong pakaian tidur berbahan sutra yang sangat transparan dan minim, lengkap dengan kartu ucapan bertuliskan tangan Kakek: "Untuk cucu-cucuku tersayang, jangan biarkan api itu padam. Kakek menunggu kabar baik."
Tepat saat Raisa memegang pakaian itu dengan ujung jarinya yang gemetar, pintu depan terbuka. Arash melangkah masuk, wajahnya tampak sangat lelah setelah bergelut dengan paman-pamannya di kantor. Ia berhenti tepat di depan Raisa, matanya tertuju pada benda transparan yang dipegang Raisa.
Keheningan yang terjadi kali ini jauh lebih berbahaya. Arash menatap pakaian itu, lalu menatap Raisa yang berdiri mematung dengan wajah yang tidak bisa lagi dideskripsikan warnanya.
"Jadi," Arash berujar, suaranya serak dan mengandung nada sarkasme yang paling dalam yang pernah Raisa dengar. "Sepertinya Kakek benar-benar memakan ceritaku bulat-bulat pagi tadi. Kau ingin mencobanya sekarang, atau kau ingin aku mengirimkan foto ini pada Vino agar dia tahu 'rapat informal' kita di rumah jauh lebih menarik?"
"Arash, diamlah!" teriak Raisa sembari melempar pakaian itu kembali ke kotak dan menutupnya dengan kasar.
Arash melangkah mendekat, sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang letih. "Kenapa? Bukankah kau ingin menjadi istri yang berbakti pada kontrak? Kakek memberikan fasilitas, Raisa. Sayang jika tidak digunakan, bukan?"
Raisa mundur satu langkah, namun punggungnya membentur meja konsol. Arash terus mendekat hingga ia bisa merasakan panas dari kemarahan pria itu yang kini berubah menjadi godaan yang mematikan.
"Jangan berani-berani," bisik Raisa, meski jantungnya berkhianat dengan berdetak kencang.
Arash mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuh pakaian di kotak, melainkan untuk menyentuh helai rambut Raisa. "Jangan khawatir. Aku masih punya selera yang tinggi. Aku tidak akan memintamu memakainya ... kecuali jika kau sendiri yang memohon padaku karena takut utang ayahmu kutagih sekaligus malam ini."
Arash tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat jahat namun menawan—lalu pergi meninggalkan Raisa yang masih terpaku, menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar terjebak dalam jaring-jaring permainan Arash yang semakin gila.
***
Malam mulai merangkak naik, namun ketegangan di apartemen itu justru baru saja dimulai. Arash baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang tidak dikancingkan, ketika tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi—bukan dengan nada sopan, melainkan desakan yang terus-menerus.
Raisa yang sedang merapikan kotak "hadiah" dari Kakek di ruang tengah seketika membeku. "Siapa itu? Kakek datang lagi?" bisiknya dengan wajah pucat.
Arash melirik monitor intercom di dekat pintu. Matanya membelalak kecil—sebuah ekspresi langka yang menunjukkan keterkejutan murni. "Sial. Itu Pak Surya, kepala bagian audit. Dan dia tidak sendirian, ada dua staf administrasi di belakangnya."
"Apa?!" Raisa nyaris menjatuhkan kotak beludru di tangannya. "Kenapa orang kantor bisa tahu alamat ini? Dan kenapa mereka ke sini malam-malam?"
"Aku meninggalkan kunci enkripsi data penting di kantorku, dan aku menyuruh mereka mengambilnya di sini karena aku malas kembali ke kantor," geram Arash sembari mengancingkan kemejanya dengan terburu-buru. "Tapi aku pikir mereka hanya akan sampai di lobi dan menitipkannya pada resepsionis! Sepertinya Pak Surya ingin menjilat dengan mengantarkannya langsung ke pintu."
Bel kembali berbunyi. Suara Pak Surya terdengar dari balik pintu, "Pak Arash? Ini saya, Surya. Saya membawakan berkas yang Bapak minta tadi sore!"
Raisa panik. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang penuh dengan barang-barangnya—tas kerjanya di atas sofa, sepatu hak tingginya di dekat pintu, dan yang paling parah, foto pernikahan besar, yang dipasang demi Kakek, di dinding ruang tamu.
"Aku harus sembunyi!" Raisa bergegas hendak lari ke kamar.
"Tidak sempat! Mereka akan curiga jika aku lama membukanya," Arash mencengkeram lengan Raisa, matanya berputar cepat mencari solusi. Tatapannya jatuh pada celemek dapur yang tergantung di dekat bar. "Cepat pakai itu! Ikat rambutmu ke belakang, lepas perhiasanmu, dan tundukkan kepalamu. Jika ditanya, kau adalah asisten rumah tangga baru yang sedang lembur membersihkan unit."
"Apa? Menjadi pembantu?" Raisa melotot.
"Pilih itu atau besok pagi seluruh kantor tahu kau tidur di apartemen CEO-mu!" Arash mendorong celemek itu ke tangan Raisa.
Dengan gerakan panik, Raisa memakai celemek cokelat itu, melepas cincin mahalnya dan memasukkannya ke saku, lalu menyanggul rambutnya dengan asal. Ia menyambar kemoceng yang ada di dekat vas bunga dan mulai berpura-pura mengelap debu dengan wajah menunduk dalam.
Arash menarik napas panjang, memasang wajah dinginnya yang paling angkuh, lalu membuka pintu.
"Pak Surya. Anda sangat berdedikasi sampai harus naik ke atas," ujar Arash datar, suaranya mengandung nada keberatan yang halus.
"Ah, maaf mengganggu malam Anda, Pak Arash," Pak Surya masuk dengan wajah penuh senyum, diikuti dua staf wanita muda yang matanya langsung liar menjelajahi kemewahan apartemen sang CEO. "Saya pikir lebih aman jika saya berikan langsung ke tangan Bapak."
Pandangan salah satu staf wanita tertuju pada sosok di sudut ruangan yang sedang sibuk menyeka meja dengan punggung membelakangi mereka. "Oh, Pak Arash punya ART baru ya? Wah, rajin sekali malam-malam begini masih bekerja."
Raisa menegang. Ia menggerakkan kemocengnya dengan ritme yang tidak beraturan, jantungnya berdegup hingga ke tenggorokan.
"Dia baru," sahut Arash pendek, mencoba mengalihkan perhatian. "Mana berkasnya? Saya tidak punya banyak waktu."
Namun, Pak Surya justru melangkah lebih dalam ke ruang tamu. "Wah, apartemen Bapak memang luar biasa. Tapi ... tunggu sebentar." Pak Surya berhenti tepat di depan meja konsol. Matanya tertuju pada sebuah tas kerja kulit yang sangat familiar. "Bukankah ini tas milik Nona Raisa dari bagian administrasi? Saya sering melihatnya membawanya ke ruang rapat."
Raisa hampir saja menjatuhkan kemocengnya. Arash tetap tenang, meski ia mengepalkan tangannya di dalam saku.
"Itu tas cadanganku. Modelnya memang umum, Pak Surya. Jangan terlalu banyak mengamati barang di rumah atasanmu," sindir Arash tajam, membuat Pak Surya sedikit menciut.
Tiba-tiba, salah satu staf wanita berseru, "Eh, Bibi ART! Boleh minta air minum? Haus sekali setelah naik lift tadi."
Arash menahan napas. Raisa perlahan berbalik, tetap menunduk sangat dalam hingga wajahnya tertutup poni dan bayangan lampu. Ia berjalan menuju dapur dengan langkah yang dibuat sedikit berat.
"Segera berikan airnya dan kembali bekerja," perintah Arash pada Raisa dengan nada yang sangat kasar dan menghina, sengaja dilakukan agar para staf itu tidak merasa curiga bahwa wanita di depan mereka adalah rekan kantor mereka. "Dan jangan lupa bersihkan sisa kopi di kamar mandi setelah ini!"
Raisa menggigit bibirnya di balik tundukan kepalanya. Awas kau, Arash, batinnya geram. Ia menuangkan air ke gelas dengan tangan sedikit gemetar, lalu memberikannya pada staf itu tanpa mengangkat wajah.
"Terima kasih, Bi," ujar staf itu. Ia sempat menatap tangan Raisa sesaat. "Wah, tangan Bibi halus sekali ya untuk ukuran ART? Tidak terlihat seperti sering mencuci piring."