NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMAN BARU YANG ANEH

“Jangan sampai kamu bermain dengan orang salah lagi, ya Caca! Kalau tidak Mama marah!” suara Mama terdengar dari pintu gerbang saat aku berlari keluar dengan tas sekolah berisi buku dan boneka kelinci kecilku yang namanya Kiki.

“Aku tahu, Mama!” Aku berbalik sebentar untuk meniup ciuman, lalu melesat menuju taman kecil di sudut kampung. Hari ini aku sangat senang—rumah kosong sebelah taman akhirnya punya penghuni baru! Kemarin sore aku melihatnya: anak laki-laki lebih besar dariku, rambut hitam rapi, wajahnya serius meskipun hanya mainan kecil yang dia pegang.

Saat sampai di taman, dia sudah ada di sana, duduk di ayunan tanpa menggerakkannya sama sekali, hanya menatap jalan raya yang sepi. Aku mendekat dengan hati-hati dan tersenyum lebar.

“Halo! Namaku Caca. Aku tinggal di rumah merah muda sana!” Aku menunjuk ke arah rumahku, tapi dia tidak menoleh. “Kamu anak baru ya? Namamu apa?”

Akhirnya dia melihatku, matanya tajam tapi ada kesepian di dalamnya. “Rafi. Jangan dekati aku kalau tidak ingin masalah.”

Aku sedikit terkejut tapi tidak mundur. Aku duduk di ayunan sebelahnya dan mulai mengayun badan riang. “Kenapa kamu bilang begitu? Aku hanya mau berteman aja! Kamu tidak punya teman kan? Aku bisa jadi temannya!”

Rafi menghela napas panjang. “Kamu tidak tahu siapa aku dan keluargaku. Lebih baik kamu menjauh sebelum terkena masalah.”

“Aku tidak takut masalah!” Aku menggeleng-geleng kepala. “Ayahku bilang teman harus saling membantu! Kalau kamu punya masalah, aku akan bantu!”

Rafi sepertinya bingung harus menjawab apa. Dia hanya diam, jadi aku mulai bercerita tentang Kiki yang suka memanjat pohon, guruku yang selalu memberi permen, dan taman ini yang punya bunga paling cantik di dunia.

Lama kelamaan, dia mulai ikut berbicara—dia bilang baru pindah dari kota besar karena ayahnya bekerja di sini, dan orang-orang selalu menjauhinya setelah tahu siapa ayahnya.

“Kenapa mereka takut?” Tanyaku heran. “Kamu kan baik kok.”

Belum sempat dia menjawab, sebuah mobil hitam besar datang dan berhenti tepat di depan taman. Pintu terbuka, seorang pria tampan dengan jas hitam keluar. Wajahnya serius, tapi ketika melihat Rafi, ekspresinya jadi lembut.

“Rafi, waktunya pulang,” ujar pria itu dengan suara tegas tapi lembut.

Rafi berdiri dan mulai berjalan ke mobil. Dia berhenti sebentar dan menoleh padaku. “Terima kasih sudah mau berteman, Caca. Tapi seperti yang kukatakan—jauhin aku ya.”

Sebelum aku bisa berkata apa-apa, mobil itu sudah melaju pergi. Aku berdiri sendirian di taman, merasa sedikit sedih. Mengapa dia bilang begitu?

Malam itu, aku menonton TV bersama Mama dan Ayah. Berita yang tayang membuatku terkejut—wajah pria yang tadi sore muncul di layar.

“Kepala mafia terkemuka Bara Pratama baru saja pindah ke kota ini… polisi terus mengawasi gerakannya karena tuduhan perdagangan barang terlarang dan kekerasan…”

Aku menutup mulutku dengan tangan. Rafi adalah anak dari kepala mafia! Itulah mengapa orang takut padanya. Tapi bagaimana mungkin anak dari mafia bisa tampak begitu kesepian dan baik hati?

Besok paginya, aku bangun lebih awal. Aku mengambil Kiki bonekaku dan beberapa permen coklat Mama. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku tidak takut—aku hanya mau berteman dengannya.

Saat sampai di depan rumah Rafi, pintu gerbang terbuka. Aku masuk dengan hati-hati dan melihat dia sedang membaca buku di teras. Dia kaget melihatku.

“Caca? Apa kamu lakukan di sini?”

Aku berlari cepat dan memberikan boneka serta permen. “Ini untuk kamu! Aku tidak takut padamu atau ayahmu. Aku hanya mau jadi temannya!”

Rafi melihat apa yang kudatangkan, lalu melihatku dengan mata yang penuh emosi. Setelah beberapa saat, dia tersenyum lebar—senyuman pertama yang diperlihatkan darinya yang sungguh-sungguh.

“Terima kasih, Caca. Ini hadiah terbaik yang pernah kuterima,” ujarnya pelan. “Baiklah, kamu bisa jadi temanku. Tapi janji ya—jangan bilang siapapun tentang kita. Kalau tidak, kamu akan terkena masalah besar.”

Aku mengangguk cepat dan menjabat jempol dengannya. “Aku janji! Sekarang kita teman kan? Jadi kita harus selalu saling membantu!”

Rafi mengangguk dan mulai menunjukkan mainan barunya. Aku merasa sangat senang—akhirnya punya teman baru yang baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!