NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Cinta Kamu

Amira kemudian menoleh perlahan.

"Makasih .…”

Dirga yang masih mendekapnya hanya mengangguk kecil. Jarak mereka saat itu benar-benar dekat. Hingga napas hangat Dirga terasa menyentuh pipi Amira.

Amira menatap wajah pria itu sesaat. Lampu kamar yang temaram membuat garis wajah Dirga terlihat lebih lembut. Mata Amira tak sengaja berhenti pada bibirnya.

Detak jantungnya mulai tak teratur. Dia sebenarnya hanya ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi entah kenapa tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.

Amira sedikit mendekat, dan sebelum dia menyadari apa yang sedang dilakukan, bibirnya menyentuh sudut bibir Dirga.

Hanya sekilas, dan sangat singkat. Namun cukup membuat keduanya membeku.

Amira tersadar seketika. Matanya membesar, napasnya tertahan. Dia langsung menjauh sedikit dengan wajah yang memerah.

“Ma-maaf, aku nggak sengaja .…”

Tangannya mencengkeram ujung selimut, jelas panik dengan apa yang baru saja terjadi.

Dirga sendiri terdiam. Dia menatap Amira beberapa detik, seolah mencoba memahami kejadian barusan.

Tatapan mereka kembali bertemu, ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Dirga menghela napas pelan, lalu menoleh sebentar ke arah jendela besar yang memperlihatkan gemerlap malam kota Tokyo. Lalu, kembali menatap Amira cukup lama.

Dirga perlahan mengangkat tangannya, menyentuh dagu Amira dengan lembut.

Amira tertegun. Belum sempat dia bereaksi, Dirga menarik wajahnya sedikit lebih dekat. Lalu, mencium Amira. Kali ini bukan sekilas seperti yang Amira lakukan tadi. Ciuman itu penuh perasaan, dan hangat. Pelan, tapi juga dalam. Seolah ada banyak emosi yang selama ini tertahan di dalam dirinya.

Amira membeku sesaat. Matanya terpejam perlahan ketika bibir Dirga semakin menekan lembut bibirnya. Jantungnya berdegup begitu keras sampai rasanya hampir pecah.

Tangannya yang semula mencengkeram selimut perlahan melemah. Dirga menahan wajah Amira dengan kedua tangannya, memperdalam ciuman itu seakan takut Amira akan menjauh.

Amira pun akhirnya membalas ciuman tersebut dengan sisa tenaga yang dia miliki. Amira melingkarkan lengannya di leher Dirga, mencoba mencari kepastian di balik pagutan itu. Lidah mereka bertemu, menari dalam ritme yang liar, menciptakan percikan ga!rah.

Ciuman itu kian memanas, tangan Dirga mulai kembali pada kebiasaannya, bergerak liar, menjelajahi lekuk tubuh Amira di balik pakaian musim dinginnya yang tebal, seolah ingin segera menyingkirkan setiap penghalang yang ada.

Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Dirga membawa tubuh Amira ke atas ranjang.

Tangan Dirga yang besar dan hangat mulai menyusupkan jemarinya ke balik mantel tebal yang dikenakan Amira, mendorongnya jatuh ke lantai tanpa suara.

Dinginnya udara kamar yang sempat menyapa kulit Amira segera sirna saat tangan Dirga kembali menjamah, kali ini merambat di balik sweter rajutnya yang lembut.

Setiap inci kulit yang disentuh Dirga seolah membuat Amira terbakar, dia mendongak, membiarkan Dirga menciumi lehernya dengan intensitas yang menuntut, sementara jemari pria itu dengan liar mulai menanggalkan satu per satu lapisan pakaian musim dinginnya.

Tubuh mereka segera menyatu, menciptakan kontras yang luar biasa antara permukaan kasur yang sejuk dan panas tubuh mereka yang kian memuncak.

Tangan Dirga kembali ke wilayah favoritnya, menjamah dan mer*mas lembut dada Amira yang kini hanya terhalang kain tipis, sementara matanya menatap Amira dengan tatapan yang seolah ingin menelan wanita itu bulat-bulat.

Sedangkan Amira hanya memejamkan mata, dalam hatinya dia berkata, "Lakukan saja, Dirga. Hancurkan aku dengan caramu yang paling indah. Biarlah Tokyo menjadi saksi betapa aku mencintaimu dalam diam, meski bagimu, ini mungkin hanya pelampiasan, atau cara untuk menghangatkan malam yang beku."

Di luar salju mulai turun tipis, mengabur di balik jendela kaca lantai dua puluh, suasana di dalam kamar itu mencapai titik didihnya. Suara napas yang memburu dan gesekan kulit menjadi satu-satunya melodi yang mengisi keheningan Tokyo malam itu.

Dirga bergerak dengan ritme yang menghancurkan segala pertahanan Amira, dan wanita itu mulai merasakan gelombang panas yang luar biasa menjalar dari pusat tubuhnya ke seluruh saraf, dan membuatnya kehilangan pegangan pada kenyataan.

Dalam kebutaan gairah itu, Amira mencengkeram bahu kokoh Dirga. Keringat menyatu di antara mereka, menciptakan aroma intim yang memabukkan. Saat sensasi itu mencapai puncaknya, sebuah ledakan yang seolah menghentikan dinding pertahanan di hati Amira ikut runtuh bersamanya.

"Ah, Amira ...!"

Di detik-detik saat segalanya terasa meledak, Amira menarik wajah Dirga mendekat, membenamkan jemarinya di rambut pria itu.

"Aku cinta kamu, Mas," batinnya, diikuti oleh satu tetes air mata yang jatuh dan segera hilang di bantal.

Setelah klimaks itu berlalu, Dirga terdiam. Tubuhnya masih menindih Amira, dan mempererat pelukannya sesaat, lalu membenamkan wajahnya di leher Amira.

“Sekarang gimana? Udah lebih hangat?”

“Iya, lebih hangat,” jawabnya lirih.

Dirga mengangguk pelan, lalu berdiri dari atas ranjang, dan mengenakan pakaiannya. Tatapannya kembali tenang seperti biasanya, meskipun suasana di antara mereka masih terasa sedikit berbeda.

“Kalau gitu kamu bersihin diri dulu."

Amira mengangguk, dia bangkit perlahan dari ranjang, masih sedikit gugup. Tanpa berani menatap Dirga terlalu lama, Amira segera berjalan menuju kamar mandi.

Pintu kamar mandi tertutup pelan. Di dalam sana, Amira bersandar sejenak di balik pintu. Dadanya masih berdebar kencang.

Dia menatap pantulan wajahnya di cermin. Pipinya masih memerah. Amira menyentuh bibirnya sendiri tanpa sadar.

Sementara itu di luar, Dirga berdiri di dekat jendela kamar hotel. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya. Beberapa detik dia hanya menatap layar, lalu mengarahkan kamera ke luar jendela.

Dirga mengambil beberapa foto pemandangan malam kota itu. Setelah memilih satu yang paling bagus, Dirga membuka aplikasi WhatsApp lalu mengunggahnya ke status.

Di bawah foto itu, Dirga menambahkan satu kalimat singkat.

"Sometimes distance makes everything clearer."

Setelah itu dia menatap status tersebut beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Status tersebut pun muncul.

***

Sementara itu, di kamar hotelnya di Cambridge, Celine baru saja selesai membaca beberapa dokumen penelitian di laptopnya.

Dia kemudian meregangkan tubuh sejenak sebelum mengambil ponsel yang tergeletak di samping bantal.

Dengan santai, Celine membuka aplikasi WhatsApp. Jarinya menggulir layar hingga berhenti pada bagian status. Beberapa status teman muncul satu per satu. Namun tiba-tiba alisnya sedikit terangkat ketika melihat nama Dirga muncul di sana.

Celine mengetuk status itu. Layar ponselnya langsung menampilkan foto pemandangan malam kota Tokyo. Lampu-lampu gedung menjulang tinggi, jalanan yang penuh cahaya kendaraan, serta salju yang mulai turun tipis.

Celine menatap foto itu beberapa detik. Keningnya sedikit berkerut. Lalu dia bergumam lirih pada dirinya sendiri.

"Tokyo?"

Matanya masih terpaku pada layar.

"Apa Dirga pergi ke Tokyo?"

Beberapa detik kemudian dia menggeleng pelan, seolah menepis kemungkinan itu.

"Ah, nggak mungkin," gumamnya lagi.

Celine melempar ponselnya ke atas kasur dengan santai.

"Dia nggak mungkin pergi kalau nggak sama aku. Paling cuma mau bohongin Mamanya."

Celine terkekeh kecil, merasa yakin dengan pikirannya sendiri. Baginya, Dirga pasti hanya berpura-pura pergi agar tidak dimarahi ibunya karena tidak menggunakan tiket bulan madu itu.

Dia sama sekali tidak menyangka, bahwa saat ini, beberapa ribu kilometer darinya, Dirga benar-benar berada di Tokyo, dan lebih dari itu dia tidak pergi sendirian.

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!