NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Gunung Tengkorak dan Sungai Darah Mendidih

Angin di wilayah utara Alam Iblis tidak lagi membawa debu, melainkan membawa bau zat besi yang kental. Langit di sini tertutup awan merah permanen yang berputar perlahan mengelilingi puncak gunung tertinggi di cakrawala.

Gunung Tengkorak (Skull Mountain).

Nama itu bukan kiasan. Gunung raksasa itu benar-benar berbentuk seperti tengkorak manusia purba yang menyeringai ke langit. Lubang matanya adalah gua-gua raksasa yang memancarkan cahaya hijau hantu, dan mulutnya yang menganga adalah gerbang utama menuju benteng Mo Luo.

Ye Chen menghentikan kereta kudanya di tepi tebing yang menghadap ke gunung itu.

"Kita sampai," kata Ye Chen, matanya menatap tajam ke arah "mulut" tengkorak itu.

Di bawah tebing, memisahkan mereka dengan gunung, mengalir sebuah sungai selebar seratus meter. Airnya berwarna merah pekat, berbuih, dan mengeluarkan uap panas.

Sungai Darah (River of Blood).

"Hati-hati, Ye Chen," peringat Lilith yang turun dari kereta. Ekornya bergerak gelisah. "Sungai ini bukan air biasa. Ini adalah darah dari jutaan korban persembahan yang dikumpulkan Mo Luo selama berbulan-bulan. Satu tetes saja mengandung racun korosif yang bisa melelehkan tulang Nascent Soul."

"Dan lihat itu," Lilith menunjuk ke tengah sungai.

Di atas permukaan darah yang mendidih, berdiri pilar-pilar batu hitam. Dan di atas setiap pilar, berdiri seorang penyihir berjubah merah darah yang sedang merapal mantra.

Total ada tiga belas penyihir.

Dan di tengah-tengah mereka, melayang seorang wanita tua dengan rambut putih panjang yang menyentuh permukaan darah. Dia memegang tongkat tulang yang ujungnya adalah tengkorak bayi.

Pendeta Tinggi Mara (High Priestess Mara).

Tingkat Kultivasi: Setengah Langkah Spirit Severing (Half-Step Spirit Severing).

"Tamu kita sudah tiba," suara Mara serak dan basah, seperti orang yang berkumur dengan darah. "Jenderal Mo Luo sudah menanti di Altar Puncak. Tapi dia bilang, kalian harus mandi dulu sebelum masuk."

Mara mengangkat tongkatnya.

"Mandi darah!"

BOOOOM!

Sungai darah itu meledak. Ombak merah setinggi tiga puluh meter bangkit, membentuk tangan-tangan raksasa yang mencoba menyambar Ye Chen dan Lilith di atas tebing.

"Menjijikkan," Ye Chen mendecih.

Dia tidak mundur. Dia melompat dari tebing, langsung menuju sungai darah itu.

"Ye Chen! Kau gila?!" teriak Lilith. Dia terpaksa terbang menyusul, menggunakan sayap kelelawarnya untuk menghindari cipratan darah.

Ye Chen melayang di udara. Tangan darah raksasa itu menerkamnya.

Ye Chen mencabut Pedang Naga Langit.

"Kau bermain darah di depan Asura?"

Ye Chen memejamkan mata sesaat. Dia tidak menggunakan Api atau Petir. Dia menggunakan Resonansi Darah.

Di dalam tubuhnya, darah naga emas dan darah iblis asura bersatu.

"Tunduk!"

Ye Chen menebas pedangnya horizontal.

Teknik Pedang Asura: Dominasi Raja Darah!

ZIIING!

Sebuah gelombang energi merah-emas meluncur dari pedang Ye Chen.

Saat gelombang itu menyentuh tangan darah raksasa milik Mara... tangan itu bubar. Darah itu kehilangan kohesi sihirnya dan jatuh kembali menjadi cairan biasa.

"Apa?!" Mara terbelalak. "Dia memutus kendali sihirku?!"

Ye Chen mendarat di atas salah satu pilar batu (setelah menendang penyihir yang ada di sana hingga jatuh ke sungai dan meleleh).

"Darah ini..." Ye Chen menatap sungai di bawah kakinya. "Terlalu kotor. Penuh dengan jeritan jiwa yang tidak tenang."

Ye Chen menancapkan pedangnya ke pilar batu.

"Mutiara Penelan Surga... Purifikasi!"

Ye Chen menyalurkan kekuatan mutiara melalui pedangnya, masuk ke pilar batu, lalu ke dasar sungai.

WUUUUUNG!

Pusaran hitam muncul di dasar sungai darah.

Darah merah pekat itu mulai berputar. Kotoran, racun, dan jiwa-jiwa penasaran disedot oleh pusaran itu, meninggalkan cairan bening.

"Dia memurnikan sungai leluhur?!" Mara panik. "Hentikan dia! Formasi Jarum Darah!"

Dua belas penyihir lainnya menembakkan ribuan jarum darah ke arah Ye Chen.

"Lilith, urus mereka!" perintah Ye Chen.

"Baiklah, Tuan Bos," Lilith tersenyum.

Dia mengibaskan cambuknya.

Tarian Succubus: Ilusi Mawar Berduri!

Kelopak bunga mawar ilusi bermunculan di udara, menangkis jarum-jarum darah itu. Lilith melesat di antara para penyihir, mencium mereka satu per satu—ciuman yang menyedot jiwa mereka hingga kering.

Sementara itu, Ye Chen fokus pada Mara.

"Kau pemimpinnya?"

Ye Chen mencabut pedangnya dari pilar. Dia melompat menuju Mara yang melayang di tengah sungai.

"Mati kau, Manusia!" Mara mengarahkan tongkatnya.

Sinar Darah Busuk!

Sinar merah hitam ditembakkan.

Ye Chen tidak menghindar. Dia membelah sinar itu dengan pedangnya.

Tebasan Pembelah!

Sinar itu terbelah dua. Ye Chen menembus sela-selanya.

Dia muncul di depan Mara.

"Kau terlalu tua untuk bermain air."

Ye Chen menendang dada Mara.

BUAGH!

Tulang rusuk nenek tua itu hancur. Dia terlempar, jatuh ke dalam sungai darah yang dia kendalikan sendiri.

"Tolong! Panas!" Mara menjerit. Darah itu kini telah dimurnikan sebagian oleh Ye Chen, kehilangan sifat magisnya, tapi suhunya tetap mendidih.

Ye Chen mendarat di atas tongkat tengkorak Mara yang melayang.

Dia melihat ke seberang sungai. Ke arah "mulut" Gunung Tengkorak.

Pintu masuk sudah bersih.

Lilith mendarat di sampingnya, menjilat sisa darah di bibirnya.

"Penyihir-penyihir itu rasanya tidak enak," keluh Lilith. "Terlalu pahit."

"Ayo masuk," kata Ye Chen. "Mo Luo pasti sudah tahu kita di sini."

Mereka melompat ke tepian seberang, berdiri tepat di depan gua mulut tengkorak yang gelap.

Hawa dingin dan lembap berhembus dari dalam.

Ye Chen melangkah masuk.

Namun, baru sepuluh langkah, dia berhenti.

Di depannya, lorong gua itu dipenuhi oleh Patung-patung Batu.

Patung prajurit, patung wanita, patung binatang. Ekspresi mereka semua ketakutan.

"Ini..." Lilith menyentuh salah satu patung. "Ini bukan pahatan. Ini makhluk hidup yang diubah menjadi batu."

Mata Ye Chen menyipit. "Teknik Petrifikasi? Seperti Kuang Shi?"

"Bukan. Ini berbeda," kata Lilith. "Ini adalah Kutukan Mata. Mo Luo memiliki mata ketiga yang bisa membatu, tapi jangkauannya tidak sekuat ini."

Tiba-tiba, mata patung di sebelah Ye Chen bergerak.

Krek.

Lapisan batu di wajah patung itu retak.

"Lari..." bisik patung itu dengan suara parau. "Ada... Cermin..."

"Cermin?"

Ye Chen melihat ke ujung lorong.

Di sana, berdiri sebuah cermin raksasa setinggi lima meter dengan bingkai emas kuno. Permukaan cermin itu gelap, berputar seperti pusaran air.

Dan di dalam cermin itu... Ye Chen melihat bayangannya sendiri.

Tapi bayangan itu tersenyum padanya. Senyum yang jahat.

Bayangan Ye Chen di dalam cermin itu perlahan keluar.

Satu langkah. Dua langkah.

Seorang Ye Chen Tiruan (Doppelganger) berdiri di hadapannya. Memegang pedang hitam yang sama. Memancarkan aura yang sama.

"Selamat datang, diriku," kata tiruan itu.

Ye Chen asli menatap tiruan itu.

"Cermin Pengganda?"

"Lebih buruk," kata Lilith mundur ketakutan. "Itu Cermin Jiwa Iblis. Dia menggandakan sisi gelapmu. Dan sisi gelap itu... biasanya lebih kuat."

Tiruan Ye Chen mengangkat pedangnya.

"Kau lelah, Ye Chen. Istirahatlah. Biar aku yang mengambil alih tubuhmu."

BOOM!

Tiruan itu menyerang dengan kecepatan yang sama persis dengan Ye Chen.

CLANG!

Pedang asli dan pedang tiruan beradu. Percikan api menerangi gua tengkorak.

Ye Chen merasakan tenaganya seimbang.

"Menarik," Ye Chen menyeringai. "Melawan diri sendiri? Ini latihan terbaik."

"Lilith, cari jalan putar! Cari altar Mo Luo! Aku akan mengurus bayangan ini."

"Tapi..."

"PERGI!"

Lilith berubah menjadi kelelawar kecil dan terbang melewati celah stalaktit di atas, menghindari pertarungan.

Tinggal Ye Chen dan sisi gelapnya.

"Kau pikir kau bisa mengalahkanku?" tanya Tiruan Ye Chen. "Aku tahu semua teknikmu. Langkah Kilat, Pembelah Langit, Tubuh Guntur..."

"Kau tahu teknikku," kata Ye Chen tenang. "Tapi kau tidak punya satu hal."

"Apa?"

"Kau tidak punya Rasa Sakit."

Ye Chen membuang pertahanannya. Dia membiarkan tiruan itu menusuk bahunya.

JLEB!

Darah Ye Chen menetes.

Tapi di saat yang sama, Ye Chen menangkap leher tiruan itu.

"Dan kau... tidak punya Mutiara."

Ye Chen menempelkan dahinya ke dahi tiruan itu.

"Mutiara Penelan Surga... Makan Bayangan!"

Pertarungan konsep diri dimulai. Siapa yang akan memakan siapa?

(Akhir Bab 8)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!