Yan Jian— seorang generasi muda yang awalnya terlahir tanpa memiliki Roh Bela Diri bawaan, kini bangkit sebagai Generasi Muda terkuat di Provinsi Chang Yuan.
Setelah melakukan pertarungan panjang yang melelahkan waktu, menepati janji, menorehkan prestasi, hingga dirinya disebut Generasi Muda nomor satu di Provinsi Chang Yuan.
Yan Jian bersama sembilan Generasi Muda perwakilan Provinsi Chang Yuan lainnya berangkat menuju Kota Kekaisaran, tempat Kompetisi terbesar di salah satu Kekaisaran Wilayah Timur. Namun di wilayah timur besar, Provinsi Chang Yuan di anggap sebagai debu berjalan, karena setiap kompetisi, provinsi Chang Yuan selalu menjadi yang terlemah dan selalu berada di peringkat paling rendah.
Mampukah Yan Jian bersama rekan-rekannya mengangkat dan mengharumkan Provinsi Chang Yuan di Kompetisi terbesar Kekaisaran Api Agung itu? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKT 2: Chapter 15
Tanah berguncang hebat, seolah-olah bumi sendiri sedang menggeliat dalam kemarahan. Udara terpecah belah, membuka celah ruang kehampaan yang gelap dan menyeramkan, di mana angin dingin menusuk tulang bercampur dengan hembusan panas yang membara. Wilayah puncak gunung berapi itu seketika diselimuti oleh tabir asap tebal, yang tercipta dari ledakan badai energi yang meledak dari tubuh Yan Jian. Suara gemuruh menggelegar, membuat langit seolah-olah hendak runtuh, dan para peserta yang menyaksikan dari kejauhan merasa jantung mereka berdegup kencang, napas tersengal.
Semua orang benar-benar dibuat terkejut. Beberapa orang melompat mundur dengan wajah pucat, menjauhi tempat yang akan menjadi medan pertarungan maut. "Apa yang terjadi? Energi itu... terlalu mengerikan!" seru salah seorang peserta, suaranya gemetar.
Mereka tahu, pertarungan ini bukan lagi soal kehormatan, ini adalah perjuangan hidup mati antara dua kultivator tingkat tinggi. Walaupun Yan Jian hanyalah seorang Praktisi Setengah Langkah Nirvana, tapi dia memiliki kemampuan yang membuat orang yang melihatnya menggelengkan kepala.
Wu Hao, sosok misterius yang berasal dari Aula Darah, yang dikenal sebagai organisasi baru yang misterius, melayang di udara dengan aura api merah menyala yang membakar segala yang mendekat.
Ketika tabir asap mulai menghilang perlahan, sosok Yan Jian muncul berdiri tegak di tengah kehancuran. Tatapannya tajam seperti pedang es, menusuk langsung ke arah Wu Hao yang masih melayang dengan sombong. Tanah bebatuan di atas puncak gunung berapi seketika berubah menjadi hamparan kristal es yang beku, membekukan lava panas yang mengalir menjadi patung-patung beku yang berkilauan. Bahkan penampilan sosok Yan Jian seketika berubah: jubah putihnya berkibar seperti salju yang turun, rambutnya memutih seperti embun pagi, mata birunya menyala dingin seperti inti es, dan aura es dan salju yang ekstrim terpancar dari tubuhnya. Yan Jian telah memasuki mode ekstrim sebagai sosok Kaisar Es, bentuk puncak dari teknik kultivasi Es Abadi yang legendaris, yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah melewati cobaan kematian.
Wu Hao tertawa dingin dari atas, api di sekitar tubuhnya membentuk sayap phoenix yang membara. "Yan Jian, kau benar-benar nekat. Dengan tingkat kultivasimu yang baru mencapai Setengah Langkah Nirvana, kau berani berhadapan denganku, yang sudah di puncak Nirvana bintang sembilan? Ini bukan pertarungan, ini pembantaian!" Suaranya bergema seperti guntur, penuh ejekan. Tapi di balik itu, ada sedikit ketidakpastian. Ledakan energi tadi... itu bukan kekuatan biasa.
Yan Jian terdiam selama beberapa saat. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, saat pertemuan pertamanya dengan Zhou Ling'er, yang menyelamatkan nyawanya dari kematian.
"Kau... di mana Ling'er?" tanya Yan Jian pelan, suaranya dingin tapi penuh emosi yang mendidih. Air mata es membeku di pipinya, tapi bukan karena lemah, itu adalah api amarag yang telah membeku menjadi es abadi. "Hari ini, jika kau tidak memberikan Zhou Ling'er kepadaku... maka jangan salahkan aku bertindak kejam!"
Dengan gerakan cepat menggunakan Langkah Petir Angin, Yan Jian melompat ke udara, tubuhnya dikelilingi oleh badai salju yang berputar kencang. Teknik Es Abadi: Badai Es Pembunuh! Ribuan jarum es tajam meluncur ke arah Wu Hao, masing-masing mengandung esensi dingin yang bisa membekukan jiwa lawan. Udara di sekitar mereka membeku, membuat napas para penonton terasa sesak.
Wu Hao menyeringai, melambaikan tangannya. "Api Surgawi: Benteng Api Abadi!" Api merah menyala membentuk dinding pertahanan yang membara, melelehkan jarum es sebelum menyentuh tubuhnya. Ledakan uap air memenuhi udara, menciptakan kabut tebal yang membuat penglihatan terbatas. "Lemah! Kau pikir esmu bisa menembus apiku?" seru Wu Hao, kemudian melancarkan serangan balik. Tinjunya membara, membentuk cakar phoenix yang meluncur ke arah Yan Jian dengan kecepatan kilat.
Yan Jian menghindar dengan lincah, tapi cakar itu menggores bahunya, membakar dagingnya hingga berbau gosong. Rasa sakit menusuk kulit, menembus daging, tapi ia menahannya. "Kuat sekali!" gumamnya dalam hati.
Yan Jian mengingat Ratu Iblis Yao Huo, yang mengorbankan nyawa untuk membantunya melawan Xi Yang saat itu.. "Jangan menyerah, Yan Jian. Es bukanlah kelemahan, ia adalah ketahanan yang tak tergoyahkan." gumam Yan Jian, pada dirinya sendiri.
Pertarungan semakin sengit. Wu Hao menyerang tanpa henti, api surgawi nya membakar segala yang disentuhnya. Puncak gunung bergetar, lava beku retak-retak di bawah tekanan panas. Yan Jian mundur selangkah demi selangkah, darah es mengalir dari lukanya. Setiap serangan Wu Hao seperti badai api yang tak terbendung, membuat Yan Jian merasa tubuhnya hampir hancur. "Mengapa kau bertahan? Kau tahu akhirnya kau akan mati!" ejek Wu Hao, matanya menyala penuh kebencian. Di balik sombongnya, Wu Hao merasa marah, bagaimana bisa seorang Praktisi Setengah Langkah Nirvana terus menerus bertahan dari setiap serangannya?
Tapi Yan Jian tidak menyerah. Emosinya meledak: kenangan keluarga, rasa sakit pengkhianatan, dan cinta pada istrinya yang kini dalam bahaya. "Aku... tidak akan kalah!" teriaknya. Dengan seluruh kekuatannya, ia mengaktifkan teknik terlarang: Pedang Kaisar Es! Tubuhnya bersinar biru terang, es di sekitarnya membentuk pedang raksasa yang menjulang ke langit. Pedang itu menebas ke arah Wu Hao, membekukan api di jalurnya.
Wu Hao terkejut, api pertahanannya retak untuk pertama kalinya. "Mustahil!" serunya, mundur dengan wajah pucat. Pedang es menyentuh lengannya, membekukan darahnya hingga ia merasa jiwa primordial nya terguncang. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya mengamuk. "Kau... kau... sialan!" Ia memanggil teknik pamungkas: Phoenix Api, api abadi yang bisa membakar segalanya, bahkan ruang itu sendiri.
Api phoenix membesar, membentuk burung api raksasa yang menukik ke arah Yan Jian. Yan Jian berdiri tegar, pedang esnya bertabrakan dengan phoenix itu. Ledakan energi dahsyat terjadi, membuat seluruh puncak gunung bergetar hebat. Para penonton berlarian, takut tertimpa reruntuhan. Di tengah kekacauan, Yan Jian merasa tubuhnya hampir hancur, tapi matanya tetap tajam. "Ini belum berakhir... aku akan bangkit!"
Ledakan itu membuat keduanya terlempar ke belakang. Yan Jian jatuh ke tanah beku, napasnya tersengal, tapi ia bangkit perlahan. Wu Hao, meski terluka, masih melayang dengan api yang redup. "Kau... bagaimana mungkin?" gumam Wu Hao, untuk pertama kalinya merasa takut. Pertarungan ini baru saja dimulai, dan taruhannya semakin tinggi, nyawa, kehormatan, dan rahasia kultivasi yang tersembunyi.
Di kejauhan, Luo Xiang'er menyaksikan dengan senyum tipis. "Bocah itu... ia memiliki darah Kaisar Es sejati. Wu Hao, kau telah membangunkan monster yang sedang tertidur."