NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22.PANJI BAYANGAN DI IBU KOTA

Ibu Kota Kerajaan, Aethelgard, adalah simfoni dari batu marmer putih dan emas. Jalanannya yang luas dipenuhi oleh ksatria berbaju zirah mengkilap dan kereta kuda bangsawan yang angkuh. Di pusat kota itu berdiri gedung Guild Petualang Pusat—sebuah bangunan kolosal yang ukurannya sepuluh kali lipat dari Guild Ovelia.

Arka berjalan di depan dengan langkah malas yang khas, mengenakan jubah abu-abu polos yang tampak kontras dengan kemewahan di sekitarnya. Di belakangnya, lima sosok mengikuti dengan formasi yang rapat.

Jiro, Kael, dan Elara 'Tiga Fajar' berjalan dengan ketenangan yang tidak wajar bagi petualang peringkat B. Namun, yang paling mencolok adalah Valen dan Seraphina. Tidak ada lagi zirah emas atau aksesoris akademi yang berisik. Mereka mengenakan pakaian tempur praktis berwarna gelap, gerakan mereka begitu hening hingga langkah kaki mereka nyaris tidak terdengar di atas lantai batu. Latihan di bawah Lyra telah menghapus "kebisingan" dari keberadaan mereka.

"Ingat," gumam Arka tanpa menoleh. "Kita di sini hanya untuk mendaftar. Jangan memancing keributan kecuali ada yang menumpahkan tehku."

"Tentu, Guru," jawab Jiro pelan, meski matanya waspada memindai setiap sudut aula Guild yang dipenuhi petualang peringkat tinggi.

...

Di dalam aula, kerumunan petualang elit dari berbagai penjuru kerajaan berkumpul. Saat rombongan Arka masuk, beberapa pasang mata melirik dengan nada meremehkan.

"Lihat itu... bukankah itu Valen dan Seraphina dari akademi?" bisik seorang petualang peringkat A. "Kenapa mereka berpakaian seperti pelayan pembunuh? Dan siapa pria pengangguran yang memimpin mereka itu?"

Valen mendengar ejekan itu, namun ia bahkan tidak melirik. Tangannya tetap tenang di samping tubuh, sebuah pengendalian diri yang mustahil ia miliki satu minggu yang lalu.

Di ujung aula, di sebuah meja eksklusif, Baros 'Ketua Guild Ovelia' sedang berbicara dengan beberapa pejabat tinggi Guild Pusat. Begitu matanya menangkap sosok Arka, Baros seketika berdiri, membuat kursi yang didudukinya tergeser kasar.

"Arka!" Baros setengah berlari menghampiri mereka. Ia membungkuk sangat rendah, sebuah gestur yang membuat seluruh aula Guild yang bising mendadak sunyi senyap.

Para petualang elit di sana terbelalak. Baros adalah veteran perang yang disegani, kenapa dia membungkuk pada pria yang tampak seperti baru bangun tidur?

"Baros," ucap Arka malas. "Aku butuh surat rekomendasi dari Guild Ovelia agar timku bisa mendaftar di sini. Katanya pendaftaran Kompetisi Antar Guild Pusat memerlukan validasi wilayah asal."

"Tentu, tentu! Saya sudah menyiapkannya sejak Anda mengirim pesan lewat Lyra semalam," Baros dengan gemetar menyerahkan sebuah gulungan perkamen dengan segel emas resmi. "Ini adalah surat rekomendasi tertinggi. Dengan ini, tim Anda tidak perlu melalui babak penyisihan awal."

..

Arka menerima surat itu dan berjalan menuju meja pendaftaran utama. Petugas pendaftaran, seorang pria paruh baya yang tampak angkuh, menatap Arka dengan sebelah mata sebelum membaca surat dari Baros. Begitu ia melihat stempelnya, wajahnya memucat.

"Tiga Fajar dan... dua Bayangan?" tanya petugas itu, suaranya agak bergetar. "Siapa nama tim yang ingin Anda daftarkan?"

Arka terdiam sejenak, lalu melirik kelima muridnya. "Tulis saja: Tiga Fajar."

Saat pena petugas itu menyentuh kertas, sebuah tekanan mana yang sangat halus namun dingin tiba-tiba menyelimuti meja pendaftaran. Itu bukan berasal dari Arka, melainkan dari kelima muridnya yang secara tidak sadar melepaskan aura mereka karena fokus yang tajam.

Petualang di sekitar mereka merasa bulu kuduk berdiri. Itu bukan aura yang meledak-ledak seperti ksatria, melainkan aura yang sunyi dan mematikan seperti predator yang sedang mengintai di dalam gelap.

"S-selesai," petugas itu mengecap dokumen tersebut dengan tangan gemetar. "Tim Tiga Fajar resmi terdaftar sebagai peserta undangan."

...

Saat mereka berbalik untuk keluar, tiga pemuda berseragam biru langit, seragam elit Akademi Aethelgard menghadang jalan mereka. Di tengahnya adalah kawan lama Valen, seorang putra bangsawan bernama Lucius.

"Valen? Seraphina?" Lucius tertawa menghina. "Aku dengar kalian menghilang dari akademi untuk belajar pada seorang 'guru pengembara'. Tapi melihat kalian sekarang... kalian tampak seperti sampah jalanan yang kehilangan kemilau."

Lucius melirik Arka dengan jijik. "Jadi ini gurumu? Pria yang bahkan tidak punya aura ksatria? Menyedihkan."

Valen melangkah maju satu tindak. Lucius bersiap untuk ledakan kemarahan Valen yang biasa ia lihat, namun yang ia dapatkan justru sebaliknya. Valen menatapnya dengan mata yang kosong, seolah-olah Lucius hanyalah sebuah benda mati yang menghalangi jalan.

"Minggir," ucap Valen pendek. Suaranya rendah, tanpa emosi, namun mengandung getaran mana yang membuat Lucius tersedak kata-katanya sendiri.

"Kau berani-!" Lucius mencoba meraih kerah baju Valen.

Dalam sekejap mata tanpa ada suara langkah atau desiran angin Valen sudah berada di samping Lucius, tangannya berada tepat di atas gagang pedang kayunya. Ia tidak mencabutnya, namun niat membunuh yang ia pancarkan selama satu detik sudah cukup untuk membuat Lucius jatuh terduduk di lantai Guild, keringat dingin membasahi dahinya.

"Gerakanmu... terlalu berisik, Lucius," bisik Valen, mengutip kata-kata Arka.

Arka hanya menguap, melewati Lucius yang masih gemetar di lantai. "Ayo pergi. Aku lapar. Ibu kota ini punya terlalu banyak orang yang suka bicara."

Kelima murid itu mengikuti Arka keluar dari Guild. Mereka meninggalkan aula yang kini penuh dengan bisikan ketakutan. Nama "Tiga Fajar" telah tertulis di papan turnamen, dan untuk pertama kalinya, Ibu Kota merasakan kehadiran bayangan yang akan menelan cahaya kemegahan mereka.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!