Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan yang terlalu dini
Keesokan harinya Ashar pulang membawa sebuah kantong kecil dari apotek.
Aku sedang membaca buku di sofa ketika ia masuk.
“Apa itu?” tanyaku.
Ia meletakkan kantong itu di meja.
“Tes kehamilan.”
Aku menatapnya.
“Ashar…”
“Hanya untuk memastikan.”
Aku menghela napas.
“Kamu benar-benar serius.”
“Aku selalu serius.”
Aku mengambil kotak kecil itu.
Menatapnya beberapa detik.
Entah kenapa jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
“Aku tidak yakin.”
“Kita tidak harus melakukannya sekarang.”
“Lalu kapan?”
“Kapan pun kamu siap.”
Aku memandang Ashar.
Ia terlihat jauh lebih gugup daripada aku.
Itu membuatku tertawa kecil.
“Kenapa kamu yang terlihat lebih tegang?”
“Aku tidak tegang.”
“Kamu bahkan duduk terlalu tegak.”
Ia akhirnya tersenyum malu.
“Sedikit tegang.”
Aku memegang tangannya.
“Aku akan mencobanya nanti.”
Ashar mengangguk.
Tetapi ekspresinya masih seperti seseorang yang sedang menunggu keputusan penting.
Malam itu sebelum tidur, aku menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan.
Ashar sedang duduk di depan laptop.
Aku mendekat dari belakang.
Lalu membaca tulisan di layar.
“Program bayi sehat untuk pasangan muda.”
Aku menahan tawa.
“Ashar.”
Ia langsung menoleh.
“Kamu mengagetkanku.”
“Kamu membaca apa?”
“Tidak ada.”
“Aku sudah melihatnya.”
Ia terlihat sedikit malu.
“Aku hanya ingin tahu.”
“Tahu apa?”
“Bagaimana menjadi orang tua yang baik.”
Aku terdiam beberapa detik.
Kalimat itu terdengar sangat serius.
“Ashar…”
“Iya?”
“Kamu bahkan belum tahu apakah aku hamil.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu sudah membaca tentang itu?”
Ia menatapku dengan tenang.
“Aku ingin siap.”
Hatiku terasa hangat.
“Kamu benar-benar memikirkan ini.”
“Aku memikirkan kita.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Karena cara ia mengatakan itu sangat tulus.
Beberapa hari berikutnya Ashar semakin aneh.
Dalam arti yang… baik.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil.
“Jangan minum kopi terlalu banyak.”
“Ashar, aku hanya minum satu cangkir.”
“Cukup satu saja.”
Ia juga mulai mengganti beberapa menu makanan di rumah.
Lebih banyak sayur.
Lebih banyak buah.
“Apa ini?” tanyaku ketika melihat salad besar di meja makan.
“Makanan sehat.”
“Kamu biasanya tidak suka salad.”
“Aku belajar menyukainya.”
Aku tertawa.
“Kamu berubah.”
“Mungkin.”
“Tapi aku belum tentu hamil.”
Ia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Tetap tidak ada salahnya hidup lebih sehat.”
Aku tidak bisa membantah itu.
Suatu malam ketika kami duduk di sofa menonton televisi, Ashar tiba-tiba berkata:
“Mala.”
“Hm?”
“Ada kelas persiapan menjadi orang tua.”
Aku menoleh cepat.
“Kelas apa?”
“Untuk pasangan yang akan memiliki anak.”
“Ashar…”
“Iya?”
“Aku belum tentu hamil.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu sudah mencari kelas?”
Ia mengangkat bahu.
“Belajar lebih awal tidak salah.”
Aku tertawa.
“Kamu benar-benar serius tentang ini.”
Ia menatapku dengan ekspresi lembut.
“Kalau memang kita akan menjadi orang tua…”
Ia berhenti sebentar.
“Aku ingin menjadi ayah yang baik.”
Kalimat itu membuatku diam cukup lama.
Ashar tumbuh tanpa figur ayah.
Dan aku tahu itu selalu menjadi luka kecil di dalam dirinya.
“Aku yakin kamu akan menjadi ayah yang baik,” kataku pelan.
Ia tersenyum.
“Semoga.”
Malam itu ketika kami berbaring di tempat tidur, aku memandang kotak kecil di meja samping.
Tes kehamilan itu masih belum digunakan.
Entah kenapa aku masih ragu.
Ashar memegang tanganku.
“Kamu tidak perlu terburu-buru.”
“Aku tahu.”
“Kapan pun kamu siap.”
Aku mengangguk.
Beberapa menit kemudian ia sudah tertidur.
Tetapi aku masih terjaga.
Tanganku tanpa sadar menyentuh perutku.
Perut yang terasa sama seperti biasanya.
Namun entah kenapa malam itu pikiranku dipenuhi satu pertanyaan.
Bagaimana jika Ashar benar?
Bagaimana jika tubuhku memang sedang menyimpan kehidupan kecil yang bahkan belum kami ketahui?
Aku menutup mata perlahan.
Dan tanpa aku sadari…
senyum kecil muncul di wajahku.
Karena untuk pertama kalinya sejak Ashar mengucapkan dugaan itu…
aku mulai membayangkan kemungkinan itu.
Kemungkinan bahwa hidup kami akan berubah.
Bukan hanya menjadi suami dan istri.
Tetapi mungkin…
menjadi sesuatu yang lebih besar dari itu.
Menjadi keluarga.