Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermitra
Aula tempat acara digelar sudah ramai. Di atas panggung, sekelompok penari mengenakan busana klasik menari mengikuti alunan musik yang lembut. Setiap ekspresi dan gerakan mereka tampak anggun dan memikat, meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton.
Di bawah panggung, para tamu duduk rapi dengan pakaian terbaik mereka. Ada yang saling bersulang dan mengobrol, ada juga yang memilih menikmati pertunjukan dalam diam. Hans menemukan kursi kosong, lalu duduk sambil menyeruput segelas jus dan menonton pertunjukan dengan tenang.
“Eh, Rinaldi! Gak nyangka kamu bisa nyelonong masuk ke sini!”
Suara sumbang itu memecah ketenangannya. Hans menoleh dan melihat Othan berdiri bersama Tiffany dan sekretarisnya.
“Huh, sial banget. Kenapa sih kamu ada di mana-mana?” gerutu Rachel kesal.
Tiffany tidak mengatakan apa pun. Dia hanya melirik Hans dengan tatapan dingin, lalu berjalan ke kursi barisan depan.
“Hei, bentar lagi lelang amal mulai. kamu emang sanggup ikut? Ngapain duduk di sini?” ejek Othan.
“Siapa bilang aku gak boleh duduk cuma karena gak ikut lelang?” balas Hans santai.
“Itu aturannya! Orang kere kayak kamu gak pantas duduk bareng kita,” kata Othan dengan wajah meremehkan.
“Kamu budek, ya? Berdiri sekarang!” Rachel menendang kursi yang diduduki Hans.
“Kalau aku gak mau?” Hans menatapnya tanpa gentar.
“Aku panggil satpam buat ngusir kamu!”
“Coba aja,” jawab Hans tenang, seolah tidak terganggu.
“Baik! Kamu sendiri yang minta! Jangan salahin aku kalau nanti kamu dipermalukan!” Rachel hendak mengangkat tangan untuk memanggil petugas keamanan, tapi Tiffany menahannya.
“Udah. Biarin aja dia.”
“Tapi .…”
“Urus aja kerjaan kamu,” potong Tiffany singkat.
“Huh, kamu beruntung,” dengus Rachel sebelum akhirnya berhenti mengusik.
Tak lama kemudian, HPnya berdering. Begitu menerima panggilan, wajahnya langsung membeku. Raut angkuh di wajahnya berubah menjadi panik.
“Ada apa?” tanya Tiffany, merasa ada yang tidak beres.
“Nyonya Rasheed … gawat!” kata Rachel gugup. “Barusan aku dapet kabar kalau keluarga Wiraningrat mau hapus Adiputra Group dari daftar kandidat!”
“Apa?” Wajah Tiffany langsung pucat. “Kamu yakin infonya benar?”
“Harusnya sih iya. Temen aku denger langsung di kantor!”
“Gimana bisa begini?” Wajah Tiffany terlihat kacau. Untuk bisa masuk daftar kandidat saja, dia sudah mengerahkan banyak usaha. Bukan cuma soal uang, dia juga berutang banyak budi pada berbagai pihak.
Awalnya dia pikir setelah lolos seleksi awal dan masuk daftar, dia tinggal bertemu lebih dulu dengan si Glossy Lady, lalu posisi sebagai mitra keluarga Wiraningrat hampir pasti ada di tangannya.
Siapa sangka mereka justru akan dicoret di detik terakhir?
Semuanya terjadi begitu tiba-tiba sampai Tiffany sulit memahaminya.
“Nyonya Rasheed, terus sekarang kita harus gimana? Kalau kita jadi dicoret, semua usaha kita sia-sia!” keluh Rachel cemas.
“Biar aku pikir dulu .…” Tiffany mengernyit, tenggelam dalam pikirannya.
Menjadi mitra keluarga Wiraningrat bukan hanya soal keuntungan tambahan, tapi juga soal status sosial.
Meski Adiputra Group berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, fondasinya belum benar-benar kuat. Jika bisa bekerja sama dengan keluarga Wiraningrat, mereka akan punya penopang yang kokoh. Tiffany sudah hampir menyentuh keberhasilan, tapi kini semuanya seperti runtuh begitu saja.
“Pak Rinaldi.”
Tiba-tiba seorang manajer dari keluarga Wiraningrat mendekati Hans dan menyerahkan sebuah map. “Glossy Lady minta kamu periksa dokumen ini dan ambil keputusan terakhir.”
Hans mengangkat alis, lalu membuka map itu. Ekspresinya berubah aneh. Isinya adalah informasi tentang Tiffany dan Adiputra Group. Secara tidak langsung, Maureen menyerahkan keputusan untuk mencoret mereka atau tidak ke tangannya.
“Sebenernya dia lagi main apa?”
Hans memegang kalung di lehernya sambil berpikir. Jelas sekali Maureen melakukan ini dengan sengaja. Dia ingin keputusan atas nasib perusahaan Tiffany ada di tangan Hans.
Setelah mempertimbangkannya, Hans memilih untuk tidak mencoret mereka. Walaupun sudah bercerai, hubungan mereka tidak sampai pada titik harus saling menjatuhkan.
Lagi pula, mereka pernah menikah selama tiga tahun. Bagaimanapun, dia tetap berharap Tiffany bisa menjalani hidupnya dengan baik.
“Pak Rinaldi, kamu yakin sama keputusan kamu?” tanya manajer itu pelan. Dia tahu Maureen tidak menyukai Tiffany.
“Yakin,” jawab Hans singkat.
“Baik. Kami akan mengikuti keputusan Anda.”
Manajer itu tersenyum sopan lalu pergi membawa dokumen. Namun di dalam hati, penilaiannya terhadap Hans sedikit menurun. Baginya, ini kesempatan emas bagi Hans untuk mengambil hati Nyonya Wiraningrat.
Sementara itu, di barisan depan, Tiffany dan Rachel yang sama sekali tidak tahu apa-apa masih diliputi kecemasan.
Mereka hanya bisa cemas memikirkan hal itu. Dengan status mereka, jelas mereka tidak punya kuasa untuk mengubah keputusan keluarga Wiraningrat.
“Ehem .…” Othan berdeham untuk menarik perhatian sebelum berkata, “Tiffany, kalau kamu lagi mikirin soal daftar kandidat, mungkin aku bisa bantu.”
“Serius?” Wajah Rachel langsung berbinar. “Pak Karimi, gimana caranya kamu bisa bantu kami?”
“Sejujurnya, Papaku punya sedikit hubungan sama Pak Wiraningrat yang tua. Selama papa yang ngomong, aku yakin keluarga Wiraningrat bakal ngelakuin sesuatu.”
“Beneran? Wah, itu keren banget!” Rachel tampak sangat antusias. “Pak Karimi, kalau kamu bisa bantu kami soal ini, kamu jadi penolong terbesar kami!”
“Ah, cuma hal kecil. Aku telepon sekarang.”
Othan tertawa ringan, lalu segera menghubungi ayahnya dan menjelaskan situasinya secara singkat.
“Baiklah, sudah paham. Nanti kalau ada waktu, aku akan bicara dengan Soedjoyo,” jawab Hendrick, ayah Othan, dengan nada seadanya sebelum menutup telepon.
Merasa masalahnya sudah beres, Othan langsung mengambil kesempatan untuk pamer. “Papaku sudah setuju bantu. Kalian gak usah khawatir. Sebentar lagi juga selesai.”
“Syukurlah! Pak Karimi, berkat kamu kami jadi tenang,” ujar Rachel lega.
“Terima kasih, Pak Karimi,” tambah Tiffany.
“Ah, hal kecil. Gak usah dipikirin,” kata Othan sambil melambaikan tangan seolah murah hati.
Setelah itu, dia melirik Hans dengan tatapan menantang. Namun Hans hanya duduk santai sambil menikmati jusnya, sama sekali tidak memedulikan Othan.
Tak lama kemudian, HP Tiffany berdering. Saat melihat layar, dia mendapati panggilan itu berasal dari manajer umum Wiraningrat Group.
“Halo, apa ini Nona Rasheed? Saya punya kabar baik untuk Anda. Manajemen telah memutuskan untuk menunjuk Anda sebagai mitra keluarga Wiraningrat.”