Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Hutang Darah
Suasana di Gunung Parang mendadak hening setelah para pria berbaju hitam itu lari tunggang langgang tertembus cahaya kuning hangat dari lampu Scoopy Della. Kabut yang tadinya tebal dan berbau logam kini berganti menjadi udara pegunungan yang tipis dan dingin.
Della berdiri diam, tangannya masih memegang stang motor yang terasa "berdenyut" hangat. Tidak ada lagi rasa nyeri, yang ada hanyalah perasaan sedih yang mendalam, seolah ia baru saja memeluk seseorang yang sudah lama hilang.
"Del... loe nggak apa-apa?" Geri mendekat, langkahnya masih agak tertatih.
Della melihat ke arah telapak tangannya. Bekas luka berbentuk mata itu tidak lagi merah marun, melainkan berwarna putih keperakan, senada dengan sisa noda di tangan Geri. "Gue rasa... Bibi Mei sudah tenang di dalam sana. Dia nggak lagi mencoba keluar, tapi dia memilih untuk tinggal. Sebagai pelindung."
Si kakek penjaga makam mendekat, arit nya disampirkan di bahu. Ia menatap nisan marmer hitam yang kini sudah hancur menjadi tumpukan kerikil.
"Kau baru saja memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada nyawa, Nona," suara si kakek terdengar lebih berat. "Kau memberikan 'penerimaan'. Darah yang kau teteskan di baut tadi adalah kontrak. Mulai detik ini, apa yang dirasakan motor ini, akan kau rasakan juga. Dan apa yang kau alami, akan terekam di dalam mesinnya."
Della menatap spion kirinya yang kini baru dan jernih. "Itu artinya, saya nggak bisa lepas dari motor ini?"
"Kau dan dia adalah satu kesatuan sekarang. Tapi ingat," si kakek menunjuk ke arah bawah bukit, ke arah kerlip lampu kota Sukabumi yang tampak tenang namun menipu. "Pak Hendra bukan pemilik asli dari semua cermin ini, Dia hanya pion. Di luar sana, ada sosok yang disebut 'Sang Kolektor'. Dia yang memberikan spion itu pada kakekmu puluhan tahun lalu, dan dia tidak akan senang tahu bahwa hartanya sekarang memiliki 'tuan' yang baru."
Sasha yang sejak tadi diam, kini memegang lengan Della. "Del, kita pulang yuk. Gue udah nggak tahan di sini. Gue kangen bau kamar gue yang normal."
Mereka turun dari Gunung Parang dalam formasi yang sama. Namun kali ini, Scoopy Della melaju di depan, memberikan penerangan yang luar biasa terang bagi motor Geri.
Sesampainya di garasi rumah Della, Geri dan Sasha membantu merapikan motor itu. Geri memeriksa oli perak yang tadi sempat ia keluarkan. Anehnya, cairan perak di dalam bak penampung itu kini telah berubah kembali menjadi oli mesin biasa yang berwarna hitam kecoklatan.
"Semuanya balik normal secara fisik, Ger?" tanya Della.
Geri menggeleng pelan sambil menatap telapak tangannya yang masih memiliki noda perak permanen. "Mesinnya mungkin normal, tapi energinya beda. Pas gue pegang blok mesinnya barusan, gue nggak denger suara ketukan lagi. Gue denger suara... detak jantung yang tenang."
Sasha berpamitan dengan wajah yang masih pucat. "Del, besok-besok kalau mau touring, kita ke tempat yang ada cafe estetikanya aja ya? Jangan ke kuburan lagi."
Della tersenyum tipis. "Gue janji, Sha."
🌸🌸🌸🌸
Tengah malam, Della berdiri di depan jendela kamarnya. Ia memegang sisir perak milik Bibi Mei yang kini sudah tidak lagi mengeluarkan hawa dingin.
Ia melirik ke bawah, ke arah garasi. Di sana, di balik pintu kayu, ia tahu Scoopy-nya sedang "beristirahat". Ia menyadari satu hal: penglihatannya sekarang sedikit berbeda. Di sudut mata kirinya, ia bisa melihat aliran energi di udara seperti pita-pita cahaya tipis yang menghubungkan benda-benda di sekitarnya.
Itu adalah sisa dari kekuatan spion tersebut.
Della mengambil HP-nya, membuka galeri foto. Ia melihat foto lama keluarganya. Di sana, ada sosok Kakek Tan yang tersenyum kaku. Della memperbesar foto itu, fokus pada bagian mata kakeknya.
Di dalam pantulan mata Kakek Tan di foto itu, terlihat siluet motor Scoopy yang sama, dengan spion kiri yang sudah retak.
"Hutang darah sudah dibayar, Kek," bisik Della. "Tapi perjalanannya baru dimulai, kan?"
Dari arah garasi, tiba-tiba terdengar suara klakson pendek.
Telolet! seolah-olah motor itu sedang menjawab pernyataan Della.
Della tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia berdiri cukup lama di depan pintu garasi yang terkunci, mendengarkan sisa-sisa keheningan malam Sukabumi.
Di kejauhan, suara anjing menggonggong bersahutan, seolah menandakan ada sesuatu yang baru saja melintas di perbatasan antara dunia nyata dan dunia yang baru saja Della masuki.
Ia merogoh saku jaketnya, merasakan permukaan sisir perak milik Bibi Mei yang kini terasa hangat sehangat suhu tubuh manusia.
Della baru saja hendak mematikan lampu garasi ketika ia menyadari sesuatu yang janggal pada lantai semennya. Di bawah standar samping Scoopy-nya, cairan perak yang tadi sempat berceceran kini telah mengering. Namun, bekas keringnya tidak acak; cairan itu membentuk sebuah pola tulisan yang rapi, seolah-olah ditulis oleh tangan yang sangat ahli.
"Kaca bisa pecah, tapi ingatan adalah karbon yang abadi."
Della terpaku.
Tulisan itu perlahan memudar seiring dengan hembusan angin malam, menyisakan bau mawar kering yang kini terasa nostalgia, bukan lagi ancaman. Ia menyadari bahwa kesepakatannya dengan Bibi Mei bukan sekadar perlindungan, tapi sebuah tanggung jawab. Ia kini menjadi penjaga dari sebuah memori yang selama puluhan tahun mencoba untuk "dihapus" oleh pihak-pihak tertentu.
Della merebahkan tubuhnya di kasur, namun matanya tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kamar, dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian. Bukan rasa takut yang muncul, melainkan perasaan bahwa ada "pengawas" yang kini menempati sudut-sudut kamarnya melalui bayangan yang memanjang.
Garis putih keperakan di telapak tangannya berdenyut pelan. Della menyadari satu hal: penglihatannya di sisi kiri kini memiliki kontras yang lebih tajam. Ia bisa melihat debu-debu yang melayang di udara seolah mereka adalah partikel cahaya yang menari.
Tiba-tiba, HP-nya bergetar di atas nakas. Sebuah notifikasi masuk.
Bukan dari Geri, Bukan dari Sasha.
Pengirimnya: "Arsip 1998"
Isi pesannya hanya sebuah foto lampiran. Della membukanya dengan tangan gemetar. Foto itu memperlihatkan sebuah gudang tua di daerah pelabuhan Ratu, dan di depan gudang itu parkir sebuah motor besar berwarna hitam dengan spion yang... persis dengan milik Della. Namun, spion itu ada di sebelah kanan.
Di bawah foto itu tertulis:
"Mata kiri sudah bangun. Sekarang, mata kanan sedang mencarimu."
Della mematikan layarnya. Ia tahu, ketenangan ini hanya sementara. Sukabumi tetaplah kota yang menyimpan banyak rahasia di balik kabut paginya, dan motor Scoopy krem itu hanyalah kunci pertama dari sebuah kotak pandora yang jauh lebih besar.
Besok, ia tetap harus kuliah. Ia tetap harus menjadi mahasiswa biasa. Namun, ia tahu bahwa setiap kali ia menoleh ke spion kirinya, ia tidak hanya akan melihat jalanan di belakangnya, tapi juga akan melihat masa lalu yang menuntut untuk dituntaskan.
Di garasi, lampu depan Scoopy itu berkedip sekali lagi secara otomatis, seolah memberikan salam selamat malam kepada tuannya.