Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Sudah dua bualn Lidia tinggal bersama buk Sum di kampung wanita itu. Hari - hari ia lewati dengan penuh semangat.
Perut Lidia mulai membuncit karna kandungannya juga smekain bertambah usianya. Buk Sum yang sudah tau cerita sebenarnya memberi semangat untuk Lidia lebih kuat.
"Sudah lupakan masa lalu, sekrang kamu aman di sini bersama saya." wanuta itu mengelus punggung Lidia lembut. Lidia kembali meraskn kasih sayang dari seorang ibu yang sudah lama tak ia rasakan. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal karna kecelakan. Hanya dia yang selamat dalam kecelakan itu, ayah, ibu dan adiknya ikut jadi korbannya.
"Makasih, bu." sudut mata Lidia memanas, bulir bening perlahan luruh. Menagis bukan karna sudh melainkan karna merasa terharu dengan perhatian buk Sum yang bukan siapa - siapanya. Mungkin Allah sudah mentakdirkan bahwasanya ia akan dipertemukan orang baik yang samapi pembimbingnya kejalan yang lebih baik.
"Gimana kalau warga sini bertanya tentang kehamilan aku, bu? Apa yang mesti aku jawab?" tanya Lidia mengungkapkan kekawatirannya. Tak mungkin ia menuju dari warga kampung hanya untuk menyembunyikan perutnya yang kian membengkak.
"Kamu tenang saja, tinggal bilang suami pergi merantau jauh atau suamimu sudah meninggal juga ga apa - apa. Kamu ga usah pusing memikirkan hal yang tidak penting. Lebih baik kamu fokus pada kehamilan kamu saja. Rasanya ibuk udah ga sabar menunggu si utung lahir." Wanita itu mengelus perut buncit Lidia dengan perasan bahagia. Tak sabar rasanya ia menimang cucu meski itu bukan dari anaknya.
Bik Sum mempunyai seorang anak yang sudah menikah tapi hingga saat ini belum ada tanda - tanda jika menantunya hamil. Jadi merasa sangat senang saat Lidia yang tengah hamil hidup bersama dirinya. Ia sudah menganggap Lidia sebagi putrinya.
Saat warga kampung menanyakan keberadaan Lidia di ruamhnya buk Sum menjawab.
"Ooh itu anak saudara saya."
"Lagi hamil ya?" tanya salah seorang tetangga buk Sum saat memperhatikan perut Lidia.
"Iya." jawab Buk Sum jujur.
"Suaminya kemana?"
"Lagi merantau, bu."
"Kasihan lagi hamil di tinggal. Yang sabar ya neng." alhamdulillah tetangga buk Sum tak ada yang julid dengan kehidupan Lidia hanya ada satu orang yang tidak suka akan keberadaan dirinya yaitu anak juragan beras. Ia merasa tersaingi kecantikannya oleh Lidia. Apalagi anak pak kades yang ganteng ia sukai malah menyukai Lidia.
Lidia terkenal ramah dan cantik, sehingga banyak dari kaum adam yang tertarik pada dirinya. Ada yang menyatakan perasaanya terang - terangan dan ada pula yang menyukai dlama diam. Lidia tidka terlalu memusingkan prilaku mereka, ia hanya fokus pada hidupnya seperti yang buk Sum ajarkan.
"Pagi dek Lidia." sapa pak kades.
"Pagi pak."
"Sendirian aja?" tanya pak kades basa basi saat berpapasan dengan Lidia yang tengah berjalan keliling kampung saat lagi hari. Kata tetua dahulu kalau mau melahirkan gampang harus banyak jalan dan tidka boleh malas.
"Iya, pak kades."
"Buk Sum mana?" biasanya Lidia kalau jalan pagi selalu bersama ini Sum tapi kali ini tidak.
"Ooh ibuk lagi kurang sehat pak kades. Saya lanjut dulu pak kades. " pamit Lidia yang tak mau berlama - lama ngobrol dengan pak kades takutnya fitnah. Wanita itu mempercepat langkahnya dan ingin secepatnya sampai di rumah untuk melihat keadan buk Sum. Pak kades hanya bisa memandang kepergian Lidia dan tak lama ia juga meninggalkan tempat itu.
...****************...
Assalamualaikum kk, apa kabar?
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 👍😘🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?