Takdir hanya membawaku jauh dari tanah kelahiranku, bukan jauh dari hidupmu, sudah sejauh ini kenapa aku masih bertemu dengan mu lagi pria Brengkes! Alea Januartha
aku mencari mu 10 tahun lamanya, kamu datang padaku dengan cara seperti ini, kenapa kamu tidak mengakui, kalau itu kamu wanita kribo, kenapa harus ada kepergian untuk kedua kalinya, Jonathan Will
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia pakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 7
"ehem," Alea berdehem, membuat perbincangan kedua orang tua sambungnya terhenti, keduanya menoleh, mamah Jihan biasa saja, sedangkan papah Adrian langsung berjalan menghampiri putrinya, papah Adrian memeluk Alea, namun Alea sama sekali tidak membalasnya seperti sebelum sebelumnya.
"Apa kabar nak?" Tanya papah Adrian, pria itu menuntun putrinya untuk duduk, akhirnya Alea mengikuti langkah sang papah dan ikut duduk disana bergabung dengan mamah sambungnya.
"Apa kamu sudah bisa menaklukkan tuan Jonathan Alea, dan kamu sudah dapat apa dari dia, ingatlah, Jagan sampai membuat dia marah atau kita semua ikut menanggung nya nanti!" Ujar Jihan tanpa basa basi, dan justru seperti sebuah intonasi.
Alea tersenyum getir, nyatanya saat dia bertemu ibu sambungnya yang sudah iya anggap seperti ibunya sendiri meski tidak sayang padanya, justru yang di tanyakan soal pernikahan dan tentang posisi mereka, hah sepertinya Alea salah telah datang saat ini ke prusahaan keluarganya, jika saja bukan Karena masih ingin membantu papah Adrian mungkin saja dia tidak akan Kembali ke prusahaan ini, namun dia ingat siapa yang sudah membantu dirinya.
"Tenang saja mah, Alea pastikan keluarga ini tidak akan terkena masalah," ujar Alea dengan berat.
"Ah iya, kamu tidak perlu lagi membantu perusahaan Januartha Alea, cukup kamu Menjadi istri yang baik buat tuan Jonathan maka semua akan berjalan dengan baik."
"Mah!" Bentak papah Adrian, dia merasa tidak enak dengan perkataan istrinya, Bagaimana pun Alea juga putrinya, dan Alea berhak kapan saja akan kesini dan bekerja disini, apa lagi Alea punya peran penting di perusahan Januartha ini.
"Lho dimana salahnya pah, semua orang tau jika keluarga Will melarang keras para istrinya untuk bekerja di luar."
"Apa Alea sudah tidak bisa bekerja lagi Disini mah?" Tanya Alea tanpa mau basa-basi juga, Karena dia sudah cukup paham kemana arah pembicaraan mamah sambungnya ini.
"Bukannya jadi istri seorang tuan muda Will sudah sepantasnya hanya dirumah."
Alea menghembuskan nafasnya perlahan, demi menetralkan rasa yang bergejolak di hatinya, "ijinkan Alea bekerja untuk hari ini saja pah, besok Alea tidak akan datang lagi."
"Kapan saja nak, kamu berhak untuk datang ke sini, dan bekerja disini," papah Adrian mengelus punggung putri sambungan nya itu, dia lemah jika sudah berurusan dengan istri nya, bukan takut, tapi lebih ke tidak ingin ribut.
"Terimakasih pah, mah, Alea ke ruangan Alea dulu," Alea berdiri dan berlalu dari sana, air mata itu menetes tanpa di minta, entah seakan hidupnya tidak di terima di mana saja, bahkan pernikahan nya seperti bukan pernikahan.
Alea duduk di kursi tempat dia bekerja, wanita itu bersandar di kursi itu dan menatap langit-langit ruangannya, dulu pergi dari Indonesia hanya untuk bisa pergi dari Masalah yang ada di Indonesia dan menghindari Jonathan.
Faktanya bukannya terlepas dari itu semua, dia justru bertambah Masalah yang tak ada habisnya, dia kira setelah mendapat keluarga baru yang menyayangi dirinya,namun fakta berkata lain, tidak ada keluarga setulus keluarga sendiri. "Ada apa di masa depan tuhan, sehingga aku harus melalui ini semua dulu, jika ini adalah awal dari kebagian, maka tolong bimbing diri ini dan berikan kesabaran yang tiada Akhir" batin Alea, Alea mulai memasukan satu persatu barang-barang dirinya yang akan iya bawa pulang, karena ini hari terakhir dirinya bekerja Disini, yang awalnya ingin bekerja untuk hari ini malah membuat dirinya donw lebih dulu dan tidak ingin menunggu dua kali kata untuk dirinya sadar, karena kali inipun dia sangat sadar, dengan ucapan ibu sambungnya, bahwa dia tidak lagi di Butuhkan disini.
Alea melangkah kakinya dengan gontai keluar dari perusahaan, Alea tidak menghiraukan semua sapaan para karyawan, dia terus berjalan sesuai kakinya melangkah dan membawa dirinya terus berjalan dengan tangan yang membawa barang-barang dirinya dari kantor, sehingga tidak terasa waktu terus bergulir hingga sore hari, seakan wanita itu tidak punya lelah terus berjalan hampir seharian, wanita itu duduk dan menikmati suasana sore menjelang magrib, rasanya Alea tidak ingin sampai ke mansion keluarga Jonathan, namun apa lah daya, itulah tempatnya sekarang untuk berteduh, setidaknya selama nafasnya masih melekat di tubuhnya.
Waktu terus berjalan sehingga hari semakin petang, Alea menghentikan taksi dan akan pulang ke rumah, dia akan Kembali menikmati hidup yang memang dia sendiri tidak menginginkan itu, ibu mertua nya sangat baik, tapi entah kenapa hati Alea seakan enggak berharap banyak dengan yang namanya kasih sayang, setelah banyaknya kepalsuan yang iya rasakan selama ini.
Satu jam berlalu, kini Alea sudah berdiri di depan pintu besar yang menjulang tinggi, dia sudah tidak akan bisa lagi mendapatkan ke bebasan dan kaluar dari rumah dengan alasan bekerja, dia menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nya.
"Kamu sudah sampai Alea," Alea sedikit terkejut, wanita itu menoleh dan mendapati ibu mertuanya sudah berdiri di ambang pintu entah menunggu dirinya atau hanya sebuah kebetulan.
"Maafkan Alea mah, karena terlambat pulang," Alea mengulurkan tangannya seperti biasa, untuk memberi salam pada ibu mertuanya, ibu mertua nya menyambut baik tangan Alea sembari meninggalkan kecupan di kening Alea.
"Tidak perlu sedih, mulai besok kamu bekerja saja di restauran mamah ya, disana kamu bebas ingin bagaimana saja, mungkin kamu memang tidak seharusnya bekerja di perusahaan orang tuamu lagi."
"Mamah?"
"Iya, mamah sudah tau apa yang terjadi padamu hari ini."
Alea tentu saja merasa terkejut, bagaimana mungkin mertuanya tau apa yang terjadi padanya, emang siap yang memberi tahu, begitulah pikir Alea, namun kembali dia mengingat siapa keluarga will.
"Ingat Alea, kamu tidak perlu merasa sendiri, ada mamah disini, berbagilah dengan mamah apa yang kamu rasakan, ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan, dan marah lah jika kamu ingin marah dengan keadaan, jangan memendam apapun sendiri, meskipun mamah tidak bisa membantu, setidaknya kamu bisa mengurangi beban di hatimu dengan sedikit cerita dengan mamah, jangan anggap mamah orang asing, karena sejak kamu menikah dengan Jo, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Will, seperti apapun perlakuan Jonathan kali ini, jangan pernah merasa kamu tidak di terima dalam keluarga ini, karena mamah sendiri yang membawamu kesini."
"Mamah," lirik Alea, entah kenapa perkataan mamah mertua begitu membuat dia bahagia, antara percaya dan tidak, tanpa terasa bulir kristal itu jatuh dari pelupuk matanya.
Mamah Jasmin membawa Alea keadaan pelukannya, dia bisa merasakan jika menantunya itu seakan tertekan, entah kenapa dia merasa dekat dengan Alea.
"Apa kamu ingin bekerja di kantor Jo?" Tanya mamah Jasmin lagi, kali saja menantunya tidak ingin bekerja di restoran miliknya.
Alea melepas pelukan dari mamah jasmin, dia menatap mamah mertuanya itu sambil tersenyum, "Tidak mah, biarkan Alea bekerja di restauran mamah saja, Alea tidak ingin membuat Masalah baru dengan tuan Jonathan."
"Ais selalu saja tuan Jonathan, apa kamu belum biasa memanggil dia dengan sebutan nama saja!" Protes mamah Jasmin.
"Akan Alea coba mah nanti, tapi untuk saat ini Alea belum bisa, maaf mah."
"Baiklah baiklah, segera masuk dan istirahat ya, jangan memikirkan hal yang tidak di perlukan mengerti."
"Iya mah, Alea masuk dulu ya mah, maaf Alea tidak ikut makan malam tadi."
"Tidak apa sayang, masuklah dan istirahat, apa mau makan dulu, biar di siapkan bibik."
"Tidak mah, Alea sudah makan di luar," bohong Alea, dia hanya tidak ingin merepotkan orang malam-malam, dan lagi dirinya tidak begitu lapar.