NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — Harga Sebuah Nama

"Berapa harga kepalanya?”

Pria berambut pirang itu memutar pisau lipat taktis di antara jemarinya dengan kemahiran seorang pesulap. Cahaya lampu neon merah dan biru dari papan reklame di luar bar bawah tanah Distrik 3 merembes masuk melalui kaca jendela yang berdebu, memantulkan kilau dingin pada bilah logam tersebut.

Broker yang duduk di hadapannya tidak segera menjawab. Ia menyesap wiskinya perlahan, membiarkan aroma alkohol murah itu memenuhi rongga hidungnya sebelum meletakkan gelas dengan denting pelan di atas meja kayu yang lengket.

“Tiga juta dollar,” jawab si Broker datar.

Pisau itu berhenti berputar seketika. Bilahnya terlipat masuk ke dalam gagang dengan bunyi klik yang tajam dan final. Pria pirang itu mencondongkan tubuh, matanya sedikit membelalak di balik keremangan asap rokok. “Kau serius? Angka itu cukup untuk membeli satu blok apartemen di pusat kota.”

“Tiga juta tunai atau kripto,” Broker itu menegaskan, suaranya rendah namun penuh penekanan. “Siapa pun yang bisa membawa potongan tubuhnya, mereka akan pensiun dini dengan sangat tenang. Kontrak terbuka di jaringan gelap per jam ini.”

Beberapa orang di meja-meja sekitar bar mulai menoleh. Nama yang mereka bicarakan bukan lagi sekadar desas-desus; itu adalah legenda berdarah yang lahir dari puing-pirung kereta militer semalam.

Pria pirang itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang dingin. “Untuk seorang kurir? Apa dia membawa nyawa presiden di tasnya?”

Broker itu mengangkat bahu, wajahnya tanpa ekspresi. “Untuk seseorang yang membunuh Marcus Hale dan membantai seluruh pengawalnya. Dia bukan sekadar kurir. Dia hantu.”

Sunyi jatuh sejenak di meja tersebut. Seseorang dari meja belakang, pria kurus dengan jaket panjang yang tampak seperti informan kawakan, menyahut pelan. “Dia tidak hanya membunuh Hale. Dia menghapus keberadaan seluruh unit di gerbong itu tanpa meninggalkan satu pun saksi mata yang bisa mendeskripsikan wajahnya.”

Pria pirang itu berdiri, menyambar jaket kulitnya. “Tiga juta dollar. Aku selalu menyukai pekerjaan yang menantang adrenalin sekaligus menjamin masa tua.”

Di saat yang sama, jauh dari keriuhan bar yang kotor, raungan mesin motor membelah kesunyian lorong industri Distrik 5 yang pengap. Leon memacu motor hitamnya dengan kecepatan yang stabil, melewati deretan gudang beratap seng berkarat yang berdiri tegak seperti barisan bangkai kapal raksasa.

“Tiga juta untuk kepalamu, Leon.”

Suara Gray merambat melalui frekuensi tinggi di earpiece, terdengar tanpa emosi seolah ia sedang membacakan laporan cuaca harian.

“Siapa yang cukup bodoh untuk mencoba mencairkan uang itu?” tanya Leon sembari melirik spion.

“Bukan satu orang saja,” sahut Gray. “Ini perburuan terbuka. Dan per jam ini, sensor satelitku mendeteksi pergerakan yang tidak wajar di radius dua kilometer darimu. Kau baru saja menjadi mangsa paling berharga di kota ini.”

Leon mengamati dua titik cahaya lampu mobil yang menjaga jarak konstan sekitar lima puluh meter di belakangnya. Mereka tidak mencoba menyalip, hanya membayangi dengan presisi yang ceroboh namun mematikan. Ia menarik tuas gas lebih dalam, membiarkan getaran mesin motornya meresap ke dalam tulang-tulangnya.

“Amatir,” gumam Leon dingin.

“Jangan meremehkan orang yang sudah mencium bau uang sebanyak itu,” Gray memperingatkan. “Mereka tidak butuh keahlian tinggi. Mereka hanya butuh satu momen keberuntungan di tengah keputusasaanmu.”

Leon membelokkan motornya secara mendadak ke sebuah gang sempit yang gelap. Ban motornya menyapu genangan air payau, menciptakan cipratan setinggi pinggang. Mobil pertama mengikuti tanpa ragu, sementara mobil kedua—sebuah sedan hitam yang lebih cepat—memutar lewat blok sebelah untuk memotong jalur keluar.

“Pola segitiga,” Gray bergumam, suara ketikan keyboard terdengar cepat di latar belakang. “Rupanya ada profesional yang bergabung. Namanya Viper, pembunuh bayaran Balkan. Dia yang mengemudi di belakangmu.”

Leon memilih untuk tidak menjawab. Di ujung gang, sebuah truk kontainer bergerak mundur dengan sangat lambat, menutup akses jalan. Ruang yang tersisa hanya selebar setang motor di sisi kanan jalan. Leon menurunkan kecepatan untuk sepersekian detik, menciptakan ilusi seolah ia akan menyerah.

Lalu, ia memutar gas hingga maksimal.

Ia memiringkan motornya ke derajat yang ekstrem, meluncur di sela sempit antara dinding bata dan badan truk. Suara gesekan logam memercikkan api saat pelindung lututnya menyentuh aspal. Di saat itulah, jendela mobil di belakang terbuka.

TAT-TAT-TAT-TAT!

Rentetan peluru meletus, menghantam tembok tepat beberapa inci di samping helm Leon. Ia menekan rem mendadak, menjatuhkan motornya ke samping dengan sengaja, dan berguling di atas aspal yang kasar menuju balik tumpukan palet kayu.

“Serahkan tas itu, Phantom! Kami hanya menginginkan isinya dan kepalamu!” teriak sebuah suara parau—Viper. Pria itu melompat turun dari mobil dengan senapan pendek di tangannya.

Leon menarik pistol dari sarung taktis di pinggangnya. Ia mengatur napas, membiarkan detak jantungnya melambat di tengah desingan peluru yang mulai menghujani palet kayu tempatnya bersembunyi.

“Kalian membuang-bagus amunisi,” bisik Leon.

Dua tembakan dilepaskan Leon dari celah kayu. Dua pengawal Viper jatuh berdentum ke aspal dengan lubang tepat di tengah dada. Satu pria lain mencoba bergerak memutar dari sisi kanan, mencoba memanfaatkan kegelapan. Leon bergerak lebih cepat, ia menghilang ke balik bayangan truk dan muncul tepat di belakang pria itu. Sebelum si pemburu sempat berbalik, Leon menghantamkan gagang pistol ke pelipisnya dengan kekuatan yang mematikan.

Hanya tersisa Viper. Pembunuh Balkan itu kehilangan ketenangannya dan menembak membabi buta.

Leon berdiri tegak, membidik dengan satu tangan yang sangat stabil. Namun, Viper melepaskan tembakan terakhir tepat sebelum peluru Leon menembus pahanya.

JLEB.

Leon mundur selangkah, napasnya tertahan. Rasa panas yang membakar menjalar dari sisi perutnya. Ia segera membalas dengan satu tembakan final yang menghentikan pelarian Viper tepat di depan pintu mobilnya. Sunyi kembali turun menguasai gang tersebut.

“Leon?” suara Gray terdengar cemas. “Sensor biometrikmu menunjukkan lonjakan rasa sakit yang hebat.”

Leon berjalan kembali ke arah motornya dengan langkah yang berat. Ia menyentuh sisi perutnya; cairan kental merah gelap mulai merembes keluar dari balik jaketnya. “Kontak,” jawabnya singkat dengan gigi terkatup.

“Goresan?”

Leon meraba area luka tersebut. “Bersarang di dalam. Rasanya seperti besi panas yang diputar di dalam daging.”

Hening sejenak di ujung sambungan. Gray mungkin sedang menghitung probabilitas bertahan hidup Leon. “Keluar dari sana sekarang. Jangan pergi ke titik aman biasa. Mereka sudah menandai rute-rute itu. Pergilah ke Distrik 6.”

“Area kumuh?” tanya Leon sambil menghidupkan mesin motor yang kini terasa parau di telinganya.

“Justru karena itu. Tempat itu adalah labirin tanpa hukum yang sulit dipetakan oleh satelit mana pun,” balas Gray.

Sepuluh menit perjalanan terasa seperti keabadian. Pandangan Leon mulai sedikit berbayang saat ia memasuki kawasan Distrik 6 yang dipenuhi aroma selokan tersumbat dan asap minyak goreng dari kedai-kedai kaki lima yang sudah tutup. Ia mematikan mesin motornya di sebuah gang buntu yang tersembunyi.

Darah sudah membasahi seluruh lapisan dalam jaketnya, menciptakan rasa lengket yang menyesakkan.

“Detak jantungmu menurun di angka enam puluh,” lapor Gray. “Kau kehilangan terlalu banyak darah, Leon. Jika kau tidak segera menutup luka itu, kau akan kolaps dalam hitungan menit.”

Leon menyusuri gang sempit, bahunya sesekali menabrak dinding bangunan tua. Ia berhenti di depan sebuah bangunan dengan dinding terkelupas. Sebuah papan kayu kecil tergantung miring di atas pintu, tertulis nama Klinik Arden dengan cat yang sudah memudar. Namun, sebuah papan kecil di balik kaca pintu menunjukkan tulisan: TUTUP.

“Cari tempat lain, Leon,” saran Gray. “Dokter di sana mungkin tidak akan senang menerima tamu sepertimu di jam seperti ini.”

Leon memegang sisi perutnya yang berdenyut hebat. Darah mulai menetes ke lantai kayu teras. “Tidak ada waktu.”

Ia mengangkat tangannya yang berat dan mengetuk pintu kayu itu sebanyak tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia melirik ke arah ujung gang, di mana dua siluet pria berdiri diam di kegelapan—pemburu baru yang sudah mencium bau darahnya.

“Pengejar?” tanya Gray.

“Ya. Mereka menunggu aku melemah.”

Leon mengetuk lagi, kali ini jauh lebih keras hingga gema ketukannya memantul di lorong gelap. Suara langkah kaki yang ringan akhirnya terdengar dari balik pintu. Pintu kayu itu terbuka sedikit, tertahan oleh rantai pengaman. Seorang wanita dengan rambut yang diikat asal-asalan berdiri di baliknya. Matanya tajam, mengamati noda darah yang meluas di jaket hitam Leon.

“Kami sudah tutup sejak satu jam yang lalu,” kata wanita itu dengan nada suara yang datar, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

Leon menatap mata wanita itu dengan sisa-sisa kesadarannya yang mulai menipis. Cahaya lampu dari dalam klinik membuat wajahnya yang pucat terlihat semakin drastis.

“Aku tidak,” bisik Leon pelan, tepat sebelum tubuhnya kehilangan daya dan ia ambruk ke arah pintu yang terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!