Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 — Teduh di Antara Hujan
Sepulang sekolah, Isya berjalan seperti biasa.
Tasnya tersampir di bahu, langkahnya ringan namun pikirannya sudah membayangkan rumah dan Ba'daa.
Ia tidak pernah terbiasa melirik ke kanan atau kiri, apalagi memperhatikan laki-laki yang berdiri di sekitar gerbang. Baginya, pulang ya pulang.
Namun tak jauh dari gerbang sekolah, tiba-tiba—
“eh mbakk maaf…”
Langkahnya terhenti.
Ia menoleh perlahan, sedikit terkejut.
Aksan berdiri beberapa langkah di depannya. Sepertinya memang sedang menunggu.
Isya mengernyit.
“Ehhh… kamu? Si manusia bola?”
Aksan hampir tersedak mendengar julukan itu.
“Maaf ya… soal tadi pagi. Aku benar-benar nggak sengaja.”
Isya memperhatikan wajahnya sekilas, lalu tersenyum kecil.
“Ohh… iya, nggak apa-apa kok. Sudah takdirnya kan? Yang penting nggak kena orang lain.”
Ia terkekeh pelan.
Aksan ikut tersenyum, tapi dalam hatinya ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak tahu kenapa, tapi setiap melihat Isya, hatinya terasa lebih ringan.
“Pokoknya maaf ya…”
“Iyaaa, sudah dimaafkan.”
Isya melirik langit yang mulai gelap.
“Ehh, sudah ya. Aku harus pulang. Cuacanya mendung.”
“Iya… hati-hati.”
Isya mengangguk lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Sementara Aksan berdiri di tempatnya, menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh.
Dan untuk pertama kalinya, ia sadar—
Ia ingin melihat senyum itu lagi.
----------------------------------------------------------------------------------
Langit yang sejak tadi mendung akhirnya menurunkan hujan.
Awalnya rintik.
Lalu deras.
Isya berlari kecil mencari tempat berteduh. Ia berhenti di depan sebuah warung kecil yang sudah tutup, hanya ada atap seng yang cukup melindungi dari hujan.
Di sudut tembok, ia melihat sesuatu yang kecil dan basah.
Seekor anak kucing.
Tubuhnya kurus, bulunya lembap, matanya besar menatap kosong ke jalan.
Isya langsung tersenyum gemas.
“Astagfirullah… mpusss…”
Ia jongkok perlahan, mendekati kucing itu.
Anak kucing itu tidak lari. Hanya mengeong pelan.
“Heyy mpuss… jangan sedih yaa…”
Isya mengelus kepalanya pelan. Hatinya terasa perih melihat tubuh kecil yang kurus itu.
“Isya mau beliin mpuss makanan… tapi Isya sendiri nggak tahu nanti makan apa.”
Ia tertawa kecil, tapi ada nada sedih di sana.
“Begini saja… kita doa yaa. Kepada Tuhan yang Maha Kaya.”
Isya menengadah sebentar, lalu tersenyum lagi pada kucing itu.
“Kamu tahu nggak, Allah bilang…”
Ia mengingat firman-Nya:
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
“Lihat kan? Banyak hewan di dunia ini, semuanya Allah kasih rezeki.”
Isya menyentuh hidung kecil kucing itu dengan ujung jarinya.
“Jadi mpuss nggak perlu khawatir yaa. Pasti ada rezekinya. Besok pagi ada di sini lagi yaa? InsyaAllah kalau Isya ada rezeki, Isya beliin makan.”
Kucing itu mengeong pelan seolah mengerti.
Beberapa menit kemudian, hujan mereda.
Langit yang tadi gelap mulai cerah.
Isya berdiri.
“Isya pulang dulu yaa, mpuss. Jaga diri baik-baik.”
Ia melambaikan tangan kecilnya pada si kucing, lalu berlari pulang.
----------------------------------------------------------------------------------
Sesampainya di rumah, suasana sunyi.
“Ba'daa?” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Isya menghela napas panjang.
“Duh ini anak nggak bisa diam sedikit ya… dia mirip siapa sih? Mirip angin topan kali yang kecil yang nggak ada tombol off-nya.”
Ia tertawa kecil sendiri.
Masuk ke kamar Ba'daa, Isya mulai membereskan tempat tidur yang berantakan. Ia melipat selimut, merapikan buku yang berserakan.
Tanpa sengaja, pandangannya jatuh pada sebuah foto kecil di atas meja.
Foto mereka bertiga.
Isya, Ba'daa, dan Nenek.
Isya memegang foto itu pelan.
“Nenek lagi main ke rumah paman… semoga sehat selalu yaa, Nek…”
Ia tersenyum lembut dan mendoakan dalam hati.
Setelah itu, dengan semangat baru, ia melanjutkan bersih-bersih, lalu masuk ke dapur membuat makanan sederhana untuk adiknya.
Selesai semua, rumah kembali rapi.
Isya duduk sejenak, mengambil mushaf Al-Qur’an yang tersimpan rapi di lemari kecilnya.
Ia mulai membaca perlahan.
Suasana rumah begitu hening.
Hingga sampailah ia pada ayat:
“Fa inna ma‘al ‘usri yusrā. Inna ma‘al ‘usri yusrā.”
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Matanya berhenti.
Air mata mengalir pelan.
Allah tidak hanya mengatakannya sekali.
Tapi dua kali.
Seakan menegaskan bahwa kesulitan pasti disertai kemudahan.
Isya mencium mushaf itu dengan penuh hormat, mengusapnya lembut, lalu menaruhnya kembali di tempat yang bersih dan tinggi.
Begitulah caranya memuliakan kitab suci.
Ia kemudian duduk bersandar di dinding, menunggu Ba'daa pulang.
Rumah terasa sunyi.
Tanpa sadar, Isya tertidur.
----------------------------------------------------------------------------------
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka.
“Assalamu’alaikum…”
Ba'daa masuk pelan.
Ia berjalan ke dapur, lalu berhenti saat melihat kakaknya tertidur di kamar.
Ba'daa mendekat perlahan.
Ia memperhatikan wajah Isya yang terlihat lelah.
“Hehe… nenek lampir bisa capek juga ya…”
Ia menggeleng pelan.
“Pasti ini karena suka marah-marah. Makanya cepat tua.”
Ia duduk di samping kakaknya.
“Hee kakakku sayang… terima kasih ya sudah jadi kakak yang jaga adiknya.”
Ba'daa menatap wajah Isya dengan polos.
“Nanti kalau aku besar, aku yang jaga kakak. Kalau aku kaya… eh… apa tadi…”
Ia menggaruk kepala.
“Oh iya! Kalau aku kaya, kakak nggak usah capek. Biar aku yang biayain semuanya. Hihi.”
Tiba-tiba—
Isya tertawa.
Ba'daa terlonjak.
“Ehhhh!”
Isya membuka mata.
“Haha… jangan sok mau kaya. Sekolah aja malas.”
Ba'daa cemberut.
Isya mengusap kepalanya lembut.
“Belajar yang pintar yaa. Supaya bisa kaya… banyak sedekah, banyak amal… dan jaga kakak. Oke?”
Ba'daa mengangguk malu-malu.
Suasana rumah yang tadi sunyi kini terasa hangat.
hari itu, mereka bercerita panjang hingga malam datang.
Dan di rumah kecil itu, meski sederhana, cinta tumbuh begitu besar.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘